ISENG BLOGER

Simulasi mobil pengangkut radioaktif ditabrak truk pasir



Bahan nuklir berhamburan di Bandung, 6 orang jadi korban - Simulasi mobil pengangkut radioaktif ditabrak truk pasir - Tim terpadu Penggangulangan Tanggap Darurat Bencana Bahaya Radioaktif sangat sigap memberi pertolongan dini terhadap korban.Kecelakaan lalu lintas antara mobil pengangkut bahan nuklir radioaktif dengan truk pengangkut pasir terjadi tepat di depan Gedung Sate/ lapangan Gasibu Bandung. Akibatnya, 6 orang menjadi korban.

Dua orang korban di antaranya langsung dilarikan ke RS Hasan Sadikin Bandung, karena menderita luka parah.

Baca juga: Radiasi nuklir Fukushima terus meningkat, Jepang bangun dinding es dan Pangkostrad tutup Ekspedisi NKRI 2013 Koridor Sulawesi

Akibat kecelakaan itu, bahan nuklir radioaktif berhamburan di jalan mengeluarkan asap. Bahkan sempat terdengar suara ledakan sebanyak dua kali. Melihat kejadian itu, masyarakat khawatir dampak negatif dari radioaktif tersebut.

Warga di TKP (Tempat Kejadian Perkara) langsung segera menolong korban, dan menghubungi aparat kepolisian dan BPBD Jabar. Berkat koordinasi dan komunikasi yang tepat, dalam waktu yang singkat kecelakaan tidak berdampak membahayakan.

Semua itu, lantaran tim terpadu dalam waktu relatif singkat sudah berada di TKP. Tim terpadu Penggangulangan Tanggap Darurat Bencana Bahaya Radioaktif itu terdiri dari unsur badan pengawas tenaga nuklir ( Bapeten), Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri (PTNBR) – BATAN Bandung serta berbagai instansi terkait seperti BPBD Jabar, Polda Jabar, Dinas pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, Dinas Kesehatan, TNI AD dan rumah sakit.

Kejadian ini merupakan simulasi dari gladi lapang penanggulangan kecelakaan radiasi dalam transportasi sumber radioaktif, di depan Gedungsate Bandung, Kamis (5/9/2013).

Acara gladi lapang itu merupakan kerjasama antara BAPETEN dengan BPBD Jabar yang melibat berbagai unusur, seperti PTNBR, Batan, Polda Jabar, TNI AD, Dishub, Dinssor, Dinkes, RSHS dan Diskar Bandung serta ormas relawan penanggulangan Bencana Alam.

Menurut Kepala Bapeten As Natio Lasman kepada wartawan, bahwa latihan ini penting untuk memberikan penguatan kesiapsiagaan dan penanggulangan kedaruratan dan kewaspadaan semua pemangku kepentingan. “Ini untuk memastikan sikap tanggap yang dapat terjadi setiap saat. Sehingga nantinya dapat memberikan keamanan dan keselamatan bagi pekerja, masyarakat dan lingkungan.”

Latihan kesiapsiagaan tanggap darurat ini merupakan amanat PP No 54 Tahun 2012 tentang Keselamatan dan Keamanan Instalasi Nuklir yang mewajibkan pemegang izin untuk menyelenggarakan pelatihan dan gladi kedaruratan nuklir oleh pemegang izin. “Geladi di tingkat provinsi paling sedikit 1 kali dalam 2 tahun dengan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan instansi terkait serta di tingkat nasional paling sedikit 1 kali dalam 4 tahun,” jelas Natio Lasman.

Natio Lasman juga mengatakan, tujuan latihan untuk menguji kemampuan instansi dan SKPD terkait dalam merespon adanya kecelakaan radiasi, akibat kecelakaan transportasi sumber radioaktif.

Sementara itu, Kepala BPBD Jabar Udjwalaprana Sigit mengatakan, sesuai amanah UU 24 tahun 2007, sekecil apa pun musibah bencana harus cepat direspon dan dilakukan penanganan sesuai prosedur demi menghindari jatuhnya korban jiwa.

Bila musibah itu setingkat Provinsi, lanjutnya, maka Gubernur secepatnya mengambil sikap dan menentukan perlu segera dilakukan tanggap darurat bencana. Penentuan tanggap darurat tentunya mengandung konsekuensi, yaitu harus menyiapkan anggaran, personel dan peralatan. “Untuk itu perlunya kerjasama dalam membuat Standar Operasi Prosedure (SOP), sehingga antara instansi terkait, saling mendukung dan bekerjasama,” tegasnya.

Sekda Jabar Wawan Ridwan, usai menyaksikan gladi lapang tersebut, mengatakan, atas nama Pemprov Jabar, dirinya mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas terselenggaranya gladi lapang kecelakaan transportasi bahaya Radioaktif.

“Melalui gladi ini, diharapkan masyarakat tidak perlu gugup dan takut atas bahaya Nuklir, juga tidak perlu dijadikan momok/ hantu bila mendengar nama nuklir,” pintanya.@husein


  ● LensaIndonesia  
[Read More...]


Bangun PLTN Butuh Minimal 5 Tahun



Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serbaguna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4). Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia. Foto: Investor Daily/ ANTARA/ BNPT/RN/ed/nz/13
Peninjauan di BATAN
BANDUNG - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Prof Dr Djarot S Wisnubroto menilai waktu ideal yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir berkisar lima sampai 10 tahun.

"Untuk membangun PLTN, dari mulai awal sampai akhir itu antara lima sampai 10 tahun," kata Djarot, Kamis (5/9), terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bangka pada 2013.

Batan sebagai lembaga yang melakukan kajian tentang energi nuklir, tinggal menunggu izin dari pemerintah untuk membantu eksekusinya. "Kalau mau cepat lima tahun, itupun bila tahun ini akhirnya diputuskan," ungkap Djarot dalam gladi lapang nasional penanggulangan kecelakaan transportasi sumber radioaktif di Lapangan Gasibu, Kota Bandung.

Hal tersebut juga mengacu pada UU No.17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional itu harus sudah meregulasi antara 2015-2019.

Djarot mengungkapkan bahwa tahun ini merupakan tahun ketiga Batan melakukan studi kelayakan di pulau Bangka. "Jadi tahun ini tahun ketiga kita melakukan studi kelayakan di Bangka, mestinya awal tahun depan kita sudah sampai ke pusat," kata dia.

Pemilihan tempat studi kelayakan tersebut didasari karena Bangka merupakan daerah yang stabil dan minim terjadinya gempa kecil. "Karena Bangka itu daerah yang stabil, kemungkinan terjadinya gempa kecil," katanya.

Selain itu, pemilihan pulau Bangka juga tidak jauh dari Sumatera dan Jawa yang membutuhkan energi listrik terbesar di Indonesia. "Tidak jauh dari pulau Jawa dan Sumatera, karena kebutuhan energi listrik paling besar itu di pulau Jawa," kata Djarot. (ID/tk/ant)


  ● Investor  
[Read More...]


Banyak Pemda Inginkan PLTN Skala Kecil




smrkecil218JAKARTA - Kendati banyak LSM yang menentang rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) ternyata sejumlah pemerintah daerah justru berminat agar di daerahnya dibangun PLTN skala menengah kecil Small Medium Reactor (SMR).

“Pemerintah daerah seperti Kalimantan Barat, Timur, serta Papua mengaku tertarik memenuhi kekurangan pasokan listrik di daerahnya melalui pembangunan PLTN skala kecil,” kata Djarot Wisnubroto di sela-sela acara “Advanced Reactors and Small and Medium size Nuclear Reactor (SMRs), kemarin.

Menurut Djarot yang didampingi expert International Atomic Energy Agency (IAEA) Dr. Hadid Subki dan Dr.Thomas Khosby PLTN skala kecil memang cocok dibangun di wilayah yang kebutuhan listriknya tidak terlalu besar seperti Kalimantan,Sumatera, dan Papua. Wilayah tersebut selama ini mengaku kekurangan pasokan listrik dari PLN sehingga sulit berkembang.

Pihak Batan sendiri mengaku telah melakukan penelitian soal SMR ini sejak 2001. Diharapkan jika program pembangunan PLTN skala besar sudah berjalan maka diharapkan SMR juga akan menyusul.

Sementara itu Dr. Hadid Subki dan Dr. Thomas Khosby mengatakan, bahwa SMR ini sudah banyak digunakan di negara besar seperti Amerika, Rusia, dan Prancis. Biasanya mereka mengubah pembangkit listrik konvensional yang telah tua menjadi PLTN skala menengah kecil. Mengganti pembangkit listrik tua dengan PLTN lebih ekonomis karena mereka tetap bisa menggunakan infrstruktur yang ada dengan hanya membangun reaktornya saja.

Tetapi rekator SMR juga tidak jarang dibangun untuk menambah daya reaktor yang ada tetapi pasokannya masih kurang sedikit. Reaktor menengah dan kecil biasanya menghasilkan listrik sekitar 200 hingga 300 Megawatt MW.

“Soalnya, sekecil-kecilnya PLTN tenaga listrik yang dihasilkan bisa 10 hingga 20 kali pembangkit listrik konvensional,”kata Djarot. (faisal)


[Read More...]


Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan



Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi PercontohanJakarta — Bicara nuklir tentu saja tidak melulu tentang bahaya bom atom, kebocoran radiasi atau pemanfaatan teknologi bagi aspek kehidupan manusia di berbagai bidang.

Satu hal mesti diketahui adalah masalah safety dan security di mana letak reaktor nuklir dan bahan nuklir itu berada.

Bagaimanapun,safety dan securityuntuk mencegah agar bahan nuklir tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Demikian pula dengan keberadaan fasilitas nuklir seperti reaktor nuklir harus dijaga keamanannya 24 jam dalam sehari. Tidak bisa dan tidak boleh diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan apalagi dengan maksud yang tidak baik.

Safety di bidang nuklir sangat terkait hubungannya dengan security. Safety adalah salah satu komponen utama yang selalu yang ditekankan di dalam pelaksanaan permanfaatan teknologi nuklir. “Masalah safety dan security pada penggunaan teknologi nuklir, akhir -akhir ini menjadi perhatian dari masyarakat dunia yang mengelola dan bergerak memanfaatkan teknologi nuklir.

Intinya safety dan security ini dimaksudkan bagaimana melindungi masyarakat dan lingkungan dari bahaya radiasi,”ungkap Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir (PKTN) Ferly Hermana yang ditemui di kantornya di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Lebih jauh dijelaskan Ferly, security adalah menjaga agar sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab. Keterkaitan safety dan security, intinya bila security lemah otomatis akan berdampak padasafety-nya.

Masalah safety dan security itu sudah diatur dalam peraturan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang mengikat bagi setiap anggotanya. Dan, Indonesia juga telah mengatur hal yang sama dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Perka BAPETEN) No.1 Tahun 2009 tentang Sistem Proteksi Fisik untuk Instalasi dan Bahan Nuklir.

BAPETEN selaku badan pengawas yang intinya mengatur keamanan sumber radiasi dan keamanan fasilitas nuklir. ”Untuk fasilitas nuklir itu adanya di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Sedangkan bahan nuklir adanya di BATAN Pasar Jumat, Jakarta,”tutur Ferly yang baru saja pulang dari Malaysia. Di sana dia mempresentasikan tentang safety dan security fasilitas dan bahan nuklir.

Ferly juga memaparkan bahwa tugas dari PKTN mengkoordinasi-kan keamanan di kawasan nuklir Serpong bila ada kedaruratan nuklir. “Sistem keamanan dan keselamatan di kawasan ini termasuk yang terbaik di regional Aseandan akan menjadi percontohan di kawasan Asia Pasifik. Bahkan, para pengamat nuklir mengatakan bahwa infrastruktur di Kawasan Nuklir Serpong sudah menyelenggarakan sistem proteksi fisik yang baik sebagai pusat nuklir di Indonesia,” ungkap Ferly. Diibaratkan oleh para ahli nuklir dan pengamat nuklir, infrastruktur Kawasan Nuklir Serpong seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam skala yang kecil.
 
Sejauh ini di kawasan Puspiptek Serpong diterapkan physical protection atau proteksi fisik yang memiliki tiga fungsi yakni Detection,Delay, dan Response. Deteksi dengan menggunakan alat-alat deteksi diperuntukkan melihat ruangan berbagai kegiatan dan aktifitas baik indoor maupun outdoor. Dari sebuah ruangan yang berisi belasan monitor terpantau berbagai kegiatan di sana.

Sedangkan Delay, pagar- pagar yang dibuat sesuai dengan aturan dan dibuat berlapis. Ketika memasuki Kawasan Nuklir Serpong, maka disebut zona atau limited area. Bila sudah memasuki kawasan BATAN disebut protected area. Protected area yang dibatasi pagar kuning hanya orangorang yang berkepentingan saja yang bisa memasuki area itu dan dengan menggunakan kartu khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Area lebih ke dalam lagi yaitu area yang lebih dekat ke pusat bahan nuklir, yang disebut inner area. Untuk bisa masuk ke area ini pengawasan keamanan lebih ketat lagi.”Jadi, pengamanan berlapis-lapis, kelihatannya kaku dan keras, tapi lebih baik kami mencegah dari pada menanggulangi jikasudah ada kejadian,” ungkap Ferly.

Fungsi physical protection yang ketiga adalah Respon yang diselenggarakan oleh Unit Pengamanan Nuklir (UPN). “Kita punya tim-tim UPN tim rescue, tim damkar, tim medis, tim lingkungan,tim keteknikan,”jelas Ferly. Ferly juga menjelaskan ketika memasuki area Puspiptek, siapa saja yang akan memasuki kawasan yang dikelolanya akan ditanyakan keperluan dan mau bertemu dengan siapa.

”Nah ketika mobil berhenti, sebelum masuk ke dalam, di perhentian mobil atau kendaraan motor itu sudah ada kamera pemantau hingga ke bagian bawah kendaraan. Jadi, di bawah mobil itu tersedia kamera,” paparnya. Jalur jalan pun tidak dibuat lurus tapi berbelok-belok agar tidak langsung, dan menghambat ke tempat tujuan, agar apabila ada yang bermaksud tidak baik bisa dicegah terlebih dahulu.

Prosedur keamanan, setiap kendaraan baikmobil maupun motor yang masuk diperiksa dan harus mempunyai pass ranmor yang mencantumkan nama pemilik kendaraan dan nomor plat kendaraan. Demikian juga setiap pegawai harus menggunakan badge selama di dalam kawasan.

Untuk yang masuk lokasi pagar kuning ada alat magnetic card reader yang dapat memonitor keluar masuk karyawan, masuknya kapan dan jam berapa? Jadi bila ada kejadian, bisa didetek siapakah pegawai tersebut masih ada di dalam pagar kuning atau sudah ada di luar. Dan, tidak semua yang bisa masuk pagar kuning kemudian bisa masuk reaktor nulklir. Ada pagar dan lapisan lagi yang harus dilewati dengan ketentuan yang makin ketat.

Kondisi yang agak ribet itu disadari oleh Ferly sebagai penanggung jawab. Namun, demi safety dan security tadi harus ditegakkan.”Semua itu kami lakukan demi keamanan dan keselamatan kita semua, termasuk kami yang menjadi pengelola di kawasan sini maupun masyarakat di luar sana,” tutur Ferly lagi.

Untuk tetap waspada dengan keamanan dan keselamatan setiap tahunnya Tim Respon melakukan latihan dengan rutin dan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. "Alhamdulillah sejak reaktor riset ini berdiri hingga dua puluh enam tahun kemudian, kita tetap aman dan selamat. Bahkan mendapat pujian dari berbagai negara untuk masalah safety dan security” Ferly mengungkapkan.(adv. media ind)


  ● BATAN  
[Read More...]


Batantek Kuasai 51% Kepemilikan Pabrik Nuklir di AS



ilustrasi: (foto: Reuters)
Ilustrasi
JAKARTA - Permintaan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang meminta PT Batan Teknologi agar mengembangkan bisnisnya dengan membangun pabrik di Virginia Amerika Serikat (AS) akan terealisasi.

"Kita joint venture, sekarang sudah MoU, sudah partisipasi design juga. Target beroperasi di 2017 di Amerika. Dengan mayoritas saham 51 persen kita, 49 persen mereka," ungkap Direktur Utama Batan Teknologi Yudiutomo Imardjoko kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Dia menjelaskan, total investasi untuk membangun pabrik pengayaan uranium sistem rendah disana mencapai USD170 juta.

"Karena kebutuhan radio isotop di sana sangat tinggi, kita ingin masuk ke pasar Amerika, pasalnya Amerika saat ini selalu mengimpor radio isotop di negara seperti Kanada, Belgia. Hampir 100 persen mengimpor. Dengan masuknya kami ke sana akan membuat pasaran lebih kompetitif," jelas Yudi.

Yudi menjelaskan, saat ini, pihaknya hanya mampu memproduksi sekitar 300 curie radio isotop per minggu yang di suplai untuk 16 rumah sakit untuk kepentingan pengobatan.

"Beda dengan Amerika yang membutuhkan 6.000 curie per minggu. Dan untuk suplai ke rumah sakit sana sampai 1.600 rumah sakit. Walaupun kapasitas produksi nanti di pabrik Virginia hanya 400 curie per minggu," jelas dia.

Untuk permasalahan pergantian nama perusahaannya, dia menjelaskan saat ini sedang dilakukan proses pergantian yang akan menjadi PT Industri Nuklir Indonesia.

"Tahun depan mungkin akan berganti, sekarang lagi diurus," jelas Yudi. (wan) (wdi)


  ● Okezone 

[Read More...]


Batan-BNPB Lakukan Pelatihan Kesiapsiagaan Nuklir



Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serbaguna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4). Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia. Foto: Investor Daily/ ANTARA/ BNPT/RN/ed/nz/13JAKARTA - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta jajaran pemerintah provinsi Banten dan pemkot/pemkab di kawasan reaktor nuklir Serpong, melakukan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi kedaruratan nuklir.

"Pelatihan ini dilaksanakan agar semua pihak khususnya di kota Tangerang Selatan, termasuk kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Bogor siap jika terjadi kecelakaan nuklir," kata Sekretaris Utama Batan Taswanda Taryo di sela workshop Kesiapsiagaan Kedaruratan Radiasi bagi Pemangku Kepentingan di Luar Batan di Serpong, Banten, Selasa.

Dengan pelatihan kesiapsiagaan, menurut dia, para pemangku kepentingan dan masyarakat menjadi lebih siap jika terjadi bencana radiasi nuklir, sehingga penanggulangan akan menjadi lebih mudah dan cepat serta korban dapat diminimalisasi.

Sementara itu, Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir Batan yang juga Koordinator Pengamanan dan Kedaruratan Nuklir Ferly Hermana, mengatakan, aturan mengharuskan reaktor riset Siwabessy, Serpong, berkapasitas 30 MW yang terbesar di Asia Tenggara itu melaksanakan kesiapsiagaan kedaruratan nuklir bersama para pemangku kepentingan terkait secara rutin.

Pelatihan tersebut melibatkan berbagai tim respons, seperti tim medis, tim pengamanan nuklir, tim proteksi radiasi, tim pemadam kebakaran, juga tim dari kepolisian dan TNI, ujarnya.

Menurut Taswanda, skenario kecelakaan nuklir terburuk adalah ketika elemen bakar reaktor meleleh dan Iodium 131, gas radioaktif paling mengerikan, lepas ke udara.

"Namun di reaktor ada pengungkung dan sistem ventilasi yang bekerja mengurung gas ini dan membuatnya berputar-putar hanya di dalam kungkungan itu sampai gas-gas ini meluruh. Iodium radioaktif meluruh dalam waktu delapan jam," katanya.

Sistem ini sangat aman, ujarnya, namun jikapun pada skenario terparah, radioaktif sempat keluar dari pengungkung, evakuasi akan sudah disiapkan sesuai prosedur untuk kawasan reaktor di radius 5 km.

"Sejauh ini dalam 26 tahun sejak berdirinya, reaktor Siwabessy di Serpong ini aman-aman saja, tidak pernah terjadi kecelakaan nuklir. Reaktor juga akan mati secara otomatis jika terjadi kecelakaan," katanya.

Ia mengingatkan bahwa pelatihan kesiapsiagaan ini dilaksanakan bukan untuk menunjukkan bahwa reaktor riset nuklir ini tak aman dan perlu diwaspadai, tapi untuk memenuhi prosedur keselamatan sesuai aturan internasional.

Sementara itu, Deputi Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir bidang Kajian Keselamatan Nuklir Choirul Huda mengatakan, pihaknya terus memantau dosis zat radioaktif di kawasan sekitar reaktor Siwabessy Serpong dan akan memasang alat pendeteksi radiasi nuklir.

Sedangkan Staf Ahli bidang Pembangunan Wali Kota Tangerang Selatan Chaerul Soleh mengatakan, pihaknya beserta masyarakat Tangsel siap, jika suatu saat terjadi musibah kecelakaan nuklir. (ID/tk/ant)


  ● Investor  
[Read More...]


Perjuangan Yudiutomo Imardjoko Hidupkan BatanTek yang Hampir Mati



 Pilih Pulang meski Digaji Rp 100 Juta di Luar Negeri  

Yudiutomo di depan bengkel nuklir PT Batan Teknologi, Tangerang Selatan.   Foto : Yudiutomo for Jawa Pos
 Yudiutomo Imardjoko MSc PhD
Ilmuwan nuklir di Indonesia termasuk langka, apalagi yang reputasinya sampai diakui dunia. Salah satu yang langka itu adalah Ir Yudiutomo Imardjoko MSc PhD, peneliti nuklir yang baru-baru ini menemukan teknik pengayaan uranium tingkat rendah.

AHMAD BAIDHOWI, Jakarta

UNTUK ukuran seorang direktur utama PT Batan Teknologi (BatanTek), ruang kerja Yudiutomo terbilang sederhana. Luasnya hanya sekitar 6 x 5 meter dengan seperangkat meja kursi kerja serta sofa untuk tamu di dekat pintu. Selain itu, ada sebuah lemari setinggi 1,5 meter yang berisi buku-buku dan berkas-berkas penting BUMN di bidang industri teknologi nuklir tersebut.

Tidak ada hiasan atau barang lain yang "mewarnai" kantor yang terletak di Gedung 70 dalam kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Tangerang Selatan, Banten, tersebut.

Dari luar, Gedung 70 yang menjadi kantor pusat BatanTek kebih mirip sebuah pabrik. Apalagi bagian belakang bangunan difungsikan sebagai bengkel atau workshop.

Yudiutomo, yang oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan disebut sebagai nyawa baru PT BatanTek, memulai obrolan dengan bercerita singkat tentang perjalanan hidupnya. Lahir di Jogjakarta, 15 Maret 1963, Yudi mengaku sudah menyukai ilmu nuklir sejak di SMA Negeri 1 Jogjakarta.

"Saat pelajaran Fisika dijelaskan tentang adanya atom, yang "ukurannya sangat kecil tapi energinya luar biasa besar. Itu memancing keingintahuan saya," kata Yudi kepada Jawa Pos yang menemui di kantornya Rabu (4/7) lalu.

Keingintahuan tersebut mengantarnya masuk ke Fakultas Teknik Nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM). Berkat prestasi akademiknya, setelah meraih gelar sarjana, Yudi langsung diterima sebagai dosen di almamaternya dengan status calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Tetapi hanya berselang enam bulan, Yudi harus meninggalkan UGM karena mendapat beasiswa untuk memperdalam ilmu nuklir di Iowa State University pada jenjang S-2 dan S-3. Hebatnya, dia mampu meraih gelar MSc dan PhD dalam waktu enam tahun. Capaian itu mengukuhkan Yudi sebagai orang Indonesia termuda yang berhasil merengkuh gelar doktor di usia 32 tahun pada 1995.

Kehebatan ilmu Yudi di bidang nuklir sudah menonjol sejak menimba ilmu di Negeri Paman Sam. Salah satu buktinya dia pernah "memenangkan" kompetisi pembuatan penampung limbah nuklir di AS. Itu terjadi pada era 1990-an ketika pemerintah AS dipusingkan dengan makin banyaknya limbah nuklir dari 100 lebih pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)-nya. Karena itu, pemerintah AS lalu membuka tender pembuatan penampung limbah nuklir.

Saat itu, ratusan ilmuwan nuklir dari seluruh dunia saling adu kemampuan mendesain panampung limbah nuklir. Yudi tampil dengan desain kontainer limbah nuklir yang membuat banyak ilmuwan nuklir lain tercengang.

Sebelumnya, penanganan limbah nuklir membutuhkan tiga jenis kontainer. Yakni kontainer untuk pengambilan limbah dari reaktor, lalu dipindah ke kontainer menuju tempat penyimpanan, dan terakhir ke kontainer ketiga untuk ditanam di dalam tanah.

"Semakin sering dipindah, risiko bocornya radiasi makin besar. Waktu itu saya merancang multipurpose kontainer. Jadi, mulai dari pengambilan, transportasi, dan penyimpanan limbah cukup dengan satu kontainer," ujarnya. "

Kontainer tersebut dirancang untuk bisa ditanam dengan kedalaman 400-600 meter di bawah tanah dan mampu bertahan hingga 10.000 tahun sampai limbah nuklir bisa terurai secara alami. Rancangan Yudi itu dinilai paling bagus dan aman.

Karena itu, layak masuk dalam lembaran Departemen Energi AS dan memenuhi kualifikasi untuk ikut tender pembuatan kontainer limbah nuklir. "Menurut dosen saya, Prof Daniel Bullen, desain saya dianggap paling bagus dibandingkan karya ilmuwan lain," kata Yudi.

Selain mengajar di Iowa State University, Daniel Bullen juga menjadi staf ahli Presiden Bill Clinton di bidang nuklir sehingga dia bisa menilai berbagai desain kontainer para ilmuwan yang ikut kompetisi. Sayangnya, hingga saat ini, pemerintah AS terus mengulur-ulur tender pembuatan kontainer limbah nuklir tersebut sehingga karya Yudi belum bisa dimanfaatkan meski sudah dipatenkan atas nama dirinya.

"Bagi saya, tidak masalah. Toh, kalau suatu saat Indonesia membangun PLTN, kontainer rancangan saya akan berguna," katanya lantas tersenyum.

Kemampuan otak Yudi membuat Prof Daniel Bullen kepincut dan meminta dirinya untuk ikut mengajar teknik nuklir di Iowa State University. Tawaran gajinya pun menggiurkan, yakni USD 8.000 atau sekitar Rp 16 juta per bulan (kurs saat itu Rp 2.000/USD).

Namun, tawaran itu ditolaknya. Sebab, sejak awal, Yudi memang sudah berniat untuk mengembangkan ilmu nuklir di Indonesia dengan menjadi dosen di Teknik Nuklir UGM. "Status saya saat itu masih CPNS. Gajinya masih Rp 200 ribu per bulan," ujarnya lantas tertawa.

Dia mengaku tidak kecewa menolak tawaran pekerjaan dengan gaji yang besarnya berlipat-lipat itu. Rasa nasionalisme dan jiwa pendidik yang mengalir dalam darahnya lebih dari segalanya. Karena itu, putra almarhum Prof Imam Barnadib-Prof Sutari Barnadib tersebut lebih senang pulang ke Indonesia dan mengabdikan ilmunya di almamater. Selain mengajar,Yudi menjadi direktur Pusat Studi Energi UGM dan menjadi konsultan berbagai perusahaan energi.

Setelah 25 tahun mengajar, Yudi mencoba tantangan baru. Dia menjadi konsultan energi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berkantor di New York, AS. Namun, garis hidup seperti menuntunnya untuk kembali ke Indonesia. Baru 5 bulan menjadi konsultan PBB, Yudi mendapat informasi adanya lowongan posisi direksi di PT BatanTek, sebuah BUMN yang bergerak di bidang nuklir. Hatinya pun tergerak untuk menyumbangkan tenaga dan ilmunya di tanah air.

Dia pun harus merelakan gaji USD 11.000 per bulan (sekitar Rp 100 juta) dan berbagai fasilitas mewah sebagai konsultan PBB. "Saya kemudian kirim CV (curriculum vitae), ikut fit and proper test, dan alhamdulillah diterima," katanya lantas tersenyum.

Suami dari Dr Diatri Nari Ratih itu akhirnya diangkat sebagai direktur utama PT BatanTek pada 26 Juli 2011. Meski menjadi orang nomor satu, Yudi tidak bisa berleha-leha di kursi Dirut. Sebab, saat itu, BatanTek terancam gulung tikar karena sejak 2010 Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) melarang pengayaan uranium tingkat tinggi untuk produksi radioisotop.

Padahal, selama ini bisnis utama BatanTek memproduksi radioisotop untuk kebutuhan kedokteran. Dalam dunia medis modern, radioisotop sangat diperlukan karena bisa menghasilkan diagnosis dengan tingkat presisi tinggi.

Sebelumnya, seorang tenaga ahli dari AS gagal memberikan solusi bagi BatanTek. Akibatnya, klien-klien rumah sakit (RS) yang selama ini menjadi pelanggan BatanTek mulai mencari pasokan radioisotop ke produsen lain. Dalam kondisi seperti itu, Yudi kemudian mengajak Dr Kusnanto, sahabatnya saat menimba ilmu di UGM, untuk bergabung sebagai direktur produksi BatanTek. Keduanya lantas bersepakat untuk berjuang bersama "sehidup semati".

Bahkan, untuk menghemat biaya, mereka memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah untuk ditinggali berdua. Anak dan istri masing-masing ditinggal di Jogjakarta. Dengan tinggal serumah, mereka bisa membahas masalah kantor hingga tidak mengenal waktu.

Kini usaha yang tidak kenal lelah dua ilmuwan nuklir itu membuahkan hasil konkret. Mereka berhasil menemukan teknik baru pengayaan uranium tingkat rendah untuk memproduksi radioisotop. Oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan, teknik yang belum dikenal di dunia ilmu nuklir ini kemudian dinamai "Formula YK" yang berasal dari gabungan nama Yudiutomo-Kusnanto.

Temuan teknik baru itu pun mulai dipraktikkan. Mulai November 2011, BatanTek kembali bisa memproduksi radioisotop. Klien-klien BatanTek yang sebelumnya pindah ke produsen lain balik lagi ke BatanTek. Di antaranya 11 rumah sakit di Indonesia. Juga pembeli dari luar negeri seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, Jepang, Bangladesh. Agustus nanti, BatanTek mulai mengirim radioisotop ke Tiongkok.

Hingga saat ini hanya ada delapan negara yang memproduksi radioisotop untuk keperluan medis. Di antaranya Indonesia, Kanada, Australia, Belgia, Belanda, dan Hongaria. Kebutuhan radioisotop di dunia mencapai 12.000 curie per minggu. Kebutuhan itu tumbuh 10 persen per tahun. Artinya, saat ini dibutuhkan reaktor berkapasitas lima kali lipat atau 60.000 curie untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

"Menurut cerita Yudi, dalam pertemuan produsen radioisotop sedunia di Italia dua pekan lalu, produsen asal Kanada menyatakan bahwa mereka akan menghentikan produksi radioisotop karena usia reaktor nuklirnya sudah lebih dari 50 tahun. Mereka sebenarnya sudah membangun reaktor baru, namun dibatalkan oleh pemerintah karena ada kesalahan teknis.

"Padahal, saat ini Kanada memasok 40 persen kebutuhan radioisotop dunia. Kalau mereka berhenti, terbuka peluang sangat besar bagi BatanTek untuk mengambil pelanggan-pelanggan mereka, khususnya di kawasan Asia atau negara yang masih bisa kita jangkau," jelasnya.

Karena itu, meski kini sudah menguasai sebagian besar pasar Asia, BatanTek siap membidik pasar yang jauh lebih besar. Yudi pun menyusun rencana pembangunan reaktor baru dengan kapasitas sampai 22.000 curie per minggu. Saat ini BatanTek baru mampu memproduksi radioisotop 1.600 curie per minggu.

Dengan teknologi terbaru yang lebih efisien, dibutuhkan dana investasi sekitar Rp 1,6 triliun untuk membuat reaktor dengan kapasitas 22.000 curie per minggu. Jika reaktor baru bisa berproduksi, omzet BatanTek yang saat ini sekitar Rp 3 miliar per minggu bisa meningkat hingga Rp 44 miliar per minggu atau sekitar Rp 2,2 triliun per tahun.

"Hitungan kami, 3 tahun sudah BEP (break even point atau balik modal, Red), padahal umur reaktornya bisa sampai 50 tahun," ujarnya mantap.

Menurut Yudi, hal itu bisa dicapai dalam hitungan beberapa tahun lagi. Dengan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, dia optimistis BatanTek mampu menjadi pemain besar di Asia, bahkan dunia. (*/ari)


  ● JPNN  
[Read More...]


[Foto] Fasilitas Nuklir Indonesia



Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4). Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia. (ANTARA/ BNPT/RN)
 
 


  ● Antara  
[Read More...]


Kepala BATAN: "Reaktor Eksperimental Daya Lebih Mudah Diterima Publik"



Jakarta � Energi Nuklir menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk mengatasi persoalan krisis energi di tanah air. Di tengah semakin menipisnya sumber-sumber energi dari fosil seperti minyak bumi dan batu bara, energi nuklir menjadi alternatif sumber energi terbaik untuk memenuhi kebutuhan hampir 260 juta penduduk Indonesia ini. Untuk mewujudkan opsi terbaik ini tentu membutuhkan dukungan seluruh stakeholders.

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun sejalan dengan belum diterimanya secara utuh nilai positif dari rencana pemerintah terhadap pembangunan PLTN oleh sebagian masyarakat, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto mewacanakan gagasan pembangunan reaktor eksperimental daya terlebih dulu sebagai pilihan mendesak untuk mengatasi kebutuhan energi listrik di seluruh wilayah di tanah air.

"Reaktor ekperimental daya diharapkan mampu menjadi role model pembangunan PLTN dalam skala kecil sehingga masyarakat nantinya dapat melihat secara objektif jika bisa diwujudkan bahwa sesungguhnya PLTN itu adalah teknologi yang aman dan ramah lingkungan," jelas insinyur nuklir UGM Yogyakarta.

Untuk mengetahui langkah taktis dan strategis bagaimana mengimplementasikan terobosan program-program BATAN ke depan, Doktor Nuclear Engineering University of Tokyo yang baru dua bulan menjabat sebagai Kepala BATAN ini berkesempatan melakukan wawancara dengan Ag. Sofyan dari Suara Karya. Berikut petikannya :

Apa langkah-langkah yang anda lakukan selepas menerima kepercayaan menjadi Kepala BATAN ?

Pertama kita lakukan pendekatan kepada stakeholders terkait termasuk di dalamnya media massa. Kita juga menggandeng pemangku kepentingan lain termasuk perguruan tinggi, karena BATAN menyadari sebagai lembaga litbang, kita tak akan dapat berdiri sendiri. Salah satunya ITB yang memiliki ahli reaktor nuklir akan intens dilibatkan dalam kerja sama ini. Intinya kita akan lebih mengikat banyak jejaring, karena BATAN tentu tak dapat berjalan sendiri untuk mensukseskan progamnya.

Kita bisa melihat contoh yang bagus dan belajar dari metode yang diterapkan di Jepang dimana sejumlah peneliti dan komunitas intelektual (universitas) turut mendukung dan bekerja bersama-sama dalam menciptakan PLTN yang aman dan bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Di Indonesia justru ironis, kami dicap kalau semua yang berkaitan dengan nuklir itu urusannya BATAN saja. Seolah-olah di luar BATAN tak perlu dilibatkan.

Bagaimana respon masyarakat terhadap penggunaan teknologi nuklir ?

Saya menilai persepsi publik terhadap teknologi nuklir semakin positif dan cenderung meningkat. Ada progress yang cukup baik di masyarakat terhadap penerimaan energi nuklir. Itu bisa dilihat pada hasil jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Andira Karya Persada, yang menurut saya memberikan surprise karena hasilnya menunjukkan persepsi masyarakat yang baik terhadap BATAN dalam konteks bicara tentang teknologi nuklir. Survei menunjukkan setelah Presiden, BATAN dianggap sebagai institusi yang terpercaya berbicara tentang nuklir. Meskipun betul itu memang tugas pokok kita, namun kepercayaan ini tentu menjadi modal yang menggembirakan bagi BATAN untuk melangkah lebih jauh. Hasil survei itu memberikan gambaran positif penerimaan masyarakat pada alternatif penggunaan energi nuklir sebagai opsi mengatasi krisis energi nasional. Secara umum persepsi masyarakat tentang Iptek Nuklir lebih baik di tahun ini. Hal itu bisa kita cermati dengan meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap kegunaan teknologi nuklir.

Bagaimana dinamika persepsi publik terhadap survei tersebut ?

BATAN secara rutin menggiatkan jajak pendapat berdasarkan penetapan Renstra PDIN 2010-2014. Awalnya, pada 2010 persepsi masyarakat secara nasional ditunjukkan dengan angka 59,7 persen menerima pemanfaatan Iptek Nuklir dalam bidang energi melalui pembangunan PLTN, sebanyak 25,5 persen menilai perlunya pembangunan PLTN dan 14,8 persen tidak tahu.

Sedangkan pada 2011, terjadi penurunan penerimaan pembangunan PLTN dengan 49,5 persen setuju, 35,5 persen responden menolak, dan 15 persen tidak tahu. Jajak pendapat dari 7 Oktober hingga 21 Oktober 2012, menemukan bahwa 52,7 persen dari keseluruhan responden menerima pembangunan fasilitas PLTN di Tanah Air, sedangkan 25,23 persen tidak setuju, dan 22,83 persen tidak tahu.

Bagaimana memberikan pemahaman bahwa teknologi nuklir dibutuhkan untuk masa depan ?

Salah satu hal yang penting untuk terus disosialisasikan adalah mengubah mindset, bahwa kita tidak lagi kaya sumber energi. Suatu saat sumber energi dari fosil seperti minyak dan batu bara akan habis. Oleh karenanya BATAN secara aktif mengajak berbagai kalangan, termasuk akademisi dan para jurnalis mempunyai persepsi yang sama terhadap energi alternatif positif lainnya, salah satunya energi nuklir. Saat ini Iptek Nuklir memang telah dipergunakan untuk program nonenergi. Melalui kegiatan ini, nuklir bisa langsung dimanfaatkan melalui berbagai aplikasi yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Contohnya Teknik Serangga Mandul (TSM) dan pemuliaan varietas padi unggul adalah aplikasi teknologi nuklir yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Bagaimana tentang pembangunan PLTN ?

Indonesia masih membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan obsesi itu. Beberapa daerah di wilayah tanah air memang telah mengajukan tawaran untuk menjadikan lokasi alternatif tapak nuklir.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketidakpastian regulasi maupun kebijakan di daerah yang sering berubah-ubah seiring pergantian pimpinan daerah yang bisa berpengaruh terhadap keberlangsungan tapak nuklir ini.

Saya katakan daerah harus memiliki planning jangka panjang yang kuat yang tidak akan membawa pengaruh terhadap policy yang sudah diambil meskipun pucuk pimpinan daerah bisa saja berganti kapan pun.

Di usia ke 54 BATAN, apa harapan anda ?

Jujur saya ingin membawa BATAN kembali ke khittah sebagai lembaga penelitian dan pengembangan (litbang). Khitah BATAN memang seperti itu dan bukan sebagai lembaga pembuat kebijakan energi. Soal itu barangkali adalah otoritas yang bisa diserahkan kepada Kementerian ESDM maupun institusi terkait seperti DEN. BATAN ingin tugas dan fungsinya hanya memberikan masukan atas opsi-opsi terbaik yang bisa dipilih terhadap Iptek Nuklir. Sementara keputusan finalnya dikembalikan kepada pemerintah dengan persetujuan DPR.

Apa tantangan BATAN ke depan ?

Tantangan utama BATAN adalah menyiapkan diri kapan pun pemerintah menghendaki energi nuklir dapat segera diimplementasikan di negeri ini dengan pembangunan PLTN. Kita sekuat tenaga lakukan terus langkah tersebut agar tidak terjadi demotivasi pada seluruh karyawan dan para peneliti di BATAN. Mereka harus punya semangat yang kuat bahwa suatu saat obsesi pembangunan nuklir akan bisa terwujud. Di sisi eksternal, jika kelak policy pemerintah untuk menggunakan energi nuklir dilakukan, kita sudah siap setiap saat kapan pun dan siapa pun pemerintahannya. Untuk mencegah sikap apatis dan skeptis, BATAN menciptakan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi, karena kita memiliki 3 reaktor riset yang menjadi tumpuan melakukan kegiatan.

Reaktor yang sudah ada sejak tahun 1965 harus tetap berjalan dengan baik dan kegiatan yang dilakukan sangat penting untuk menunjukkan eksitensi BATAN tak hanya di tingkat nasional tapi juga di mata internasional. Australia barangkali bisa menjadi contoh yang sangat baik. BATAN-nya Australia tidak punya PLTN, namun tenaga mereka expert dan eksis di seluruh dunia di bidang nuklir. Maka kita harus bisa seperti itu, tanpa PLTN-pun kita harus bisa mencetak tenaga yang expert dan mendunia. Dan kita siap untuk itu.

Penggunaan energi nuklir di masa depan akan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Kita bisa lihat contoh Uni Emirat Arab yang kaya energi, mereka juga telah memikirkan alternatif penggunaan energi nuklir sebagai pilihan tepat masa depan.

Apa sebetulnya obsesi anda sebagai orang yang sudah lama berkutat di bidang kenukliran ?

Dengan berkaca kepada sejarah selama hampir tiga dekade keinginan untuk mewujudkan PLTN belum terlaksana. Saya ingin mewujudkan pembangunan reaktor eksperimental daya yang akan digunakan sebagai reaktor riset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam skala kecil tetapi tidak komersial. Ini semacam PLTN mini, dimana di situ masyarakat dapat melihat maket PLTN yang safe sehingga menambah keyakinan pada masyarakat bahwa teknologi nuklir untuk kepentingan energi sesungguhnya aman untuk digunakan.
Keinginan ini adalah upaya terobosan mengingat kesulitan yang demikian besar jika memakai jalur konvensional untuk membangun PLTN. Pembangunan reaktor eksperimental daya ini saya asumsikan lebih mudah diterima selain tidak membutuhkan proses politik yang panjang. Apalagi itu juga masih dalam domain tugas BATAN. *

● Suara Karya
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri