ISENG BLOGER

Mahasiswa UNY ciptakan mesin sangrai melinjo otomatis



http://images.harianjogja.com/2013/01/UNY1.gifYogyakarta - Kelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan mesin sangrai melinjo otomatis untuk memudahkan proses pengolahan biji melinjo menjadi emping.

"Alat yang diberi nama `Automatic Sangrai Melinjo` itu dibuat untuk mengganti proses penyangraian biji melinjo yang dilakukan secara manual," kata koordinator kelompok mahasiswa itu, Widodo, di Yogyakarta, Selasa.

Ia menjelaskan proses kerja alat itu mirip menghidupkan kompor. Selanjutnya pengguna dapat memilih mode yang digunakan untuk menyangrai melinjo.

Jika menggunakan mode auto maka alat sangrai melinjo akan mengeluarkan melinjo panas yang siap dikupas dalam waktu yang telah ditentukan dan secara periodik, sedangkan mode manual yang akan keluar adalah melinjo panas yang siap kupas.

"Cara kerja alat itu adalah biji melinjo sangrai dimasukkan dalam tabung yang akan bergerak secara otomatis dan keluar otomatis pula. Untuk nyala api dapat disesuaikan dengan suhu karena ada kontrol kendali pada regulator gas," katanya.

Ia mengatakan melinjo merupakan hasil bumi yang dapat dijual dengan harga tinggi jika diolah lebih lanjut, seperti dijadikan emping. Emping mempunyai nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hanya dijual sebagai melinjo.

"Cara pemrosesan dan pengolahan biji melinjo akan memengaruhi harga maupun klasifikasi mutu dari produk tersebut," katanya.

Menurut dia, proses pengolahan biji melinjo tersebut melalui beberapa tahapan, yakni pengupasan kulit paling luar, menyangrai biji, pengupasan kulit keras, penumbukan biji melinjo, pencetakan, dan penjemuran emping.

"Mayoritas masyarakat membuat emping melinjo masih menggunakan cara yang tradisional atau masih banyak dilakukan dengan tenaga manusia. Menurut pengamatan, biji melinjo yang bagus untuk ditumbuk adalah ketika suhu panas sesaat keluar dari tempat menyangrai," katanya.

Hal itu, tergantung pada kecermatan dan kecepatan pekerja dalam pengupasan kulit keras. Dalam pengadukan ketika proses sangrai dibutuhkan ketepatan dalam memperkirakan kapan biji benar-benar telah hilang kadar airnya dan matangnya pas.

Permasalahan yang sering terjadi saat melakukan sangrai adalah panas yang tidak merata yang diterima oleh melinjo sehingga dapat mengakibatkan melinjo gosong atau tidak matang sama sekali.

"Hal itu memunculkan ide membuat mesin sangrai melinjo otomatis untuk pengusaha emping sehingga lebih memudahkan proses pengolahan," katanya.

Ia mengatakan dalam 100 gram melinjo mengandung 66 kalori, lima gram protein, dan 13,3 gram karbohidrat.

"Jika diolah menjadi emping, dalam 100 gram terdapat 345 kalori, 12 gram protein, dan 71,5 gram karbohidrat," katanya.

Anggota kelompok mahasiswa UNY yang mengembangkan mesin sangrai melinjo otomatis itu, adalah Rizki Edi Juwanto dan Osiany Nurlansa. (B015/M029)


  ● Antara 
[Read More...]


SIM Sebagai Pengaman Kendaraan



https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRUu2QRN7pDL3ibucoXB95jBLUSLmyt0RJfBucEr4ifG-jWnUkaSesuai dengan UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 77 ayat (1), seluruh pengemudi kendaraan bermotor harus mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) sesuai dengan jenis kendaraannya. Namun, pelanggaran SIM terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di jalan. Pelanggaran tersebut tidak hanya terjadi pada beberapa kota besar saja, melainkan hampir terjadi secara merata di seluruh Indonesia. Anak yang masih di bawah umur, orang yang sudah lanjut usia, dan seorang yang belum memenuhi persyaratan untuk mendapatkan SIM tentunya belum dapat mengemudikan kendaraannya. Untuk dapat mengemudikan kendaraannya orang tersebut haruslah mendapatkan SIM terlebih dahulu, baik sepeda motor, mobil, maupun angkutan umum lainnya.

Hal tersebut menginspirasi sekelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Raditya Nugroho, Aan Yudianto, Anas Fatoni, dan Muhtar Lutfi Anshori untuk mengembangkan sistem upaya penekanan pelanggaran penggunaan SIM dengan suatu alat yang bernama VIDLS (Vehicle Integrated Driving License System). Alat VIDLS menuntut para pegemudi mempunyai SIM untuk bisa menghidupkan kendaraanya sehingga diharapkan mampu meningkatkan kedisiplinan para pengemudi. Alat VIDLS memanfaatkan bare code yang terdapat pada SIM untuk bisa mendeteksi adanya Surat Izin Mengemudi. Mesin akan dapat hidup jika kelistrikan motor menyala ON dan input dari bare code terdeteksi.

Menurut Bapak Dwi dari Polantas Polda DIY, alat tersebut apabila diimplementasikan dapat membantu menertibkan pengendara di jalan raya serta dapat dikembangkan lebih lanjut untuk fitur teknologi yang lebih baik ke depannya.

Hal itu juga diamini oleh salah seorang tokoh masyarakat, Yunus, di daerah Bantul yang mengatakan bahwa ide bagus ini bisa dikembangkan dengan bekerjasama dengan pihak kepolisian.

Ke depan diharapkan pengendara motor di Indonesia bisa tertib dalam berkendara di jalan raya dengan surat-surat yang lengkap serta berkompeten dalam berkendara sesuai aturan-aturan dan tata tertib berlalu lintas.


  ● UNY 
[Read More...]


UNY manfaatkan sisik ikan jadi penyerap kromium



Yogyakarta - Tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) memanfaatkan limbah sisik ikan untuk penyerap (absorben) ion logam kromium yang terdapat dalam limbah cair industri pelapisan logam.

"Sisik ikan mengandung zat kitin dan kitosan yang dapat dijadikan sebagai adsorben ion logam berat, seperti kromium (Cr). Ion logam Cr dapat mencemari lingkungan," kata Koordinator Tim Mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY, Nuke Ajeng Prabawati, di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, kitin dan kitosan merupakan adsorben yang dapat menyerap logam berat. Kitin dan kitosan dapat ditemukan pada limbah pengolahan hasil laut seperti cangkang udang, kepiting, dan sisik ikan.

"Rencana awal kami menggunakan sisik ikan bandeng, tetapi karena kesulitan mencarinya karena lembut dan kecil-kecil, kami menggantinya dengan sisik ikan kakap yang lebih besar dan lebih mudah dicari," katanya.

Ia mengatakan, hasil penelitian memperlihatkan bahwa adsorben dari sisik ikan memiliki daya serap optimum terhadap ion logam Cr (VI) pada pH 3 dengan daya adsorbsi 55 persen dan pada konsentrasi adsorbat 25 ppm dengan daya adsorbsi 34,87 persen.

Dengan demikian, dikemukakannya, hasil penelitian itu dapat dipakai menyerap ion logam Cr (VI) untuk mengolah limbah cair industri.

Mekanisme adsorbsi oleh arang aktif adalah penyerapan molekul ion logam dalam pori-pori dari arang aktif sehingga dapat terpisah dari cairannya, ujarnya.

"Jika pori-pori adsorben itu belum terbuka secara sempurna, maka daya adsorbsinya juga akan berkurang. Pada penerapan di lapangan hal itu dapat diatasi dengan melakukan adsorbsi berulang hingga kadar Cr (VI) dalam limbah cair tidak melebihi ambang batas yang diizinkan," katanya.

Namun, menurut dia, keberadaan limbah sisik ikan yang cukup melimpah masih belum dimanfaatkan secara optimal sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan.

Ia mengatakan, pada era modern saat ini perkembangan industri sangat pesat terutama industri pelapisan logam (electroplating). Industri electroplating banyak menghasilkan limbah berupa ion logam berat, salah satunya ion logam kromium.

"Ion logam kromium dapat mencemari lingkungan dan jika terakumulasi di dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian," katanya.

Anggota tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY itu adalah Setiawati, Dini Permatasari, dan Chanel Trihandoko.


  ● Antara  
[Read More...]


Mahasiswa UNY Ciptakan "Hand Sanitizer" Berbahan Organik




Ilustrasi Cairan Hand SanitizerYogyakarta - Kelompok mahasiswa Program Studi Kimia FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memanfaatkan formulasi gel lidah buaya dan ekstrak kemangi sebagai pembersih tangan organik.

"Tanaman lidah buaya (Aloe vera) mengandung senyawa antibakteri, lignin, dan saponin. Kemangi (Ocimum sanctum L) memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti saponin, flavonoida, dan tannin yang dapat meminimalisasi dan membunuh bakteri dan kuman," kata koordinator kelompok Abdul Aji di Yogyakarta, Sabtu (27/7).

Menurut dia, pada uji bakteri digunakan variabel kontrol dengan menggunakan produk "hand sanitizer" atau pembersih tangan yang telah beredar di pasaran.

"Metode yang digunakan untuk membuat 'hand sanitizer' alami adalah metode ekstraksi, sedangkan metode uji hasil menggunakan metode pembiakan bakteri Staphylococcus aureus dan Eschericia coli," katanya.

Ia mengatakan, produk "hand sanitizer" itu telah dilakukan uji organoleptik kepada masyarakat. Berdasarkan hasil uji organoleptik diperoleh bahwa produk itu mayoritas diminati oleh masyarakat dan nyaman digunakan di tangan.

"Dari lima formulasi yang dilakukan uji organoletik, formulasi tiga dengan kandungan 50 persen ekstrak kemangi dan 50 persen formulasi gel lidah buaya yang paling disukai oleh masyarakat," katanya.

Menurut dia, hasil yang diperoleh dari uji "hand sanitizer" yang telah dibuat baik dari segi variabel kontrol maupun variabel bebasnya memberi hasil yang sama secara keseluruhan terhadap bakteri Staphylococcus aureus maupun Eschericia coli.

"Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa produk "hand sanitizer" organik itu memiliki keefektifan yang sama dengan produk yang telah beredar di pasaran dan nyaman digunakan oleh masyarakat," katanya. Anggota kelompok mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mengembangkan pembersih tangan organik itu adalah Rr Putri Febrianingtyas, Ragil Nurjanah Rahmawati, dan Danish Oktaviana


[Read More...]


MAHASISWA FMIPA MANFAATKAN SERBUK AMPAS KELAPA SEBAGAI ADSORBEN ION LOGAM BERAT Cr(III)



Buah kelapa banyak manfaat. Daging buah kelapa bisa digunakan sebagai bahan masakan, biasanya digunakan dalam bentuk santan. Santan merupakan sari daging buah kelapa. Santan diambil dari perasan daging buah kelapa yang telah diparut sebelumnya. Ampas dari parutan daging kelapa yang telah diperas untuk diambil santannya dan biasanya hanya dibuang begitu saja atau digunakan untuk campuran pakan ternak.

Akan tetapi setelah dilakukan inovasi oleh Raden Wahid Hanafi dan Nenny Widiani, mahasiswa Prodi Kimia FMIPA UNY, ternyata ampas kelapa tersebut bisa dimanfaatkan sebagai adsorben ion logam berat Cr(III) atau kromium.

Menurut Wahid, ion logam Cr(III) merupakan logam berbahaya bagi kesehatan. Ion logam Cr(III) banyak dihasilkan dari limbah buangan hasil industri electroplating dan penyamakan kulit. Ion logam Cr(III) bersifat karsinogenik. Ion logam Cr(III) tidak dapat dicerna oleh tubuh dan bila masuk dalam tubuh manusia ion logam Cr(III) akan terakumulasi dalam tubuh dan dapat mrnimbulkan penyakit-penyakit yang berbahaya.

Upaya pengendalian limbah logam berat Cr(III) ini sudah banyak dilakukan. Berbagai adsorben telah dimanfaatkan untuk mengurangi kandungan Cr(III) dalam limbah, namun hasilnya belum memuaskan. Sehingga masih diperlukan adsorben dari bahan atau material baru seperti ampas kelapa.

Tahap pembuatan adsorben serbuk ampas kelapa dibagi menjadi 2 tahap, yakni pembuatan arang ampas kelapa menggunakan metode sangrai dan pengayakan arang ampas kelapa dengan menggunakan ayakan 50 mesh.

Ampas kelapa digunakan sebagai adsorben karena mengandung selulola, manan, dan galaktomanan. Pada selulosa dan galaktomanan terdapat situs aktif. Situs aktif tersebut mampu mengikat ion logam berat. Selain itu, ampas kelapa mempunyai pori-pori yang dapat menjebak ion logam berat.

Setelah pembuatan arang dengan memanfaatkan ampas kelapa, maka tahapan selanjutnya yakni menyerap logam berat Cr(III) dengan arang tersebut. Cr(III) diperoleh dari larutan CrCl3. Sebanyak 1 gram arang ampas kelapa dimasukkan ke dalam 25 ml larutan CrCl3 dengan konsentrasi 50, 100, 150, 200, dan 250 ppm. Proses adsorpsi dilakukan dengan pengadukan selama 1 jam lalu didiamkan selama 1 hari 1 malam.

Berdasarkan penelitian ini, ampas kelapa yang dibuat menjadi arang dapat digunakan secara efektif untuk mengadsorpsi ion logam berat Cr(III) pada konsentrasi 100 ppm dengan konsentrasi Cr(III) terserap sebesar 94,046 ppm dan daya serapnya sebesar 2,351 mg/g. (witono)


  ● UNY 
[Read More...]


KRIPIK KEMANGI KARYA MAHASISWA D3 UNY KAMPUS WATESS



Siapa tidak mengenal kemangi, tumbuhan kecil yang daunnya biasa dimakan sebagai lalapan. Aroma daunnya khas, kuat namun lembut dengan sentuhan aroma limau. Daun kemangi merupakan salah satu bumbu bagi pepes. Sebagai lalapan, daun kemangi biasanya dimakan bersama daun kubis, irisan ketimun, dan sambal untuk menemani ayam atau ikan goreng. Aroma khasnya berasal dari kandungan sitral yang tinggi pada daun dan bunganya.

Di Thailand, ia dikenal sebagai manglak dan juga sering dijumpai dalam menu masakan setempat. Di tangan mahasiswa D3 Akuntansi Kampus Wates Universitas Negeri Yogyakarta, kemangi diolah menjadi kripik yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut ketua kelompok, Rudi Irawan, para mahasiswa D3 Akuntansi di Kampus Wates yang berjumlah 17 orang membuat usaha kecil menengah (UKM) dengan hasil utama kripik kemangi ini. UKM yang diberi nama Lucky Company ini beranggotakan: Rudi Irawan, Tri Aditya Nugroho, Rohmad Sutardi, Nujumun Niswahyuning P., Hilma Delila, Renidia Dewanti P.P., Taufiqqurrahman, Dwi Aryani Muslimah, Endah Prayogi, Niswatun Umul H., Siti Sulistiawati, Catur Septiana W., Dian Arum Sari, Erawati Dwi Martini, Brian Giart W., Istiqomah, dan Erlinda Siagian.

“Tujuan kami adalah melayani masyarakat dalam hal kebutuhan makanan ringan pada saat santai, piknik, atau acara keluarga,” kata Rudi, “dan kami memulainya dengan membuat kripik yang unik, berbeda dan lebih menarik yang harganya terjangkau.”

Salah satu anggota Lucky Company, Nujumun Niswahyuning, mengatakan bahwa kemangi merupakan tumbuhan tahunan yang tumbuh tegak dengan cabang yang banyak, berbau wangi seperti cengkeh dan rasanya pahit. “Daun kemangi memiliki beberapa kandungan yang sangat bermanfaat untuk tubuh kita, seperti vitamin C, vitamin A, vitamin B, beta karoten, kalsium, fosfor magnesium, protein, lemak, karbohidrat, besi, flavonoid, arginin, boron, dan anetol” kata Nujumun.

“Dengan kandungan yang banyak dari daun kemangi tersebut, tentu saja pastinya khasiat daun kemangi akan kita dapatkan terutama untuk menjaga tubuh kita agar tetap sehat.” Sementara Renidia Dewanti menjelaskan bahwa bahan yang dibutuhkan untuk membuat kripik kemangi adalah kemangi segar, tepung tapioka, tepung beras, minyak goreng, telur, garam, dan bawang putih.

Cara membuatnya: tepung terigu dan tepung beras dicampur lalu ditambah bawang putih dan garam yang dihaluskan, kemudian masukkan putih telur. Sementara itu minyak dipanaskan dan ditunggu sampai mendidih. Setelah minyak panas, masukkan kemangi pada adonan dan goreng sampai kecoklatan, angkat dan tiriskan lalu kripik kemangi dapat disajikan. (dedy)


  ● UNY  
[Read More...]


Boneka Edukasi Dengan Aroma Terapi



Boneka adalah jenis mainan dengan berbagai macam bentuk mulai manusia, hewan, serta tokoh-tokoh fiksi. Pada umumnya, boneka digunakan sebagai mainan anak-anak dan kadang kala juga digunakan sebagai koleksi sekaligus sahabat bagi penggemar boneka. Tentunya, keberadaan mainan yang satu ini sangatlah dekat dengan kehidupan manusia, terutama anak-anak. Oleh karena itu, terbuka peluang untuk mengembangkan manfaat yang besar dari boneka itu sendiri salah satunya dengan menyisipkan nilai edukasi dan kesehatan.

Menilik peluang bisnis tersebut, Latifa Dwike Ambarawati, Arinta Setia Sari, Meita Wulan Sari, dan Renaldi Iriawan, sekumpulan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan UNY 2013, menuangkan ide kreatif mereka dalam bentuk boneka bernama “Barbara Queen”. Nama Barbara adalah untuk alasan global branding, “Jadi, dengan kesan internasional harapan kami agar boneka ini dapat mewakili berbagai kebudayaan dunia sedangkan queen adalah sebagai simbol eksklusifitas,” tutur Latifa Dwike Ambarawati atau sering disapa Ike, ketua kelompok.

Boneka ini dapat mengeluarkan aroma terapi sebagai penghilang rasa lelah, refleksi pikiran dan membantu menjaga kesehatan. “Selain itu boneka ini juga memiliki nilai edukasi sebagai media belajar kebudayaan dengan memperkenalkan berbagai macam busana tradisional dunia dengan sentuhan motif batik,” tambah mahasiswi Program Studi Pendidikan Teknik Busana ini.

“Bahan-bahan yang kami gunakan sebagai aroma terapi berasal dari berbagai macam tanaman di lingkungan sekitar sehingga ramah lingkungan dan tidak menimbulkan efek samping,” jelas Ike.

“Kemudian jika aroma yang dihasilkan mulai memudar, konsumen cukup memasukkan cadangan aroma terapi melalui celah reslitting yang ada pada boneka ini,” jelas Perempuan asal Lombok ini.

“Dalam pembuatannya kami memanfaatkan kain velboa sebagai bodi boneka serta kain batik sebagai aksen pada setiap pakaian tradisional dari berbagai macam negara,” ungkapnya.

“Dengan kreasi boneka ini, harapan kami akan dapat membuka lapangan kerja baru serta menyehatkan jiwa raga masyarakat, juga mengenalkan kebudayaan batik dan berbagai jenis pakaian daerah di Indonesia ataupun manca negara,” harapnya.(hryo)


  ● UNY  
[Read More...]


Mahasiswa UNY Kembangkan Pencetak Slondok Otomatis



Yogyakarta - Kelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta mengembangkan alat untuk memotong dan mencetak makanan tradisional slondok secara otomatis.

"Alat itu akan memudahkan pengusaha slondok dalam memproduksi makanan tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) tersebut," kata koordinator kelompok Rahmad Nur Hidayat di Yogyakarta, Minggu.

Dengan alat itu, menurut dia, tidak hanya menstabilkan bentuk slondok yang dibuat, tetapi juga memudahkan dan mempercepat proses produksi slondok yang merupakan makanan yang termasuk digemari masyarakat.

"Alat itu tidak banyak memakan ruang dan mudah dipindahkan, karena beratnya hanya 25 kilogram, dan dimensi keseluruhan alat 650x340x640 cm. Selain itu, perawatannya juga cukup mudah," katanya.

Ia mengatakan, dengan sumber tegangan AC 110/220 V 50 Hz, alat yang diberi nama Hytima itu mampu mengolah sebanyak 3.600 gram adonan per jam menjadi bentuk ring.

"Banyak pengusaha slondok yang tersebar di wilayah DIY dan Jateng, tetapi pembuatannya masih menggunakan cara konvensional yang membutuhkan waktu yang lama, dan tidak efisien. Alat itu adalah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut," katanya.

Menurut dia, latar belakang pembuatan alat itu karena kelompoknya melihat proses pembuatan slondok yang masih konvensional, sehingga membutuhkan waktu yang lama.

"Proses pembuatan slondok sangat tidak efisien apalagi bentuk yang dihasilkan berbeda-beda karena dalam proses pembentukan menjadi semacam ring masih secara manual, yakni dengan menggunakan tangan," katanya.

Ia mengatakan, pengembangan alat untuk memotong dan mencetak slondok secara otomatis itu didanai Hibah Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG) DIY.

"Alat itu diharapkan dapat membantu proses produksi slondok terutama bagi para pengusaha di daerah `home industry` Kalibawang, Kulon Progo, DIY, yang masih aktif memproduksi makanan yang terkenal dengan rasa gurih tersebut," katanya.

Anggota kelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) antara lain Yuliani, Tika Novita Sari, dan Amalia Ima Nur Jayanti.(B015/M008)


  ● Antara  
[Read More...]


Empat Universitas Beradu Mobil Berbahan Bakar Alternatif



Mobil Listrik UNY EVO Tim Garuda  
Surabaya • Empat universitas beradu dalam "Indonesia Chem-E-Car Competition 2013" yang merupakan kompetisi nasional untuk mobil berbahan bakar alternatif di Gedung Robotika ITS Surabaya, Sabtu.

"Ada tujuh mobil dari UGM, Politeknik Negeri Bandung, UI, dan ITS yang bertanding. Mereka umumnya menggerakkan mobil dengan reaksi kimia dari alat pemutih lumut di toilet atau kamar mandi," kata Ketua Panitia Chem-E-Car Hanif Mubarok.

Didampingi Ketua "Chernival Chemical Engineering Innovation Festival" (festival yang di dalamnya ada even Chem-E-Car), Raymond Vensky Rattu, ia menjelaskan Chem-E-Car tahun 2011 diikuti 11 tim, tapi tahun 2013 hanya tujuh tim dari empat universitas.

"Tahun 2011 cukup banyak, karena ada peserta dari luar negeri, tapi tahun ini tidak ada karena bersamaan dengan kegiatan serupa di negera lain seperti Malaysia, Thailand, dan sebagainya, sedangkan kompetisi tingkat dunia di Australia pada Juni mendatang," katanya.

Tentang penilaian, ia mengatakan hal itu ditentukan studi kasus dengan dua undian yakni undian beban dan undian jarak. "Beban akan diberikan dalam kisaran 0-20 persen dari bobot mobil, lalu berat beban itu yang menentukan undian jarak yang harus dicapai," katanya.

Bagi pemenang, panitia akan menyiapkan bantuan dana Rp10 juta untuk juara pertama, Rp7 juta untuk juara kedua, dan Rp4 juta untuk juara ketiga. "Khusus juara pertama akan difasilitasi Aptekindo untuk beradu ke kegiatan tingkat dunia," katanya.

Dari tujuh tim peserta itu, UGM mengeluarkan tiga mobil yakni mobil "Sugriwa III" yang berbahan bakar Asam Chlorida (HCl) untuk sistem rem dan Magnesium untuk sistem penggerak. "Itu merupakan alat pemutih lumut di toilet atau kamar mandi," katanya.

Selain itu, UGM juga mengeluarkan mobil "Subali IV Car" yang berbahan bakar Hydrogen Peroxida sebagai penghasil gerak. "Hydorgen Peroxida itu alat pemutih yang lebih ampuh lagi, tapi mobil Subali itu juga Bejana Tekanan yang merupakan penggerak," katanya.

Mobil berbahan bakar alternatif yang lain dari UGM adalah "Anjani" yang menggunakan penggerak "fuel cell" dari Zodium Peroksida.

Sementara tim dari Politeknik Negeri Bandung ada dua yakni tim mobil "Sangkuriang" dan tim mobil "The Warrior". Sangkuriang memakai "fuel cell" buatan sendiri dari zinc dan asam sulfat, sedangkan The Warrior menggunakan baterai alumunim yang menghasilkan listrik.

"Untuk mobil Spektronics 5 dari ITS juga menggunakan reaksi kimia dari alat pemutih, lalu reaksi itulah yang mengisi Bejana Tekanan mirip tabung gas yang akhirnya menggerakkan mobil," katanya.

Tahun 2011, alat pemutih yang sama juga digunakan, tapi reaksi kimia yang ada menggerakkan piston, bukan turbin. "Kalau dengan turbin tidak ada energi yang terbuang," katanya.

Ia menambahkan tim UI juga mengeluarkan satu mobil yakni "Altair 1.0". Bahan bakar yang digunakan dari elektroda alumunium yang bisa menghasilkan gas bila bereaksi dengan udara, lalu reaksi itu menghasilkan listrik yang diubah jadi energi penggerak," katanya. (E011/T007)


  ● Antara  
[Read More...]


Lotion Anti Nyamuk Buatan Mahasiswa UNY di Uji di Papua



http://202.46.15.98/file/gallery/2013/03/IMG_2266.JPGJogyakarta � Dua karya penelitian mahasiswa FMIPA UNY yang membuat lotion anti nyamuk berhasil menarik minat dokter dari batalyon 412 Purworejo untuk mencoba karya penelitian tersebut. Batalyon tersebut akan bertugas di Papua selama beberapa bulan yang daerahnya banyak rawa sehingga banyak nyamuk liar.

Penelitian tersebut yaitu pembuatan lotion anti nyamuk dari daun tembelek karya Maisel Priskila sisilia dari Prodi Pendidikan IPA, Dwi Sutanti dari Pendidikan IPA, serta Arief Noviartara dari prodi Kimia. Penelitian lain yaitu pembuatan lotion anti nyamuk yang memanfaatkan batang tanaman brotowali karya Dwi Prihastuti, Meita Wulan Sari, Bagoes Sadhewo Satria H, dan Nur Fathurahman Ridwan. Lotion yang dibawa untuk bekal bertugas ke Papua oleh Batalyon 412 Purworejo yaitu lotion daari daun tembelek 150 botol, dan lotion dari batang brotowali 125 botol. Penyerahan dilaksanakan di kampus FMIPA UNY baru-baru ini.

Maisel mengatakan, dirinya gembira dan tidak menyangka penelitiannya tersebut mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat, terlebih lagi tentara yang akan bertugas di Papua. Walaupun pembuatan lotion anti nyamuknya sudah melewati pengujian, semoga lotion tersebut bisa membantu mengusir nyamuk, karena tentunya nyamuk yang dalam percobaan dengan nyamuk yang akan ditemui di Papua sana tentunya berbeda.

Hal senada dikatakan Meita, semoga lotion anti nyamuk dari batang brotowali buatannya bisa memberikan alternatif bagi para tentara yang bertugas, mengingat jenis nyamuk yang ada di hutan jenisnya yang beragam.

Sementara itu dr. Mohandas, dokter dari batalyon 412 Purworejo mengatakan, untuk persiapan tugas di Papua yang terkenal dengan nyamuk hutannya yang ganas, kami selain persiapan fisik dan mental, juga mempersiapkan peralatan kesehatan seperti lotion anti nyamuk.

“Tadinya kami cari di internet, dan menemukan ada mahasiswa UNY yang membuat lotion anti nyamuk, sehingga kamipun mencoba untuk berkoordinasi dengan pihak fakultas dan mahasiswa yang membuat lotion. Kami ucapkan terimakasih kepada mahasiswa yang telah membantu kami serta pihak universitas,” lanjutnya.


  • fmipa.uny.ac.id  
[Read More...]


Mahasiswa UNY Ciptakan Pendeteksi Kadar Ozon



Yogyakarta • Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta, Fredy Setya Pradana, menciptakan alat untuk mendeteksi atau mengetahui parameter kadar ozon.

"Alat yang menggunakan sensor MQ-131 sebagai detektor kadar gas ozon itu berfungsi memonitor tingkat polusi udara untuk mengetahui indeks polusi ozon di setiap kawasan," kata Fredy, di Yogyakarta, Jumat (22/3/2013).

Menurut dia, sensor itu akan bekerja jika mendapatkan rangsangan dari gas ozon sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tegangan dan hambatan di dalam sensor.

Selanjutnya, tegangan itu akan menjadi masukan pada sistem yang telah terprogram dan ditampilkan ke LCD untuk mengetahui seberapa besar kadar gas dalam area lingkungan tersebut dengan satuan ppb.

"Sistem itu akan menyimpulkan kadar gas dalam kondisi normal atau bahaya. Jika sumber gas ozon menunjukan besaran 121-2000 ppb, maka LCD akan menampilkan kondisi ’bahaya’," katanya.

Ia mengatakan, pada tahap pengujian dilakukan pengukuran kadar gas ozon di beberapa tempat, yakni dataran rendah dan dataran tinggi, seperti Yogyakarta, Tambi Wonosobo, dan Dieng.

"Satu kali percobaan diperlukan waktu sekitar 20 detik hingga penunjukan stabil atau berhenti bergerak, dan dari percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi area suatu tempat, semakin kecil kadar gas ozonnya," katanya.

Menurut dia, hal itu bisa dimaklumi karena di dataran tinggi belum banyak terdapat sentra industri dan penggunaan kendaraan bermotor juga masih cukup rendah. Selain itu, banyaknya pepohonan di daerah dataran tinggi juga menjadi faktor pembeda rendahnya kadar gas ozon.

"Kondisi itu berbeda dengan di Yogyakarta yang telah padat dengan kendaraan bermotor dan aktivitas industri yang cukup tinggi," kata Fredy yang menciptakan alat itu di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNY, Herlambang Sigit Pramono.

Ia mengatakan, ozon berguna untuk melindungi bumi dari sinar radiasi ultraviolet matahari tempat lapisan itu berada pada ketinggian 8-50 km di atas permukaan bumi.

Namun, adanya ozon di sekitar permukaan bumi dengan konsentrasi tertentu akan membahayakan kesehatan manusia seperti infeksi dan iritasi saluran napas atau bahkan bisa merusak paru-paru.

"Ozon bisa terjadi secara alamiah di dalam smog (kabut) terutama di kota-kota besar tempat gas NOx dan hydrocarbon dari asap buangan kendaraan bermotor serta berbagai kegiatan industri yang merupakan sumber pembawa terbentuknya ozon," katanya.


  ● Kompas  
[Read More...]


Mahasiswa UNY Buat Donat Dari Biji Nangka



Jogyakarta | Tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan biji nangka untuk membuat kue donat yang diberi nama Dobina.

"Biji nangka merupakan sumber karbohidrat, protein, dan energi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang potensial. Biji nangka juga merupakan sumber mineral yang baik," kata koordinator tim mahasiswa, Senja Dewi, di Yogyakarta, Minggu (10/3/2013).

Menurut dia, pembuatan donat merupakan salah satu cara mengolah makanan agar dapat bervariasi dan memenuhi cita rasa. Meskipun banyak variasi, yang paling penting dari pembuatan kue donat adalah bahan bakunya yakni tepung.

"Tepung biji nangka mengandung nilai gizi lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu. Pembuatan tepung biji nangka, yakni mencuci biji nangka kemudian merebusnya hingga matang untuk membuang getahnya," katanya.

Ia mengatakan biji nangka yang sudah masak didinginkan, kemudian dipotong tipis-tipis, dan dikeringkan di bawah sinar matahari kemudian digiling untuk dijadikan tepung. Untuk mendapatkan tepung yang halus, tepung diayak terlebih dulu agar terpisah dari serat-serat yang masih kasar.

"Dari hasil komparasi bisa disimpulkan bahwa tepung biji nangka mengandung karbohidrat, lemak, protein, dan amilum yang lebih baik dibandingkan dengan tepung terigu," katanya.

Menurut dia, selama ini masyarakat hanya memanfaatkan daging nangka, sedangkan bijinya belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, biji nangka mengandung karbohidrat cukup tinggi yakni dalam 100 gram biji nangka mengandung karbohidrat sebesar 36,7 gram.

Kandungan karbohidrat biji nangka, kata dia, memang lebih rendah dibandingkan dengan beras. Kandungan karbohidrat 100 gram beras sebesar 78,9 gram.

"Dua kilogram biji nangka sebanding dengan satu kilogram beras. Biji nangka dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan pangan yang cukup bergizi karena masih adanya kandungan zat lain yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan penghasil karbohidrat lainnya seperti zat besi dan vitamin B1," katanya.

Anggota tim mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNY, yang melakukan penelitian berjudul "Komparasi Uji Karbohidrat, Lemak, Protein, dan Amilum antara Donat Tepung Biji Nangka dan Donat Tepung Terigu" itu adalah Gibson SH Marbun, Pambudi Tedjo YR, dan Ragil Nurjannah R.


  ● Kompas  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Mahasiswa UNY Raih Juara NIC ITB



Prestasi membanggakan berhasil diraih oleh tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian UNY yang terdiri dari Syafiq (Pendidikan Teknik Mesin FT), Nurlaila Khurnia (Teknik Elektronika FT) dengan memperoleh juara III dalam National Inovation Contest (NIC) yang merupakan rangkaian acara Mechanical Festival 2013 di ITB.

Kontes inovasi itu dimaksudkan sebagai wadah untuk menyalurkan ide dan inovasi para mahasiswa dalam merancang suatu teknologi. Inovasi dan teknologi yang dirancang harus dapat mendukung konsep sustainable development, yaitu pengembangan teknologi yang dapat mempertahankan ketersediaan sumberdaya alam dan menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi di masa mendatang.

Kontes inovasi teknologi tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Mesin ITB dengan tema 'Engineering for Sustainable Development'.

Dalam kontes itu dipilih 20 finalis yang berhak lolos ke tahap penjurian kedua. Universitas yang berpartisipasi dalam lomba itu antara lain UNY, UI, ITB, UB, ITS, PENS Surabaya, Unri, UPI. Tim UNY membawakan karya ''Prototype Mesin Pengering Tipe Single-Rotary Drum Dryer Berbasis Solar Thermal dengan Tracking Compound Parabolic Concentrators (CPC)'.

Karya tersebut berhasil memperoleh juara III yang diumumkan saat gala dinner di restoran The Centrum Bandung. Sementara juara I diraih oleh tim Universitas Airlangga dan juara II diraih oleh tim dari ITB.

Hasil penentuan juara tersebut berasal dari penilaian karya yang didasarkan pada presentasi dan prototype yang dibuat.

Syafiq menjelaskan bahwa inovasi teknologi yang dibuat merupakan teknologi terbarukan dan ramah lingkungan yang difungsikan untuk mengeringkan produk biji-bijian dan hasil perkebunan. Alat itu berbasis energi solar termal dengan menggunakan tracking compound parabolic concentrator dan elemen pemanas sehingga alat itu memiliki kemampuan untuk mengurangi pengguanaan bahan bakar fosil dan konsumsi energi listrik berlebih.

Rancangan alat itu juga berorientasi pada kualitas produk yang unggul dan kuantitas yang cukup besar sehingga akan berpengaruh terhadap harga jual produk supaya produk atau komoditas tersebut mampu bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif.


  • itoday  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Wahyu Ubah Ponsel Android Jadi Robot Pemantau



YOGYAKARTA � Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Wahyu Privantoro melakukan inovasi mengubah smartphone android menjadi alat pemantau yang diberi nama "mobile robot pemantau".

"Robot pemantau benda mencurigakan itu memanfaatkan android smartphone sebagai IP Webcam dengan komunikasi bluetooth dan Wi-Fi berbasis mikrokontroler ATmega8," kata Wahyu di Yogyakarta, Selasa (6/2).

Menurut dia dirinya memanfaatkan perangkat smartphone Android karena saat ini hampir semua orang memilikinya sebagai perangkat telekomunikasi.

"Telepon seluler atau handphone semacam itu memiliki kemampuan Wi-Fi thetering sebagai IP Webcam yang kemudian dihubungkan dengan Wi-Fi laptop operator oleh pengguna sehingga mampu menampilkan audio video secara realtime," katanya.

Ia mengatakan cara kerjanya adalah fitur bluetooth dan Wi-Fi pada laptop itu digunakan untuk mengirimkan perintah pergerakan "mobile robot pemantau" yang kemudian dikirim melalui bluetooth ke modul bluetooth yang ada pada sistem mikrokontroler.

"Sistem tersebut selanjutnya akan menampilkan hasil pantuan berupa visual dan dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi dan ditampilkan pada browser yang ada pada laptop," katanya.

Menurut dia berdasarkan pengujian yang dilakukan, robot pemantau tersebut dapat melakukan pengiriman video yang direkam menggunakan kamera smartphone dengan baik.

"Setelah itu dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi yang menghubungkan laptop dengan smartphone dan ditampilkan melalui browser Mozilla Firefox sebagai output 'mobile robot pemantau`yang realtime," katanya.

Namun demikian, kata dia, alat itu masih memerlukan beberapa pengembangan. Salah satunya adalah kamera tidak bisa merekam situasi di bawah dan di atas karena posisi kamera tidak dapat bergerak ke atas dan ke bawah.

"Selain itu output video masih kurang baik karena spesifikasi kamera smartphone yang digunakan masih rendah," katanya.


 ● Republika 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Mahasiswa UNY ubah "smartphone" jadi robot pemantau



Yogyakarta | Mahasiswa Program Studi Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Wahyu Privantoro melakukan inovasi mengubah telepon seluler android "smartphone" menjadi alat pemantau yang diberi nama "mobile robot pemantau".

"Robot pemantau benda mencurigakan itu memanfaatkan android `smartphone` sebagai IP Webcam dengan komunikasi bluetooth dan Wi-Fi berbasis mikrokontroler ATmega8," kata Wahyu di Yogyakarta, Selasa.

Menurut dia dirinya memanfaatkan perangkat andorid "smartphone" karena saat ini hampir semua orang memilikinya sebagai perangkat telekomunikasi.

"Telepon seluler atau handphone semacam itu memiliki kemampuan Wi-Fi thetering sebagai IP Webcam yang kemudian dihubungkan dengan Wi-Fi laptop operator oleh pengguna sehingga mampu menampilkan audio video secara `realtime`," katanya.

Ia mengatakan cara kerjanya adalah fitur bluetooth dan Wi-Fi pada laptop itu digunakan untuk mengirimkan perintah pergerakan "mobile robot pemantau" yang kemudian dikirim melalui bluetooth ke modul bluetooth yang ada pada sistem mikrokontroler.

"Sistem tersebut selanjutnya akan menampilkan hasil pantuan berupa visual dan dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi dan ditampilkan pada browser yang ada pada laptop," katanya.

Menurut dia berdasarkan pengujian yang dilakukan, robot pemantau tersebut dapat melakukan pengiriman video yang direkam menggunakan kamera "smartphone" dengan baik.

"Setelah itu dikirim ke laptop melalui komunikasi Wi-Fi yang menghubungkan laptop dengan `smartphone` dan ditampilkan melalui browser Mozilla Firefox sebagai `output` `mobile robot pemantau` yang `realtime`," katanya.

Namun demikian, kata dia, alat itu masih memerlukan beberapa pengembangan. Salah satunya adalah kamera tidak bisa merekam situasi di bawah dan di atas karena posisi kamera tidak dapat bergerak ke atas dan ke bawah.

"Selain itu `output` video masih kurang baik karena spesifikasi kamera `smartphone` yang digunakan masih rendah," katanya. (ANT)


• Antara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Mahasiswa UNY ciptakan bak sampah otomatis



http://img.antaranews.com/new/2012/09/small/20120901UNY.jpgYogyakarta |  Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Febri Megantara menciptakan pembuka dan penutup bak sampah otomatis.

"Saya menciptakan inovasi itu untuk memudahkan orang yang ingin membuang sampah tanpa perlu menyentuh tutup tempat sampahnya," kata Febri di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia selama ini banyak orang membuang sampah tidak pada tempatnya. Saat ditanya, berbagai alasan mereka kemukakan, salah satunya yang paling sering digunakan untuk berkilah adalah malas.

Rasa malas muncul karena jika ingin membuang sampah pada bak sampah harus terlebih dulu membuka tutup tempat sampah. Fakta yang ada, menurut mereka tutup tempat sampah sangat kotor dan bau.

"Oleh karena itu saya menciptakan pembuka dan penutup bak sampah otomatis berbasis mikrokontroler ATMega 8 yang terdiri atas tiga elemen penting, yakni input, proses, dan output," katanya.

Menurut dia sensor jarak ultrasonik sebagai input, bagian proses menggunakan mikrokontroler ATMega 8, sedangkan motor servo sebagai outputnya.

"Tiga elemen tersebut tidak terlepas dari catu daya menggunakan tegangan DC dari konverter dan tegangan AC dari PLN," katanya.

Ia mengatakan cara kerja pembuka dan penutup bak sampah otomatis itu berdasarkan inputan dari sensor jarak ultrasonik.

Jika sensor jarak ultrasonik menangkap suatu aktivitas di dekat bak sampah, dalam hal ini tangan seseorang dengan jarak lebih dari 35 cm maka motor servo akan bergerak dan membuka tutup bak sampah.

"Setelah terbuka akan ditunda selama lima detik, tetapi jika lima detik di sekitar bak sampah tidak ada aktivitas maka motor servo akan bergerak untuk menutup bak sampah," katanya.

Menurut dia alat yang menghabiskan dana sekitar Rp600.000 itu diharapkan akan membantu seseorang membuang sampah, agar tangan tidak kotor dan bau saat membuang sampah karena harus membuka tutup bak sampahnya terlebih dulu.

Kelebihan lainnya adalah alat itu dikendalikan oleh sensor yang tidak terlihat, dan antiair sehingga dapat diletakkan di berbagai tempat.

"Inovasi itu di bawah bimbingan dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Herlambang Sigit Pramono," katanya. (B015*H010/N002)


• Antara
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Mahasiswa UNY kembangkan mesin ketik braille



http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/5/54/Logo_uny.gifYogyakarta |  Mahasiswa Jurusan Teknik Elektronika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Zaenal Mutaqin mengembangkan mesin ketik huruf braille dengan memanfaatkan printer bekas.

"Mesin ketik itu membantu orang awam membuat huruf braille dengan mudah, tanpa harus menghapal setiap motif huruf. Kelebihan lain adalah harga relatif terjangkau, sekitar Rp700.000 per unit," kata Zaenal di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, semua perintah kerja pada mesin ketik itu terdapat pada keyboard. Beberapa tombol utama seperti F9 berfungsi menarik kertas ke bawah dan tombol F10 untuk menarik kertas ke arah sebaliknya.

Tombol F11 dan F12 berfungsi untuk menggeser solenoid ke kiri dan ke kanan untuk mendapatkan posisi yang tepat pada kertas.

"Untuk menghentikan perintah dari tombol-tombol tersebut kita dapat menggunakan tombol spasi, sedangkan untuk menurunkan solenoid satu baris kita dapat menggunakan tombol F8," katanya.

Ia mengatakan pada mesin ketik tersebut setiap tombol huruf, angka, dan tanda baca yang ditekan akan menghasilkan output berupa gerakan dua buah motor stepper dan solenoid sehingga akan menghasilkan motif huruf braille yang dimaksud pada kertas.

"Mesin ketik huruf braille elektronik itu berbasis mikrokontroler ATmega16 yang terdiri atas tiga bagian," katanya.

Bagian pertama terdiri atas sebuah keyboard dengan spesifikasi votre sturdy ps2. Keyboard tersebut menghasilkan data serial pada setiap tombol yang ditekan.

Bagian kedua adalah sistem minimum. Pada rangkaian itu terdapat sebuah mikrokontroler ATmega16 sebagai pengontrol kerja seluruh bagian mesin ketik.

Bagian ketiga adalah tiga buah output mekanik yang terdapat dua buah motor stepper dan sebuah solenoid, motor stepper pertama berfungsi untuk menarik kertas, sedangkan motor stepper kedua berfungsi menggeser posisi solenoid.

"Pengembangan mesik ketik huruf braille itu di bawah bimbingan dosen Pendidikan Teknik Elektronika Fakultas Teknik UNY Putu Sudira," katanya.(B015*H010/H008)


• Antara
[Read More...]


Sereal ubi jalar UNY



http://img.antaranews.com/new/2012/12/thumb/20121201serubi.jpgYogyakarta - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan mengembangkan sereal berbahan ubi jalar.

"Sereal berbahan ubi jalar atau Ipomoea batatas Poir itu kami beri nama Serubi. Serubi merupakan minuman seduh berenergi tinggi untuk meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar," kata ketua tim, Nopi Yudi Pramono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, sereal untuk sarapan itu akan dapat meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar yang menyehatkan dan mudah dibuat.

"Kandungan gizi yang dimiliki ubi jalar sangat melimpah, antara lain karohidrat, protein, vitamin, dan berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tubuh," katanya.

Ia mengatakan, jenis produk yang dihasilkan Serubi adalah minuman dalam kemasan terbuat dari bahan ubi jalar yang mudah disajikan, sehat, dan mengenyangkan dengan harga terjangkau.

"Kandungan karbohidrat yang terkandung dalam 100 gram ubi jalar merah mencapai 27,9 gram. Ubi jalar merah mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan beberapa zat tubuh lainnya," katanya.

Dengan kandungan gizi ubi jalar tersebut, kata dia, akan dihasilkan produk sereal yang dapat digunakan sebagai pengganti sarapan.

Menurut dia, Serubi dipasarkan melalui warung-warung dan toko-toko, agar masyarakat dapat secara mudah memperoleh produk tersebut.

"Selain itu, kami juga mengadakan kerja sama dengan koperasi mahasiswa di UNY yang dapat dijadikan tempat mahasiswa berlatih berwirausaha. Produk yang sudah jadi dijual di koperasi mahasiswa agar mahasiswa dan masyarakat dapat memperoleh Serubi dengan mudah," katanya.

Ia mengatakan, pembuatan sereal ubi jalar dengan bahan baku tepung ubi jalar. Tepung ini kemudian disangrai sampai matang kemudian dicampur dengan susu dan gula agar siap dihidangkan.

"Perbandingan untuk tepung ubi jalar, gula, dan susu adalah 2:2:1. Dengan perbandingan ini diperoleh rasa sereal yang pas tanpa kehilangan rasa khas ubi jalar," katanya.

Menurut dia ,setelah dicampur kemudian dikemas dengan berat 30 gram setiap bungkus. Beratnya sudah disesuaikan dengan penyajian untuk 150 mililiter air hangat.

"Biaya produksi untuk satu bungkus Serubi sebesar Rp780 sehingga dapat dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Biaya produksi tersebut terdiri atas pembelian tepung ubi, gula, susu, dan biaya untuk pembuatan kemasan," katanya.

Anggota tim yang mengembangkan Serubi, antara lain Suhufa Alfarisa, Tri Nugroho, dan Dwi Ana Rizki.(L.B015*H010/H008)


[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri