ISENG BLOGER

Kerjasama Pertahanan, Mulai dari Kapal Selam hingga Rudal



Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) memastikan kerjasama alutsista dengan sejumlah negara terus berlanjut, termasuk dengan Korea Selatan, China serta Turki. Dalam jumpa pers di gedung Kemhan Rabu (15/05) siang, KKIP menjelaskan panjang lebar sejumlah kerjasama yang tengah dan akan berlangsung.

Baru-baru ini terjadi polemik tentang pengadaan Kapal Selam dari Korea Selatan. Untuk menjawabnya Kementrian Pertahanan menyatakan, akan mengamandemen kontrak dengan pihak DSME Korea Selatan. Salah satu amandemen adalah jika sebelumnya kapal selam ke-3 dirakit di PT. PAL, maka pada perubahan ini kapal selam tersebut sepenuhnya dibuat total di Surabaya. Sehingga mulai dari modul, bagian-perbagian hingga perakitan sepenuhnya dilakukan PT. PAL.

Lebih lanjut, ARC juga mendapat penjelasan, Kementrian BUMN sudah mengajukan dana sebesar US$ 150 Juta untuk menambah fasilitas di PT. PAL. Pasalnya fasilitas produksi yang ada tidak dirancang untuk membangun kapal selam, tetapi kapal permukaan saja. DSME sendiri dikabarkan setuju dengan amandemen kontrak, dengan syarat Kementrian Pertahanan menjamin PT. PAL mampu melaksanakannya.

Khusus dengan Turki, Kementrian Pertahanan baru saja memastikan akan melakukan kerjasama pembuatan Tank. Selain Tank, masih ada kerjasama lainnya. Yaitu antara PT. LEN dan Aselsan. Sesuai bidangnya, kerjasama dengan Aselsan adalah pada pengadaan alat komunikasi untuk di perbatasan. Prosesnya sendiri sudah dimulai dan sudah masuk tahapan kontrak. Namun tidak dijelaskan alat komunikasi yang dimaksud, yang pasti alat komunikasi yang dibutuhkan adalah yang canggih sehingga anti jamming dan tak bisa diintersept.


Sementara dengan China, Kementrian Pertahanan juga terus melanjutkan kerjasama pembuatan rudal C-705. Saat ini prosesnya sudah masuk tahap feasiblity studies yang dilakukan oleh Kementrian Ristek. Dalam catatan ARC, rudal C-705 ini nantinya akan mempersenjatai kapal perang cepat jenis KCR-40 dan KCR-60 yang jumlah diperkirakan cukup banyak.

  ● ARC  
[Read More...]


Sasaran Kegiatan LAPAN 2013



 Berikut ringkasan Sasaran Kegiatan LAPAN 2013 

Sasaran kegiatan ini akan dicapai dalam tiga tahun anggaran yaitu tahun anggaran 2012, 2013 dan 2014. Sasaran hasil kerja tahun 2013 adalah sebagai berikut:

 1. Pusat Teknologi Roket 


a. Dengan dilengkapinya sarana dan prasarana yang dilakukan sampai tahun 2012 maka di Lapan sudah ada peningkatan kualitas untuk kegiatan disain, fabrikasi dan pengujian roket, sehingga pada tahun 2013 dapat ditingkatkan performance roket melalui peningkatan Isp (Impuls Spesific) dari 216 s menjadi 230 s dan penurunan rasio berat struktur dari 0,4 menjadi 0,35. Peningkatan Isp tersebut dicapai melalui optimalisasi komposisi propelan, penggunaan tiga macam ukuran Ammonium Perkhlorat (AP tri-modul), dan burning rate catalyst. Sedangkan penurunan rasio struktur dicapai melalui peralatan manufaktur struktur yang telah diremajakan dan peralatan plasma coating.

b. Kegiatan utama peroketan Lapan tahun 2013 adalah Ekspedisi Morotai, yaitu melaksanakan kegiatan peluncuran roket RX-122, RX-200, RX-320, RX-450 dan RX-550 di Morotai. Kegiatan peluncuran roket tersebut dilaksanakan setelah uji statik setiap roket berhasil dilaksanakan. Disamping pencapaian sasaran di atas, fasilitas yang dikembangkan di Lapan di bidang peroketan juga dimaksudkan untuk menunjang pelaksanaan program roket nasional (konsorsium) untuk penggunaan di bidang pertahanan dan pemanfaatan lainnya. Untuk tahun 2013 program roket konversi mempunyai sasaran empat prototip, yaitu RX-122 dengan jangkauan 23 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km, RX-320 dengan jangkauan 70 Km dan RX-450 dengan jangkauan diatas 100 Km (roket 3 digit).

c. Pengembangan Roket Cair pada tahun 2013 mempunyai sasaran :

• Prototipe Enjin roket cair kapasitas 1000 kgf dan 2000 kgf dengan sistem pendingin regenerative cooling yang mampu menahan panas pembakaran hingga 20 detik;
• Rancangan lanjut pompa turbin untuk sistem pengumpan roket cair;
• Rancangan awal sistem pengumpan berbasis cryogenic.

d. Pengembangan Roket Kendali pada tahun 2013 mempunyai sasaran prototipe roket kendali dengan sistem propulsi roket padat (booster), Electrical Ducted Fan (RKX-200EDF) dan Turbo Jet (RKX-200TJ) berkecepatan 250 km/jam, terbang secara AutoPilot, dengan menitik beratkan pada Uji Darat (simulasi HILS, Wind Tunnel dan Captive Test) sebelum akhirnya dilakukan Flight Test. Serta peningkatan performance RKX-200 khususnya pada bagian Separasi, Booster dan Aktuator.

 2. Pusat Teknologi Satelit 

a. Mengirim Satelit Lapan-A2 ke SDSC (Satish Dawan Space Center), Shriharikota, India. Menempatkan sejumlah engineer untuk mengawasi dan memantau kondisi Satelit Lapan-A2, serta menyiapkan dan membangun sistem remote monitoring untuk memantau satelit dari Indonesia hingga hari peluncuran, yang direncanakan pada kuartal pertama 2014.

b. Menyiapkan sarana pendukung (infrastruktur, SDM dan SOP) untuk operasi kendali satelit (TT&C), akuisisi & pengarsipan data misi Satelit Lapan-A2. Penyelesaian dan penyempurnaan sistem otomatisasi operasi Stasiun Bumi, TTC dan akuisisi data misi, untuk mengurangi SDM pada kegiatan operasi rutin dan memberdayakannya guna mendukung kegiatan penelitian, perekayasaan dan AIT satelit.

c. Menyiapkan clean-room dan sarana-uji sistem lensa/fokus kamera untuk melihat jarak jauh, bagi pelaksanaan AIT (Assembly, Integration and Test) Satelit Lapan-A3. Clean-room kelas 100.000 berukuran 10x5m adalah primer untuk integrasi komponen high rate X-band transmitter, dan lensa/detektor optis pada sistem pencitra push-broom Imager 4 kanal. Target AIT adalah dihasilkannya Flight Model (FM) satelit Lapan-A3 dengan capaian 70%. Pelaksanaan AIT satelit masih membutuhkan supervisi, konsultasi dan peningkatan kualitas SDM Lapan. Mengadakan sejumlah alat-ukur untuk melengkapi fasilitas uji RF di dalam negeri, untuk memenuhi persyaratan uji EMI/EMC satelit, baik untuk downlink data misi pada frekuensi 8.0 s/d 8.4 GHz, maupun TT&C satelit pada pita VHF/UHF.

d. Menyiapkan konsep awal rancangan satelit Lapan-A4. Satelit Lapan- A4 merupakan pengembangan lanjut dari Satelit Lapan-A3, dimana imagernya akan ditingkatkan dengan pencitra inframerah dekat (Near Infra red, NIR). Prosesnya dimulai dengan kajian komprehensif mengenai sub-sistem satelit dan komponen ruas-bumi untuk imager visible s/d inframerah dekat, pembelajaran teknologi sensor inframerah-dekat tanpa cooler (bolometer) serta identifikasi kebutuhan koreksi data imager infra-merah dekat. Target kegiatan Lapan-A4 meliputi pembuatan dokumen PDR (Preliminary Design Review), peningkatan kemampuan SDM tentang sensor Bolometer dan pengadaan komponen dasar satelit.

e. Mempererat kerjasama luar negeri dengan Chiba, Hokaido dan Tohoku University, untuk belajar sistem satelit Jepang dan teknologi Radar dan Optis. Menjajaki kemungkinan peluncuran satelit menggunakan wahana peluncur Jepang. Misi Synthetic Aperture Radar (SAR) menjadi target terakhir pada penguasaan teknologi satelit kelas 100 kg, yang selanjutnya kegiatan pembangunan dan penguasaan teknologi satelit bergeser ke satelit kelas mini/small. Dalam rangka mempersiapkan diri menuju ke satelit kelas mini/small, Pusteksat bersinergi dengan unit kerja lain di Lapan/Nasional dalam menyusun konsep satelit remote-sensing operasional untuk bahan kajian pembangunan satelit konsorsium. Program ini akan dimanfaatkan untuk pembelajaran guna mengatasi fase sulit saat transisi dari fase satelit eksperimen ke satelit operasonal. Sinergitas semua pemangku kepentingan dan pemberdayaan semua potensi Nasional, menjadi poin penting akan keberlangsungan program, termasuk target penguasaan teknologi satelit di Lapan.

f. Berperan aktif dalam menjaga slot dan filing satelit Lapan melalui kegiatan Koordinasi Satelit. Meningkatkan Filing Lapan-A3 (X-band, bandwidth 168MHz) menjadi berstatus API (Advance Publication Information) serta pengajuan filing baru untuk Satelit Lapan-A4, khususnya terkait dengan rencana penggunaan TTC S-band. Aktifitas didalam negeri, fokus pada penyelesaian ISR (Izin Stasiun Radio) bagi Stasiun Bumi Rumpin, Rancabungur dan Biak. Penyelesaian sertifikat perangkat, usulan penggunaan TTC S-band dan perlindungan stasiun penerima/TTC dari gangguan frekuensi lain dengan radius 5 km serta aktif pada rapat koordinasi dengan operator satelit, pengguna pita-X, pita-S, pita-L, UHF dan VHF untuk melindungi penggunaan frekuensi riset dirgantara Lapan.

 3. Pusat Teknologi Penerbangan 


a. Di tahun 2013 akan dihasilkan sebuah pesawat ringan dua penumpang berbasiskan S15 dengan modifikasi sistem surveillance untuk kebutuhan pemetaan dan pemantauan (LSA-01). Dalam program ini, akan di laksanakan training 6 orang engineer di Technische Universitat Berlin (TU Berlin) dan di Stemme (sebuah perusahaan UKM Jerman) untuk melakukan reverse engineering terhadap pesawat S15. Pembuatan prototype LSA-01 akan dilakukan di Jerman, sedangkan integrasi akhir akan dilakukan di Indonesia. Untuk menguji kinerja LSA-01 ini, pengujian terbang akan dilakukan di akhir tahun 2013. Dari program ini akan dihasilkan juga sebuah desain konsep pesawat ringan hybrid untuk pemantauan, yang merupakan kelanjutan dari pengembangan LSA-01. Disamping itu, beberapa engineer akan ikut serta dalam pengujian pesawat LSA unmanned yang tengah dikembangkan TU Berlin bekerjasama dengan Stemme.


b. Akan dihasilkan sebuah pesawat tanpa awak dengan kemampuan membawa payload misi 10 Kg (LSU-03) yang mampu terbang secara autonomous dengan jarak jangkau 150 Km dan lama terbang 2 jam. Dalam program ini akan dilakukan pengembangan desain dan manufaktur LSU-03 dalam hal: Optimalisasi desain agar lebih aerodinamis dengan analisis, simulasi dan pengujian, optimalisasi perhitungan beban dan kekuatan struktur, serta optimalisasi pemilihan bahan. Beberapa prototype akan dibuat dan diuji terbang. Disamping itu akan dilakukan optimalisasi LSU-02 sehingga dapat mencapai jarak jangkau 150 km dan lama terbang 4 jam (pemecahan rekor MURI). Sedangkan aplikasi LSU ini akan diperluas pada bidang mitigasi bencana, pertanian, kehutaan, dan pertahanan.


c. Akan dihasilkan beberapa optimasi subsistem pesawat N219 seperti High Lift Device dan Airfoil. Dalam program ini akan dihasilkan data uji terowongan angin dan data hasil simulasi numerik CFD untuk optimasi Advance High Lift device, Airfoil design dan winglet pesawat N219. Adapun validasi hasilnya akan dilakuka noleh NLR Belanda. Disamping kegiatan penelitian di atas, jika di tahun 2013 ini program N219 mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk pembuatan prototipe, Lapan akan ikut berpartisipasi dalam pembuatan prototype pesawat N219 tersebut.(GM)

Sumber LAPAN
Diposkan kenyot10 (kaskuser)


  ● Garuda Militer  
[Read More...]


★ Menyongsong Industri Peluru Kendali Nasional



Rudal China C-705 segera dikembangkan dan di produksi di Indonesia
Rudal C705
Indonesia akhirnya bergerak maju untuk menyongsong industri peluru kendali dalam negeri. Kerjasama pembuatan Rudal C-705 dengan China, sempat membuat kepala para petinggi Dephan pening, karena tuntutan China cukup tinggi, jika Indonesia ingin memperoleh ToT-nya (transfer of technology). Namun persoalan ini akhirnya terselesaikan, walau persyaratannya cukup berat.

Sebagai langkah awal TNI Angkatan Laut akan menggunakan rudal C-705 asal Cina pada kapal cepat rudal (KCR) buatan dalam negeri. Rencananya, sebanyak 16 kapal perang KCR-40 buatan pabrik kapal di Batam, PT Palindo Marine, bakal dilengkapi dengan peluru kendali tersebut.

“Kontrak sudah diteken, rudal diperkirakan tiba pada tahun 2014,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama, Untung Suropati, kepada Tempo, Senin, 28 Januari 2013.

 Teknologi Lapan 

Selama ini Lapan telah mengembangkan berbagai tipe roket: RX-550 dengan jangkaun 300 km, RX-122 dengan jangkauan 20 Km, RX-200 dengan jangkauan 40 Km dan RX-320 dengan jangkauan 80-100 Km.

Dengan kerjasama China diharapkan Lapan mampu mengembangan desain untuk mendapatkan konfigurasi roket yang sesuai dengan misinya, antara lain untuk memprediksi fenomena yang terjadi pada sistim propulsi roket seperti erosive burning dalam ruang bakar, karakteristik aliran fluida dalam nosel dan saat terjadi thrust vectoring, maupun sistim pendingin pada engine roket cair.

RX550 LAPAN

Kerjasama ini juga diharapkan memberi masukan bagi Lapan, untuk peningkatan desain struktur roket, yakni kemampuan memprediksi fenomena aeroelastis dan aerothermoelastis roket, khususnya sirip dan nosecone, sistem peredam getaran dan shock struktur payload serta optimasi berat struktur terhadap beban kerjanya, terutama nosel melalui analisis statis, dinamik dan thermal baik untuk material komposit maupun logam. Perbaikan desain diperlukan agar gerak roket lebih baik sehingga mencegah penyimpangan trayektori roket.

Perbaikan lainnya yang dibutuhkan Lapan adalah peningkatan kualitas produk yang dihasilkan, seperti kenaikan Isp propelan, kehalusan fabrikasi struktur, optimalisasi berat struktur menggunakan material komposit, sesuai dengan roadmap tahun 2014.

 PT Pindad 

Sementara PT Pindad juga mulai mengembangkan amunisi kaliber besar seperti 105 mm dan 120 mm. Amunisi ini dikembangkan menjadi warhead dan rudal dengan mode proximity fuse. Proximity fuse menyebabkan kepala rudal akan meledak pada jarak yang telah ditentukan dari target. Teknologi proximity fuse ini menggunakan kombinasi dari satu atau beberapa sensor di antaranya radar, sonar aktif, infra merah, magnet, foto elektrik. Tidak hanya itu, PT Pindad juga terus mengembangkan rudal darat.

Rhan 122

 Sistem Persenjataan Rudal 

Apa yang sedang dikembangkan oleh Lapan dan PT Pindad merupakan pijakan bagi pengembangan sistem persenjataan rudal. Istilah kerennya, jika cita-cita itu tercapai maka rudal Indonesia nanti akan menjadi alternatif salah satu penangkal, sehingga Indonesia tidak tergantung dengan banyaknya jumlah kapal perang atau senjata. Targetnya adalah rudal berpangkalan di darat yang mumpuni dan disegani.


● JKGR
Abarky Indo
[Read More...]


Rudal Cina Akan Dikembangkan di Indonesia



Rudal C705
Jakarta � Dewan Perwakilan Rakyat memastikan adanya pengembangan rudal C-705 asal Cina di Indonesia. Peluru kendali yang akan dipasang di kapal cepat rudal tipe 40 produksi lokal itu diharapkan bisa diproduksi dalam negeri secepatnya.

"Untuk tahap pertama kita akan beli dulu dari Cina," kata Wakil Ketua Komisi Pertahanan Tubagus Hasanudin kepada Tempo, Senin, 28 Januari 2013. Setelah membeli beberapa unit peluru kendali, Cina dan Indonesia akan melakukan produksi bersama rudal tersebut.

Kontrak pembelian misil asal Cina ini, kata Hasanudin, sudah ditandatangani dan disetujui oleh DPR. "Tapi saya lupa kapan dan berapa nilainya," ujar dia.

Dalam daftar pinjaman luar negeri khusus alat utama sistem persenjataan utama, pengadaan rudal C-705 dianggarkan sebesar US$ 7,5 juta untuk enam unit hingga 2014. "Seluruhnya akan dipasang di KCR 40, nanti yang memasang peluncur rudalnya PT. PAL," kata Hasanudin.

Jenis rudal yang akan dipasang di kapal pemukul itu, akan berbeda-beda. "Tahap pertama memang cuma C-705, berikutnya nanti ada pengembangan," ujar Hasanudin.

TNI Angkatan Laut sendiri menilai rudal jenis surface to surface ini cocok dipasang di KCR 40. "Akurasinya bagus dan mematikan," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Untung Suropati.

Menurut Untung, rudal C-705 akan tiba di Indonesia tahun 2014 mendatang. "Tiga pabrikan lokal bakal terlibat dalam tahapan transfer teknologi rudal ini," kata dia. Pabrikan yang akan dilibatkan antara lain, PT. Pindad, Lapan, dan PT. Dirgantara Indonesia.

Pembelian rudal C-705 ini merupakan bagian dari usaha melengkapi persenjataan kapal cepat rudal pabrikan Palindo Marine Batam. Selain dipersenjatai rudal, kapal pemukul ini juga dilengkapi dengan Sensor Weapon Control (Sewaco) berupa meriam kaliber 30 milimeter yang juga diimpor dari Cina dan Afrika Selatan.


• Tempo
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


★ PT Dirgantara Rancang Peluru Balistik



http://assets.kompas.com/data/photo/2012/03/07/1841475p.jpgJakarta � PT Dirgantara Indonesia merancang peluru balistik hingga peluru kendali, untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Sonny Saleh Ibrahim dari Humas PT Dirgantara Indonesia (DI), di sela-sela seminar Hubungan TNI AL dan Industri Pertahanan di Jakarta, Rabu (19/12/2012), mengatakan bahwa pihaknya mengembangkan peluru balistik, peluru jarak jauh, dan peluru kendali penuh yang mampu menjangkau jarak 200 kilometer.

"Untuk peluru balistik dan diluncurkan dari multilaras, memiliki jarak jangkau 14 kilometer, 23 kilometer, dan terjauh 36 kilometer," kata Sonny.

Persenjataan tersebut dikembangkan bersama dengan lembaga terkait, seperti PT Pindad, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan sejumlah industri strategis. Dalam beberapa tahun mendatang produk itu diharapkan sudah digunakan oleh TNI.


● Kompas

[Read More...]


Mistral Komodo Akan Memperkuat Arhanud



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiZ0M-Bjl7hzbd9HMo9toCXPFLPq1jhWcosFcg2NrshuCLSx5U-fcYq0x56e_JWIqXBoZ7QbtCRfQ_w8dDOiICMNku-knw9brj6lahvpZzIdg2WoRGM1xAsIWcRND3V1v1jHYc4SYX_8IW/s1600/P1010967+%25282%2529.jpgRanpur Komodo dipersenjatai rudal Mistral akan diserahkan ke TNI AD pada 2014. (Foto Berita HanKam)

Jakarta - Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) TNI AD akan dipersenjatai rudal Mistral buatan Perancis. Mistral telah digunakan TNI AL untuk melindungi kapal perang dari serangan udara.

Mistral dipasang di ranpur Komodo produksi PT. PINDAD. Sistem rudal Mistral yang dibeli oleh TNI AD dari tipe Atlas, dimana penembakan rudal dilakukan oleh seorang prajurit yang duduk di sistem peluncur dan dibantu tiga prajurit.


Sistem peluncur dapat dicopot dari ranpur, jika medan operasi tidak dapat dijangkau oleh ranpur pembawa sistem peluncur.


Peluncuran rudal dipandu oleh radar MCP, dimana mampu mendeteksi sasaran awal 30 km dan menangkap 20 sasaran pada waktu bersamaan. Radar dirancang berkemampuan anti-jamming, penindaan teman atau musuh dan dapat dioperasikan siang dan malam di segala medan serta cuaca. Radar MCP dioperasikan oleh tiga prajurit.


Sistem peluncur rudal Mistral (Foto Berita HanKam)

Rudal Mistral mempunyai jarak tembak effektif 6,2 km dan ketinggian 4 km. Kecepatan rudal mencapai 2,5 mach dan diklaim probabilitas melumat sasaran hingga 97%.

Arhanud juga akan dipersenjatai rudal Starstreak yang mempunyai jarak tembak effektifnya lebih jauh dari Mistral. Kedua jenis rudal ini akan menggantikan peran rudal RBS-70 dan Rapier dalam menjaga kedaulatan NKRI.
Mistral Komodo (Foto Enongmu)

@ Berita Hankam
[Read More...]


RI-China bangun rudal



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQWyQh9kkmflsfnqJP2eSMwTAiY5exdMR4Owq4EQO7PE99m7Lj4PawqBMAAp27kT8dc_zvPMr7A4A_7FozMrT2nwvvTiQfyAV84JqBOpFcZngm6xAMiAL_62ce00QQ43_vyWszqM3B-j8/s280/kerjasama-rudal-indonesia-china.jpgJAKARTA - Indonesia telah bekerjasama dengan Republik Rakyat China (RRC) dalam bidang militer. Kerjasama ini nanti bisa berlanjut hingga membangun peralatan perang seperti rudal.

Hal itu diakui oleh Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin. Kerjasama tersebut kini sudah berjalan. "Secara diplomasi Indonesia Menhan Indonesia dengan Menhan China sudah sepakat untuk latihan-latihan dan meningkatkan kerjasama militer," kata politisi PDI Perjuangan ini.

Ia menjelaskan kerjasama tersebut sudah berlangsung sejak beberapa pekan lalu. Hanya saja, untuk latihan perang bersama belum dilakukan. Akan tetapi, keinginan untuk latihan perang bersama memang ada. "Beberapa minggu lala misalnya diadakan latihan teknis, menembak bersama, menggunakan senjata bersama. Taktis dulu baru latihan perang," terang purnawirawan TNI ini.

Kerjasama ini juga diakuinya dalam bentuk persenjataan rudal. Modelnya, kapal perang dibuat oleh Indonesia. Sementara, peralatan perangnya yaitu rudal masih dibuat di RRC.

Namun, lanjutnya, keinginan ke depannya adalah rudal juga akan dibuat di Indonesia. Dan itu kerjasama militer yang diharapkan. "Dalam kerjasama non teknis, dalam pembangunan program-program pembangunan produksi alutista. Setiap pembelian senjatan diadakan transfer of teknologi (ToT), seperti membeli rudal. Ke depan akan dilanjutkan pembuatan di Indonesia," jelasnya.

Untuk sumber dana, di awal ini masih menggunakan dana alokasi alutsista yang sudah dianggarkan. Indonesia masih membeli peralatan dari China. Namun, diupayakan untuk diproduksi bersama dan dijual atas nama Indonesia dan China. "Ini merupakan bagian kebutuhan aliutista TNI, sehingga hasilnya dibeli oleh TNI. Bisa jadi pada suatu saat dijual bersama-sama," ucapnya.

(Waspada)
[Read More...]


Kerjasama Produksi Rudal Indonesia-Tiongkok Perkuat TNI AL



Pengamat intelijen Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN) mengatakan kemitraan Indonesia dan Tiongkok dalam memproduksi peluru kendali, alias rudal, dinilai cukup strategis karena memperkuat kapal-kapal perang TNI Angkatan Laut dalam melindungi wilayah perbatasan Indonesia.

Menurut Wawan, di samping modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI Angkatan Laut, kerjasama produksi rudal tersebut oleh pihak pemerintah Indonesia dilakukan dengan menekankan mekanisme alih teknologi antar pakar kedua negara.


“Itu sangat konkrit, tampak ada kemajuan-kemajuan. Berbagai kepentingan terkait persenjataan, baik di darat, laut, udara dan Kepolisian didorong untuk 60 persen dipenuhi dari dalam negeri, tentu saja dengan persetujuan rakyat melalui DPR RI,” ujar Wawan di Jakarta pada Jumat (22/6).


Wawan menambahkan kemitraan Indonesia dan Tiongkok secara menyeluruh memiliki nilai strategis dalam mewujudkan stabilitas dan kerjasama pertahanan di kawasan Asia dan Pasifik.


“Di antara negara-negara tetangga, perlu ada suatu transparansi bahwa semua hubungan ini, yang terkait dengan kerjasama pesenjataan (alutsista), yang menyangkut alih teknologi maupun penggunaan sejata itu sendiri, tidak terkait dengan masalah-masalah ekspansi tetapi terkait dengan masalah ketahanan nasional Indonesia,” katanya.


Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kerjasama produksi rudal Indonesia dan Tiongkok merupakan salah satu butir kesepakatan kemitraan yang lebih menyeluruh dalam pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.


”Ini penting, agar Indonesia bisa menjaga hubungan dengan banyak negara, dan Tiongkok merupakan mitra strategis di kawasan ini. Kementrian Pertahanan saat ini tengah menyusun mekanisme kemitraan kedua negara terkait kerja sama produksi rudal tersebut,” ujarnya.


Kementerian Luar Negeri  melalui Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing baru-baru ini menyatakan, kerjasama Indonesia dengan Tiongkok berlandaskan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) jenis C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.


Dari kerjasama tersebut, diharapkan di masa depan Indonesia juga lebih mampu mengembangkan jenis rudal canggih untuk keperluan militer. Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.


Indonesia menetapkan anggaran sebesar 72 triliun rupiah untuk kebutuhan pertahanannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2012.(
VoA)
[Read More...]


RI-China mantapkan mekanisme alih teknologi rudal



Rudal C-705

Beijing (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China terus memantapkan mekanisme alih teknologi teknologi untuk produksi bersama peluru kendali (rudal) C-705 yang akan digunakan TNI Angkatan Laut.

"Pemerintah China sepakat untuk melakukan alih teknologi dari proses awal, dan kini tengah dimantapkan agar ke depan Indonesia juga benar-benar mampu memproduksi rudal tersebut," katanya Atase Pertahanan Kedutaan Besar RI di Beijing, Kolonel Lek Suryamargono, Selasa.

Surya mengatakan Indonesia selalu mensyaratkan alih teknologi dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk dalam pembelian rudal C-705 untuk TNI Angkatan Laut.

Dia menjelaskan pula bahwa rencana pemerintah membeli rudal C-705 dari China merupakan bagian dari kerja sama industri pertahanan kedua negara.

Menurut kesepakatan kerja sama industri pertahanan antara kedua negara, pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah dan disertai alih teknologi peralatan militer yang antara lain mencakup cara perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, dan pelatihan.

"Ada pula produksi bersama dan pemasaran bersama atas produk persenjataan tertentu yang disepakti. Antara lain peluru kendali C-705," ungkap Suryamargono.

Tentang siapa pihak Indonesia yang akan menjalankan alihteknologi tersebut, Surya mengatakan,"belum tahu apakah PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad atau PT PAL. Yang jelas, China telah sepakat untuk melakukan alih teknologi dan prosesnya kini terus dimantapkan mekanismenya."
(R018) 

• ANTARA News

[Read More...]


Menuju Kemandirian Rudal



Rudal C-705
Industri pertahanan Indonesia memasuki babak baru.Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama koleganya dari Republik Rakyat China Jenderal Liang Guanglie meneken kesepakatan untuk proses alih teknologi peluru kendali (guided missiles/rudal) C-705.

Dengan kesepakatan itu, Indonesia mendapat kewenangan untuk memproduksi rudal yang mempunyai jangkauan lintas cakrawala (over the horizon). Sekilas, ini merupakan kabar biasa. Tapi, bagi kepentingan pertahanan bangsa ini, langkah ini merupakan milestone bagi pembangunan kemandirian alat utama sistem senjata (alutsista) sekaligus menguatkan derajat kapabilitas pertahanan Indonesia. Bangsa ini pun patut berbangga karena tidak banyak negara yang mampu menguasai teknologi rudal atau berkesempatan mendapat alih teknologi senjata strategis tersebut. Pentingnya penguasaan teknologi rudal disadari betul bangsa ini.

Ini terlihat dari rangkaian program roket nasional hingga pembangunan material pendukung. Sudah jauh hari Indonesia memulai tahap awal pembangunan rudal dengan memproduksi roket udara ke darat, folding fin aerial rockets (FFAR), yang diaplikasikan pada helikopter dan pesawat milik TNI. Sejumlah BUMN,yakni PT Dahana,PT Dirgantara Indonesia,PT Pindad,dan PT Krakatau Steel, juga membangun roket R-Han yang mempunyai jangkauan 15-20 kilometer. Untuk material pendukung, awal tahun ini pemerintah meresmikan dua industri strategis, yakni PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang,Kalimantan Timur dan pabrik bahan berenergi tinggi di areal PT Dahana di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dengan pengoperasian kedua pabrik tersebut, kebutuhan bahan baku peledak dan propelan sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri. Dengan demikian,kerja sama dengan China merupakan lanjutan dari tahapan penguasaan teknologi rudal. Melalui kerja sama ini Indonesia mendapatkan limpahan teknologi (technology spillover) yang selama ini dikunci rapat-rapat oleh segelintir negara seperti teknologi telemetri, propulsi, tracking-and guidance,dan sebagainya.

Jika menguasai rahasia teknologi rudal ini,bisa jadi suatu saat Indonesia memproduksi rudal C-705, tapi juga memanfaatkannya untuk mendongkrak kapasitas roket pertahanan (R-Han) atau bahkan menyulap roket pengorbit satelit (RPS) yang tengah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi rudal balistik. Dalam pertahanan, kemampuan penguasaan rudal sangat strategis untuk meningkatkan kekuatan militer suatu negara. Rudal merupakan bagian dari kesenjataan artileri dengan daya jangkau yang mampu mencapai garis belakang pertahanan dan menembus jantung pertahanan lawan.

Ditilik dari kemampuan yang dimiliki, yakni daya jangkau (range), daya ketelitian (precision), dan daya hancur (destruction capability), rudal adalah instrumen paling efektif untuk memenangkan sebuah perang. Bagi TNI, rudal C-705 akan menjadi bagian dari sistem kesenjataan strategis. Rudal yang pertama diperlihatkan ke publik pada ajang Zhuhai Airshow Ke-7 pada 2008 direncanakan akan menempati posisi utama sistem senjata kapal cepat rudal (KCR) yang dimiliki TNI Angkatan Laut.

C-705 akan bahu-membahu dengan rudal Yakhont buatan Rusia yang dipasang di KRI kelas Van Speijk menjadi tulang punggung matra laut Indonesia, terutama di wilayah laut dangkal. Si vis pacem, para bellum. Jika mendambakan perdamaian, bersiap- siaplah untuk perang. Dalam konteks pemahaman inilah,penguatan, modernisasi, dan pembangunan kemandirian alutsista dilakukan oleh pemerintah. Penguasaan teknologi rudal menjadi instrumen penting membangun sistem pertahanan nasional yang mandiri dan berdaya getar tinggi––high level of deterrence. ●


• SeputarIndonesia
[Read More...]


Alih teknologi yang diharapkan menguntungkan kedua negara



Kerjasama industri Indonesia-Cina
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama pejabat lainnya melakukan kunjungan ke Cina pada 19-21 Februari dalam rangka memenuhi undangan Menteri Pertahanan Cina Jenderal Liang Guanglie.

"Segera setelah mendarat di Beijing, pada hari pertama Menhan melakukan kunjungan, menggelar diskusi, serta meninjau dua kompleks industri pertahanan Cina yang terkait dengan produksi peluru kendali," tulis siaran pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing yang diterima Republika, Senin (20/2).

Dalam kunjungan dinas tersebut, Purnomo didampingi oleh Wakil KSAL Lakdsya TNI Marsetio, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, serta Karo TU Kemhan Laksmana TNI Yuhastiar.

Di akhir pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan untuk kerja sama industri pertahanan, yang meliputi alih teknologi yang diharapkan menguntungkan kedua negara.

"Kerja sama industri pertahanan tersebut terkait dengan produksi peluru kendali darat ke darat (ground to ground), darat ke udara (ground to air), serta udara ke darat (air to ground)," kata siaran pers itu.

Delegasi Kemhan hari ini dijadwalkan melakukan pertemuan dan perundingan dengan Menhan Cina Jenderal Liang Guanglie, kemudian bertukar pikiran dengan salah satu lembaga riset / produksi industri pertahanan terkemuka lainnya di Cina.

Pertemuan lain yang merupakan bagian dari kunjungan itu adalah pertemuan dengan Wakil Kepala Komite Sentral Militer Cina, Jenderal Guo Boxiong, yang merupakan orang pertama di Angkatan Perang China (PLA).

Punomo dijadwalkan mengakhiri kunjungannya dengan menemui Wakil Perdama Menteri Li Keqiang, Selasa (21/2). Wakil Perdana Menteri Li Keqiang merupakan kandidat kuat Perdana Menteri Cina berikutnya.

Sebelum bertolak ke Negeri Tirai Bambu, pada pekan lalu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro telah meresmikan Kapal Cepat Rudal 40, KRI Kujang 642, di Dermaga Batu Ampar Kota Batam yang merupakan hasil karya putera-puteri Indonesia.



• REPUBLIKA.CO.ID
[Read More...]


Indonesia-China mantapkan alih teknologi peluru kendali



Rudal C-705
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan China sepakat memantapkan proses alih teknologi serangkaian produksi bersama peluru kendali C-705.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin di Jakarta Senin mengatakan, proses alih teknologi menjadi syarat utama dalam setiap pembelian alat utama sistem senjata dari mancanegara, termasuk peluru kendali dari China.

"Selain itu, kita juga telah menjajaki kerja sama produksi bersama rudal tersebut sebagai produk nasional," kata Brigjen Hartind Asrin menambahkan.

Rangkaian proses alih teknologi itu antara lain ditandai dengan kunjungan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ke China Precision Machinery Import-Export Corporation (CPMEIC) yang menjadi pemegang proyek pengerjaan rudal C-705 yang akan dibeli TNI Angkatan Laut disertai proses alih teknologi.

Sebelumnya, kedua pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan kedua negara. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih teknologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing.

Selama di China, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro melakukan kunjungan kehormatan kepada Menhan China, Menhan Purnomo Yusgiantoro juga berencana melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri China Li Keqiang.

Tak hanya itu, Menhan juga berencana meninjau perusahaan roket dan peluru kendali China ALIT (Aerospace Long March International Trade and Co.Ltd) . (R018/A011)


[Read More...]


Indonesia-China Produksi Rudal Bersama



Peluncuran Rudal C-802 dari KRI Layang-805 (foto TNIAL)

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat China sepakat untuk meningkatkan kerja sama pertahanan termasuk produksi bersama peluru kendali.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI I Wayan Midhio di Jakarta Selasa mengatakan, penjajakan produksi bersama rudal itu telah dilakukan kedua pihak.

Ditemui usai menghadiri penandatangan nota kesepahaman kerja sama teknis pertahanan RI-China ia mengatakan, Indonesia telah menggunakan rudal C-802 buatan Negeri Panda itu untuk mempersenjatai beberapa kapal perangnya.

"Kedepan kita sepakat untuk memproduksi bersama rudal tersebut, yakni dengan menggandeng PT Pindad," ujarnya.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan industri nasional pertahanan China, Chen Qiufa.

Nota kesepahaman itu mencakup lima poin yakni pengadaan alat utama sistem persenjataan tertentu yang disepakati kedua pihak dalam kerangka "G to G".

Kedua, alih tekonologi peralatan militer tertentu yang antara lain mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, up grade dan pelatihan.

Tiga poin lainnya adalah kerja sama produk peralatan militer tertentu, pengembangan bersama peralatan militer tertentu serta pemasaran bersama dalam dan di luar negara masing-masing, kata I Wayan Midhio.(R018/S026)


• ANTARAnews
[Read More...]


India Tawarkan Kerjasama Pembuatan Rudal



JAKARTA--MICOM: Pemerintah India menawarkan kerjasama pembuatan rudal ke Indonesia. Tawaran itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Nirmal Kumar Verma saat melakukan kunjungan resmi ke Kemenhan, Jakarta, Selasa (11/1).

"India ingin menawarkan kerjasama. Nah, sejauh mana kemampuan kita karena yang berkali-kali ditawarkan ke kita rudal Brahmosk. Itu sudah dibuat dan ditawarkan ke kita. Kita sudah beli yang asli. Rudal Yakun. Mudah-mudahan kedepan kita bisa kerjasama," kata Kapuskom Publik Brigjen I Wayan Midhio.

Kerjasama itu, dinilai dia bisa menguntungkan program seribu roket yang sedang digagas oleh Indonesia. Dikombinasikan dengan kemampuan pembuatan rudal India, ia menyatakan roket Indonesia berpeluang menjadi rudal.

"Indonesia sudah mampu membuat roket. Tahun 2011-2014 kita buat seribu roket. Kalau kita buat pengaturnya, nanti kita buat rudal. Nah, kita jajaki apa yang ditawarkan mereka," jelasnya.

Industri pertahanan India, menurut dia, sudah lebih maju dibandingkan Indonesia. India bahkan sudah mampu memproduksi kapal selam, rudal, korvet dan kapal induk. Fokus industri pertahanan India saat ini adalah membangun air defence carrier, yakni teknologi pesawat anti serangan udara. "Kita sendiri saat ini spare part radar dan parasut kita membeli dari mereka," tukasnya. (Din/OL-04)


• MediaIndonesia
[Read More...]


RI–China Jajaki Kerja Sama Produksi Rudal



Peluncuran Rudal C-802 dari KRI Layang-805 (Foto : Dispen TNI-AL)

JAKARTA (SINDO) – Indonesia menjajaki kerja sama produksi peluru kendali (rudal) dengan Republik Rakyat China. Pemerintah telah menawarkan kerja sama tersebut dalam pameran pertahanan beberapa hari lalu.

“Misalnya pengadaan misil C 802 dan C 705. Kalau mau perbanyak, kenapa tidak dibangun di Indonesia saja,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kantor Kementerian Pertahanan kemarin. Purnomo mengatakan, kebutuhan akan rudal jenis tersebut cukup besar untuk ditempatkan di kapal-kapal perang milik TNI Angkatan Laut. Penjajakan kerja sama ini selaras dengan strategi pembangunan industri pertahanan.

Menurut Purnomo, pengadaan alat utama sistem persenjataan yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sedapat mungkin diupayakan transfer teknologi untuk meningkatkan content lokal dan substitusi impor. “Yang belum bisa untuk dalam negeri, kita akan joint production dulu pelan-pelan kemudian kita dapat lisensi jadi kita ingin yang kita impor itu kita substitusi pelan-pelan sehingga impornya berkurang, local content-nya naik, pada suatu saat nanti kita bisa ekspor,”katanya.

Namun, lanjut Purnomo, kerja sama produksi bersama rudal tersebut belum dapat dipastikan dalam waktu dekat karena masih cukup banyak tahapan yang harus dijalani.“ Tentunya China pun masih hitung-hitungan investasinya akan seperti apa,”ujarnya. Ketika ditanyakan peningkatan kerja sama militer dengan China apakah muncul tekanan dari negara- negara tertentu, Purnomo menegaskan, Indonesia menjalin kerja sama berdasarkan prinsip bebas aktif.

“Kita lakukan kerja sama militer kepada siapa saja. Prinsip kita million friends zero enemy. Dan saya kira mereka juga mengapresiasi cara-cara kita itu,”ujarnya. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan, pihaknya telah mengirimkan tim untuk melihat fasilitas pendidikan dan latihan pasukan khusus di negara itu.

Kerja sama antarpasukan khusus TNI dan militer China itu bisa dilakukan dalam berbagai bentuk di antaranya latihan bersama atau pendidikan perwira. “Kerja sama pasukan khusus antara militer Indonesia dan China juga menyangkut kerja sama pemberantasan terorisme,” katanya. (pasti liberti)


• SINDO
[Read More...]


Teknologi Rudal di Indonesia



Teknologi Rudal di Indonesia

Sebenarnya teknologi pembuatan Rudal atau roket di Indonesia sudah dirintis sejak awal tahun 1960 an. Indonesia termasuk negara kedua di Asia dan Afrika setelah Jepang yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri, yaitu roket Kartika 1 pada tanggal 14 Agustus 1964. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari bantuan teknis dari negara Uni Sovyet yang saat itu memang paling unggul di bidang teknologi Rudal atau roket. Sejak Indonesia membeli berbagai Rudal SAM (Surface to Air Missile) dari Uni Soviet sebenarnya pembangunan teknologi Rudal di dalam negeri sudah mulai dirintis. Namun sayangnya, Indonesia gagal melakukan alih-teknologi akibatnya, selama lebih da
ri seperempat abad sejak meluncurkan satelit pertamanya, Indonesia hanya bisa bertindak sebagai konsumen saja. Sementara itu, negara-negara lain justeru mulai membangun membuat serta mengembangkan teknologi Rudal dan satelit. Sebenarnya, kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China tanggal 30 Mei 2005 lalu, yang di antaranya membicarakan kerjasama pembangunan roket atau Rudal kedua negara, merupakan peluang emas bagi Indonesia untuk membangun teknologi Rudal canggih. Di mana sebagai imbalannya Indonesia akan membeli beberapa Rudal China tersebut, dan diharapkan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan Indonesia sudah dapat melakukan transfer of technology sistem Rudal China.

Roket Kartika 1 dan 2

Rudal SA 75 (Surface ti Air) buatan Uni Sovyet yang pernah dimiliki TNI AU

Pada tanggal 14 Agustus 1964, roket kebanggaan Indonesia Kartika 1 dengan berat 220 kg berhasil diluncurkan dengan sukses dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat, berselang kemudian dilanjutkan dengan peluncuran Kartika 2. Tidak banyak diketahui publik, bahwa keberhasilan peluncuran roket tersebut merupakan hasil kolaborasi atau kerjasama Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) AURI, Instansi LAPAN dan Perguruan Tinggi ITB. Bahkan kalau kita datang ke Skuadron Udara 7 Kalijati (Lanud Surya Dharma) dapat ditemukan Rudal SAM milik Uni Sovyet yang sudah diurai sebagai bahan latihan praktek perwira Angkatan Udara kecabangan roket. Rudal yang berhasil diurai tersebutlah yang menjadi cikal bakal atau embrio pembuatan Roket Kartika 1 dan 2. Namun sangat disayangkan program perintisan Rudal di Indonesia tersebut berhenti dan tidak dapat dilanjutkan kembali

Roket RX 250 LPN
Baru kemudian pada tahun 1987 LAPAN kembali membuat roket baru diberi nama RX-250 LPN, berbahan bakar cair dan padat dengan berat 300 kg memiliki panjang 5,30 meter berdaya jangkau 70 km. LAPAN berhasil meluncurkan roket RX-250 LPN pertama kali secara mulus dari stasiun peluncuran roket Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kemudian pada tahun 1995 roket kedua RX-250 LPN juga berhasil diluncurkan dengan sukses. Bisa dibilang roket RX-250 LPN merupakan roket tercanggih buatan putra-putri terbaik Indonesia saat ini. Yang mungkin perlu dikembangkan lagi adalah sistem kendali roketnya yang dilengkapi sistem radar yang modern, sehingga dapat dikembangkan menjadi salah satu Alutsista militer unggulan.
Penutup

Sebagai penutup dapat ditarik kesimpulan, bahwa kemajuan dan perkembangan teknologi persenjataan militer selalu memiliki nilai strategis dan memainkan peranan penting dalam suatu peperangan. Begitu pula dengan teknologi Rudal yang mempunyai kemampuan daya jangkau jauh serta daya hancur yang mematikan akan terus berkembang sesuai laju perkembangan teknologi militer. Sehingga penguasaan teknologi Alutsista militer menjadi mutlak sifatnya dan diperlukan oleh bangsa Indonesia dalam rangka mengurangi ketergantungan peralatan atau persenjataan militer buatan luar negeri. Indonesia yang memiliki sumber daya manusia yang handal didukung berbagai fasilitas industri strategis seperti Pindad, PT. PAL, PT.DI, LAPAN dan sebagainya, sebenarnya memiliki potensi sangat besar untuk membangun serta mengembangkan industri militer dan pertahanannya sendiri. Jangan dilupakan, bahwa Indonesia pernah mencatat sejarah emas sebagai negara ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Canada yang memiliki satelit komunikasinya sendiri yaitu satelit Palapa A1 (diluncurkan tanggal 9 Juli 1976). Indonesia juga tercatat sebagai negara kedua di Asia dan Afrika setelah Jepang yang berhasil meluncurkan roketnya sendiri, yaitu roket Kartika 1, pada tanggal 14 Agustus 1964. Catatan emas tersebut hendaknya dijadikan modal berharga bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan di bidang teknologi persenjataan militer dari negara-negara lain. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sudah mengajak segenap komponen bangsa agar mulai melakukan usaha strategis ke arah kemandirian produksi Alutsista militer dalam negeri. Karena dengan kemandirian tersebut dapat mengurangi ketergantungan Alut sista dari negara luar, serta untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya embargo militer. Nah, Pemerintah saja sudah memiliki kemauan politis (political will) untuk hal tersebut, maka tepat kiranya kita wajib mendukung agar ke depan negara Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju lainnya.
*) Pasi Evalnet Disinfonet Puspen TNI (Alumni Dept. Computer Science, The University of Sheffield, U.K.)

Melangkah Menuju Peluncuran Satelit








Beragamnya aplikasi satelit dan meningkatnya kebutuhan wahana ini, ditambah berlakunya pelarangan pembelian komponen pembuat roket, mendorong Indonesia mengumpulkan daya agar mandiri dalam bidang peroketan yang dikembangkan sebagai wahana pengorbit satelit.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang mencapai usia 45 tahun pada 27 November lalu, sejak 2007 melakukan percepatan dalam pengembangan teknologi peroketan dan satelitnya. Percepatan itu terjadi setelah berhasil melepas ketergantungannya pada pembuatan bahan bakar propelan dari pihak asing, antara lain amonium perklorat.

Setelah sukses dengan peluncuran roket eksperimen Rx250 & Rx-320, Lapan berhasil melakukan uji statik Rx-420 di Pusat Teknologi Wahana Dirgantara Lapan Rumpin, Tarogong, Tangerang. Pelaksanaan uji statik ini menyusul uji peluncuran roket kendali berdiamater 100 mm dan 300 mm serta roket balistik 122 mm yang diluncurkan akhir pekan lalu di Pamengpeuk, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Seusai menyaksikan pelaksanaan uji statik Rx-420 itu, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan akan terus mendorong Lapan untuk konsisten mengembangkan roket sesuai dengan kompetensinya hingga mampu mengorbitkan satelit. ”Untuk program roket tahun 2009, saya telah mengusulkan kepada DPR dana sebesar Rp 25 miliar,” ujarnya.

slv 1-lapan

Pada 2009, jelas Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun, setelah keberhasilan uji statik Rx-420, program peroketan akan dilanjutkan dengan uji peluncuran roket tersebut yang menurut rencana dilaksanakan Mei 2009.

Dijelaskan Edi Sofyan, Ketua Kelompok Penelitian Bidang Kendali Roket Lapan, roket kendali RK-100 sebanyak tiga unit diluncurkan Sabtu (20/12) di Pamengpeuk, Garut Selatan. Misi peluncuran ini adalah untuk menguji sistem kendali pada sirip belakang.

Peluncuran RK-100, yang mempunyai panjang 4 meter ini, merupakan fase ketiga eksperimen roket itu. Fase I yang dilakukan September 2007 masih ditemukan masalah pada bagian sayap. Setelah dilakukan perbaikan, dilakukan peluncuran RK-100 fase II pada Juni 2008.

Adapun uji peluncuran roket kendali 300 mm yang merupakan tahap pertama, jelas Edi, bertujuan untuk menguji sistem pendorong roket dan turbo jet.

Pada Minggu (21/12) di lokasi yang sama dilaksanakan peluncuran tahap pertama roket balistik RB-122 yang tidak dilengkapi dengan sistem kontrol. Pada uji peluncuran ini bertujuan untuk mengukur kinerja atau performansi motor roket.

Pengujian kinerja roket baik sistem kendali dan balistik merupakan satu rangkaian dalam pengembangan roket pengorbit satelit.

Konfigurasi Rx-420-320

Roket eksperimen berdiameter 420 mm (Rx-420), pelaksanaan uji statiknya tertunda seminggu, karena diperlukan penambahan sistem penahan pada bagian ekor propulsi, agar aman. ”Dengan memasang sistem penahan yang memadai pada roket, yang ditempatkan pada posisi horizontal di lorong itu, maka roket akan tetap stabil ketika dilakukan uji penyalaan,” urai Adi.

Dalam kondisi nyala, roket Rx-420 yang menggunakan bahan bakar amonium perklorat akan memiliki daya dorong hingga 10 ton dalam waktu 11 detik. ”Lepasnya penahan pernah terjadi pada tahun 1986 dalam uji statik sebuah roket. Akibatnya, roket keluar dari block house (rumah uji),” tambah Adi.

Pengukuran hasil uji statik Rx-420, jelas Lilis Mariani, periset di Tim Uji Statik Rx-420, performasi roket ini sedikit lebih baik dibandingkan desain rencana, terutama pada daya dorong roket yang lebih tinggi dari yang direncanakan.

Roket Rx-420 ini merupakan bagian penting dalam konfigurasi Roket Pengorbit Satelit (Satellite Launch Vehicle/SLV) Pertama Lapan yang direncanakan meluncur pada tahun 2014, jelas Yus Kadarusman Markis, Kepala Pusat Teknologi Wahana Dirgantara Lapan.

Pada SLV-I itu, terdiri dari roket tiga tingkat, yaitu pada tingkat pertama dipasang tiga roket Rx-420 sebagai pendorong atau booster, pada tingkat dua satu propulsi berdiameter 420 sebagai sustainer, dan di tingkat tiga propulsi 320.

Dengan komposisi roket tersebut dan menggunakan bahan bakar propelan padat, menurut Yus, telah memadai untuk membawa satelit ke orbit. ”Roket pengorbit ini memungkinkan membawa nano satelit yang persiapannya makan waktu dua tahun,” tambah Adi.

Satu roket Rx-420 yang berbobot sekitar 2 ton memiliki jangkauan 120 km. Dengan konfigurasi itu, SLV-I diharapkan dapat menjangkau ketinggian sekitar 400 km. Roket ini dapat membawa muatan 50 kg untuk sampai pada orbit yang dicapai minimal pada ketinggian 250 km. Kecepatan horizontal roket di orbit mencapai 8 km per detik.

Saat ini Lapan tengah mengembangkan sendiri material yang lebih ringan untuk roket, karena pengembangan teknologi pembuatan baik propelan maupun material roket bersifat tertutup.

”Pembelian material dari pihak asing tidak dimungkinkan karena semua negara, termasuk China, tidak lagi memenuhi pesanan material untuk pembuatan roket dari Indonesia, sebagai negara yang masuk kategori perlu diawasi seperti Iran,” urai Yus.

Pada tahapan selanjutnya, Lapan akan terus mengembangkan roket berdiameter lebih besar, yaitu Rx-540 dan Rx-750. Roket Rx-420 merupakan roket keenam yang dikembangkan Lapan selama ini. Roket generasi terdahulu berturut-turut memiliki diameter 70, 100, 150, 250, dan 320 mm.

Sejak beberapa tahun lalu, lanjut Yus, peneliti Lapan juga telah mengembangkan bahan bakar propelan cair yang baru mencapai bobot 10 kg. Masih diperlukan waktu lama untuk sampai pada kapasitasnya untuk mendukung roket pengorbit satelit.

Kendalanya karena kurangnya sumber daya manusia peneliti dan sulitnya memperoleh bahan baku, serta tingginya tingkat kesulitan dan bahaya ledakan dalam pembuatan propelan cair. Meski begitu, Lapan harus mengembangkan pembuatan propelan cair yang memiliki kelebihan daripada propelan padat, yaitu membuat roket mudah dikendalikan ketika mengorbit.

Sumber: Kompas , LAPAN, dll

[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri