ISENG BLOGER

Spesifikasi Lampu Mobil Listrik LIPI




Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Mohammad Hatta melihat mobil listrik bermerek Hevina buatan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) usai soft launching dua mobil listrik buatan LIPI di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (26/
Hevina LIPI
JAKARTA -- CV Sampurna Part Niaga (SPN) selaku produsen lampu otomotif Autovision akan terlibat dalam proyek mobil listrik yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hevina.

"Autovision dipercaya LIPI sebagai penggagas mobil listrik Hevina. Spesifikasi kelistrikan yang dimiliki oleh setiap produk Autovision dinilai sesuai dengan standar spesifikasi lampu di Eropa dan Amerika, layak di aplikasikan di sedan Hevina," kata GM CV SPN Andre Chrispian..

Andre menjelaskan, pada sektor eksterior bagian depan, Autovision mengaplikasikan satu set lampu HID H4 Hi/Lo berdaya 12V-35W. Lampu tersebut memiliki kapasitas lumens yang tinggi, dengan temperatur warna hingga 4.300 K.

Selain itu, Autovision juga melengkapi Hevina dengan Microzen LED T-10 HP01+3 (pancaran warna putih) berpadu dengan bohlam Superbeam H3 (warna crystal clear).

Aksen warna biru dari Microzen Flextrip27 akan tampil pada kisi–kisi udara pada front grill-nya. Selain itu, Hevina juga akan dilengkapi dengan Apex3R Daytime Running Light (DRL) tipe ST002 berwarna putih. Penggunaan DRL biasa diaplikasikan pada mobil–mobil kelas premium.

Pada sisi buritan, terpasang juga Microzen LED S-25 Double 16-SMD lengkap dengan Apex3R DRL tipe HP001 yang telah diberi sentuhan modifikasi, hingga memberi efek warna merah.


[Read More...]


★ LIPI luncurkan telepon pintar `Bandros`



http://images.solopos.com/2013/08/LIPI-Bandros-Facebook.com_.jpgJakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia meluncurkan ponsel pintar Bandros atau Bandung Raya Operating System sebagai salah satu hasil penelitian unggulan.

"Ponsel ini dipakai untuk kegunaan khusus, salah satunya bisa diatur sebagai telepon antisadap," ujar Kepala Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) LT Handoko di Puspiptek Tangerang Selatan, Senin.

Sebagai ponsel pintar yang dapat diatur menjadi antisadap, maka ponsel ini hanya dipakai untuk kegunaaan khusus terutama untuk segmen pemerintahan.

Handoko menjelaskan bahwa LIPI membuat ponsel pintar ini sesuai dengan pesanan dan kebutuhan serta fungsi, dan ditujukan untuk pemerintah serta korporat.

Lebih lanjut Handoko memaparkan bahwa para peneliti LIPI mengembangkan piranti lunak Bandros pada awalnya ditujukan untuk pasien rumah sakit dan pemberian informasi perihal sistem peringatan dini.

Handoko sebagai ketua tim penelitian pengembangan Bandros menjelaskan bahwa ponsel cerdas tersebut menggunakan sistem operasi (OS) `open-source` berbasis Linux.

Penelitian sistem operasi ini baru dimulai pada 2010, dengan melakukan penelitian tergadap perangkat sistem tertanam.

Sistem operasi tersebut dia jelaskan sebagai pengembangan dari sistem operasi `desktop` yang sudah diciptakan sebelumnya.

"Sistem operasi Bandros dikenalkan kepada masyarakat diawali dengan pengembangan Stasiun Pemantau Cuaca," jelas Handoko.

Pengembangan sistem operasi ponsel ini dibiayai oleh APBN melalui Dipa Pusat Penelitian Informatika - LIPI, dengan dana awal yang direncanakan Rp250 juta namun pada akhirnya hanya sekitar Rp50 juta yang diberikan dengan alasan penghematan anggaran.(M048/Z002)



  ● Antara 
[Read More...]


★ Mobil dan Bus Listrik Buatan Peneliti Indonesia



http://images.detik.com/content/2013/08/26/1036/144838_imag0559.jpg
Tangerang - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memproduksi purwarupa (prototype) mobil dan bus listrik. Kendaraan yang diberi nama Hevina ini akan dipamerkan dan diserahkan kepada Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti M Hatta di Hari Teknologi Nasional di TMII, Jaktim pada tanggal 29 Agustus 2013.

Hari ini, soft launching untuk kedua produk hasil anak bangsa tersebut digelar di Puspiptek Serpong Tangerang. Ada beberapa fakta menarik mengenai kendaraan ini yang ditelusuri detikFinance di lokasi, Senin (26/8/2017). Apa saja? Yuk, kita lihat.

1. Desain Futuristik


Kedua kendaraan ini terparkir di halaman Gedung Graha Widya Bakti, Puspiptek Serpong Tangerang. Berwarna putih susu mengkilap dan bersih, juga berdesain futuristik dan aerodinamis. Dari luar, terlihat mobil layaknya mobil konvensional berbahan bakar listrik.

2. Interior Eksklusif


Interior dari mobil listrik Hevina seperti dalam mobil biasa pada umumnya. Namun, bus listrik yang juga diproduksi LIPI terlihat sangat mewah. Di dalamnya terdapat kursi panjang berbalut kulit berwarna coklat gelap.

Kursi tersebut sangat empuk, dan dilengkapi tempat minum di setiap sandaran tangannya. Tak hanya itu, terdapat juga meja kecil layaknya minibar di dalam bus ini, tepat di atas meja tersebut terpampang TV layar datar ukuran 24 inci.

3. Bisa Dipakai Rapat


Bus listrik buatan LIPI dirancang untuk para eksekutif yang selalu disibukkan oleh aktivitas kerja yang padat. Oleh karena itu, sofa empuk dan hiburan seperti televisi dan minibar membuat nyaman para pengguna dan mereka bisa melakukan rapat di tengah kemacetan lalu lintas di perjalanan.

4. Kapasitas Penumpang


Mobil listrik Hevina berkapasitas layaknya mobil sedan biasa, yakni 5 orang. Satu di bangku pengemudi, 1 di depan, dan 3 orang penumpang cukup untuk menempati kursi di bagian belakang. Sedangkan untuk bus listrik, bisa ditumpangi oleh 3 orang di kursi depan termasuk pengemudi, dan 10 orang di kursi belakang.

"Sebenarnya 8 penumpang bisa ditingkatkan sampai 10 penumpang. Tapi karena untuk kenyamanan jadi 8 penumpang," kata Kepala Tim Penelitian Mobil Listrik, Abdul Hapid kepada detikFinance.

5. Kecepatan dan Jarak Tempuh.


Mobil sedan Hevina mampu menempuh jarak hingga 130 kilometer per sekali charging (mengisi baterai) dengan kecepatan maksimal hingga 140 kilometer/jam. Sementara bus listrik mampu menempuh jarak sampai 150 kilometer per sekali charging dengan kecepatan maksimal 100 kilometer/jam.

"Lama nge-charge-nya tergantung ada slow charging di rumah atau di kantor selama 5-6 jam, sedangkan fast charging di stasiun pengisian baterai selama kurang dari 30 menit," kata salah satu peneliti, Sunarto Kaleg kepada detikFinance.

6. Biaya investasi


Dua kendaraan ini masih berbentuk prototype, atau belum diproduksi massal dan dijual secara umum. Penelitian untuk membuat sedan Hevina hingga menghasilkan mobil prototype diperkirakan mencapai Rp 500 juta, sedangkan bus listriknya mencapai Rp 1,8 miliar.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhamad Hatta menyinggung, jika telah diproduksi dan dijual umum, harga kedua kendaraan tersebut diperkirakan turun 30% dari harga prototype.

7. Lama Pembuatan



Para peneliti LIPI membutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk meneliti dan menghasilkan prototype kendaraan ini.

Bus Listrik Buatan LIPI Bisa Dipakai untuk Rapat di Jalan

Tangerang - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) berhasil memproduksi bus listrik. Bus listrik tersebut memungkinkan para pengguna melakukan rapat di dalam mobil saat perjalanan.

Seperti julukannya, Mobile Executive Meeting, bus listrik produksi LIPI membuat pengguna kendaraan tersebut seolah seperti berada di sebuah ruangan yang nyaman, dengan kursi empuk juga meja tempat minuman dihidangkan.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta menyebutkan kendaraan ini sangat cocok untuk para eksekutif di Jakarta yang disibukkan dengan banyaknya rapat, namun di sisi lain terkendala dengan kepadatan lalu lintas.

"Kita tahu Jakarta suka macet, daripada macet sekarang nganggur, bisa nunggu rapat di mobil sesuai namanya mobile executive meeting. Bagus. Jadi dibentuk rapat, tempat minumnya juga ada, bagus sekali," kata Gusti di acara soft launching mobil dan bus listrik di Puspiptek, Serpong Tangerang, (26/8/2013).

Gusti mengatakan, nantinya bus listrik ini beserta produk mobil listrik LIPI lainnya akan diperkenalkan ke khalayak ramai pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional pada tanggal 29 Agustus 2013. "Nanti kita tampilkan di Taman Mini," katanya.

Bus listrik ini bisa menurunkan biaya operasional lebih dari 50%, biaya perawatan lebih dari 70%. Selain itu, ramah lingkungan karena tanpa emisi gas buang.(zul/hen)


  ● detik 
[Read More...]


Alasan Mobil Listrik di Indonesia Tak Berkembang



http://images.detik.com/content/2013/08/26/1036/lipi2.jpg
Bus listrik LIPI
Jakarta - Para ilmuwan dan peneliti di Indonesia telah mampu menciptakan mobil listrik. Sebut saja para peneliti LIPI atau Dasep Ahmadi, seorang ilmuwan dari Depok, Jawa Barat. Namun sayangnya, industrialisasi mobil listrik di Indonesia masih banyak menemui kendala.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Penelitian Indonesia (LIPI) Lukman Hakim menjelaskan, orang Indonesia mampu menciptakan prototipe, namun ketika akan memasuki tahap produksi massal, kendala permodalan menjadi hambatan.

"Kita tidak ada capital, skema khusus, sistem penjaminan, itu semua belum kondusif. Perlu ada terobosan, misalnya ada skema khusus, tingkat bunga yang khusus. Itu sudah lama dibincangkan," kata Lukman saat ditemui di Puspiptek Serpong, Tangerang, Senin (26/8/2013).

Masalah permodalan tentu berkaitan dengan adanya investasi yang masuk dari investor yang tertarik. Lukman mengatakan, saat ini tahap pendekatan kepada investor masih sedang dilakukan, agar nantinya mobil listrik tak hanya berhenti di tahap pembuatan prototipe saja.

"Kita kampanye, supaya orang-orang tahu dan membuka kemungkinan itu (investasi)," katanya.

Selain itu, Lukman menambahkan, perlu adanya peranan dari pemerintah untuk memajukan industri ini. Pemberian insentif bisa menjadi pendorong bagi para investor untuk menanamkan modalnya.

"Pemerintah harus menjembatani. Perlunya insentif, di mana pemerintah melakukan intervensi untuk hal tertentu," lanjutnya.

Saat ini jumlah peneliti di Indonesia masih terbilang sangat kurang. Jika dibandingkan dengan negara maju seperti di Amerika Serikat (AS), dari sisi kuantitas peneliti, Indonesia masih kalah jauh.

"Selain itu SDM (sumber daya manusia). hitungan kita peneliti di Indonesia 100 per sejuta penduduk. Negara lain Amerika 6.000 per sejuta penduduk. Kita butuh 200 ribu penelitian sekarang ini," tegasnya.(zul/hen)


  ● detik 
[Read More...]


★ Selain Ponsel, LIPI Juga Luncurkan Mobil Listrik



http://images.detik.com/content/2013/08/26/1036/lipi.jpgJAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan mobil dan bus listrik bernama Hevina di Graha Widya Bhakti DRN, Kawasan Puspitek Serpong Tangerang Selatan, Banten, Senin (26/8).

Hevina merupakan mobil ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi. Pada acara yang sama, LIPI menyerahkan mobil dan bus listrik kepada Mentistek Gusti Muhammad Hatta.

"Hevina, ada dua varian bentuk yaitu, mobil sedan dan bus yang diperuntukan bagi executive meeting," ujar Kepala Bagian Humas LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas, kepada wartawan.

Nur mengatakan, mobil dan bus listrik ini memiliki keunggulan karena tidak bising dan irit bahan bakar. Acara peluncuran hasil penelitian ini merupakan rangkaian HUT LIPI ke-46.


[Read More...]


Peneliti LAPAN terima "LIPI Sarwono award 2013"



Prof DR Thomas Djamaluddin. (facebook)
Jakarta - Peneliti senior dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menerima Penghargaan Sarwono Prawirohardjo (Sarwono Award) yang diberikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Beliau adalah seorang peneliti senior dari LAPAN yang telah menunjukkan prestasi dan pengabdian sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia," ujar Kepala LIPI Lukman Hakim pada kata sambutan Sarwono Award di Jakarta, Jumat.

Sarwono Award adalah penghargaan yang rutin dilaksanakan oleh LIPI sejak 2001, yang diberikan kepada perorangan yang menunjukkan prestasi luar biasa dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan kemanusiaan.

Lukman menjelaskan bahwa Thomas layak menerima penghargaan tersebut karena dia dianggap sangat aktif dalam memberikan advokasi saintifik kepada pemerintah dan masyarakat luas, terutama dalam menentukan tanggal-tanggal penting keagamaan.

Selain itu, Thomas yang merupakan peneliti di bidang astrofisika juga aktif berperan dalam Program Penyusunan Tafsir Ilmu, merupakan anggota Tim Penilai Peneliti tingkat Pusat, dan menghasilkan berbagai karya ilmiah di tingkat nasional dan internasional.

Pada kesempatan yang sama, Thomas menyatakan rasa syukurnya dan mengatakan bahwa astronomi bisa menjadi penuntun kemajuan sains.

"Astronomi memberi tantangan nyata dengan keindahan fenomena langit yang hanya bisa dinikmati dengan perangkat sains," imbuh Thomas.


  ● Antara 
[Read More...]


LIPI Temukan Anggrek Raksasa



LIPI Temukan Anggrek RaksasaBATAM � Tim eksplorasi Flora LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menemukan tanaman sejenis anggrek berukuran besar atau anggrek raksasa, Grammatophyllum Speciosum Blume, di hutan Batam saat melakukan identifi kasi fl ora untuk kebutuhan Kebun Raya Batam.

Anggrek raksasa tersebut termasuk tanaman langka yang harus dilestarikan. Tim Eksplorasi LIPI, Yupi Isnaini, mengatakan anggrek raksasa dengan nama latin Grammatophyllum tersebut ditemukan di Hutan Lindung Sei Harapan Batam, di pokok pohon meranti. Hanya terdapat beberapa tanaman saja di area tersebut.

"Anggrek raksasa yang ditemukan di Batam hidup menumpang di pohon meranti dan termasuk tanaman langka," kata dia di Batam, Senin (17/6). Menurut Yupi, penemuan anggrek raksasa di hutan Batam termasuk mengejutkan karena hutan tersebut bukan habitat tanaman anggrek.

Untuk itu, LIPI akan mempelajari tanaman tersebut apakah sama dengan jenis anggrek yang tumbuh di daerah lain. Anggrek raksasa atau Grammathophyllum Speciosum Blume dikenal juga dengan giant orchid atau anggrek tebu karena perawakannya mirip dengan tanaman tebu. Anggrek ini merupakan tanaman langka yang tumbuh di habitat spesifi k. [gus/N-1]


  ● Koran Jakarta  
[Read More...]


LIPI Terus Berinovasi untuk Atasi Keterbatasan BBM



http://koran-jakarta.com/images/berita/112508.jpg Jakarta  Era globalisasi menuntut manusia untuk berpikir cerdas dalam melakukan inovasi-inovasi yang dapat memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Tak terkecuali inovasi dalam pemanfaatan bahan-bahan pengganti bahan bakar minyak (BBM) yang belakangan harganya terus melambung di pasaran dunia.

Salah satu yang dikedepankan adalah penggunaan bioetanol, sebuah bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari bahan-bahan bergula atau berpati, seperti tetes tebu, nira sorgum, nira nipah, singkong, ganyong, ubi jalar, dan tumbuhan lainnya. Bioetanol yang berasal dari bahan-bahan bergula, termasuk yang berkualitas terbaik di dunia.

Indonesia, melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mencoba menerapkan inovasi tersebut dengan melakukan pembudidayaan tanaman sorgum. Sebagai tanaman serealia (biji-bijian), sorgum memiliki manfaat yang multiguna. Selain bijinya digunakan sebagai bahan pangan, batang dan daunnya untuk pakan ternak, gula yang terkandung dalam biji (karbohidrat) atau cairan/jus/nira batang (sorgum manis) pun dapat diproses menjadi etanol (bioetanol).

"Tanaman sorgum memiliki produksi biji dan biomassa yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu. Adaptasi sorgum pun jauh lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal," kata Kepala Pusat Inovasi LIPI, Bambang Subiyanto, di Cibinong, Bogor, Rabu (13/2).

Sebagai tahap awal, lanjut Bambang, LIPI akan menggunakan lahan kosong seluas 1 hektare (ha) yang terletak di kawasan riset mereka yang berada di daerah Cibinong, Bogor. Luas ini akan bertambah seiring dengan kesuksesan penanaman sorgum.

"Selanjutnya, untuk tahun ini, sorgum akan ditanam di sejumlah wilayah di Indonesia atas kerja sama dengan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) pada areal 1.000 ha, antara lain di Lampung, Surabaya, Sulawesi, dan Yogyakarta dengan produksi 100 ton/ha/tahun," jelas Bambang dengan antusias.

 Kerja Sama

Dalam melakukan pembudidayaan sorgum ini, LIPI mengadakan kerja sama dengan Syswave Holdings Co Ltd, sebuah perusahaan asal negeri sakura, Jepang. Syswave Holding-lah yang memberikan bibit-bibit sorgum unggul, yang dapat dipanen tiga bulan sekali. "Jadi, dalam kurun waktu setahun, bisa tiga kali panen. Normalnya empat kali, namun setelah dipanen tiga kali, produktivitasnya menurun. Jadi, lebih baik dicabut lalu diganti dengan tanaman yang baru," tutur Bambang.

Dalam rangka mengoptimalkan industri bioetanol, diperlukan lahan untuk perkebunan sorgum manis yang luas. Pertanaman harus dilakukan sepanjang tahun, dan sebaiknya tidak memanfaatkan lahan-lahan yang merupakan lahan pertanaman pangan.

Dengan asumsi produktivitas sorgum dalam menghasilkan bioetanol sebesar 2.000?3.500 liter/ha/musim tanam atau 4.000?7.000 liter/ha/tahun (di Indonesia bisa tanam dua musim), untuk menghasilkan 60 juta kiloliter per tahun bioetanol akan diperlukan lahan seluas 15 juta ha.

"Ini bertahap. Tahun 2014 akan ada rencana menanam sorgum di lahan seluas 10.000 ha. Mitranya antara lain RPN, PT Samirana, dan pemerintah daerah yang berkenan, dan selanjutnya di tahun 2015, penanaman benih sorgum bisa dilakukan secara menyeluruh di Indonesia," imbuh Bambang.

Industri bioetanol berbahan baku sorgum sebenarnya telah dikembangkan di banyak negara, seperti Amerika Serikat, China, India, dan Belgia. Di Amerika, produktivitas bioetanol sorgum mencapai 10.000 liter/ha, India 3.000?4.000 liter/ha, dan China 7.000 liter/ha.

Sebagai bahan bakar bio (biofuel), bioetanol sorgum digunakan dalam berbagai keperluan, misalnya dicampur dengan bensin (premium) untuk kendaraan bermotor atau yang lebih dikenal sebagai gasohol. Di India, selain untuk gasohol, bioetanol sorgum digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerangan (pressurized ethanol lantern) yang disebut "Noorie". indra citra sena/P-3


   ● Koran Jakarta     
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


Setahun, 50 Penelitian Dipatenkan LIPI



http://www.jpnn.com/picture/thumbnail/20130214_073827/073827_953800_penelitian.jpg CIBINONG Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan berkontribusi untuk pembangunan Kabupaten Bogor. Salah satunya dengan menyumbangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), melalaui program inkubasi teknologi.

“Per tahun kita menghasilkan 50 penelitian yang sudah bisa dipatenkan,” tegas Kepala Pusat Inovasi LIPI, Prof Bambang Subyanto saat peresmian Gedung Inovasi di Cibinong Sciense Center (CSC), Rabu (13/2).

Gedung itu, lanjut Bambang, untuk melahirkan berbagai usaha atau perusahaan berbasis teknologi, terutama teknologi yang berasal dari hasil-hasil riset LIPI. Gedung ini mewadahi bebagai kegiatan yang bersifat mengakselerasi adopsi hasil-hasil riset LIPI oleh para stakeholder.

“Di gedung Inovasi ini pun ada program inkubasi teknologi yang bertujuan untuk memfasilitasi komersialisasi hasil-hasil penelitian dan juga akusisi maupun pemanfaatan teknologi unggul.

Tujuannya untuk mempromosikan eksploitasi suber daya lokal dan meningkatkan daya saing dari industri nasional melalui skema alih teknologi.  Ia menambahkan saat ini tercatat 10 teknologi LIPI telah dikembangkan menjadi produk contoh (prototype), 17 teknologi telah melalui tahapan pra-inkubasi dan 15 teknologi sedang melalui tahapan inkubasi. Ia berharap lahir perusahaan bebasis teknologi yang siap bersaing di pasar domestik. “Oleh karenanya sinergi antara LIPI dengan Pemerintah Daerah serta para pengusaha sangat dibutuhkan,” pungkasnya. (*/sal)


  • JPNN 

[Read More...]


Anti-Kolesterol dan Kanker Asli Indonesia



fotoJakarta - Potensi sumber bahan baku obat di Indonesia sangat melimpah, tapi sayang belum banyak yang tergali secara maksimal. Padahal, dari sekian banyak sumber bahan baku alami obat ini, menurut peneliti utama pada Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Hanafi, telah ditemukan obat antikanker dan antikolesterol.

"Tumbuhan dan mikroba tersebut antara lain Garcinia (apel Jawa), Curcuma (kunyit), Hedyotis (rumput mutiara), Pseudomonas (bakteri gram negatif yang banyak ditemukan di tanah dan air), dan Streptomyces (bakteri gram positif yang menghasilkan spora)," ujar Muhammad Hanafi dalam orasi ilmiahnya yang disampaikan dalam pengukuhan gelar profesornya di Auditorium LIPI, Jumat, 23 November 2012.

Menurut Hanafi, temuan berupa obat herbal atau fitofarmaka itu berupa ekstrak aktif dari tumbuhan dan mikroba yang telah diisolasi dan diidentifikasi senyawa aktifnya. Hasil isolasi tersebut berupa zat kalanon, UK-3A, dan phenazina serta sintesis turunan dan analognya memiliki potensi menghambat perkembangan sel kanker.

Hasil uji praklinis atau tahap pengujian yang dilakukan sebelum uji klinik pada manusia, yang telah dilakukan Hanafi, menunjukkan bahwa senyawa tumbuhan dan mikroba tersebut mampu menurunkan jumlah sel kanker. "Sayangnya, senyawa tumbuhan dan mikroba tersebut masih bersifat toksik atau racun," ujar Hanafi.

Tidak hanya itu, seyawa turunan yang terdapat dalam tumbuhan dan organisme tersebut yang dikenal dengan nama Lovastatin atau Lipistatin memiliki potensi sebagai obat antikolesterol. Karena itu, kata Hanafi, penting sekali penelitian ini dilanjutkan ke tahap uji klinis, terutama mengingat manfaatnya di bidang kesehatan dan kehidupan manusia.

Hanafi menambahkan, untuk mengembangkan potensi bahan obat utama dari alam (tumbuhan dan mikroba) untuk dijadikan obat antikanker dan antikolesterol diperlukan skala prioritas dan tindakan yang fokus. "Diperlukan pula komunikasi lebih awal, intensif, serta komitmen dengan pihak industri farmasi guna melancarkan komersialisasi hasil penelitian yang sedang dan telah dicapai," ujar Hanafi.

Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki potensi alam sangat besar, dengan jumlah keanekaragaman tumbuhan mencapai 30 ribu spesies. Dengan jumlah itu, tidak heran Indonesia disebut sebagai megacenter dari biodiversitas dunia. Dari jumlah itu pula, sebanyak 9 ribu tanaman di Indonesia memiliki khasiat obat.


© Tempo.Co
[Read More...]


LIPI usung bioteknologi untuk pemanfaatan SDA



Bogor  - Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar seminar internasional Bioteknologi 2012 dihadiri 120 orang peserta yang membahas peran bioteknologi sebagai kunci pemanfaatan sumber daya alam (SDA).

"Bioteknologi merupakan salah satu upaya efektif dalam memaksimalkan sumber daya alam di Indonesia yang sangat berlimpah," kata Kepala Pusat Penelitian (P2) Bioteknologi LIPI, Dr Ir Witjaksono, saat membuka seminar yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor, Selasa.

Witjaksono mengatakan, cakupan keilmuan bidang bioteknologi sangat luas, meliputi bioteknologi pertanian, bioteknologi pangan, bioteknologi farmasi dan kesehatan, bioteknologi lingkungan, bioteknologi industri serta bioinformatika.

Menurutnya, upaya memaksimalkan pemanfaatan bidang bioteknologi dan mencari solusi atas tantangan saat ini akan dikupas dalam Seminar Internasional Bioteknologi 2012 yang diselenggarakan di Bogor selama dua hari 13-14 November.

Dijelaskannya, salah satu tujuan penyelenggaraan Seminar Internasional Bioteknologi 2012 adalah mengkomunikasikan dan mencari solusi dalam menghadapi tantangan dan peluang dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam secara maksimal melalui bioteknologi.

"Seminar ini memberikan kesempatan bagi pihak industri dan pakar terkait untuk membagi keahlian dan pengalaman dalam pengembangan produk berbasis bioteknologi dan juga mengenai proses komersialisasi hasil penelitian," katanya.

Witjaksono mengungkapkan, seminar tersebut merupakan wadah bagi para peneliti, akademisi, pakar industri dan para stakeholder lain untuk saling berbagi dan berdiskusi mengenai kemajuan dan perkembangan bioteknologi di berbagai bidang.

Dikatakannya, untuk bidang bioteknologi pertanian, akan diulas mengenai topik penelitian di bidang bioteknologi tanaman dan hewan (ternak), termasuk juga aplikasi teknik-teknik genetika molekuler untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tanaman pangan.

"Dalam seminar ini juga akan dibagas bagaimana mengurangi akibat negatif dari cekaman biotik dan abiotik, pupuk alami (biovertilizer), pemanfaatan genetika molekuler dan biologi reproduksi untuk meningatkan kualitas dan produktivitas hewan ternak, serta alikasi bioteknologi dalam penelitian pakan dan produksinya," katanya.

Sementara itu, lanjut Witjaksono, untuk bidang bioteknologi pangan, akan dibahas penelitian dalam bidang nutrigenomik, pengembangan pangan fungsional, aplikasi bioteknologi untuk meningkatkan kualitas nutrisi, rasa, tekstur dan penampilan makanan, keamanan pangan, serta toksikologi dan mikrobiologi pangan.

Sejauh ini, kata Witjaksono, bidang bioteknologi farmasi dan kesehatan yang mencakup industri farmasi telah banyak memperoleh manfaat dari hasil penelitian berbasis bioteknologi, antara lain pengembangan vaksin dan obat-obatan, kosmetik, aplikasi kultur sel dalam penelitian kesehatan dan farmasi, terapi dan diagnostik, nutrasetika dan juga kimia bahan alam.

Witjaksono menambahkan, dibidang bioteknologi dan industri dibahas pula pemanfaatan proses bioteknologi untuk aplikasi industri, bioproses, biorefinery (produksi bioetanol dan biodisel).

Sementara berkaitan dengan bioinformatika, pembahasan akan mencakup penelitian di bidang genomik, proteomik, metabolimik, protein modeling, dan juga aplikasinya, seperti drug discovery and design.

"Dalam seminar ini, kita mengundang peneliti, akademisi dan stakeholder dari dunia industri untuk duduk bersama, mengetahui peran bioteknologi sebagai kunci pemanfaatan sumber daya alam. Sehingga kedepan hasil riset dan industri bisa berjalan seiring," katanya.

Ketua Panitia Seminar Bioteknologi 2012, Anggia Prasetyoputri menyebutkan seminar diikuti sebanyak 140 orang peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, dan para pengambil keputusan di dunia industri.

Seminar juga dihadiri oleh peserta dari sejumlah negara seperti Jepang, Australia, Jerman, dan Malaysia. (KR-LR)


© Antara
[Read More...]


LIPI Mampu Manfaatkan Mikroba Pengolah Limbah



http://assets.kompas.com/data/photo/2012/10/24/1727285p.jpgPekerja menunggu truk untuk mengangkut sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2012). Sampah tersebut menumpuk karena hujan mulai turun dan terbawa oleh aliran Sungai Ciliwung.[Foto KOMPAS/AGUS SUSANTO]

Jakarta - Lembaga penelitian belum dioptimalkan untuk mengolah sampah sungai. Padahal, mereka memiliki sumber daya manusia dan keahlian teknis.

”Kami memiliki alat canggih untuk penelitian mikroba. Penelitinya pun hebat-hebat. Kami pasti mampu (menemukan pengolahan sampah di sungai menggunakan mikroba) jika diberi kesempatan,” kata Endang Sukara, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa (6/11/2012), di Jakarta.

Ia menanggapi rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendatangkan bakteri asal China untuk mengatasi pencemaran/mengurai sampah di Sungai Ciliwung. Bakteri yang belum disebutkan jenisnya itu rencananya akan diuji coba pada anak sungai Ciliwung, dekat Istana Negara.

Endang yang juga peneliti mikrobiologi mengaku heran dengan rencana impor bakteri asal China. Menurut dia, Indonesia yang beriklim tropis memiliki keanekaragaman bakteri jauh lebih banyak dibandingkan dengan China yang memiliki empat musim.

Sayangnya, potensi ini belum diungkap maksimal. Ia siap menerjunkan penelitinya jika Pemprov DKI Jakarta meminta LIPI menemukan mikroba yang cocok mengurai sampah Sungai Ciliwung. ”Dalam 1 gram ada miliaran mikroba yang jenisnya macam-macam. Pasti di dalamnya ada mikroba yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan, menguraikan sampah atau limbah, ataupun mengurangi bau busuk,” kata Endang.

Satu tahun

Paling lama butuh waktu setahun untuk menemukan dan mengidentifikasi mikroba yang sesuai. Setelah diisolasi dan dikembangbiakkan, bakteri mampu bermultiplikasi hingga 10 pangkat 10 dalam 24 jam.

Endang berharap, kalaupun rencana impor bakteri dilakukan, introduksinya dilakukan sangat hati-hati dan tidak gegabah. Diingatkan, kendali atas bakteri yang dilepaskan di suatu ekosistem (ruang tak terkontrol) sulit dilakukan.

Sementara itu, Sarjiya Antonius, Ketua Kelompok Penelitian Ekologi dan Fisiologi Mikroba Bidang Mikrobiologi Puslit Biologi LIPI, mengatakan, selama ini pihaknya banyak meneliti penanganan limbah di sungai dan aplikasinya pada instalasi pengolah air limbah. Lembaga riset ini juga memiliki koleksi mikroba pendegradasi limbah organik dan juga pestisida tertentu.

Oleh karena itu, mereka siap bila diminta menangani persoalan limbah sungai.

Dengan kemampuan yang dimiliki LIPI dan lembaga riset lainnya di dalam negeri, Sarjiya berharap kerja sama dengan pihak asing melibatkan institusi nasional. Tujuannya, kapasitas dalam negeri diberdayakan.

”Perusahaan asing yang akan bekerja menggunakan agen hayati termasuk mikroba harus berkoordinasi dengan lembaga riset, terutama terkait lingkungan bebas seperti sungai,” ujar Sarjiya.(ICH/YUN)


© Kompas
[Read More...]


93 Karya Ilmiah Berlaga di Kompetisi Ilmiah LIPI



http://image.tempointeraktif.com/?id=114350&width=200Jakarta - Sebanyak 93 karya ilmiah menjadi finalis dalam kompetisi ilmiah yang dihajat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bekerja sama dengan AJB Bumiputera 1912, 25-26 September 2012. Seluruh karya ilmiah adalah penyatuan para finalis dari empat kompetisi ilmiah yang dihajat LIPI sepanjang tahun ini.

Dari jumlah itu, 28 karya ilmiah di antaranya adalah finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-44, 25 karya adalah finalis Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) ke-20, 15 karya adalah finalis Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) ke-11, dan 25 karya adalah finalis National Young Inventor Awards (NYIA) ke-5.

"Pemenangnya akan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti kompetisi ilmiah tingkat internasional," kata Kepala Bagian Peningkatan Kemampuan Ilmiah Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI, Yusuar, Selasa, 25 September 2012.

Para finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja terbagi ke dalam 3 bidang, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam, serta Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa.

Para finalis Lomba Karya Ilmiah Guru terbagi ke dalam 5 bidang, yaitu Sekolah Dasar, SMP bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, SMP bidang Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi, SMA bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, serta SMA bidang Matematika Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi.

Untuk para finalis Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia terbagi ke dalam 3 bidang, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Teknik. Sementara itu, para finalis National Young Inventor Awards tidak terbagi ke dalam bidang-bidang alias terkelompok menjadi satu.

Yusuar mengatakan, semua finalis kompetisi ilmiah ini--individu maupun kelompok--harus mempresentasikan karyanya di depan dewan juri yang merupakan anggota Konsul Peneliti LIPI di berbagai bidang. Keilmiahan dan inovasi karya akan menjadi faktor utama penilaian. Selain itu, karya ilmiah dan inovasi para finalis juga dipamerkan untuk umum.

Sejumlah inovasi unik muncul dalam kompetisi yang dihajat LIPI saban tahun ini, di antaranya "Pelampung Anti Tsunami yang Dapat Disiapkan secara Massal dalam Waktu Kurang dari 5 Menit" karya Andya Ranithanya dan Stella Chandra Kumala dari SMPN 1 Bogor, "Sepatu Anti Kekerasan Seksual" karya Hibar Syahrul Gafur dari SMPN 1 Bogor, "Bra Penampung dan Penstreil ASI" karya Devika Asmi Pandanwangi dari SMAN 6 Yogyakarta, serta "Canting Otomatis" karya Safira Dwi Tyas Putri dari SMA Sampoerna Akademi Bogor.

Kepala LIPI, Lukman Hakim, mengatakan serangkaian kompetisi ilmiah yang diselenggarakan ini adalah upaya membangkitkan budaya meneliti bagi kalangan remaja dan para pengajar. "Pembinaan penelitian di negara-negara maju dilaksanakan sedari dini lewat afiliasi antara institusi penelitian dan pendidikan formal," ujarnya.

[Read More...]


Kekurangan Peneliti, LIPI Minta Rekrutmen



Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) saat ini sedang membutuhkan jumlah peneliti yang lebih banyak lagi dari jumlah yang sudah ada saat ini.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lukman Hakim dalam pidatonya saat acara Pengukuhan Profesor Riset LIPI pada Selasa (18/9/2012) di Auditorium LIPI, Jakarta.

"LIPI menghadapi masalah sumber daya manusia. Sudah sekitar tiga tahun ini kami tidak memiliki kesempatan untuk rekrutmen," kata Lukman Hakim.

Ia mengatakan, hal ini sungguh menjadi potret yang memprihatinkan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia. Bisa dibayangkan di luar sana banyak sekali bibit-bibit peneliti muda yang tidak memiliki kesempatan untuk berkarir dan memperdalam ilmunya.

Oleh karena itu, pada kenyataannya, tak jarang bibit-bibit yang potensial itu malah direkrut oleh negara-negara asing atau perusahaan-perusahaan swasta untuk menjadi peneliti.

Tak hanya itu, dari segi tingkat pendidikan, para peneliti LIPI masih berbeda dengan peneliti di kancah internasinal, yang rata-rata sudah bergelar doktor.

Namun demikian, LIPI tetap mengusahakan untuk memperbanyak ahli atau ilmuwan dengan gelar pendidikan tertinggi agar bisa lebih baik lagi berkontribusi di dunia penelitian Indonesia.

"Dari sekitar 700 peneliti yang kita punya, ada sekitar 400 peneliti yang saat ini sedang mengikuti proses pendidikan," kata Lukman Hakim.

Walaupun hanya memiliki tenaga yang terbatas, LIPI tetap secara maksimal meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada.

Masalah lain yang muncul dari kekurangn jumlah SDM ini adalah, bahwa ternyata dalam jangka waktu tiga tahun ada lebih dari 150 orang yang pensiun, sedangkan jumlah input SDM tidak sebanding dengan outputnya.

Idealnya dalam satu bidang penelitian di LIPI terdiri dari 1 peneliti riset, 2 peneliti madya, dan 4 peneliti muda. Tetapi pada kenyataannya jumlah ideal itu masih belum bisa terpenuhi, bahkan satu orang peneliti bisa merangkap dua tingkat jabatan sekaligus.

Untuk kualifikasi jenjang pendidikan peneliti LIPI, Lukman Hakim mengaku tidak memberikan batasan, namun akan lebih baik jika mereka yang menjadi peneliti adalah mereka yang sudah memiliki gelar S1, S2, dan S3.

Hal ini tentunya juga akan menjadi nilai tersendiri bagi LIPI di mata internasional karena memiliki peneliti yang berasal dari jenjang pendidikan yang tinggi.

Jika rekrutmen tidak segera dilakukan sekarang, ada kekhawatiran beberapa tahun ke depan LIPI kehabisan peneliti karena tidak adanya regenerasi yang cukup seimbang antara jumlah pensiunan dengan jumlah tenaga yang masuk.

Lukman Hakim juga berharap kepada pemerintah yang berwenang agar dalam waktu dekat LIPI diberikan kesempatan untuk melakukan perekrutan peneliti baru.

[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri