ISENG BLOGER

Indonesia termaju di asia dalam produksi vaksin



Jakarta - Indonesia merupakan negara termaju di Asia dalam riset dan produksi vaksin dengan PT Bio Farma (Persero) sebagai ujung tombak dalam produksi vaksin itu.

"Kita sudah termasuk termaju di kawasan Asia untuk urusan vaksin karena faktanya hanya segelintir negara Asia yang punya kemampuan seperti Bio Farma. Itu suatu pencapaian nasional yang membanggakan," kata Sekretaris Perusahaan Bio Farma, M. Rahman Rustan, di Jakarta, Rabu.

Dalam acara taklimat pers, ia mengungkapkan kemampuan Indonesia dalam industri vaksin itu terkait penyelenggaraan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) ke-3 di Jakarta pada 2--3 Juli, 2013.

Forum yang melibatkan kalangan universitas, pemerintahan dan industri kesehatan itu sudah digagas Bio Farma sejak 2011.

"Sebelum penyelenggaraan FRVN ke-3, bulan lalu, Bio Farma diminta Organisasi Kerja sama Islam (OKI) untuk menjadi tuan rumah dan rujukan bagi kerja sama pengembangan industri vaksin di negara-negara Islam. Aktivitas itu dihadiri sembilan negara OKI yang sudah punya infrastruktur dasar industri vaksin," katanya.

Dalam OKI, hanya Indonesia yang vaksinnya telah memperoleh pengakuan organisasi kesehatan dunia (WHO) sehingga bisa digunakan di seluruh dunia.

"Dengan fakta itu, OKI selalu melihat Indonesia untuk urusan industri vaksin," kata Rahman, didampingi Kepala Humas Bio Farma, Neneng Nurlela MBA.

Selain itu, Bio Farma juga mendapat dukungan kuat pemerintah, khususnya Kementerian Riset dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan berkoordinasi dalam melakukan kerja sama dengan para peneliti yang tergabung dalam konsorsium penelitian vaksin nasional.

Pihak pemerintah, khususnya Kementerian Riset dan Teknologi secara khusus memberikan fasilitas pendanaan riset kepada para peneliti yang tergabung dalam konsorsium tersebut.

Mengenai FRVN ke-3, ia menjelaskan forum itu menindaklanjuti hasil-hasil pembahasan dalam dua kali FRVN sebelumnya terkait dokumentasi-dokumentasi pembahasan yang diserahkan kepada Kementerian Riset dan Teknologi dan Litbang Kementerian Kesehatan.

FRVN ke-3 yang juga diselenggarakan dalam rangkaian acara 123 tahun Bio Farma itu dihadiri pakar vaksin Profesor Julie Bines dari Murdoch Children Research Insitute (MCRI), Australia, serta Profesor Keiko Udaka dari Kochi Medical School, Jepang.

Dalam catatan, penyelenggaraan FVRN ke-1 telah membentuk delapan konsorsium atau working group (WG) vaksin, yaitu Rotavirus, Tuberculosis, Malaria, HIV/AIDS, Dengue, Influenza, Pneumokokus dan Delivery System, serta kebijakan riset vaksin nasional sekaligus pendanaan.

Pembentukan delapan konsorium riset vaksin bertujuan mencapai sasaran pembangunan milenium (MDG`s) bidang kesehatan dan penerapan Dekade Vaksin 2011-2020.

Selain itu, Bio Farma selalu berkoordinasi erat dengan Kementerian Kesehatan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang guna menyusun peta jalan (roadmap) bagi kebutuhan vaksin baru dan pengembangan vaksin.

"Sampai sekarang ada 70 persen produksi Bio Farma didistribusikan untuk kebutuhan ekspor dan 30 persen untuk kebutuhan dalam negeri," katanya.

Dalam kaitan itu, keterlibatan pihak dari akademisi/peneliti, pemerintah, dan bisnis menjadi tonggak kemandirian vaksin nasional lewat pendekatan sinergis industri vaksin.(E004/E011)


  Antara  
[Read More...]


5 Fakta tentang Aspirin



5 Fakta tentang AspirinJakarta - Bahan utama aspirin yang ditemukan dalam ekstrak tumbuh-tumbuhan seperti kulit pohon willow, telah digunakan selama berabad-abad sebagai pereda nyeri. Pada akhir 1800-an, seorang ahli kimia mensintesis sebentuk senyawa yang disebut asam asetilsalisilat. Senyawa inilah yang terkandung dalam aspirin. Selain menghilangkan rasa sakit, aspirin juga dapat memiliki sejumlah efek lain pada tubuh. Berikut adalah lima fakta tentang aspirin, seperti dikutip dari Live Science, Selasa, 25 Juni 2013.

1. Mengurangi risiko serangan jantungMengonsumsi dosis rendah aspirin setiap hari bisa mengurangi risiko serangan jantung. Aspirin mencegah sel-sel menggumpal di dalam darah. The American Heart Association (AHA) untuk merekomendasikan mengonsumsi aspirin dosis rendah setiap hari, terutama bagi orang yang berisiko tinggi terkena serangan jantung dan orang yang selamat dari serangan jantung. Namun hal ini harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Pasalnya, aspirin memiliki efek samping yang dapat meningkatan risiko perdarahan gastrointestinal

2. Meningkatkan risiko tinnitusAspirin dapat meningkatkan risiko tinnitus, atau dengung di telinga. Risiko ini terjadi pada seseorang yang mengonsumsi aspirin dalam dosis tinggi (8-12 tablet sehari). Universityas California, AS, memperkirakan bahwa asam salisilat, yang merupakan produk pemecahan dari bahan utama dalam aspirin, dapat merusak telinga bagian dalam.

3. Mengurangi risiko kankerPenelitian telah menemukan hubungan antara mengkonsumsi aspirin secara teratur dan mengurangi risiko kanker, terutama kanker usus besar. Satu penelitian yang diterbitkan pada tahun 2011 menemukan bahwa, mengkonsumsi dua tablet aspirin per hari dapat menurunkan tingkat kanker usus sebesar 63 persen di antara orang-orang yang berisiko tinggi untuk kanker usus besar. Studi lain yang dipublikasikan tahun lalu juga menemukan bahwa, mengkonsumsi aspirin setiap hari dapat menurunkan risiko kematian akibat kanker.

4. Meningkatkan risiko sindrom ReyeAnak-anak yang mengonsumsi aspirin mungkin akan memiliki risiko sindrom Reye lebih tinggi. Sindrom ini merupakan suatu kondisi langka yang ditandai dengan kerusakan otak tiba-tiba dan masalah hati. Gejalanya dapat berupa muntah berkepanjangan, kebingungan, dan kejang. Kondisi ini terjadi pada anak-anak yang diberi aspirin ketika pulih dari flu atau cacar air. Menurut Mayo Clinic, meskipun aspirin aman digunakan untuk anak-anak usia 2 tahun, tapi aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak yang baru sembuh dari flu atau cacar air.

5. Menimbulkan masalah pada kehamilanAspirin dan obat non-steroid anti-inflamasi (NAIDS) tidak dianjurkan untuk ibu hamil, terutama pada tiga bulan terakhir, karena aspirin mempengaruhi pembekuan darah. Hal ini dapat meningkatkan risiko perdarahan pada ibu atau janin. Selain itu, konsumsi aspirin selama kehamilan juga dapat mempengaruhi kemampuan menutupnya pembuluh darah di jantung bayi.


  Tempo  
[Read More...]


Unair Temukan Obat HIV/AIDS dari Air Liur dan Racun Lebah



Lebah dan sarangnya (ilustrasi)SURABAYA -- Pusat Studi Perlebahan Lembaga Penyakit Tropis Universitas Airlangga (LPT Unair), Surabaya sedang melakukan uji klinis terhadap manfaat propolis lebah bagi kesembuhan pasien HIV/AIDS.

Penelitian ini terinspirasi dari uji coba bee venom atau racun lebah di Amerika yang berhasil menyembuhkan seorang gadis sembilan tahun. Ketua Pusat Studi Perlebahan LPT Unair James Hutagalung mengatakan, kelompok studinya juga melakukan hal serupa.

Namun, James dan timnya melakukan uji coba terhadap pasien HIV/AIDS dengan menggabungkan terapi propolis atau air liur dan racun lebah. Riset dengan racun lebah banyak dilakukan di luar negeri. Namun baru pertama kali di Indonesia.

Racun dari lebah ternyata mampu menembus dinding sel virus. Ia tidak menghancurkan tapi menembus sehingga virusnya mengecil dan bersifat saling membunuh dan lama-kelamaan hilang.

James dan rekannya melakukan uji coba klinis terhadap seorang pasien laki-laki dewasa penderita HIV/AIDS. Pasien ini datang ke LPT Unair dalam keadaan sudah koma selama tiga-empat pekan.

Dalam tiga pekan pemberian propolis, terjadi perubahan pada pasien. Hasilnya cukup mengejutkan, pasien yang telah koma ini sadar dan mampu membuka mata.

Selama terapi, pasien diberi propolis dosis 500 miligram tiga kali sehari. Tablet propolis yang sudah dihancurkan dimasukkan dalam cairan infus pada pagi, siang dan sore hari.

Selain propolis, pasien juga diterapi dengan sengat lebah satu pekan sekali. Pasien menerima dua sengat lebah sekali terapi, di kiri dan kanan leher belakang.

"Bahan aktif yang berperan penting dalam proses penghancuran sel itu disebut melitin yang ada di dalam bee venom. Sedangkan di dalam propolis ada tujuh bahan aktif, salah satunya adalah flavonoid," ujar James, Selasa (28/5).

Propolis berada di dalam rumah lebah. Warnanya kehitaman. Propolis adalah campuran dari nektar dan air liur lebah. Propolis yang dikumpulkan berasal dari jenis lebah dari Eropa, Apis Mellifera.

Propolis yang telah dikumpulkan, diambil ekstraknya dengan cara maserasi. Perbandingannya, satu kilogram propolis dicampur dengan lima liter ethanol. Kemudian dikocok selama dua pekan. Proses tersebut dinamakan maserasi.

Setelah dimaserasi, campuran propolis tersebut dikeringkan dengan alat rotavapor atau alat penguapan. Dari proses ini tertinggal kristal-kristal propolis atau ekstraknya. Ekstrak inilah yang diberikan pada pasien. Ekstrak ini sudah bisa dimanfaatkan karena dibuat dalam bentuk tablet.

"Pemberian obat alami atau natural medicine ini dilakukan secara simultan dengan obat antiretroviral," kata James.

Terapi ini diberikan selama jangka waktu tiga bulan atas persetujuan dari keluarga pasien. James berharap dalam tiga bulan ke depan hasilnya maksimal. Artinya, pasien dapat sehat kembali.


  Republika  
[Read More...]


Peneliti AS dan RI Gelar Riset Virus Flu Burung



 Salah satu dari tiga kota di Jawa Barat akan menjadi lokasi penelitian

Flu Burung 
Jakarta Peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat (AS) membuka kerjasama di bidang penelitian influenza virus H5N1 atau virus flu burung dengan berupaya membuat sistem pemantauan virus tersebut. Indonesia, yang diwakili oleh Fakultas Kedokteran dari Universitas Padjajaran Bandung akan berkolaborasi dengan Universitas Colorado dengan memanfaatkan dana hibah yang diberikan oleh Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) senilai US$ 1,4 juta atau sekitar Rp 13,5 miliar.

Peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak UNPAD, Cissy B. Kartasasmita, mengungkapkan bahwa timnya dan peneliti dari Universitas Colorado AS akan turun ke salah satu tempat dari tiga lokasi penelitian di Jawa Barat yang diusulkan, yaitu Majalengka, Kuningan atau Indramayu.

Menurut Cissy, yang telah dikukuhkan sebagai guru besar di UNPAD, pemilihan lokasi didasari atas angka kejadian luar biasa flu burung di kabupaten tersebut.

"Jadi selama seminggu kami akan melakukan survei lapangan di daerah yang diketahui banyak terdapat ayam atau unggas yang mati mendadak. Kami akan ambil sampel dari unggas yang mati dan orang-orang yang berada sekitar 200 meter dari lokasi unggas tersebut," ujar Cissy dalam bincang-bincang dengan VIVAnews, Senin 18 Maret 2013, usai menghadiri acara pemberian hibah oleh USAID kepada peneliti Indonesia di Gedung Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakara Selatan.

Menurut Cissy, hasil sampel itu akan ditelusuri dan orang-orang yang berada dekat dengan lokasi akan dipantau selama seminggu, apakah mereka mengalami sakit atau tidak setelah unggas tersebut mati.

"Kalau mereka diketahui terinfeksi maka akan dirujuk ke rumah sakit infeksi di RS Hasan Sadikin," kata dia. Cissy memang melihat hingga saat ini belum terdapat lagi korban akibat flu burung. Walaupun sebelumnya pernah ditemukan satu pasien yang diduga terinfeksi flu burung, namun setelah dites, hasilnya negatif.

Sebelumnya 14 pasien terinfeksi flu burung tercatat pernah dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Namun sejak tahun 2010 kasus tersebut sudah tidak lagi muncul. Cissy menduga virus ini masih akan tetap ada, apabila masih ditemukan gejala serupa pada unggas.

"Kita duga kalau unggas tetap masih positif, maka pada manusianya juga bisa saja positif. Mungkin saja sudah ada yang terinfeksi dalam skala ringan tapi belum terdeteksi," ujarnya.

Masyarakat Lalai 

Menurut Cissy banyak warga kerap lupa menjaga kebersihan setelah mereka melakukan kontak fisik dengan unggas. Padahal dari situlah virus flu burung menyebar.

"Masyarakat suka lupa kalau peristiwanya sudah lewat, sehingga perlu harus selalu diingatkan. Saya juga menyayangkan karena mereka datang ke rumah sakit setelah terinfeksi sekian lama dan sudah parah," kata Cissy.

Melalui penelitian bersama ini dapat ditemukan sebuah sistem pemantauan geo spasial epidemologi, yang dapat dimanfaatkan untuk memantau sumber penyakit flu burung berasal dan proses penyebarannya.

"Kalau dengan teknologi pemantauan tersebut, kita dapat mengetahui di mana lokasi orang sakit, kemudian telusuri bagaimana orang tersebut dapat menularkan ke orang lain," ujar Cissy.

Saat ini Cissy dan tim sedang memasuki proses perekrutan anggota kegiatan penelitian dan mengurus perizinan. Diharapkan pada Mei mendatang, tim ini sudah dapat turun ke lapangan untuk bekerja.


  • Vivanews  
[Read More...]


TNI AD Buat Serum Tetanus



TNI AD Buat Serum TetanusBandung | Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Budiman melakukan kunjungan kerja ke Detasemen Kuda Kavaleri (Denkudkav) Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav).

Kunjungan kerja tersebut dilaksanakan di Jalan Kolonel Masturi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu 16 Januari 2013.

Saat melakukan kunjungan kerja, Wakasad sekaligus melaksanakan rapat pembahasan kerjasama TNI Angkatan Darat dengan PT Bio Farma tentang pembuatan serum tetanus, difteri dan anti bisa ular serta teknik penggunaan kuda.

Pada kunjungan kerja tersebut Wakasad didampingi Asisten Operasi (Asops) Kasad Mayjen TNI Dedi Kurnaedi, Asisten Personalia (Aspers) Kasad Mayjen TNI Sunindyo, Asisten Logistik (Aslog) Kasad Mayjen TNI Joko Sri Widodo, Dirziad Brigjen TNI Dicky Wainal Usman, Direktur Kesehatan Angkatan Darat (Dirkesad) dan Kalafi Kesad.

Turut hadir dalam acara tersebut Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Dankodiklat) TNI AD Letjen TNI Gatot Nurmantyo, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Sonny Widjaja, Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri (Danpussenkav) Brigjen TNI Purwadi Mukson, Kakesdam III/Slw, serta pejabat terkait lainnya.

Seusai melakukan rapat, Wakasad bersama rombongan melakukan peninjauan ke kandang kuda serta penanaman pohon mangga di sekitar areal Kesatrian Denkudkav. (Pendam III/Slw/Mar).
[Read More...]


Obat Gosok



Macam-macam Kegunaan Obat Gosok

Macam-macam Kegunaan Obat GosokJakarta Nama berbagai minyak obat tradisional yang beredar di pasar boleh berbeda-beda, tapi cara bekerjanya sama: memesamkan atau menghangatkan. Bahan bakunya beragam, sehingga klaim khasiatnya beraneka rupa. Inilah beberapa jenis minyak yang akrab dan kerap dipakai oleh keluarga di Indonesia.

Minyak Gosok
- Kandungan: minyak kelapa, minyak kayu putih, minyak sereh, minyak lawang, cengkeh, daun lada, jahe, kunyit, lengkuas, temulawak, bawang, daun sirih.
- Khasiat: mengobati keseleo, pegal, otot kaku, sakit pinggang dan punggung, mempercepat penyembuan bengkak karena pukulan atau benturan, mengobati luka bakar, luka khitan, kulit lecet atau luka terkena pisau, meredakan nyeri sendi, sakit gigi, bisul, sakit kepala, kudis, panu, gatal akibat gigitan serangga, muntah, sakit perut, batuk, rematik, bisa untuk minyak pijat.

Minyak Telon
- Kandungan: minyak kelapa, minyak adas, minyak kayu putih.
- Khasiat: memberi rasa hangat pada tubuh bayi karena merangsang pembuluh darah, membantu dan mencegah perut kembung dan masuk angin, mencegah gigitan nyamuk, bisa untuk minyak pijat bayi. Aroma minyak telon juga memberikan rasa tenang (aromaterapi).

Minyak Kayu Putih
- Kandungan: minyak hasil penyulingan daun dan ranting kayu putih.
-Khasiat: menghangatkan tubuh, melemaskan otot, meredakan dan mencegah perut kembung, mual, dan masuk angin, meredakan gatal akibat gigitan serangga. Aromanya memberikan efek menenangkan.

Minyak Gandapura
- Kandungan: minyak hasil penyulingan daun gandapura.
- Khasiat: membantu meredakan nyeri otot dan sendi, encok, rematik, pegal, keseleo, dan nyeri.

Minyak Angin
- Kandungan: minyak kayu putih, minyak gandapura, minyak kamfer, minyak mentol.
- Khasiat: membantu meredakan gejala masuk angin, pusing, mabuk perjalanan, mual, pegal, gatal karena gigitan nyamuk/serangga, bisa untuk aromaterapi.

Ini Khasiat Obat Gosok 

Ini Khasiat Obat GosokSelain dijual ke seluruh Indonesia, minyak gosok Cap Tawon buatan PT Tawon Jaya Makassar juga diekspor ke Singapura, Hong Kong, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Saban bulan, produksinya mencapai 300 ribu botol. "Racikan awalnya tetap dipertahankan hingga sekarang," kata Eddy Mattualy, Direktur Utama PT Tawon Jaya Makassar, saat ditemui Tempo di rumahnya, pekan lalu.

Racikannya terdiri dari rupa-rupa minyak. Selain minyak kelapa, minyak kayu putih, cengkeh, daun lada, jahe, kunyit, dan bawang, juga ada minyak sereh, minyak lawang, lengkuas, temulawak, dan daun sirih. Semua bahan dimasak, diekstrak, lalu disaring. Klaim khasiatnya sebanyak unsur yang dicampurkan. Misalnya menyembuhkan bengkak, mengobati berbagai macam luka, pegal, nyeri, sakit kepala, gatal akibat gigitan serangga, serta cocok untuk pijat atau urut sehari-hari.

Minyak ini sudah diuji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Itu sebabnya, dalam produk minyak Cap Tawon tertulis POM TR sebagai bukti teregistrasi sebagai obat tradisional. "Sejauh ini minyak obat tradisional tidak bermasalah," kata Bahdar Johan, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen BPOM.

Meski demikian, soal khasiat yang diklaim oleh perusahaan Eddy, belum ada yang mengujinya secara medis. Menurut dokter Siswanto, Ketua Komisi Nasional Saintifikasi Jamu di Kementerian Kesehatan, kebanyakan prinsip kerja minyak gosok adalah menghangatkan tubuh sehingga merangsang sirkulasi darah. Rasa hangat didapat, antara lain dari efek penggunaan kayu putih.

Minyak kayu putih memang terkandung dalam banyak minyak gosok, termasuk Cap Tawon. Hasil penyulingan daun dan ranting tanaman kayu putih ini, selain menghangatkan, juga mengandung eukaliptol. Zat inilah yang berkhasiat melemaskan otot dan mencegah perut kembung. Itu mengapa minyak ini—bersama dengan minyak kelapa dan minyak adas—dicampurkan ke dalam minyak telon (telu berarti tiga dalam bahasa Jawa).

Yang menarik, pengobatan dengan menggosokkan ke kulit diadaptasi oleh pengobatan modern. Olesan di kulit terbukti diserap tubuh dan lebih aman dibanding obat minum, yang terkadang memicu masalah di organ pencernaan.

Kementerian Kesehatan mendorong obat tradisional, termasuk yang berbentuk minyak, agar tetap eksis. Produk ini dikategorikan sebagai jamu. Bukti khasiatnya mengacu pada penggunaan secara empiris dan turun-temurun. Namun, agar khasiatnya bisa dijelaskan, upaya mencari bukti ilmiah tentang manfaat dan keamanan jamu perlu dilakukan. Sebab itulah, pada 2010, dibentuk Komisi Nasional Saintifikasi Jamu. "Soal khasiat, kita rasional saja, enggak usah berlebihan," kata Siswanto.

Begini Asal Muasal Minyak Gosok 

Begini Asal Muasal Minyak GosokTidak jelas benar mulai kapan dan dari mana kebiasaan mengoleskan obat gosok muncul. Hanya ada perkiraan, kita mengadopsinya dari budaya Cina. Pengobatan tradisional Cina memang mengenal obat gosok hangat, meski mereka lebih banyak memakai menta sebagai bahan dasar. Ketika sampai di Indonesia, bahan baku diganti, sesuai dengan kekayaan rempah-rempah dan tanaman obat yang kita miliki. Terutama yang memiliki efek hangat, seperti cengkeh, sereh, daun lada, jahe, dan kayu putih.

Zaman berganti, tapi kebiasaan masyarakat kita memakai minyak gosok tak berubah. Itu sebabnya sejumlah perusahaan --bahkan perusahaan internasional-- ikut bermain di ceruk ini. Selain Cussons yang berpusat di London, di pasaran beredar minyak produksi Nyonya Meneer, Konicare, Tresno Joyo, dan sebagainya.

Kebiasaan yang tak berubah itu pula yang membuat obat gosok Cap Tawon, yang rutin dipakai Subekti, lajang 34 tahun, warga Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, bisa bertahan selama satu abad. Pada 6 Desember lalu, perusahaan ini genap berumur 100 tahun.

Minyak Cap Tawon dibuat pertama kali oleh Lie A Liat, pemilik toko obat Boo Loeng, Makassar. Meski Tawon dipakai sebagai merek dagang, bahan bakunya bukan dari tawon atau produk turunannya.

Menurut Eddy Mattualy, Direktur Utama PT Tawon Jaya Makassar, yang juga cucu Liat, pemilihan nama tawon karena binatang ini penuh makna positif, seperti mempunyai ikatan kekeluargaan yang besar dan rukun hidup bersama. Tawon juga memiliki banyak manfaat bagi manusia, antara lain madunya bisa dipakai untuk obat.

Alasan Kenapa Obat Gosok Begitu Digemari 

Alasan Kenapa Obat Gosok Begitu DigemariSeperti umumnya orang Indonesia, Subekti menyukai minyak penghangat tubuh. Hanya, dia sedikit berlebihan. Menjelang tidur, ia membalur seluruh tubuh dengan minyak gosok. Efeknya langsung terasa: badan menjadi hangat, capek dan pegal berkurang, plus nyamuk menjauh.

Karena sudah ketagihan, lajang 34 tahun ini tak mau sehari pun luput dari olesan minyak gosok Cap Tawon asal Makassar itu. Secara berkala, warga Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, ini mentransfer uang ke koleganya yang bekerja di Makassar, lalu paket minyak gosok akan dikirim.

Biasanya satu botol untuk sebulan. Agar lebih praktis, isi botol tersebut dituang ke beberapa botol yang lebih kecil, sehingga bisa ditaruh di kantor, rumah, plus di dalam tas. Belakangan, ibu dan kakak Subekti ikut rutin menggunakan minyak gosok tersebut. "Seperti penyakit menular," kata dia sembari terkekeh.

Kebiasaan membalur minyak tradisional juga dilakukan Joko Widodo, Gubernur Jakarta. Bedanya, yang selalu dia bawa adalah minyak kayu putih. Selain melumurkan ke tubuh, mantan Wali Kota Solo ini mengoleskannya ke hidung untuk mencegah pilek. "Senjata saya ya ini, minyak kayu putih. Saya selalu membawa ke mana saja," kata Jokowi, akhir September lalu. Dalam kesempatan berbeda, saat Joko pilek, ia berujar, "Tadi saya lupa membawa minyak kayu putih."

Minyak gosok merupakan obat tradisional yang sudah turun-temurun ada di Tanah Air. Meski hidup di negara tropis, orang Indonesia memang tak bisa lepas dari aneka macam minyak penghangat. Sejak lahir hingga meninggal, minyak seperti itu selalu diandalkan. Ketika bayi, setiap hari kita dilumuri minyak telon. Katanya agar hangat dan tak masuk angin. Ketika tua, minyak ini diharapkan bisa meringankan nyeri karena encok.


Tempo.Co
[Read More...]


Indonesia Harus Cepat Buat Vaksin Penyakit Menular



Denpasar - Ketua Umum Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) Sam Soeharto menyatakan Indonesia harus mempercepat produksi vaksin untuk mengatasi berbagai macam penyakit utama mengingat penyakit tersebut telah berkembang penularannya dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).

Dalam perkembangannya, Soeharto menegaskan bahwa hewan yang terkena vaksin yang telah berusia puluhan tahun kumannya menjadi kebal sehingga vaksin yang dibuat tidak efektif lagi untuk kuman yang sama. Menurutnya, kuman cepat beradaptasi terhadap suatu obat sehingga kuman yang sama itu bisa mengeluarkan zat-zat untuk menghacurkan segala macam obat atau NGR Multi Drug System sehingga tidak ada jalan lain kecuali lewat obat vaksinasi.

"Harus dilakukan vaksinasi, kalau vaksinnya belum ketemu, itu yang menjadi problem," ujar Soeharto, di sela Konferensi Jaringan Produsen Vaksin Negara-Negara Berkembang (DCVMN) ke-13 di Kuta, Bali, Kamis (1/11/2012).

Soeharto memaparkan bahwa berbagai macam penyakit utama yang berkembangnya di Indonesia dapat mempengaruhi target pencapaian angka MDGs (Millenium Development Goals). Penyakit malaria, misalnya saat ini masih menjadi masalah besar karena Indonesia belum mampu mengatasi penyakit tersebut dengan baik.

Penyakit malaria masih banyak ditemukan seperti di daerah-daerah baru untuk pertambangan batubara, perkebunan sawit yang tersebar di beberapa daerah seperti Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Penyakit utama itu kini telah berkembang menjadi zoonosi seperti flu burung, flu babi, tubercolosis (TB) hingga malaria.

Ia mengaku sudah ada beberapa riset yang dilakukan untuk mencari vaksin yang bisa mengatasi berbagai macam penyakit tersebut. Soeharto menyampaikan untuk pengembangan vaksin baru dibutuhkan dana tidak sedikit dan memerlukan riset yang cukup lama.


"Tidak ada terhambat, cuma memang risetnya belum final, karena vaksinasi TB misalnya, tidak sepenuhnya efektif untuk melindungi atau protektif terhadap TB," ujarnya.[mvi]


[Read More...]


Indonesia Pemilik Pabrik Vaksin Terbesar Dunia



Pabrik vaksin Indonesia ini lahir atas prakarsa sejumlah negara.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2010/07/20/93134_vaksin-meningitis-_209_157.jpg
Petugas menunjukan vaksin meningitis
President Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN), Akira Homma, mengungkapkan bahwa PT Bio Farma (Persero) merupakan produsen terbesar vaksin di dunia. Perusahaan yang lahir 13 tahun lalu ini merupakan cita-cita dari negara berkembang di dunia

"PT Bio Farma asal Indonesia merupakan produsen terbesar di dunia. Perusahaan ini memproduksi sebanyak 1,4 juta miliar vaksin," kata Akira di sela pertemuan ke-13 Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) di Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali, Selasa 30 Oktober 2012.

Mengutip pernyataan organisasi kesehatan dunia (WHO), Akira menyatakan, vaksin berperan penting dalam upaya meningkatkan derajat manusia. Bahkan jika bisa, WHO berharap vaksin bisa digunakan layaknya air mineral yang dapat diminum setiap saat.

Sayangnya, produksi vaksin kini lebih banyak dikuasai produsen dari negara-negara maju. Akibatnya, harga vaksin jauh membumbung tinggi.

Itu sebabnya, sejumlah negara berkembang berinisiatif untuk dapat memproduksi vaksin dengan kualitas tinggi, tetapi dengan harga yang terjangkau.

"Demi tujuan itu, maka pada 13 tahun lalu sejumlah negara berkembang berkumpul di Bandung. Tujuan pertemuan itu adalah merencanakan pendirian perusahaan yang bisa memproduksi vaksin dengan kualitas sama tetapi harga terjangkau. Ini penting dilakukan sebab selama ini vaksin dikuasai perusahaan besar dan menjual dengan harga tinggi," kata Akira.

Dari pertemuan itu lahirlah DCVMN yang bisa memproduksi vaksin dengan kualitas tinggi dan harga terjangkau. "Kini jumlah terbesar vaksin yang dibeli WHO dari perusahaan negara berkembang. Keunggulannya adalah kualitas tinggi, harga terjangkau. Itu prestasi kami," terang Akira.

Direktur Utama PT Bio Farma, Iskandar menambahkan saat ini memang terjadi persaingan ketat antara negara berkembang dan maju dalam hal produksi vaksin.

Di tengah persaingan tersebut, Bio Farma yakin Indonesia memiliki peluang bersaing di kancah produksi vaksin dunia. "Kita negara muslim. Ini yang kita manfaatkan. Kita manfaatkan sebagai jembatan bagi negara-negara Islam. Indonesia bisa menjadi pusatnya (produsen vaksin)," tutur dia.

Selain Indonesia, negara berkembang juga memiliki produsen vaksin lain yaitu Iran. Sayangnya negara ini terkena embargo ekonomi dari pemerintah AS. Sementara Malaysia selama ini hanya maju dari segi otomotif namun tak memiliki pabrik vaksin.

Dengan peluang besar ini, Indonesia diharapkan bisa berperan melakukan riset melihat potensi pasar yang begitu luas. "Ini harus dimanfaatkan. Kalau tidak rugi sendiri. Apalagi kita punya kemampuan itu. Indonesia juga ikut OKI. Di negara muslim kita nomor satu. Sejak 1997 sudah dapat prakualifikasi dari WHO," kata Iskandar.


[Read More...]


Pemalsuan Obat di RI Raih Omset US$200 Juta/Tahun



Efek obat palsu bisa fatal bagi kesehatan, bahkan berujung kematian

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/04/30/152993_obat-obatan-pil_209_157.jpgData mencengangkan soal obat palsu dipaparkan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP). Ketua MIAP, Widyaretna Buenastuti, mengatakan pemalsuan obat dapat menghasilkan penjualan hingga sekitar US$75 miliar di tingkat global selama 2010. 

"Di Indonesia, pemalsuan obat tumbuh pesat dengan estimasi omset per tahun sebesar US$200 juta. Jumlah itu sebesar 10 persen dari total farmasi di Indonesia," kata Widyaretna saat menghadiri Kongres Federasi Asosiasi Farmasi Asia (FAPA) di Nusa Dua, Bali, Sabtu 15 September 2012.

Pemalsuan obat, lanjut dia, menimbulkan resiko serius bagi kesehatan masyarakat.

Pemakaiannya dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan, bahkan hingga menyebabkan kematian. Widyaretna berharap apoteker dapat membantu memerangi peredaran obat palsu yang terus tumbuh dan berkembang.

Profesor Akmal Taher, dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana mengatakan apoteker merupakan pihak bertanggungjawab untuk menyatakan keaslian sebuah produk obat. "Misalnya sebuah apotek menyatakan jika obat yang kami jual adalah asli. Tetapi siapa yang menyatakan keaslian itu, tidak lain adalah apoteker," imbuh dia.

Akmal mengatakan, dari penelitian tinjauan lapangan terhadap satu obat resep yang dilakukan pada bulan April hingga Agustus 2012 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan, menunjukkan jika obat palsu dengan mudah dapat ditemukan di toko-toko ritel di kota-kota tersebut, termasuk apotek dan toko obat.

"Penemuan ini cukup mengkhawatirkan. Obat palsu ditemukan di saluran tidak resmi seperti lapak obat pinggir jalan. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya isu ini dan bagaimana peran apoteker menjadi penting dan harus lebih proaktif dalam mengedukasi pasien agar tidak membeli obat resep selain dari apotek," imbuh Akmal.

Kewajiban Apoteker

Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia, Nurul Falah menegaskan pihaknya selalu siap untuk ikut membantu memerangi peredaran obat palsu. "Apoteker memiliki kewajiban lindungi pasien dan program sertifikasi meningkatkan kompetensi apoteker dalam mencegah peredaran obat palsu, sekaligus menjamin keselamatan pasien," kata dia.

Perwakilan BPOM, Retno Tyas Utami menyampaikan bahwa pihaknya sudah meminta industri farmasi untuk berperan aktif jika obatnya dipalsukan. Ia juga mengaku sudah sejak lama bekerjasama dengan lembaga perlindungan konsumen dalam menghadapi isu pemalsuan obat. "Obat Palsu merupakan ancaman bagi pasien di Indonesia yang terus berkembang," kata Retno.

"Kami akan menyediakan segala dukungan yang dibutuhkan untuk memastikan upaya memerangi pemalsuan obat palsu ini bisa berlangsung sukses," tambah Retno.(ren)


[Read More...]


Menanti Vaksin Flu Burung Buatan Indonesia



Jakarta - Setelah kasus flu burung ditemukan pada satu keluarga di Tangerang pada 2005, terus bermunculan korban berjatuhan akibat terserang virus H5N1 itu. 

Headline
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sebanyak 310 kasus flu burung pada manusia dengan 189 orang di antaranya meninggal dunia. Dan Indonesia pada saat itu membukukan 99 kasus dengan 79 kematian.

Kasus flu burung di Indonesia terbilang cukup besar. Jumlah orang yang tertular virus dari unggas itu terus saja bertambah. Untuk saat itu pengobatan flu burung dengan mengandalkan tamiflu.

Biasanya dokter akan memberikan tamiflu saat muncul gejala mirip flu burung. Sementara untuk membentuk antibodi terhadap virus H5N1 itu belum pernah dilakukan. Pasalnya belum ada vaksin flu burung di Indonesia.

Seiring perjalanan waktu dan beragam pengalaman kasus yang ada di Indonesia, jaringan peneliti di Indonesia mulai bergerak membuat vaksin flu burung. Apalagi antara WHO dengan Indonesia telah terjadi kesepakatan pembagian sampel virus yang adil.

Sehingga sejumlah negara yang memiliki kasus flu burung bisa mengembangkan vaksin lewat sampel virus yang dimiliki. Universitas Airlangga Surabaya pun tergerak mengembangkan vaksin yang bersumber dari virus flu burung di Indonesia.

Melalui Unit Avian Influenza-zoonosis Research Center-Universitas Airlangga (AIRC-UNAIR) Surabaya, para periset mulai mengembangkan vaksin flu burung sejak 2004. Dr drh CA Nidom MS, ahli biologi molekuler Universitas Airlangga Surabaya, selaku ketua riset vaksin flu burung menjelaskan AIRC-UNAIR sudah ada sejak 2004 berbarengan dengan riset awal flu burung.

Dalam perjalanan waktu, sejak Universitas Airlangga menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), maka setiap unit di kampus tersebut harus menghasilkan produk unggulan.

"Kami mengembangkan bioproduk yakni pengembangan vaksin influenza, termasuk flu burung, dengan berbagai macam teknologinya. Termasuk pengembangan kit diagnostic yang cepat atau konvensional serta anti-viral dari pengobatan herbal," jelas Dr Nidom.

Apalagi pemerintah mendukung keinginan Unair menciptakan vaksin flu burung. Sejak saat itu AIRC-UNAIR fokus pada pembuatan vaksin flu burung baik untuk manusia dan hewan.

Nidom kemudian merekrut fresh graduate dari lulusan Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas MIPA, hingga Komunikasi-Sosial.

Mereka selain mendapat gaji juga beasiswa untuk pendidikan lanjutan. Tim tersebut telah dibiasakan untuk mengutamakan budaya penelitian. Dengan demikian para peneliti ini benar-benar fokus.

Saat ini ada 10 pegawai yang bekerja di laboratorium AIRC-UNAIR yang sudah menempuh program S2 dan S3 dengan usia rata-rata di bawah 30 tahun.

Untuk menciptakan vaksin flu burung, para peneliti harus memilah virus yang ada di lapangan kemudian menyetok calon-calon seed vaksin dalam jumlah banyak.

Dari pengalaman para penderita flu burung yang berhasil sembuh, ternyata kasus di Indonesia merupakan persoalan human-animal interface dan harus dicegah dengan banyak cara.

Untuk mengembangkan vaksin, AIRC-UNAIR bekerja sama dengan Institute Medical Science University of Tokyo, Hokkaido University, dan Influenza Research Center University of Wisconsin, Madison, AS.

Virus yang digunakan untuk pengembangan vaksin berasal dari pasien Indonesia, yang terinfeksi flu burung dan meninggal pada 2005. Nadom dan timnnya mengambil virus dari usapan tenggorokan dari enam pasien yang berbeda daerah. Namun hanya virus milik pasien berusia sekitar 25-30 tahun dan berjenis kelamin laki-laki bisa tumbuh cukup baik dan dijadikan master seed.

Untuk menyukseskan pembuatan vaksin, dibuatlah konsorsium untuk mendanai riset tersebut. PT Biofarma, Kementerian Riset dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan ikut terlibat dalam pendanaan riset vaksin flu burung tersebut.

Dengan cara tersebut maka akan dihasilkan riset-riset unggulan yang siap diproduksi secara massal. Vaksin flu burung buatan AIRC-UNAIR ini menurut Nidom, telah mengikuti sejumlah kaidah atau rekomendasi WHO dengan model split vaccine dan teknologi reverse genetic.

Dari pengujian di tingkat hewan, vaksin ini bisa digunakan untuk anak-anak. Rencananya tahun ini Biofarma akan melakukan uji klinik sebelum diproduksi massal.

Selain vaksin flu burung, AIRC-UNAIR juga mengembangkan riset untuk mempelajari transmisi manusia-binatang, termasuk simulasi pola-pola infeksi virus influenza dan flu burung.

"Yang akhirnya berkolaborasi dan mengakibatkan pandemik. Selain itu ada tim yang mempelajari aspek-aspek bioterorisme untuk pencegahan secara dini," ujar Dr Nidom.[mor]
[Read More...]


Dosis obat TB di indonesia dapat lebih rendah



Jakarta (ANTARA News) - Dosis obat utama untuk penderita tuberkulosis (TB) di Indonesia, dapat diberikan lebih rendah dibandingkan dengan dosis yang diatur penelitian di Eropa dan Amerika, papar Dr. dr. Erlina Burhan, Msc, Sp.P(K).

"Ini merupakan hasil penelitian untuk disertasi saya, yang merupakan penelitian pertama di Indonesia yang fokus kepada kadar obat utama TB dan responnya terhadap pengobatan," kata Erlina usai memberikan paparan dalam acara Promosi Doktor di gedung FKUI-RSCM, Jakarta, Kamis.

Penelitian Erlina ini dilakukan untuk mengetahui seperti apa kadar dosis tetap obat (FDC) di dalam darah pasien dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesembuhan.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Erlina mengatakan bahwa dosis yang diatur dalam penelitian di Amerika dan Eropa, menentukan dosis yang diperlukan untuk pemberian obat utama TB adalah 8mg/L.

"Untuk sementara ini, saya belum dapat memberikan angka pasti untuk dosis Rifampisin sebagai obat utama TB yang perlu diberikan kepada orang Indonesia, karena masih diperlukan penelitian lanjutan," ujar dia.

Erlina menjelaskan bahwa pemberian Rifampisin dengan dosis tinggi dapat memberikan efek samping berupa rasa mual dan kerusakan pada hepar.

Rifampisi adalah antibiotik spektrum luas yang secara penelitian efektif membunuh kuman TB. Penggunaan rifampisin sebagai obat utama TB, karena obat ini digunakan dari awal hingga akhir pengobatan.

"Kolaborasi Rifampisin dengan enzim tertentu dalam hepar, dapat mencegah terjadinya NRA (nitrate reductase assay) yang efektif membunuh virus TB," demikian Erlina.(M048)

Sumber : Antara
[Read More...]


PT Bio Farma Produksi Vaksin Halal



Ilustrasi
BANDUNG - Kekhawatiran dunia islam tentang penggunaan vaksin memang sering menjadi polemik. Di satu sisi masyarakat membutuhkan vaksin guna mencegah penyakit, namun di sisi lain masih banyak masyarakat yang meragukan akan kehalalan dari vaksin tersebut.

Menanggapi kekhawatiran tersebut PT Bio Farma (Persero) selaku perusahaan BUMN yang memproduksi vaksin bekerja sama dengan Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM) An-Nuur pada Sabtu (14/7) berusaha mengkaji hal tersebut melalui Seminar Kajian Ilmiah dan Syari’ah Vaksin dengan tema “Amankah Vaksin?” yang diadakan  Mesjid An-Nuur PT Bio Farma.

“Kami sangat prihatin dengan maraknya isu negatif vaksin yang  beredar di masyarakat. Orang tua perlu diberikan informasi yang benar mengenai vaksin untuk menghilangkan keraguan. Vaksin dipandang penting karena merupakan tindakan pencegahan penyakit yang paling efektif," ujar M Rahman Rustan, Corporate Secretary PT Bio Farma saat ditemui wartwan, Sabtu (14/7) di Masjid An-Nuur Bio Farma.

Padahal menurutnya saat ini sudah ada kebijakan korporasi dalam upaya memproduksi vaksin 100 % halal. "Ini adalah upaya pemerintah untuk menggiatkan vaksinasi kepada masyarakat agar lebih percaya," ucapnya.

Sedangkan menurut Kepala Bagian Evaluasi Produk PT Bio Farma, Novilia Sjafri Bachtiar,pada dasarnya banyak manfaat yang diterima oleh masyarakat dari vaksinasi salah satunya adalah menimbulkan kekebalan bagi individual maupun kelompok.

"Proteksi kelompok dapat dicapai bila jumlah yang di imunisasi besar dan vaksin yang digunakan baik. Efek dari proteksi kelompok adalah mampu melindungi orang yang tidak di vaksin, mampu melindungi orang dengan gangguan sistem imun dan meningkatkan proteksi penerima vaksin",paparnya saat menjadi pembicara dalam seminar tersebut.

Sementara itu, terkait wacana ketidakhalalan vaksin PT Bio Farma, Novi membantahnya. Menurutnya ekspor vaksin polio PT Bio Farma saat ini telah mencakup negara-negara islam seperti Mesir, Iran, Turki,Senegal, Guinea, Malaysia dan beberapa negara lain. "Bio Farma sendiri mensuplai 2/3 kebutuhan vaksin dunia dan sudah bekerja sama dengan UNICEF."

Selain ekspor ke negara-negara Islam, Novi menyatakan bahwa PT Bio Farma juga berusaha meningkatkan jaringan kerjasama dengan berbagai lembaga pendidikan, dunia usaha, pemerintah, termasuk MUI, Muhammaddiyah, NU dan Aisyah.

"Kami berkomitmen untuk berupaya mengembangkan vaksin halal dalam memenuhi kebutuhan vaksin nasional maupun internasional, baik dari bahan yang digunakan maupun proses pengolahannya," katanya.

Sumber : Republika
[Read More...]


Perairan Indonesia potensial hasilkan obat malaria



Jakarta (ANTARA News) - Para peneliti mengembangkan riset terhadap potensi perairan di Indonesia yang ternyata menghasilkan obat  malaria--sebuah penyakit ganas yang setiap tahunnya merenggut 1,5-3 juta nyawa penduduk dunia.

Berdasarkan eksplorasi terakhir terhadap spons laut Xestospongia yang tumbuh di Perairan Papua ternyata spons tersebut sangat berpotensi melawan Plasmodium falciparum--penyebab penyakit malaria.

Peneliti Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi (B2RP2B) Kelautan dan Perikanan, Ekowati Chasanah dan Murtihapsari, mengatakan bahwa potensi spons asal Papua yang ditemukan di tiga lokasi itu kaya akan senyawa metabolit alkaloid--yang bersifat antimalaria.

Saat ini obat baru bagi malaria sangat dibutuhkan karena Plasmodium sudah mulai resisten terhadap obat klasik yaitu Chloroquine.

Di Indonesia, kasus malaria masih tinggi dengan data pada akhir 2007 terdapat 1,14 juta kasus malaria di 396 kabupaten.(E012)
[Read More...]


Membiakkan Kapang Penisilin



Impor obat antibiotik amoksisilin turunan beta-laktam berbahan baku kapang penisilin tahun 2008 tercatat 1.020.928 kilogram. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melakukan riset pembiakan kapang penisilin untuk memutus rantai ketergantungan impor bahan baku antibiotik ini.

”Pembuatan fermentor penisilin skala percontohan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serpong mencapai 2.500 liter satu kali siklus hingga maksimal 10 hari. Dukungan teknologi sudah siap untuk menuju produksi massal industri,” kata Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bambang Marwoto, Kamis (28/6), di Jakarta.

Kapang penisilin merupakan bahan baku amoksisilin. Antibiotik yang termasuk obat esensial ini banyak digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Kepala Program Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT Hardaning Pranamuda menuturkan, di Amerika Serikat amoksisilin masuk dalam 10 besar obat resep generik. Produksi bahan baku amoksisilin membuka peluang untuk pengembangan produksi antibiotik lain.

Resistensi atau ketahanan bakteri terhadap amoksisilin mungkin saja terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi, bukan berarti industrinya akan terhenti. ”Produksi amoksisilin menjadi model untuk pengembangan jenis-jenis antibiotik lain menyesuaikan kebutuhan,” kata Bambang.

 Kandungan lokal

Sumber pembiakan penisilin, menurut Bambang, banyak terdapat di sekitar kita. Unsurnya meliputi karbon, nitrogen, dan mineral. Untuk pembuatan antibiotik amoksisilin diperkirakan kandungan lokalnya sampai 80 persen.

Untuk memperoleh karbon, digunakan gula atau tepung- tepungan yang dihidrolisis. Unsur nitrogen didapatkan dari kacang-kacangan. Mineral diperoleh dari bahan pangan yang biasa kita konsumsi.

Penisilin sebagai pembunuh bakteri pada awalnya ditemukan Alexander Fleming tahun 1928. Kapang penisilin umumnya tumbuh sebagai benang-benang jamur roti.

Penisilin yang diperoleh dalam metabolisme kapang itu berupa Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum. Pembiakan lebih lanjut dilakukan untuk memperoleh Penisilin G dan Penisilin V yang siap untuk proses pembentukan 6-Amino penicillanic acid (6-APA).

”Selanjutnya, 6-APA direaksikan secara kimiawi dengan dane salt (salah satu jenis garam) untuk memperoleh amoksisilin,” kata Bambang.

Rantai produksi dalam skala pilot plant (pabrik percontohan) itu tidak hanya dikerjakan BPPT. BPPT menangani proses fermentasi untuk memproduksi penisilin G. Penggunaan penisilin G untuk memproduksi senyawa perantara 6-APA dikerjakan Institut Teknologi Bandung (ITB), sekaligus pada proses kimiawi dengan dane salt sampai menghasilkan amoksisilin hidrat.

Berikutnya, terlibat Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI) pada proses akhir menuju produksi amoksisilin.

”Dari sejumlah konsorsium lembaga riset itu, sebetulnya kita sudah siap membangun industri antibiotik amoksisilin dengan kandungan lokal yang optimal,” kata Bambang.

 Generasi pertama

Amoksisilin merupakan antibiotik generasi pertama yang diresepkan sebagai obat generik. Beberapa antibiotik generasi pertama lain adalah ampicilin, dicloxacillin, cloxacillin, dan oxacillin.

Antibiotik generasi kedua melalui proses yang lebih rumit, tidak lagi melalui proses pembentukan 6-APA. Beberapa antibiotik generasi kedua yang ada di pasaran adalah cephradinie, cefadroxil, cephalexin, cefroxadine, dan cefprozil.

Harga antibiotik generasi lebih baru tentu saja mahal. Saat ini, antibiotik generasi ketiga sudah dihasilkan. Hal itu antara lain antibiotik cefoxitin dan cefmetazole, yang tergolong mahal di pasaran.

Hardaning mengatakan, kekayaan biodiversitas di Indonesia sangat menunjang penemuan jenis-jenis kapang lain untuk memproduksi antibiotik. Pada masanya nanti, suatu jenis antibiotik tidak dapat digunakan lagi ketika bakteri yang ingin dibunuh ternyata memiliki kekebalan terhadap antimikroba tersebut.

Karena itu, sudah saatnya kegiatan riset pembuatan antibiotik direalisasikan menjadi sebuah industri yang bisa berkelanjutan. (Kompas, 29 Juni 2012/ humasristek)
[Read More...]


Malaria Bisa Disembuhkan dengan Ekstrak Sambiloto



Ilustrasi
MEDAN – Ekstrak sambiloto diakui bisa mengobati penyakit malaria dan meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini dibuktikan lewat penelitian dan disertasi yang dilakukan Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI tentang penggunaan ekstrak sambiloto (andrographis paniculata).

“Hasil penelitian yang saya lakukan, ekstrak sambiloto itu bisa dijadikan obat untuk penyakit malaria. Malah tidak hanya sebagai obat, sambiloto itu juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap Umar Zein, seperti diberitakan Sumut Pos (grup JPNN).

Hasil penelitiannya itu juga bilang Umar, sudah dipatenkan ke Dirjen HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dengan nomor HKI.3 HI.05.01.02.2044.
“Kita sudah lakukan penelitian. Kita berharap, penelitian ini bisa dikembangkan perusahaan farmasi agar bisa diproduksi skala besar. Kalau berhasil, maka Indonesia sangat terbantu. Karena tidak perlu mengimpor obat dan meningkatkan nilai ekonomis di masyarakat,” jelas Umar.

Sejauh ini bilang Umar, kasus malaria di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Terbukti, kasusnya tetap tinggi tiap tahun. Diperkirakan penyakit ini bisa membunuh 30 ribu orang dan menyebabkan 10-12 juta orang jatuh sakit tiap tahun.

“Sejak dari zaman penjajahan Belanda hingga saat ini, wilayah endemis malaria di Indonesia masih belum bisa dibebaskan dari penyakit itu,” katanya.
Indonesia sendiri lanjutnya, estimasi malaria ada 1,96 per 10 ribu penduduk. Pada 2011, setidaknya ada 1,8 juta kasus malaria klinis yang mendapat pengobatan.

“Belum lagi mereka yang tidak dapat pengobatan,” ungkapnya.

Provinsi Sumatera Utara sendiri, sebut Konsultan Penyakit Tropik Indonesia ini, pada 2009 ada 102.446 kasus malaria yang diobati.
Fakta lain, lanjutnya, anak-anak yang selamat dari malaria akut dapat mengalami gangguan belajar, anemia, dan gangguan tumbuh kembang. Bagi ibu hamil, malaria bisa menginfeksi janin. Akibatnya, bayi berisiko terpapar anemia dan berat badan lahir rendah (BBLR).

“Artinya, 50 persen populasi rawan terinfeksi malaria, terutama pedesaan dan wilayah masyarakat miskin. Secara global, penyakit ini merupakan salah satu faktor utama penyebab kemiskinan. Karena, banyaknya penderita, akan menurunkan produktivitas kerja,” sebutnya.

Tingginya kasus malaria, tambah Umar, tidak berbanding lurus dengan manajemen penanggulangan dan pengobatan. Dari sisi pengobatan konvensional yang menggunakan obat kloropin, sulpadokdsin-pirimetamin, kina ternyata sudah resisten bagi parasit malaria.

“Obat yang direkomendasikan WHO saat ini ACT (artemisin combination therapy) yang berasal dari China. Kita menggunakannya sejak 2006. Tetapi, distribusinya masih belum merata.  Padahal, ada bantuan asing dari Global Fund bidang malaria,” sebut Umar lagi.

Karenanya, sambungnya,  sudah sepantasnya Indonesia memproduksi sendiri obat malaria dari bahan baku yang ada di negeri ini yakni ekstrak sambiloto. (uma)
Jpnn
[Read More...]


Program siaga influenza diluncurkan di TMII



Jakarta (ANTARA News) - Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek), Kementerian Riset dan Teknologi, meluncurkan Galeri Siaga Pandemi Influenza di TMII untuk meningkatkan kesiapsiagaan anak-anak menghadapi wabah influenza.

"PP Iptek TMII dikunjungi 340 ribu pengunjung yang kebanyakan anak-anak setiap tahun, kami harap mereka juga sekaligus belajar mengenai influenza," kata Direktur Pusat Peragaan Iptek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Sukro Muhab di Jakarta, Selasa.

Sejarah sudah mencatat bahwa influenza bukanlah penyakit sederhana dan sangat berpotensi menjadi pandemi (wabah).

Sukro mencontohkan, flu Spanyol pada 1918-1920 yang menimbulkan korban hingga 40 juta jiwa, demikian pula flu Asia (1957-1958), flu Hongkong (1968-1969), flu babi (H1N1) pada 2009, dan kasus flu burung (H5N1).

"Influenza sangat mudah menular dan manusia sangat rentan terhadap virus flu ini. Namun sosialisasi tentang flu selama ini hanya untuk orang tua di seminar yang tidak menarik bagi anak, sehingga pemahaman anak pun kurang," kata Sukro.

Galeri Siaga Pandemi Influenza di PP Iptek terdiri atas 10 alat peraga antara lain simulasi bersin dan etikanya, simulasi batuk dan etikanya, organisme tak nampak, audio visual, model sistem pernafasan, habitat virus, game komputer interaktif, fasilitas "fun activity", fasilitas kegiatan "puppet show" serta fakta dan mitos unik seputar influenza.

Ada pula lima program kegiatan interaktif seputar pandemik influenza, seperti pelatihan siaga pandemi influenza, workshop puppet show dan kompetisinya, fun laboratory, serta fun activities board.

Program baru PP Iptek ini merupakan kerja sama dengan Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) dan didanai Kementerian dengan kerja sama ekonomi dan pembangunan Jerman sebesar Rp 1,8 miliar.(D009)


ANTARA News
[Read More...]


Belgia-RI Siap Kerja Sama Riset Biologi



LONDON--MICOM: Belgia siap menjalin kerja sama dengan Indonesia dalam riset biologi dan menyalurkan hasilnya ke industri melalui kontrak industri farmasi serta investasi kepada perusahaan yang akan dibangun.

Hal itu diungkapkan Direktur Lembaga Riset VIB, Jo Bury, PhD, MBA kepada Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dr Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, di Belgia.

Menurut Dubes RI untuk Brusel Arif Havas Oegroseno mengatakan Wakil Menteri Kesehatan yang didampingi delegasi Kementerian Kesehatan RI dan Dubes Arif Havas Oegroseno melakukan pertemuan di kantor pusat VIB di Ghent, serta meninjau fasilitas riset yang dimiliki oleh VIB.

VIB memiliki 1.249 ilmuwan yang berasal dari 57 negara dan jumlah warga Belgia hanya 29 persen. Sayangnya, belum ada ilmuwan Indonesia yang bekerja di VIB. Para ilmuwan VIB menulis di 108 publikasi biologi top dunia.

Dari sisi bisnis, VIB memiliki kerja sama industri sejumlah 653 proyek dan memperkerjakan 471 orang di perusahaan-perusahaan start-up. 

Empat universitas unggulan dari Belgia, yakni K.U. Leuven, Ghent University, Brussels University dan Hasselt University, berkolaborasi dan membentuk satu lembaga riset bersama VIB (Vlaams Institute of Biotechnology: www.vib.be).

VIB mampu mengirimkan artikel ilmiah sejumlah 2 artikel per minggu dan menghasilkan 1 orang PhD per minggu. Saat ini VIB tercatat sebagai co-founder dari 12 perusahaan start-up yang dikembangkan melalui mekanisme spin-off.

Pola pengembangan hasil riset seperti yang dilakukan VIB adalah unik dan efektif. Di dalam VIB selain terdapat ilmuwan juga terdapat pengacara hak kekayaan intelektual dan pakar pengembangan bisnis dan investasi.

Pola ini memungkinkan diselenggarakan suatu kegiatan riset yang terarah dan menghasilkan produk-produk bioteknologi yang dapat segera dipasarkan ke masyarakat. (Ant/OL-9)


[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri