ISENG BLOGER

RI Siap Kembangkan Trem Listrik Made in Serpong



http://images.detik.com/content/2013/09/10/1036/bppt.jpgSerpong - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana mengembangkan dan membangun mobil listrik menggunakan pantograf layaknya trem. Mobil listrik versi terbaru ini merupakan pengembangan dari mobil listrik yang menggunakan baterai.

Rencananya mobil jenis ini mulai dikembangkan tahun ini juga di Puspitek Serpong Tangerang. Hal ini disampaikan oleh Kepala BPPT, Marzan A. Iskandar di sela acara Technopreneurship Champ di Puspitek Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (10/9/2013).

"Mobil listrik yang menggunakan pantograf itu sedang kita persiapkan juga tahun ini akan kita mulai persiapkan dalam waktu beberapa tahun ke depan akan jadi. Dia menggunakan listrik langsung di atas. Ini sejenis trem," ucap Marzan.

Mobil listrik ini nantinya digunakan sebagai keperluan transportasi publik. Mirzan menjelaskan mobil listrik ini masih tetap menggunakan baterai namun dalam ukuran kecil.

"Mobil listrik tapi tidak sepenuhnya menggunakan baterai, karena baterai menjadi masalah saat ini karena kapasitas terbatas karena sampai 200 km. Dan juga bobotnya berat sehingga sebagian besar di baterai. Solusinya adalah mobil yang menggunakan pantograf," katanya.

Disebutkan Marzan, mobil berkonsep trem ini nantinya melewati jalur khusus yang dilengkapi jaringan listrik khusus. Namun bisa juga beroperasi tanpa jaringan listrik. Selain merancang moda, BPPT juga merancang infrastruktur kelistrikan pendukung.

"Ini pakai jalur khusus tapi nggak perlu dipenuhi jaringan listrik. Dia suatu saat bisa copot menggunakan jalan biasa dan baterai. Tapi nanti dia nyambung," sebutnya.(feb/ang)


  detik 
[Read More...]


Orang RI Sanggup Bikin Pesawat Jet Sekelas Boeing 737



http://images.detik.com/content/2013/09/10/1036/144845_pesawatair.jpegJakarta - Indonesia dinilai memiliki kemampuan untuk membuat pesawat. Seperti pesawat bermesin jet komersial.

Hal ini pernah dilakukan saat proses pengembangan dan produksi pesawat bermesin jet N2130. Pesawat ini setara dengan pesawat komersial asal pabrikan Boeing tipe 737.

"Mungkin sekali, kenapa nggak mungkin (buat pesawat). Dulu itu N2130 pesawat jet. Kalau itu tidak tertunda karena krisis itu sudah jadi sekarang. Kita memiliki persyaratan untuk menjadi negara kuat dalam teknologi kedirgantaraan," ucap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan A. Iskandar di sela acara Technopreneurship Champ di Puspitek Serpong, Tangerang, Selasa (10/9/2013).

Diakui Marzan, tenaga ahli BPPT juga pernah terlibat dalam pengembangan pesawat baling-baling asli buatan Indonesia seperti N250 yang dikembangkan saat zaman BJ Habibie. Hingga pesawat penumpang versi terbaru yang akan diluncurkan Indonesia, N219.

"Itu kan BBPT semua. Kapasitas pak Habibie dulu merangkap jabatan sebagai kepala BPPT, Menristek, direktur utama PTDI untuk membuat program itu terintegrasi yang memanfaatkan SDM BPPT juga," sebutnya.(feb/dru)


[Read More...]


Perusahaan Minyak Berminat Beli Pesawat Tanpa Awak Made in RI




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilWmZ8GbX24Uwkp0pGVajKRdDBMvFR3-u91oVN8xcbuOqFdj_MjhmAjp3wFyD06Yx5-CK6tCJi8ZEI8v4dtQjyBKuK66_KI0pEBl49PmCzGFKC7AwImWpjYiRkS6eWGFa9a5zDpFq4aFFv/s640/puna-wulung-mampu-terbang-200-km.jpgJakarta - Pesawat tanpa awak hasil pengembangan Badan Pengembangan dan Penelitian Teknologi (BPPT) diminati banyak orang. Perusahaan swasta dalam negeri hingga instansi dari luar negeri meminati pesawat tersebut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Chief Engineer BPPT, Muhammad Dahsyat kepada detikFinance di Pameran Harteknas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).

"Kalau kita pameran teknologi di Kemayoran, ada yang berminat dari luar negeri, tapi saya belum bisa menyebutkan dari mana. Instansi (bukan perorangan)," kata Dahsyat.

Dahsyat mengatakan, pesawat nirawak tersebut dibuat masih untuk memasok kebutuhan di dalam negeri, seperti yang sudah dipesan oleh TNI sebanyak 3 unit untuk keperluan surveilance (pengawasan). Pesawat ini pun belum boleh dijual untuk umum.

"Kalau dijual umum kan kita harus ada perjanjian dan persyaratan dulu termasuk pelatihannya juga," katanya.

Selain TNI, perusahaan minyak swasta di dalam negeri pun tergiur untuk memesan pesawat ini. Namun sayangnya dia tidak menyebutkan berapa harga dan siapa pemesannya tersebut.

"Oil company banyak yang minta untuk off shore, on shore. Mereka untuk mengamati kilang apakah ada permasalahan atau nggak," tutupnya.(zul/dru)


  detikF  
[Read More...]


★ TNI Pesan 3 Pesawat Tanpa Awak Canggih Buatan BPPT



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilWmZ8GbX24Uwkp0pGVajKRdDBMvFR3-u91oVN8xcbuOqFdj_MjhmAjp3wFyD06Yx5-CK6tCJi8ZEI8v4dtQjyBKuK66_KI0pEBl49PmCzGFKC7AwImWpjYiRkS6eWGFa9a5zDpFq4aFFv/s640/puna-wulung-mampu-terbang-200-km.jpg
UAV BPPT
Jakarta - Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) berhasil mengembangkan pesawat tanpa awak canggih buatan dalam negeri. Sebanyak 3 pesawat yang diberi nama Puna Wulung itu telah dipesan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk keperluan pengawasan.

Chief Engineer BPPT Muhammad Dahsyat menjelaskan, pesawat ini bisa bertahan terbanga selama 4 jam dengan radius hingga 120 Km, dan mencapai ketinggian hingga 12.000 kaki. Pesawat tersebut dikendalikan dengan sensor remote kontrol yang canggih.

"Tahun depan kita mampu sampai 6 jam, kita berinovasi terus," kata Dahsyat saat ditemui detikFinance di Pameran Hari Teknologi Nasional, di Taman Mini Indonesia Indah, Kamis (29/8/2013).

Menurutnya, pesawat ini bisa digunakan untuk keperluan pengawasan daerah perbatasan dengan negara tetangga.

"Dibuat untuk hujan buatan juga bisa. Di sayapnya masing-masing dipasang 2 kg flare yang setara dengan 1 ton NACL (Natrium Chlorida) garam. Jadi 4 kantong flare bisa dipasang maksimum," katanya.

Selain itu, BPPT terus mengembangkan pesawat tanpa awak dengan teknologi yang lebih canggih. Dahsyat mengatakan suatu hal yang membanggakan bagi Indonesia, anak bangsa terus mampu berinovasi terhadap teknologi.

"Nanti pun bisa dibuat autopilot, auto take off dan auto landing," jelasnya.(zul/hen)


  detikF 
[Read More...]


Pesawat hingga kosmetik ada di pameran BPPT



Foto Peserta di BPPT
Jakarta - Pesawat nirawak hingga  kosmetik herbal antipenuaan dini hadir pada pameran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  untuk memperingati HUT ke-35nya sekaligus Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 dan HUT RI ke-68.

"Pameran ini diharapkan bisa bermanfaat untuk memperkenalkan produk-produk BPPT kepada masyarakat," kata Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar dalam sambutannya pada pembukaan pameran yang digelar di lobi kantor BPPT pada 20-22 Agustus tersebut di Jakarta, Selasa.

Dikatakan Marzan, banyak produk BPPT dalam bentuk prototipe yang sudah siap diproduksi massal, seperti pesawat nirawak misalnya Wulung, Sriti dan Alap-alap, yang akan diproduksi oleh PT DI untuk Kemhan, produk pangan untuk kondisi darurat BiskuNeo, kosmetik herbal antipenuaan dini dan lain-lain.

Ia juga mencontohkan, e-card reader (alat pembaca kartu elektronik), hasil pengembangan BPPT, yang akan diluncurkan pada puncak peringatan Hakteknas di Taman Mini pada 29 Agustus yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada pameran tersebut juga digelar berbagai produk hasil bioteknologi dan agroindustri seperti hasil olahan tanaman sorgum, produk-produk nanoherbal untuk kosmetik dan kesehatan, rekayasa teknologi untuk energi alternatif seperti pembangkit listrik biofuel, fotovoltaik, pembangkit listrik tenaga panas bumi, hingga teknologi TV digital.


  Antara 
[Read More...]


Tiga Teknologi Dirgantara jadi Ikon Harteknas 2013



http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2012/05/RX-55011.jpg
Rx550 LAPAN
Jakarta - Tiga teknologi dirgantara terbaru buatan Indonesia bakal menjadi ikon peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-18. Peringatan itu akan diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mulai 29 Agustus - 1 September mendatang.

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Satelit LAPAN-A2 serta Roket RX-550 bikinan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) akan memimpin pameran teknologi karya anak negeri itu. Selain pameran hasil rekayasa teknologi dari berbagai bidang, Kementrian Riset dan Teknologi (Kemristek) RI juga akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional Kemristek 2013, workshop, kompetisi roket air, fun bike, dan kegiatan lainnya.


Menurut rilis pers yang dikeluarkan oleh Kemristek, Sabtu, 10 Agustus 2013, puncak peringatan Harteknas ke-18 yang bertema "Inovasi untuk Kemajuan Bangsa" itu akan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Acara puncak akan berlangsung pada Kamis, 29 Agustus 2013.


Peringatan Harteknas dimulai pada 10 Agustus 1995 lalu ketika pesawat N-250 rintisan Menristek RI saat itu, B.J. Habibie, terbang perdana di langit Indonesia. Namun pesawat berpenumpang 50-70 orang itu dihentikan produksinya dengan dalih krisis ekonomi 1997.


  Tempo  
[Read More...]


BPPT lirik kerjasama riset laut dalam



Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melirik kerja sama riset dengan industri mengenai eksplorasi laut dalam.

"BPPT sedang mencoba untuk mengkombinasikan upaya riset dan industri laut dalam. Biasanya riset dan industri jalan sendiri-sendiri, tapi sekarang dicoba untuk jalan bersama," ujar Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam, Ridwan Djamaluddin, usai pemaparan mengenai kapal Chikyu di Jakarta, Senin.

Ridwan mengatakan riset dan kegiatan industri dapat jalan bersama karena menggunakan peralatan yang sama, sehingga pemanfaatannya bisa lebih optimal.

"Riset laut dalam sangat mahal, oleh karena itu menjadi tidak realistis jika riset jalan sendiri-sendiri," ujar dia.

Dia menyebutkan sejumlah perusahaan tertarik untuk bersama-sama melakukan eksplorasi laut dalam di Tanah Air. Di Indonesia terdapat 1.141 sumur pengeboran dengan mayoritas di laut.

"Negara tetangga juga bisa diajak untuk melakukan riset bersama," tambah dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Mitigasi Bencana Udrekh mengatakan selama ini kemampuan untuk mengeksploitasi sumber daya migas sangat dibatasi oleh teknologi eksplorasi laut dalam.

"BPPT memandang perlu adanya pengetahuan terhadap penguasaan teknologi pengeboran laut dalam. Oleh karena itu kerja sama dengan pemerintah Jepang melalui Jamstec dimanfaatkan untuk memaparkan teknologi kapal bor tercanggih saat ini yakni Chikyu," kata Udrekh.

Udrekh menjelaskan Chikyu adalah kapal bor laut dalam yang mampu melakukan pengeboran untuk laut dengan kedalaman 2,5 kilometer dengan kemampuan pengeboran 9 kilometer.

"Chikyu juga memiliki fasilitas laboratorium," tukas Udrekh.

Dengan demikian, Chikyu mampu menjawab berbagai kebutuhan bagi pengetahuan dan teknologi laut dalam.


  Antara 
[Read More...]


BPPT Sudah Semai 38,4 ton Garam di Riau



JAKARTA - Selama sepekan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di provinsi Riau, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah menyebar sedikitnya 38,4 ton garam saat melakukan modifikasi cuaca (TMC) di langit Riau.

Kepala UPT Hujan Buatan BPPT, Heru Widodo saat ditemui di kantornya, Kamis (27/6) mengatakan, penyemaian garam tersebut dilakukan menggunakan enam pesawat Hercules dan dua pesawat CASA milik TNI AU.

"Total kita sudah terbang melakukan penyemaian sebanyak 6 sorti menggunakan 4 Hercules kapasitas 4 ton garam dan 2 pesawat CASA kapasitas 1,2 ton garam. Ditambah water bombing dengan 3 unit Helicopter," kata Heru.

Dia mengklaim sejak program TMC dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Riau, pada hari pertama sudah terjadi hujan dalam kapasitas kecil. Hal itu karena tim menemui kendala dengan cuaca yang panas.

"Tim sempat terkendala dengan cuaca yang kering sehingga sulit membentuk awan hujan. Tapi setelah dioptimalkan, hasilnya pada hari keempat sudah terjadi hujan di sebagian besar wilayah Karhutla," jelas Heru.

Saat ini tambah Heru, jumlah hot spot sudah bisa ditekan hingga tersisa sebanyak 6 titik. Namun pihaknya memprediksi daerah Riau masih rawan Karhutla sampai empat bulan ke depan bila semua elemen masyarakat tidak bersama-sama mengantisipasi pembakaran lahan dan hutan.

"Kita diuntungkan dengan sudah hilangnya badai Bebinca. Hari ini juga memprediksi akan turun hujan dalam intensitas tinggi. Tapi Riau masih rawan karena kemarau masih akan terjadi empat bulan ke depan," pungkasnya. (fat/jpnn)


  JPNN 
[Read More...]


BPPT Bakal Datangkan Pesawat Rusia dan Amerika



JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana mendatangkan sejumlah pesawat dari Rusia dan Amerika Serikat untuk membantu tim penanggulangan Karhutla di Riau dan sejumlah provinsi lain.

Kepala UPT Hujan Buatan, Heru Widodo mengatakan, upaya mendatangkan pesawat untuk menjalankan teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini kemungkinan akan ditempuh bila dalam beberapa ke depan Karhutla di Riau belum menujukkan hasil sginifikan.

"Mendatangkan pesawat dari rusia dan Amerika tergantung cuaca. Kalau semakin ekstrim mungkin akan didatangkan," kata Heru di akntor BPPT, Jalan M.H Thamrin Jakarta, Kamis (27/6).

Dia menyebutkan ancaman kebakaran hutan dan lahan saat ini tidak hanya ada di Riau, tapi juga di beberapa Provinsi lain seperti Jambi, Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat. Bila eskalasi kebakaran tersebut semakin meluas, maka pesawat bantuan dari Rusia dan Amerika Serikat jenis Amov dan BE200 akan didatangkan.

Namun demikian, kata Heru, BPPT yang tergabung dalam tim nasional penanggulangan Karhutla bersama BNPB dan TNI/Polri akan mengoptimalkan semua sumner daya yang dimiliki.

"Sekarang kita optimalkan kemampuan dalam negeri. Apalagi sudah ada bantuan 600 personil dari pusat. Saat ini operasi di Riau didukung sumber daya BPPT dan TNI AU seperti pesawat Hercules, CASA dan helicopter," jelasnya.(fat/jpnn)


  JPNN 
[Read More...]


BPPT Produksi 1 Skuadron Pesawat Mata-Mata Tanpa Awak Kemenhan



Jakarta - Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Indonesia memesan pesawat udara nir awak (PUNA) tipe Wulung untuk kebutuhan 1 skuadron.

Pesawat yang bisa digunakan untuk misi mata-mata ini, dibuat oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggandeng PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT LEN Industri (Persero).

PUNA tipe wulung saat ini memasuki tahap sertifikan sebelum proses produksi. Hal ini disampaikan oleh Software Engineer BPPT, Heri Tri M kepada detikFinance, di sela pameran Harteknas di Gedung BPPT Jakarta, Senin (24/6/2013).

"Yang akan diproduksi massal wulung untuk satu skuadron. Itu sedang proses produksi. Karena kita lembaga riset, nggak bisa ikut pengadaan maka kita kerjasama dengan PT DI dan LEN. Mereka yang bertugas untuk pengadaan produksi," ucap Heri.

Pada kesempatan ini, BPPT menampilkan 3 varian PUNA yakni Sriti, Alap-Alap dan Wulung. Untuk varian Wulung, Heri menjelaskan pesawat ini mampu terbang selama 4 jam dengan radius maksimal 130 KM dari pusat peluncuran. Pesawat ini mempunyai fungsi untuk pemantauan atau surveillance.

"Pemetaan udara, untuk pengamatan perbatasan bisa untuk buat pengawasan hutan," tambahnya.


  detikFinance  
[Read More...]


Pesawat Tanpa Awak Bertenaga Listrik Siap Mengudara di Thamrin



http://images.detik.com/content/2013/06/21/1036/141231_puna.jpg
 PUNA BPPT
Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) akan menggelar uji coba terbang pesawat tanpa awak bertenaga listrik. Pesawat karya Insitut Teknologi Bandung (ITB) akan bermanufer di halaman kantor BPPT Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Uji coba tersebut dilakukan pada Senin (24/6/2013) pukul 09.30 WIB. Pesawat dengan nama 'hexarator' ini, mampu terbang tanpa membutuhkan landasan yang panjang layaknya helikopter.

Ketua Pelasana Harian Hari Kebangkitan Tekonologi Nasional (Harteknas) dan juga Asdep Jaringan Penyedia IPTEK Kementrian Ristek Goenawan Wibisono menjelaskan, pesawat ini mampu terbang vertikal sehingga tidak membutuhkan ladasan pacu.

"Ini bisa terbang vertikal dan nggak perlu landasan. Kalau UAV (pesawat tanpa awak karya BPPT) perlu landasan sepanjang 500 meter," ucap Goenawan di kantor BPPT Jakarta, Jumat (21/6/2013).

Pesawat terbang tanpa awak ini, mampu terbang dengan suara senyap karena menggunakan tenaga baterai. Pada acara Harteknas nanti, juga ditampilkan pesawat sejenis dengan nama tricopter dan flying car.

"Hexarotor, tricopter. Memilik banyak fungsi. Ada pakai kamera gimbal (bisa bergerak) dengan jangkauan 200 meter-300 meter. Itu kamera muter dan pakai wireless," tambahnya.

Harteknas kali ini, akan menampilkan pesawat tanpa awak lainnya karya BPPT dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). BPPT akan menampilkan Pesawat Nir Awak (PUNA) tiga varian yaitu Wulung, Alap-Alap dan Sriti. Sedangkan LAPAN siap memajang pesawat tanpa awak (UAV) LCU 02.(feb/dru)


[Read More...]


Roket dan Pesawat Tanpa Awak Made in Indonesia akan Dipamerkan di Monas



Putra-putri Indonesia sudah mampu membuat produk-produk canggih seperti roket ringan, pesawat tanpa awak dan satelit. Rencananya produk-produk itu akan mulai diluncurkan akhir bulan ini.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta menyebutkan, beberapa ahli di lembaga negara dan BUMN telah memampu menciptakan produk canggih tersebut, dan dinilai tak kalah dengan negara-negara lain.

"Saya berharap ini kita mau memperingati Harteknas (Hari Kebangkitan Teknologi Nasional), cuma launching-nya bulan Juni. Nanti saya akan tampilkan juga. Roket, satelit, kemudian pesawat tanpa awak. Itu kita akan tonjolkan, kita juga bisa buat itu," kata Gusti saat ditemui di Gedung Badan Standarisasi Nasional, Jakarta, Selasa (11/6/2013).

Gusti menambahkan, ketiga produk tersebut akan dipamerkan dan diluncurkan pada tanggal 22 Juni di Monumen Nasional (Monas), dan berlanjut di acara Resmi Hari Kebangkitan Teknologi Nasional pada tanggal 29 Agustus hingga 1 September 2013 nanti di Taman Mini Indonesia Indah.

"Puncaknya sekitar tanggal 30 Agustus, nanti Pak Presiden yang berikan sambutan," katanya.

Dikatakan Gusti, gelaran ini dilakukan setiap 1 tahun sekali. Setiap tahunnya, ada produk-produk teknologi baru yang termasuk ke dalam 7 fokus Kementerian ristek yakni pertanian dan ketahanan pangan, energi baru dan terbarukan, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan dan obat-obatan, hankam, transportasi, material maju.

"Tahun kemarin kan mobil listrik. Tahun ini roket, satelit dan pesawat tanpa awak. Itu buatan kita, PT DI (Dirgantara Indonesia) BPPT, Lapan," katanya.


[Read More...]


Sempat Keberatan dan Gagal Terbang, Kini Siap Terima Order



Liku-Liku BPPT Wujudkan Pesawat Udara Tanpa Awak

Dunia dirgantara Indonesia terus menebarkan optimisme. Setelah PT Dirgantara Indonesia kebanjiran pesanan helikopter militer, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sukses menciptakan pesawat udara nir awak (PUNA) yang siap dikomersialkan. Jerih payah sejak 15 tahun lalu pun terbayar.

BAYU PUTRA, Jakarta

TANGGAL 29 April 2013 merupakan hari bersejarah bagi proses penciptaan PUNA. Sebab, mulai tanggal itu, BPPT menyatakan kesiapannya untuk memproduksi pesawat tanpa awak tersebut secara komersial. Mereka siap menerima pemesanan dari pihak luar.

Rilis PUNA yang diberi nama Wulung itu dilakukan oleh Kementerian Pertahanan bersama PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai pelaksana produksinya.
Para penggawa tim produksi PUNA Wulung pun bersorak kegirangan menyambut babak baru industri kedirgantaraan Indonesia itu. Wajah kurang tidur para pemuda dan profesor senior pun seketika berubah ceria usai penandatanganan kerja sama komersialisasi PUNA.

Sembari memandangi pesawat dengan warna dominan biru laut yang sedang dipamerkan itu senyum cerah terus menghiasi raut wajah penuh kelegaan mereka.

Bagi tim PUNA Wulung, Inilah salah satu impian para ilmuwan BPPT, menghasilkan produk teknologi tinggi yang bisa dikomersialkan. Meski belum secanggih pesawat tak berawak bikinan negara maju, optimisme tetap membuncah.

Sekitar 50 orang anggota tim pengembang PUNA Wulung menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan pesawat itu agar lebih canggih. Dengan harapan, pesawat itu akan digunakan untuk kepentingan militer Indonesia dan menjadi bagian alutista asli bikinan anak negeri.

Para anggota tim PUNA Wulung memang pantas berbangga. Hasil pengembangan bertahun-tahun mampu menghasilkan pesawat nir awak yang cocok untuk kondisi geografis Indonesia. “Kami tidak bisa melupakan jasa almarhum Prof Said,” ujar Kepala Program PUNA Joko Purwono.

Pengembangan PUNA di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari sosok Prof Said Djauharsyah Jenie. Mantan Kepala BPPT itu merupakan perintis teknologi PUNA. Pada 1998, Said yang bermimpi Indonesia memiliki pesawat intai tak berawak mulai merekayasa teknologi dirgantara yang merupakan bidang keilmuannya.

Sayang, karena berbagai keterbatasan di BPPT kala itu, dia memutuskan menggandeng pihak swasta untuk mengembangkan PUNA. Krisis ekonomi dan kondisi politik pascareformasi sempat membuat proyek tersebut mandek. Akhirnya pada 2004 pengembangan PUNA dilakukan lagi.

Selama dua tahun, Said dan timnya fokus mengembangkan struktur ringan. Sejumlah uji coba pun dilakukan dan berakhir dengan kegagalan. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah bobot pesawat yang terlalu berat. Setidaknya ada dua prototipe pesawat yang gagal diuji coba meski berkali-kali dilakukan penyesuaian.

Rupanya, para ilmuwan pengembang PUNA yang berlatar belakang ilmuwan PT DI menyamakan struktur pesawat tersebut dengan pesawat komersial. Tidak heran beratnya berlebih dan gagal diterbangkan.

Mereka pun kembali berkutat di bengkel pembuatan pesawat tersebut, dan berhasil menciptakan prototipe ketiga yang mampu terbang.

Setelah menjadi kepala BPPT pada 2006, pucuk pimpinan program PUNA pun diserahkan kepada Joko. Dia mulai mengembangkan PUNA dalam hal konfigurasi. Selain itu, Joko menyetop pengembangan oleh swasta. Dia merekrut para sarjana dari berbagai universitas untuk mengembangkan PUNA.

Para sarjana fresh graduate itu tidak hanya berasal dari satu atau dua bidang teknik. Berbagai macam disiplin ilmu digabungkan dalam tim yang terdiri dari kombinasi para profesor dan para pemuda lulusan anyar yang terbilang masih ’’hijau” itu. bahkan, alumnus seni rupa pun menjadi bagian dari tim PUNA.

Anak-anak muda itu dilatih bahasa pemrograman, dan setelah mahir mereka diberi software sesuai disiplin ilmu masing-masing.

’’Mustahil PUNA dibuat oleh ahli di satu ilmu saja, semisal termodinamika,’’ tutur Joko. Setidaknya tim PUNA dibagi dalam tujuh kelompok yang memegang peranan penting. Mulai kelompok aircraft, avionic, hingga kelompok yang khusus menangani termodinamika. Berbagai rangkaian uji coba dan evaluasi pun dilakukan.

Masa-masa uji coba merupakan saat paling krusial. Para penggawa tim PUNA jarang tidur menjelang hari H. Mereka harus memastikan bagian sekecil apapun tidak ada yang cacat dan terlewatkan, dan pesawat dibuat sesuai prosedur dan cetak biru yang telah ditelurkan Prof Said.

Meninggalnya Said pada 2007 membuat tim PUNA terguncang. Mereka sempat menjadi anak ayam yang kehilangan induknya. Apalagi, kala itu dukungan pemerintah terhadap pengembangan PUNA masih belum 100 persen.

Mereka harus mengembangkan pesawat dengan kemampuan finansial yang terbatas. Rasa pesimistis mulai menjalari tim tersebut.

Untungnya, para pemuda itu cepat bangkit. Mereka kembali kepada jalan yang benar, dan mengembangkan PUNA hingga benar-benar laik terbang. Tidak hanya itu saja, Joko juga mulai memberikan materi komersialisasi teknologi agar hasil karya tersebut tidak sia-sia setelah berhasil terbang dengan sempurna.

Sejak tahun 2009, tim PUNA mulai mengembangkan segmentasi kebutuhan pasar. Dari situ, didapati jika dulunya Prof Said berkeinginan melayani kebutuhan TNI AU untuk mengawasi wilayah perbatasan.

Selain itu, teridentifikasi pula kebutuhan untuk mengawasi wilayah Indonesia yang rawan pembalakan liar dan kebutuhan akan hujan buatan.

Dari situ, rancangan PUNA terus disempurnakan hingga akhirnya menarik perhatian Balitbang TNI. Balitbang pun ikut serta dalam pengembangan PUNA, dan lahirlah Wulung. Spesifikasi pesawat tersebut dianggap cukup sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

Dengan bobot 60 kilogram dan bentang sayap 6,34 meter, PUNA Wulung memiliki jarak jelajah 200 kilometer di ketinggian 12 ribu kaki. Pesawat itulah yang pada 29 April lalu dinyatakan siap untuk dikomersialisasi melalui PT DI.

Meski begitu, saat ini tim PUNA Wulung sedang mengembangkan lagi pesawat tersebut. ’’Pesawat ini sekarang masih memiliki kemampuan 3,5 gravitasi. Kami sedang kembangkan agar memiliki kemampuan 7 gravitasi agar mampu menahan beban ratusan kilogram,’’ lanjut pria 58 tahun itu.

Potensi PUNA Wulung saat ini masih ada di level dua. Umumnya, pesawat militer tak berawak milik negara maju sudah ada di level tiga. Level tertinggi atau level empat yang mampu dicapai saat ini adalah kemampuan jelajah di atas 70 ribu kaki.

Menurut Joko, dengan potensi di level dua saat ini, PUNA Wulung sudah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan negara. Terutama, dalam hal pengawasan illegal logging dan pembentukan hujan buatan. Justru jika ketinggian jelajahnya terlalu tinggi, dikhawatirkan wilayah Indonesia tidak bisa terekam sempurna akibat tertutup awan.

Joko menambahkan, dengan adanya PUNA, fungsi pengawasan oleh kapal dan pesawat berawak TNI AU bisa lebih efisien. PUNA bisa menggantikan biaya tinggi akibat pengawasan di wilayah perbatasan. ’’Dari satu kapal induk, PUNA bisa mengawasi lebih jauh namun dengan biaya lebih efisien,’’ tambahnya. (***/che/k1)


  Kaltimpost  
[Read More...]


BPPT Kembangkan Pembangkit Listrik Energi Angin



JAKARTA – Tingginya pertumbuhan penduduk dan perekonomian di Indonesia, membuat kebutuhan terhadap energi listrik meningkat cukup pesat.

Pada 2030 diprediksi pemakaian listrik sebesar 22,5%, batubara 15,6%, dan gas bumi 8%. Sedangkan peranan bahan bakar minyak masih cukup besar, yaitu lebih dari 35,6% terhadap kebutuhan energi final nasional.

“Di sisi lain, cadangan energi fosil makin menipis. Khususnya laju produksi minyak bumi nasional yang semakin menurun, tidak mampu mengejar laju kebutuhan. Hal itu membuat Indonesia saat ini beralih dari negara pengekspor menjadi negara pengimpor minyak,” kata Marzan A. Iskanda, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di Jakarta, Selasa (14/5).

Dia mengatakan konsumsi BBM pada 2030 diperkirakan mencapai tiga kali lipat dari konsumsi saat ini. Oleh sebab itu pengembangan energi dari sumber energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi sangat urgen untuk ditingkatkan.

Menurut dia, bila pada 2030 tak ada perubahan pola kebijakan subsidi, maka subsidi untuk minyak akan mencapai Rp3.000 triliun.

Marzan menuturkan Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT yang cukup menjanjikan. Salah satunya mengoptimalkan pembangkit listrik dnegan menggunakan energi angin, yang cenderung lebih ramah lingkungan dan rendah karbon.

“Pemanfaatan energi angin ini perlu ditingkatkan. Dari 160 titik yang terukur kecepatan anginnya, diperkirakan 35-40 titik di Indonesia punya potensi kecepatan angin rata-rata per tahun di atas 5 meter per detik,” ujarnya di sela MoU antara WHyGen dan beberapa mitra dalam rangkaian kegiatan WHyPGen Project Board Meeting.

Untuk itu, katanya, BPPT melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP), menjalankan proyek Wind Hybrid Power Generation (WHyPGen) Market Development Intiatives.

Proyek hibah yang didanai oleh Global Environmental Facility (GEF) tersebut, tujuannya mendorong komersialisasi pembangkit listrik hibrid on-grid berbasis energi angin.

Hibrid dapat diimplementasikan antara pembangkit listrik tenaga angin atau bayu dengan diesel, mikrhidro, surya, biomas, ataupun EBT lainnya.

Dalam menjalankan proyek WHyPGen ini, lanjutnya, BPPT bermitra dengan institusi lain, seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Keuangan, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia.

Dia menjelaskan target utama proyek WHyPGen yang berlangsung tiga tahun (2012-2015) ini, adalah pembangkit listrik berbasis energi listrik, berbasis teknologi WHyPGen sebesar 18,115 GWh, setara dengan pengurangan emisi CO2 sebesar 16.050 metric ton dari aplikasi terpasang 9,4 Megawatt (MW).

Saat ini, ujarnya, WHyPGen telah memetakan potensi energi angin di 8 lokasi yang terdapat di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, dan Bali. NTT, lanjutnua, memiliki potensi angin yang cukup bagus dengan kapasitas 50 MW, dan Banten 100 MW.

Diharapkan kegiatan WHyPGen dapat meningkatkan pemanfaatan energi angin, yang sekarang masih lambat.

“Pembangkit listrik bertenaga angin yang baru dimanfaatkan, hanya 2 MW,” ungkapnya. (Kabar24/aw)


  Kabar24  
[Read More...]


★ Peningkatan Prestasi Uji Terbang PUNA Sriti BPPT



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijQU4g-0o_tVegmoX48p4gpBNiDeD7dYhKQwbV0aLTVeQ4BAUK_-DLAwSQN6JT2jvzFpuo86-NUsc4luw43GSVFi8kzD_JQRdNR5Tzj2H4xOR6O9Us_38qBNZnLDIhiIg_IOMDkSCTvqs/s1600/Mohamad_Dahsyat_dan_PUNA_Sriti.jpg
 PUNA Sriti BPPT
Untuk peningkatan pencapaian target prestasi terbang sistem Pesawat Udara Nir Awak (Puna) Sriti, Tim Puna Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan (PTIPK) TIRBR BPPT telah melakukan pengujian prestasi terbang sistem Puna di lapangan terbang Suparlan, Pusdikpassus TNI AD -  Batujajar, Jawa Barat (25-26/4). Puna Sriti yang diuji tersebut dipersiapkan untuk misi pemantauan (surveilance & recocnation) keperluan militer dalam latihan lapangan SESKO-TNI AD.
 
Puna Sriti sendiri merupakan salah satu sistem Puna BPPT yang dapat diterbangkan menggunakan catapult system dengan cara dilontarkan, sehingga dapat dibawa ke lapangan uji/ operasi tanpa membutuhkan transportasi dan landasan terbang khusus.

Untuk meningkatkan kemampuan terbangnya, Puna Sriti dipasang sistem propulsi tipe dorong dengan engine 2 HP berbahan bakar gasoline. Bahan bakar engine gasoline digunakan untuk memudahkan Puna Sriti dapat dioperasikan diseluruh wilayah tanah air. Pada pengujian high altitude dan ketahanan terbang (endurance) diatas kawasan lapangan Suparlan, berhasil mencapai prestasi terbang hingga 1000 - 5000 ft - ASL dalam lama terbang pengujian 30 – 120 menit.

Dalam rangkaian pengujian tersebut juga dilakukan juga pengujian kehandalan sistem transmisi data dari Puna ke Ground Control Station (GCS). Hasil prestasi terbang sistem Puna Sriti terpantau dari hasil pengiriman dokumentasi data parameter terbang Puna serta gambar foto/ video secara real time dikirim dari pesawat ke GCS dan dapat diterima dengan baik.

Turut menyaksikan pengujian antara lain perwakilan dari SESKO-TNI AD. Melalui serangkaian kegiatan pengujian Sistem Puna Sriti BPPT, diharapkan kedepan masih perlu dilakukan penyempurnan sistem telemetri melalui modifikasia sistem antena telekomunikasi untuk memperpanjang mencapaian sistem Line of Side (LOS) lebih guna keperluan pengiriman data dan audio visual maupun pengendalian auto takeoff – landing pesawat sesuai misi penerbangan. (Tim PUNA-PTIPK 2013/humas)



  BPPT  
[Read More...]


Wulung, Si Pesawat tanpa Awak



Kelak pesawat ini akan dilengkapi dengan senjata sehingga berfungsi sebagai penyerang

http://202.46.15.98/file/gallery/2013/05/puna.jpg
Tidak lama lagi Indonesia memiiiki skuadron udara tanpa awak atau unmanned aerial vehicle. Pesawat Udara Nirawak (PUNA) ini didesain dan dirumuskan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT). Sejak 2004, BPPT mengembangkan teknologi pesawat nirawak. Dalam tiga tahun terakhir pengembangan mereka lakukan secara konsorsium dengan Balitbang Kementerian Pertahanan.

Dalam proyek PUNA, PT Dirgantara Indonesia (DI) akan bertanggung jawab atas produksi pesawat dan Lembaga Elektronik Nasional (LEN) yang mengerjakan sistem komunikasi dan elektroniknya. Jenis Wulung, dipilih sebagai pesawat tanpa awak yang digarap PT DI. Calon pengguna pesawat ini sudah ada yaitu TNI Angkatan Udara.

Untuk tahap awal, PT DI akan memproduksi tiga unit. Nantinya, penempatan Wulung ada di wilayah perbatasan dengan negara lain. Dengan demikian, ini membantu mengurangi operasi personel tentara di sana. Kelebihan Wulung terletak pada jumlah muatan yang bisa diangkut. Jika dibandingkan dengan pesawat nirawak lainnya, seperti Alap-AIap dan Sriti, Wulung mempunyai badan yang lebih bongsor.

Bentang sayapnya saja mencapai enam meter. Bandingkan dengan Alap- Alap jenis Double Boom yang mempunyai bentang sayap 3,5 meter dan Sriti tiga meter. Rupanya ada alasan tersendiri mengapa TNI AU memilih jenis Wulung. Direktur Teknologi Industri Pertahanan Kementerian Pertahanan Darlis Pangaribuan mengatakan, ke depan Wulung memiiiki potensi dilengkapi senjata.

Wulung sesuai spesifikasi pesawat yang mampu mengangkat senjata yang merupakan jenis beban yang berat. Setelah proses produksi selesai, Angkatan Udara akan memakainya sebagai pesawat pemantau. "Tapi, kita juga berharap pesawat ini berfungsi sebagai alat untuk menyerang," kata Darlis menegaskan. Menurut dia, TNI AU menyediakan Rp 29 miliar untuk pembelian tiga pesawat Wulung.

Kementerian Pertahanan berharap kisaran jumlah produksi yang bakal mereka gunakan mencapai 16 hingga 24 unit.

Direktur Teknologi dan Produksi LEN Darman Mapangara mengatakan teknologi elektronik yang dibenamkan pada Wulung, ia sesuaikan dengan misi PUNA sebagai pemantau. Jadi, LEN menempatkan sistem pilot auto optical surveillance dan on board system untuk kendali terbang. Wulung juga memiliki mobile ground station sehingga data yang sedang diamati Wulung terpantau secara real time.

Di masa depan, PUNA jenis ini dapat menjalankan misi penyusupan maupun pengeboman. Tentu dengan menambahkan jenis teknologi lainnya. Kepala Program PUNA Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT Joko Purwono menyatakan hingga 2014, BPPT fokus pada pesawat pemantau sehingga muatan hanya untuk membawa kamera beserta perlengkapannya.

Kamera yang dipakai adalah kamera video yang diletakkan di rumah kamera. Ada dua jenis kamera yaitu daylight untuk siang hari dan clear (infra merah) sehingga tetap bisa melakukan fungsi pemantauan pada malam hari. Joko menyebutkan, permasalahan yang melekat pada Wulung adalah proses lepas landas dan pendaratan secara manual. “’Kami terus mengupayakan agar bisa lepas landas dan mendarat dengan menggunakan sistem autopilot,” kata Joko.

Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT DI Andi Alisjahbana M mengatakan, proses produksi Wulung akan segera berlangsung. Menurut dia, tahun ini pesawat harus sudah jadi Karena ini merupakan produksi pertama, ada banyak pekerjaan yang dilakukan, terutama mempersiapkan jig atau cetakan produksi dan proses sertifikasi.

Wulung menjadi produksi pesawat nirawak massal pertama di Indonesia. Andi mengatakan banyak UAV dibangun di Indonesia tapi sebagian besar hanya berupa prototipe dan konsep, belum barang produksi. Ia enggan menyebutkan kisaran harga untuk memproduksi Wulung. Ia hanya mengatakan produksi Indonesia jauh lebih murah dibanding beli dari luar negeri.

Spesifikasi Teknis PUNA Wulung
Tipe/konfigurasi Low Boom, High Wing, T-tail
Bentang sayap 6,34 meter
Berat kosong/struktur 60 kg
Berat muatan 25 kg
Berat lepas landas 130 kg
Kecepatan jelajah 55 knot (minimal)
Ketahanan terbang empat jam
Jarak jelajah 200 km
Ketinggian terbang 12.000 feet (maksimal)
Jarak lepas landas 300 meter
Pendaratan darat
Sistem propulsi mesin bensin 2 tak, maksimal 22 HP
Muatan kamera video/kamera digital
Sistem kendali manual/auto pilot/auto nav.


   • Republika  
[Read More...]


★ PT DI Siap Produksi Pesawat 'Mata-Mata' Tanpa Awak



Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (Persero) berencana memproduksi pesawat tanpa awak untuk keperluan pengawasan dan mata-mata. Pesawat ini merupakan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) yang telah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan menggadeng Dirgantara Indonesia sejak tahun 2004.

Saat ini, Dirgantara Indonesia sedang menjajaki kontrak pembuatan beberapa unit PUNA Wulung pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

"Pesawat tanpa awak desain BBPT, BBPT bikin litbang. Kita buat sesuai dengan standar produk," tutur Direktur Utama Dirgantara Indonesia, Budi Santoso kepada detikFinance, Jumat (3/5/2013).

Dihubungi secara terpisah, Manager Komunikasi Dirgantara Indonesia, Sonny S Ibrahim menuturkan, dari proses tersebut, setidaknya Dirgantara Indonesia menjelaskan pihaknya menargetkan bisa memperoleh kontrak pembuatan PUNA Wulung varian I senilai US$ 34 juta.

Setelah menerima kontrak, pabrik pesawat pelat merah ini, akan melakukan penyempurnaan dan sertifikasi prototype PUNA Wulung karya BPPT. Diharapkan, pesawat yang masih proses kontrak pemesanan ini, bisa melengkapi peralatan milik TNI pada 2013 ini.

"Tugasnya PT DI memproduksi, menyempurnakan dan mensertifkasi. Pesawat itu dikembangkan oleh BPPT bernama Puna Wulung," tambahnya.(feb/dru)

 Puna si 'Mata-Mata' Buatan Bandung Bisa Terbang Hingga 200 Km

PT Dirgantara Indonesia (Persero) berencana memproduksi varian pesawat tanpa awak atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Wulung di Bandung, Jawa Barat. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pembuat pesawat ini, akan menyempurnakan dan mensertifikasi pesawat yang telah dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2004 ini.

Manager Komunikasi Dirgantara Indonesia, Sonny S Ibrahim menuturkan, pesawat tanpa awak yang pertama kali diproduksi secara massal ini mampu terbang untuk melakukan pengintaian hingga radius 200 km dari pusat kendali atau area lepas landas.

"Pesawat bisa sampai 200 km, itu pulang-pergi. Kontrol bisa pakai autopilot, kalau keluar dari radius 200 km karena tertiup angin," tutur Sony kepada detikFinance, Jumat (3/5/2013).

Pesawat PUNA Wulung varian I ini, nantinya bisa terbang hingga ketinggian maksimal 12.000 kaki dan mampu terbang dalam durasi 4 jam. Pesawat tanpa awak made in Indonesia ini, juga dilengkapi kamera resolusi tinggi, sehingga bisa membantu tugas pengawasan udara.

"Pesawat itu untuk pengawasan, perlengkapannya kamera bisa meilihat hingga radius 2 km sampai 3 km. Ini high resolution. Tapi kameranya belum dilengkapi infra red untuk aktivitas penagawasan malam hari karena masih tahap awal," tambahnya.

Pesawat ini, terbilang relatif mahal untuk tahap awal. Ini terjadi karena adanya penyempurnaan dan sertifikasi yang dilakukan oleh Dirgantara Indonesia. Setelah proses itu dilewati, PUNA si 'Mata-Mata' ini, bisa dijual dengan harga sekitar Rp 1 miliar per unit. Untuk komponen pesawat tanpa awak ini, hampir sebagian besar diproduksi dan dirancang di dalam negeri.

"Komponen lokalnya sebagian besar, yang bukan cuma peralatan elektronik kendali dan kamera," tegasnya.(feb/ang)

  detikFinance  

[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri