| Jambu biji (wikimedia commons) |
KANDUNGAN DAN MANFAAT.
PENYAKIT INFEKSI.
KANKER.
JANTUNG KORONER.
DIABETES MELLITUS.
HIPERTENSI.
LAIN-LAIN.
| Jambu biji (wikimedia commons) |
![]() |
| Ilustrasi - Komoditas Cengkeh (FOTO ANTARA/BASRUL HAQ) |
BOGOR--MICOM: Tim mahasiswa Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian mengenai buah mengkudu yang mampu mengurangi sifat kanibalisme ikan lele.
TEMPO.CO, Cibinong - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Sabtu (17/12) pagi tadi melaksanakan uji tanam skala massal benih jati hasil pemuliaan genetik penelitinya di kawasan Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat. Sebanyak 2.000 bibit jati (Tectona grandis) yang diberi nama Jati Berlian itu ditanam di areal seluas 2 hektare.MAKASSAR, KOMPAS.com- Anggrek Sulawesi (Phalaenopsis amabilis var celebica) yang menjadi salah satu plasma nutfah khas daerah ini terancam oleh pertambangan nikel. Konservasi harus segera digalakkan untuk menghindari kepunahannya.
Phalaenopsis amabilis termasuk salah satu spesies anggrek asli atau lebih dikenal dengan nama anggrek alam. Di Sulawesi Selatan, spesies ini banyak tumbuh di hutan-hutan Sorowako, Luwu Timur. Spesies ini paling cocok tumbuh di Sorowako, sayangnya di kawasan itu juga ada pertambangan nikel.
"Yang dikhawatirkan, hutan tempat alami anggrek ini juga akan dikupas untuk tambang," kata Kepala Bidang Penelitian Pengkajian Sumberdaya Alam, Lingkungan dan Teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulsel Muslih Radhi Abdullah di Makassar, Kamis (6/10/2011).
Menurut Muslih, spesies ini memiliki kelopak dan tajuk bunga berwarna putih bersih dan bibir bunga kuning atau kadang berbintik merah.
Tim Balitbangda sempat mengambil sampel anggrek ini untuk disimpan di Kebun Raya Puca di Maros. "Pelestarian habitat bagi Phalaenopsis amabilis var celebica seharusnya dilakukan bersamaan dengan konservasi. Tapi dukungan pemerintah minim karena pelestarian tidak menghasilkan uang secara instan," ucapnya.
Padahal bila dikembangkan, konservasi tanaman juga bisa bernilai ekonomis. Sejak tahun 2008, Balitbangda mencatat 216 spesies tumbuhan yang menjadi plasma nutfah di Sulsel. "Kalau mau diseriusi, kita bisa m engembangkannya seperti bagaimana Tulip bisa bernilai ekonomis dan tetap terjaga keberadaannya," lanjutnya.
Di Indonesia ada enam ekotipe Phalaenopsis amabilis yang endemik di Pulau Sulawesi, Maluku, Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Phalaenopsis berasal dari bahasa Yunani phalaenos yang berarti ngengat atau kupu-kupu dan opsis berarti bentuk atau penampakan.
• KOMPAS
Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan. (zunal.com)Debt for nature swap adalah pengalihan utang yang kali ini dananya digunakan untuk membiayai program konservasi keanekaragaman hayati dan hutan tropis.
Menurut Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, program ini melibatkan masyarakat madani yang berperan sebagai pelaksana. Program ini sesuai dengan komitmen pemerintah dalam rangka melindungi hutan dan keanekaragaman hayati.
"Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan," ujar Darori, usai penandatanganan perjanjian di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, 29 September 2011.
Lewat program ini, pemerintah akan menciptakan model-model konservasi hutan tropis dan mitigasi perubahan iklim. Sebagai awalan, program akan difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Berau dan Kutai Barat di Kalimantan Timur, dan Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.
Ade Soekadis, Acting Director TNC Forest Program Indonesia menyebutkan, program TFCA2 diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Berau serta untuk mencapai target pengurangan emisi karbon hingga 41 persen. “Caranya dengan tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi tujuh persen di tahun 2020," ucapnya.
Di sisi lain, Efransjah, Chief Executive Officer WWF Indonesia menyatakan, program ini merupakan lompatan besar dalam upaya konservasi. “WWF bangga menjadi bagian dari program yang tata kelolanya dilakukan bersama oleh pemerintah dan masyarakat madani," ucapnya. (adi)
KOMPAS.com - Ben Evans, pakar hewan dari McMaster University di Hamilton dan ilmuwan Indonesia menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Sejumlah 9 dari 13 spesies itu belum pernah ditemukan sebelumnya. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal The American Naturalist bulan ini.
Katak bertaring termasuk dalam genus Limnocetes, disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah. Taring yang dimaksud bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.
Dalam papernya, Evans menulis, seluruh spesies katak bertaring yang ditemukan memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing, mulai dari yang terbasah hingga terkering dan dengan beragam vegetasi yang ada.
Beberapa spesies punya kaki berselaput tebal untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik, ada katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.
"Penemuan ini menjadi contoh bagus bagaimana spesies pada akhirnya menggunakan taktik yang sama untuk survive dan melakukan diversifikasi ketika diberi kesempatan," kata Evans seperti dikutip CBCnews, Jumat (12/8/2011).
Evans mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, tak ada genus katak lain di Sulawesi yang bisa berkompetisi dengan genus katak bertaring. Ini menjadi bukti bahwa katak bertaring berevolusi untuk mengisi kekosongan relung kehidupan yang ada di Sulawesi.
Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.
Untuk menemukan katak ini, Evans dan timnya harus melakukan ekspedisi di sepanjang sungai dan hutan dengan resiko gigitan ular berbisa. Hasilnya, ada 683 ekor katak yang berhasil ditangkap. Peta distribusi katak lalu dibuat, sekaligus perbandingan ciri katak dengan lingkungannya.
Saat ekspedisi, Evans berusaha menangkap katak di hutan yang belum tersentuh illegal logging. Namun, ia mengatakan, "Ada banyak hutan dimana kami mengambil sampel yang kemudian hilang ketika kami mengunjunginya beberapa tahun kemudian."
Sejauh ini, Evans mengatakan belum ada dari spesies yang ditemukan punah. Tapi ia mempercayai, distribusi katak-katak tersebut telah berkurang. Perlu usaha pelestarian lingkungan untuk menjaga katak-katak ini tetap eksis.
TEMPO/Iqbal Lubis
Hutan di Berau, Kaltim. TEMPO/Gunawan Wicaksono
Return to top of page
Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri