ISENG BLOGER

Sejak Lama Indonesia Telah Menguasai Iptek Nuklir



Penguasaan itu sejak tahun 1956. 

Kemajuan teknologi di berbagai aspek kehidupan manusia kian pesat. Hampir setiap hari ada saja inovasi teknologi. Bidang teknologi informasi misalnya, makin mendekatkan jarak antar pulau antar negara bahkan antar benua. Laga sepakbola papan atas di luar negeri dapat disaksikan melalui televisi pada waktu yang bersamaan di seluruh dunia.

Teknologi juga sampai ke dapur rumah tangga, mulai dari kompor gas, alat pembuat jus, sampai teknologi yang lebih berat dan canggih lagi, pesawat ulang alik ke ruang angkasa, robot yang dapat melakukan apa saja, dan masih banyak lagi.

Teknologi diciptakan untuk mem­per­mudah menyelesaikan masalah manusia, lahir dari pemikiran manusia juga. Teknologi merupakan penanda berkembangnya peradaban manusia. Kini dan sampai masa yang akan datang, inovasi teknologi di berbagai bidang akan terus berkembang.

Kemajuan teknologi di manapun akan turut dirasakan oleh manusia dari bagian dunia lainnya termasuk Indonesia, teknologi nuklir contohnya. Ketika nuklir ditemukan awal abad ke-20 di Eropa, tak lama kemudian Indonesia pun sudah mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir. Tahun 1956 Indo­ne­sia sudah mulai mengelola nuklir.

Kini teknologi nuklir kian berkembang pesat, bukan hanya untuk kepentingan energi semata, lebih dari itu nuklir memberi kontribusi yang besar bagi kemajuan teknologi bidang lainnya. Saat ini, lebih dari 30 negara telah memanfaatkan teknologi nuklir untuk pembangkitan listrik (PLTN). Di negara –negara yang sudah akrab dengan nuklir, teknologi bersumber uranium itu sudah dimanfaatkan di bidang lainnya, seperti kesehatan,pangan, industri, dan lingkungan.

Indonesia sendiri, sampai saat ini pemanfaatan teknologi nuklir belum diaplikasikan untuk energi listrik. Namun bidang lainnya sudah tersentuh oleh nuklir. Bidang medis misalkan, rontgen atau sinar-X sesungguhnya menggunakan teknologi nuklir. Demikian juga radiasi dan zat radioaktif digunakan untuk tujuan terapi penyakit, dan perawatan efektif bagi penderita kanker.

Lembaga yang ditugasi mengembangkan teknologi ini, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), terus berinovasi melakukan pengembangan iptek nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Di bidang pangan, litbangyasa BATAN dilakukan untuk perbaikan varietas tanaman pangan. Salah satunya adalah mengetahui komposisi zat yang dibutuhkan suatu tanaman. Bahkan dengan teknik mutasi, radiasi dapat digunakan untuk memperbaiki sifat tanaman, sehingga mampu berdaya hasil tinggi, berumur genjah dan tahan terhadap hama penyakit, serta adaptif pada kondisi agroklimat Indonesia.

Dari hasil kegiatan litbang tersebut telah diperoleh 20 varietas unggul padi, 8 varietas unggul kedelai, 2 varietas unggul kacang hijau, 1 varietas unggul sorgum dan kapas. Selain itu masih meneliti tanaman gandum untuk daerah tropis.

Aplikasi lainnya yaitu pembuatan inokulan mikroba pengurai limbah organik dan perunut untuk remediasi lahan marginal. Manfaatnya adalah meningkatkan kesehatan tanah dan tanaman, mampu mereduksi beberapa logam berat, dan meningkatkan efisiensi unsur hara tanaman.

Teknologi nuklir dapat digunakan untuk pemandulan vektor malaria. Teknik yang lazim disebut Teknik Serangga Mandul (TSM) dinilai layak menjadi suatu metode pemberantasan nyamuk Demam Berdarah Dengue (DBD) setelah terbukti banyak wilayah yang nyamuknya makin resisten terhadap metode "fogging" (pengasapan).

Cara pemandulan nyamuk/vektor adalah dengan cara radiasi ionisasi yang dikenakan pada salah satu stadium perkembangannya. Radiasi pemandulan ini dapat menggunakan sinar gamma, sinar-X atau neutron.

Teknik irradiasi pada makanan mampu mengawetkan bahan makanan seperti rendang daging dan pepes ikan sampai berbulan-bulan. Radiasi dengan dosis aman tertentu digunakan untuk meng­hancurkan mikroorganisma; bakteri, virus atau serangga yang diperkirakan berada dalam makanan. Jenis radiasi yang digunakan adalah sinar gamma, sinar X, dan elektron yang dikeluarkan oleh pemercepat elektron.

Teknik ini juga dapat digunakan untuk menunda pertunasan pada komoditi ekspor non migas, seperti kekacangan, rempah-rempah, dan buah-buahan. Sehingga ketika sampai di negara tujuan bahan makanan masih tetap segar dan layak dikonsumsi.

Bila diperhatikan jumlah energi yang efektif untuk radiasi cukup rendah dibandingkan dengan memasak bahan makanan yang sama hingga matang. Bahkan energi yang digunakan untuk mengirradiasi 10 kg bahan makanan hanya mampu memanaskan air hingga mengalami kenaikan temperatur sebesar 2,5 derajat Celsius.

Di sektor industri, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang pertambangan untuk eksplorasi minyak dan gas. Nuklir berperan dalam menentukan sifat dari bebatuan sekitar porositas dan litografi. Teknologi ini melibatkan penggunaan neutron atau sumber energi sinar gamma dan detektor radiasi yang ditanam dalam bebatuan yang akan diperiksa.

Demikian juga untuk konstruksi jalan, teknologi nuklir digunakan un­tuk mengukur kelembaban, kepadatan tanah, aspal, dan beton. Di samping itu nuklir dapat digunakan menentukan kerapatan atau kepadatan suatu produk industri. Misalnya menentukan kepadatan tembakau pada rokok, digunakan Sr 90. Kegunaan lainnya untuk menentukan ketebalan kertas. Selain itu juga dapat mengetahui keropos las-lasan bagian dalam pada logam.

Tersedianya sumber energi listrik adalah sektor yang sangat krusial. Energi yang berasal dari fosil seperti BBM dan gas, ketersediannya semakin menipis dan termasuk energi yang tidak terbarukan. Namun sayangnya, sampai saat ini Indonesia belum berhasil memba­ngun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

PLTN mampu menyediakan energi listrik berdaya besar, sehingga dapat mengurangi beban kebutuhan listrik yang selalu meningkat. Padahal perkemba­ngan energi nuklir di dunia sudah menguasai pangsa sekitar 16 persen listrik dunia. Hal ini menunjukkan bahwa nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternatif yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Selain bidang yang dipaparkan di atas, Peneliti BATAN akan terus mengembangkan inovasi teknologi untuk bidang lain yang bermanfaat bagi kehidupan. BATAN bertekad teknologi nuklir akan banyak dimanfaatkan untuk memberi andil demi kemajuan Indonesia. Dengan menguasai teknologi, maka akan mengangkat marwah Indonesia dan sejajar dengan bangsa lain. Sehingga dengan teknologi nuklir, semua menjadi mudah, dan tentu saja aman!.(WEBTORIAL)

[Read More...]


Pilihan Terbaik, Nuklir Atasi Krisis Energi



 Apa perlunya. Lebih hemat? 

Setiap kali kenaikan harga BBM kita selalu panik dan terpikir untuk mencari sumber energi alternatif. Karena kita tahu, ketergantungan negeri ini terhadap bahan bakar minyak (BBM) dan gas sangat tinggi. Sedangkan cadangan minyak bumi Indonesia hanya sembilan miliar barel (Kemen. ESDM, 2013) yang diperkirakan habis selama 18 tahun dengan laju produksi rata-rata 500 juta barel per tahun.

Pemerintah telah berupaya guna mengatasi persoalan kekurangan energi yang mendekati krisis ini. Di antaranya diversifikasi dan konservasi energi. Diversifikasi energi atau penganekaragaman pemakaian energi dengan meningkatkan pemanfaatan energi:nuklir, surya, biomassa, angin, air dan panas bumi. Sedangkan konservasi energi meliputi pemanfaatan energi yang efisien dan menerapkan manajemen energi di semua sektor yaitu sektor industri, transportasi, rumah tangga dan komersial.

Terdapat keinginan untuk mendorong penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mengimbangi penurunan penggunaan energi fosil. Salah satu jenis EBT yang kemungkinan dikembangkan adalah energi nuklir. Pengembangan ini dilakukan mengingat beberapa kelebihan dari energi nuklir, diantaranya, bahan bakarnya tidak mahal dan ramah lingkungan. Energi yang dihasilkan sangat besar dan tidak mempunyai efek gas rumah kaca serta hujan asam.

Energi nuklir bisa dijadikan pendamping sumberdaya energi berbasis hidrokarbon. Kedua energi tersebut bisa memenuhi kebutuhan energi nasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penggunaan teknologi nuklir sebagai salah satu sumber energi listrik telah dikembangkan sejak tahun 1950an. Tidak kurang dari 31 negara menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai sumber energi di negaranya saat ini. Di antaranya, Amerika Serikat, Perancis, Rusia, India, Pakistan, Brazil, Argentina, dan Vietnam. Dua negara Asia Tenggara lainnya Malaysia dan Thailand menyusul. Kedua negara yang belakangan mengenal teknologi nuklir itu sudah membentuk tim persiapan pembangunan PLTN.

Sayangnya, meskipun di kawasan Asia Tenggara, Indonesia lebih dahulu memiliki dan menguasai teknologi nuklir dan mempunyai SDM yang cukup mumpuni, hingga hari ini belum bergerak dari wacana. Padahal payung hukum dan regulasi yang mendampinginya sudah tersedia.Bahkan, semestinya PLTN sudah didirikan pada tahun 2010.

Sejak 1954, pemerintah melalui Lembaga Tenaga Atom (LTA) yang kini menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mempersiapkan visi besar bangsa Indonesia dalam pemanfaatan teknologi nuklir sebagai sumber energi untuk mencukupi kebutuhan nasional. Namun PLTN belum berdiri di tanah Indonesia. Padahal Indonesia sebagai negara terbesar keempat penduduknya yang memiliki 250 juta manusia membutuhkan energi terutama listrik dalam menjalankan aktivitasnya, ketersediaan energi listrik tersebut masih jauh dari cukup bahkan untuk aktivitas konsumsi sekalipun.

Mempertimbangkan perbandingan 20 gram uranium setara dengan 2 ton batu bara, menyebabkan negara-negara maju berlomba-lomba membangun PLTN untuk mendukung kemajuan bangsanya. Fakta menunjukkan bahwa negara yang sudah memiliki PLTN mempunyai tingkat ekonomi yang kuat dan ketersediaan energi mereka terjamin. Disamping itu udara tetap bersih, tidak tercemari polusi Karena PLTN bersifat rendah emisi karbon.

Nilai konsumsi energi listrik rakyat Indonesia 588 KWh perkapita yang menempati nomor tiga terendah di ASEAN. Sedangkan dari sisi elektrifikasi jaringan listrik di Indonesia baru menjangkau 67 persen rakyat Indonesia. Angka 67 persen belum mempertimbangkan kualitas, kuantitas dan realibilitasenergi listrik yang tersalurkan.

Dengan kondisi listrik yang demikian, Indonesia harus mengejar pembangunan infrastruktur listrik. Pembangunan pembangkit dengan kapasitas besar menjadi agenda utama. Saat ini memprioritaskan pembangunan PLTU batubara untuk mengejar penyediaan energi listrik.

PLTN berbahaya? PLTN selalu dikaitkan dengan bom nuklir dan bom radiasi. Teknologi apapun memiliki sisi manfaat dan sisi pengrusakan. Sebilah pisau akan memberi manfaat ditangan seorang koki dan sebaliknya akan berbahaya jika dipegang seorang penodong. Begitu juga dengan teknologi nuklir. Keamanan dan keselamatan akan dijamin ditangan orang-orang yang bermimpi untuk memanfaatkan energi nuklir sebagai sumber energi listrik.

Kemampuan SDM serta penguasaan teknologi nuklir yang dimiliki BATAN sekarang ini, menjadi modal utama dalam mendirikan PLTN dalam waktu dekat. Indonesia harus mempunyai sikap jelas dalam menghadapi kemungkinan krisis listrik di masa depan.

Menjadikan energi nuklir sebagai solusi mengatasi krisis merupakan pilihan yang terbaik. So, tunggu apa lagi....? (Webtorial)


[Read More...]


Kaya Uranium dan Plutonium, Babel Calon Lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir



http://images.detik.com/content/2013/07/30/1034/nuklirdalam.jpg
Ilustrasi PLTN
Jakarta - Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) telah melakukan penelitian terhadap beberapa daerah calon lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Hasilnya Provinsi Bangka Belitung (Babel) adalah daerah paling siap untuk dibangun PLTN.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti M. Hatta menjelaskan, pihaknya hanya melakukan penelitian-penelitian, kemudian setelah itu hasil kajian tersebut diserahkan ke Kementerian ESDM dan PLN untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Kajian di Babel sudah selesai, kita serahkan ke ESDM untuk nanti diserahkan pada PLN atau swasta. Tugas kita menyiapkan kajiannya saja, di sana bahan banyak, uranium ada," kata Hatta di Kantor kemenristek Gedung BPPT, Jakarta, Selasa (30/7/2013).

Hatta menyebut, provinsi Babel memiliki kandungan uranium yang sangat besar, sehingga dijadikan daerah yang paling siap untuk dibuat PLTN dengan kapasitas 200 Megawatt. "Di sana bahannya banyak, uranium, dan plutonium banyak," katanya.

Selain itu, Hatta melanjutkan pembangunan PLTN di Babel bisa menghidupkan roda pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Mulai dari sektor pendidikan hingga ke lapangan pekerjaan.

"Kami di Babel tidak sekadar meneliti, kami juga menyekolahkan warga. Jadi mereka di sana tidak hanya jadi penonton," tegasnya.

Hatta juga mengatakan dalam kesempatan itu, PLTN tersebut harus dibangun segera, mengingat cadangan minyak Indonesia akan habis dari waktu ke waktu. Sehingga perlu adanya bahan bakar lain untuk menghidupkan listrik.

"Sekarang mungkin masih bisa mengandalkan batubara, tapi kan tidak bisa terus-terusan. Batubara itu ada pencemaran, sementara PLTN relatif bersih. Dan 10 tahun lagi cadangan BBM juga akan habis," kata Hatta.(zul/hen)


[Read More...]


Indonesia Mau Nuklir, Tapi Tak Mau Tahu Resikonya



downloadDemam nuklir saat ini tengah melanda Asia. Kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi dunia itu memilih membangun reaktor untuk kebutuhan energi.

Indonesia juga semakin dekat dengan nuklir. Tapi apakah Indonesia siap dengan resiko nuklir?

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut, ada 41 reaktor yang sedang dibangun di Asia, 98 lainnya direncanakan dibangun dekade mendatang.

Cina adalah negara yang kini paling banyak membangun nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus melesat seiring pertumbuhan ekonomi.

Vietnam akan membuat delapan reaktor. Malaysia berencana memiliki paling sedikit dua. Sementara, pemerintah Indonesia berencana membangun empat reaktor nuklir pada tahun 2025.

Sulfikar Amir, sosiolog Indonesia yang mengajar di Nanyang Technological University, Singapura sangat konsen tentang isu ini.

Belakangan dia bergelut dengan isu nuklir dan mengkampanyekannya lewat akun Twitter: @sociotalker kepada lebih dari 12 ribu followernya. Akhir 2012, dia meluncurkan “Nuklir Jawa“, sebuah film dokumenter yang berisi kritik atas rencana Indonesia membangun reaktor di Gunung Muria, Jawa Tengah.

“Sebenarnya Indonesia adalah negara yang paling siap untuk mengembangkan nuklir di Asia Tenggara” kata Sulfikar Amir (SA) kepada Deutsche Welle (DW).

Berikut wawancara DW dengan SA.

DW
Apa yang membuat negara Asia kini berpaling ke nuklir?

SA
Kalau melihat tren dunia, hingga 20 tahun setelah bencana Chernobyl, nuklir menjadi tidak populer. Awal tahun 2000 muncul apa yang disebut nuclear renaissance atau kebangkitan kembali nuklir. Ini wacana yang dikonstruksi industri nuklir global.

Mereka memakai dua alasan: pertama adalah perubahan iklim yang terjadi akibat penggunaan energi fosil dan kedua adalah cenderung meningkat dan tidak stabilnya harga minyak dunia.

Nah, nuklir ditawarkan karena pertama tidak mengeluarkan efek rumah kaca (yang menyebabkan perubahan iklim-red) dan kedua, secara ekonomi jangka panjang jauh lebih murah, meski butuh dana investasi awal sangat besar.

Hitung-hitungan ekonominya: untuk sebuah reaktor yang bisa berproduksi hingga 50 tahun harga listrik yang dihasilkan 4 sen per kilowatt hour, sementara energi fosil hampir dua kali lipat, apalagi energi terbarukan yang harganya bisa berkali lipat, sangat mahal. Inilah yang menyebabkan nuclear renaissance menyebar ke Asia termasuk Indonesia.

DW
Bagaimana sejarah perkenalan Indonesia dengan nuklir?

SA
Sejarah Indonesia dengan nuklir cukup tua. Indonesia membangun Lembaga Tenaga Atom tahun 1958, yang kelak tahun 1964 menjadi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Era Soekarno, Kepala BATAN adalah jabatan penting setingkat menteri.

Ketika itu, Soekarno sangat serius mengembangkan nuklir antara lain karena politik: dia ingin mengembangkan bom atom untuk menakuti-nakuti Malaysia yang saat itu sedang berkonfrontasi dengan Indonesia. Indonesia saat itu sempat meminta bantuan ke Cina untuk membangun senjata nuklir. Tapi rencana itu gagal karena tahun 65, Soekarno keburu digulingkan.

DW
Setelah itu apa yang terjadi dengan program nuklir Indonesia?

SA
Pada era Orde Baru, BATAN dikembangkan untuk tujuan damai penelitian. Kita punya 3 reaktor: di Bandung yang dibangun atas bantuan Amerika, di Yogya bantuan Rusia dan di Serpong atas bantuan Jerman yang merupakan reaktor terbesar di Asia Tenggara.

Meski desain awalnya Jerman, tapi sebagian besar reaktor, kecuali bagian intinya, kini sudah dimodifikasi oleh para ahli nuklir Indonesia.

DW
Apakah kita memang butuh nuklir?

SA
Masalahnya itu sudah diputuskan pemerintah. Tahun 2025 kita akan membangun empat reaktor dengan kapasitas masing-masing seribu megawatt, yang jika dibandingkan dengan total suplai listrik nasional 2025, maka kontribusinya hanya dua persen.

Itu sangat kecil jika dibanding dengan resiko.

DW
Bisa Anda jelaskan resiko itu?

SA
Para teknokrat selama ini hanya menghitung aspek teknologi dan ekonomi. Tapi tidak bicara resiko sosial. Karena mengoperasikan sebuah sistem yang canggih seperti nuklir membutuhkan sistem kelembagaan yang kuat dan disiplin sangat tinggi.

Bahkan dalam kasus tragedi Fukushima, Jepang, kesimpulan akhir menyebut tragedi itu terjadi bukan karena bencana alam, tapi bencana akibat manusia, karena kalangan industri nuklir tidak cukup mengantisipasi situasi darurat (seperti bencana alam-red).


[Read More...]


Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi Percontohan



Sistem Safety dan Security Nuklir Indonesia Jadi PercontohanJakarta — Bicara nuklir tentu saja tidak melulu tentang bahaya bom atom, kebocoran radiasi atau pemanfaatan teknologi bagi aspek kehidupan manusia di berbagai bidang.

Satu hal mesti diketahui adalah masalah safety dan security di mana letak reaktor nuklir dan bahan nuklir itu berada.

Bagaimanapun,safety dan securityuntuk mencegah agar bahan nuklir tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Demikian pula dengan keberadaan fasilitas nuklir seperti reaktor nuklir harus dijaga keamanannya 24 jam dalam sehari. Tidak bisa dan tidak boleh diakses oleh orang-orang yang tidak berkepentingan apalagi dengan maksud yang tidak baik.

Safety di bidang nuklir sangat terkait hubungannya dengan security. Safety adalah salah satu komponen utama yang selalu yang ditekankan di dalam pelaksanaan permanfaatan teknologi nuklir. “Masalah safety dan security pada penggunaan teknologi nuklir, akhir -akhir ini menjadi perhatian dari masyarakat dunia yang mengelola dan bergerak memanfaatkan teknologi nuklir.

Intinya safety dan security ini dimaksudkan bagaimana melindungi masyarakat dan lingkungan dari bahaya radiasi,”ungkap Kepala Pusat Kemitraan Teknologi Nuklir (PKTN) Ferly Hermana yang ditemui di kantornya di kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Lebih jauh dijelaskan Ferly, security adalah menjaga agar sumber radioaktif dan bahan nuklir tidak berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab. Keterkaitan safety dan security, intinya bila security lemah otomatis akan berdampak padasafety-nya.

Masalah safety dan security itu sudah diatur dalam peraturan International Atomic Energy Agency (IAEA) yang mengikat bagi setiap anggotanya. Dan, Indonesia juga telah mengatur hal yang sama dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Perka BAPETEN) No.1 Tahun 2009 tentang Sistem Proteksi Fisik untuk Instalasi dan Bahan Nuklir.

BAPETEN selaku badan pengawas yang intinya mengatur keamanan sumber radiasi dan keamanan fasilitas nuklir. ”Untuk fasilitas nuklir itu adanya di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Sedangkan bahan nuklir adanya di BATAN Pasar Jumat, Jakarta,”tutur Ferly yang baru saja pulang dari Malaysia. Di sana dia mempresentasikan tentang safety dan security fasilitas dan bahan nuklir.

Ferly juga memaparkan bahwa tugas dari PKTN mengkoordinasi-kan keamanan di kawasan nuklir Serpong bila ada kedaruratan nuklir. “Sistem keamanan dan keselamatan di kawasan ini termasuk yang terbaik di regional Aseandan akan menjadi percontohan di kawasan Asia Pasifik. Bahkan, para pengamat nuklir mengatakan bahwa infrastruktur di Kawasan Nuklir Serpong sudah menyelenggarakan sistem proteksi fisik yang baik sebagai pusat nuklir di Indonesia,” ungkap Ferly. Diibaratkan oleh para ahli nuklir dan pengamat nuklir, infrastruktur Kawasan Nuklir Serpong seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam skala yang kecil.
 
Sejauh ini di kawasan Puspiptek Serpong diterapkan physical protection atau proteksi fisik yang memiliki tiga fungsi yakni Detection,Delay, dan Response. Deteksi dengan menggunakan alat-alat deteksi diperuntukkan melihat ruangan berbagai kegiatan dan aktifitas baik indoor maupun outdoor. Dari sebuah ruangan yang berisi belasan monitor terpantau berbagai kegiatan di sana.

Sedangkan Delay, pagar- pagar yang dibuat sesuai dengan aturan dan dibuat berlapis. Ketika memasuki Kawasan Nuklir Serpong, maka disebut zona atau limited area. Bila sudah memasuki kawasan BATAN disebut protected area. Protected area yang dibatasi pagar kuning hanya orangorang yang berkepentingan saja yang bisa memasuki area itu dan dengan menggunakan kartu khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Area lebih ke dalam lagi yaitu area yang lebih dekat ke pusat bahan nuklir, yang disebut inner area. Untuk bisa masuk ke area ini pengawasan keamanan lebih ketat lagi.”Jadi, pengamanan berlapis-lapis, kelihatannya kaku dan keras, tapi lebih baik kami mencegah dari pada menanggulangi jikasudah ada kejadian,” ungkap Ferly.

Fungsi physical protection yang ketiga adalah Respon yang diselenggarakan oleh Unit Pengamanan Nuklir (UPN). “Kita punya tim-tim UPN tim rescue, tim damkar, tim medis, tim lingkungan,tim keteknikan,”jelas Ferly. Ferly juga menjelaskan ketika memasuki area Puspiptek, siapa saja yang akan memasuki kawasan yang dikelolanya akan ditanyakan keperluan dan mau bertemu dengan siapa.

”Nah ketika mobil berhenti, sebelum masuk ke dalam, di perhentian mobil atau kendaraan motor itu sudah ada kamera pemantau hingga ke bagian bawah kendaraan. Jadi, di bawah mobil itu tersedia kamera,” paparnya. Jalur jalan pun tidak dibuat lurus tapi berbelok-belok agar tidak langsung, dan menghambat ke tempat tujuan, agar apabila ada yang bermaksud tidak baik bisa dicegah terlebih dahulu.

Prosedur keamanan, setiap kendaraan baikmobil maupun motor yang masuk diperiksa dan harus mempunyai pass ranmor yang mencantumkan nama pemilik kendaraan dan nomor plat kendaraan. Demikian juga setiap pegawai harus menggunakan badge selama di dalam kawasan.

Untuk yang masuk lokasi pagar kuning ada alat magnetic card reader yang dapat memonitor keluar masuk karyawan, masuknya kapan dan jam berapa? Jadi bila ada kejadian, bisa didetek siapakah pegawai tersebut masih ada di dalam pagar kuning atau sudah ada di luar. Dan, tidak semua yang bisa masuk pagar kuning kemudian bisa masuk reaktor nulklir. Ada pagar dan lapisan lagi yang harus dilewati dengan ketentuan yang makin ketat.

Kondisi yang agak ribet itu disadari oleh Ferly sebagai penanggung jawab. Namun, demi safety dan security tadi harus ditegakkan.”Semua itu kami lakukan demi keamanan dan keselamatan kita semua, termasuk kami yang menjadi pengelola di kawasan sini maupun masyarakat di luar sana,” tutur Ferly lagi.

Untuk tetap waspada dengan keamanan dan keselamatan setiap tahunnya Tim Respon melakukan latihan dengan rutin dan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. "Alhamdulillah sejak reaktor riset ini berdiri hingga dua puluh enam tahun kemudian, kita tetap aman dan selamat. Bahkan mendapat pujian dari berbagai negara untuk masalah safety dan security” Ferly mengungkapkan.(adv. media ind)


  ● BATAN  
[Read More...]


[Foto] Fasilitas Nuklir Indonesia



Peninjau melihat kolam reaktor riset nuklir di reaktor serba guna G.A. Siwabessy milik Badan Tenaga Atom (BATAN), Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (23/4). Kawasan Nuklir Serpong merupakan kawasan pusat Litbangyasa iptek nuklir yang dibangun dengan tujuan untuk mendukung usaha pengembangan industri nuklir dan persiapan pembangunan serta pengoperasian PLTN di Indonesia. (ANTARA/ BNPT/RN)
 
 


  ● Antara  
[Read More...]


Teknologi Nuklir Indonesia Paling Maju di ASEAN



Ilustrasi PLTN
Indonesia, di samping sebagai negara terbesar dalam organisasi negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), juga merupakan negara dengan teknologi nuklir paling maju.

Hal itu dikatakan anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Muhammad Najib di sela Seminar Maintaining a Southeast Asia Free of Nuclear Weapons di Jakarta, Selasa (12/2).

Najib mengatakan Indonesia saat ini sudah memiliki tiga reaktor nuklir. "Yang pertama didirikan itu di Bandung, lalu Kartini di Yogya, dan di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknolog (Puspiptek)," kata dia.

Teknologi nuklir yang dimiliki Indonesia saat ini, kata dia, sudah mampu menghasilkan bibit-bibit tanaman baru dan obat-obatan.

Indonesia juga sudah berhasil mempengaruhi ASEAN supaya menjadi kawasan bebas senjata nuklir. Langkah itu mendapat apresiasi dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Selain itu, lanjut dia, baik pemerintah maupun DPR sudah memutuskan Indonesia tidak akan mengembangkan kemampuan teknologi nuklir untuk membuat senjata nuklir. "Kita hanya mengembangkan untuk tujuan damai seperti energi, kesehatan, pertanian, peternakan atau hal lain yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan," jelas Najib.(mdk/fas)


  © Merdeka 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


IAEA beri tiga alat pemantau radiasi nuklir



http://img.antaranews.com/new/2012/02/small/20120213IAEALOGO.jpgInternational Atomic Energy Agency (IAEA) (ANTARA News/Lukisatrio)

 Jakarta  Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) akan memberikan tiga unit pemantau radiasi nuklir atau Radiation Portal Monitor (RPM) pada tahun ini.

"Rencananya tambahan RPM tersebut akan dipasang di pelabuhan yang ada di Manado, Makassar dan Semarang," ujar Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman di Jakarta, Selasa.

Dengan ditambahnya tiga alat pemantau tersebut, kata dia, maka RPM yang ada di Indonesia berjumlah tujuh unit. Sebelumnya empat RPM sudah dipasang di Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan dan Batam.

Bapeten, lanjut dia, melakukan pengawasan ketenaganukliran sesuai dengan amanat UU 10/1997. Pengawasan dilakukan melalui tiga cara yakni regulasi, perizinan dan inspeksi.

"RPM tersebut diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya radiasi nuklir pada barang-barang yang masuk ke Tanah Air," katanya.

Ia mengungkapkan saat ini pemanfaatan tenaga nuklir semakin meningkat baik dibidang kesehatan, industri maupun penelitian. Peningkatan tersebut juga harus diimbangi dengan peningkatan dan penguatan kapasitas pengawasan.

As juga menambahkan pengawasan lalu lintas perdagangan bahan nuklir dilakukan secara ketat diperlukan agar terhindar dari penyalahgunaan dan penyimpangan dari sebuah pemanfaatan nuklir untuk tujuan non damai.

Pegawasan lalu lintas perdagangan bahan nuklir secara ketat sesuai dengan peraturan Menteri Perdagangan dan dan Menteri Energi Sumber Daya Mineral yang melarang bahan-bahan mentah yang mengandung unsur-unsur strategis dilarang untuk dijual/diekspor, kecuali diolah terlebih dahulu.***4***


  • Antara 
[Read More...]


Indonesia Tidak Akan Pernah Buat Senjata Nuklir



Foto: Orange  Jakarta  Indonesia berkomitmen untuk tidak menggunakan teknologi nuklirnya untuk membuat senjata nuklir. Indonesia pun dianggap berhak untuk meminta kompensasi dari negara-negara maju atas komitmennya tersebut.

"Indonesia sudah berkomitmen untuk tidak membuat senjata nuklir. Indonesia hanya akan menggunakan teknologi nuklirnya untuk hal-hal yang bermanfaat untuk manusia dan kemanusiaan," ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, di sela-sela seminar Kawasan ASEAN Tanpa Senjata Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).

"Dengan komitmennya itu Indonesia berhak untuk mendapatkan kompensasi dari negara-negara maju yang mendukung pemusnahan senjata nuklir," lanjut Nadjib.

Nadjib menerangkan kompensasi yang telah didapatkan Indonesia antara lain bantuan pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang teknologi nuklir. Menurutnya hal tersebut sangat bermanfaat bagi Indonesia karena teknologi nuklir juga dapat digunakan untuk memantau bencana alam.

"Alat-alat yang digunakan dalam teknologi nuklir sangatlah canggih dan dapat juga dipakai untuk memantau bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, seperti tsunami maupun gunung meletus," pungkas anggota Komisi I itu.(faj)

 Indonesia dengan Mudah Mampu Bangun Senjata Nuklir

Indonesia disebut dapat dengan mudah membuat senjata nuklir apabila diinginkan. Hal itu dikarenakan Indonesia kini telah memiliki teknologi nuklir yang cukup maju untuk membuat senjata nuklir.

“Patut diketahui Indonesia dapat dengan mudah memiliki senjata nuklir jika mau. Teknologi nuklir yang kini Indonesia miliki dapat dengan mudah diubah menjadi teknologi untuk mebuat senjata nuklir,” ujar anggota Komisi I DPR, M. Nadjib, dalam seminar Kawasan ASEAN Bebas Nuklir di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/2/2013).


“Itu sebabnya komunitas internasional mengawasi sangat ketat negara-negara yang diketahui memiliki tenaga nuklir, seperti Iran,” lanjut Nadjib.


Nadjib menyebut komunitas internasional curiga dengan niat Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir karena teknologi tersebut memang dapat dengan mudah diselewengkan untuk membuat senjata nuklir.


“Iran walaupun sampai sekarang tidak terbukti mengembangkan senjata dan mau bekerja sama dengan IAEA, namun tetap saja pihak Barat curiga dengan Iran,” terang anggota DPR itu.(
faj)


  ● Okezone  

[Read More...]


Kepala BATAN: "Reaktor Eksperimental Daya Lebih Mudah Diterima Publik"



Jakarta � Energi Nuklir menjadi salah satu opsi yang bisa dipilih untuk mengatasi persoalan krisis energi di tanah air. Di tengah semakin menipisnya sumber-sumber energi dari fosil seperti minyak bumi dan batu bara, energi nuklir menjadi alternatif sumber energi terbaik untuk memenuhi kebutuhan hampir 260 juta penduduk Indonesia ini. Untuk mewujudkan opsi terbaik ini tentu membutuhkan dukungan seluruh stakeholders.

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun sejalan dengan belum diterimanya secara utuh nilai positif dari rencana pemerintah terhadap pembangunan PLTN oleh sebagian masyarakat, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto mewacanakan gagasan pembangunan reaktor eksperimental daya terlebih dulu sebagai pilihan mendesak untuk mengatasi kebutuhan energi listrik di seluruh wilayah di tanah air.

"Reaktor ekperimental daya diharapkan mampu menjadi role model pembangunan PLTN dalam skala kecil sehingga masyarakat nantinya dapat melihat secara objektif jika bisa diwujudkan bahwa sesungguhnya PLTN itu adalah teknologi yang aman dan ramah lingkungan," jelas insinyur nuklir UGM Yogyakarta.

Untuk mengetahui langkah taktis dan strategis bagaimana mengimplementasikan terobosan program-program BATAN ke depan, Doktor Nuclear Engineering University of Tokyo yang baru dua bulan menjabat sebagai Kepala BATAN ini berkesempatan melakukan wawancara dengan Ag. Sofyan dari Suara Karya. Berikut petikannya :

Apa langkah-langkah yang anda lakukan selepas menerima kepercayaan menjadi Kepala BATAN ?

Pertama kita lakukan pendekatan kepada stakeholders terkait termasuk di dalamnya media massa. Kita juga menggandeng pemangku kepentingan lain termasuk perguruan tinggi, karena BATAN menyadari sebagai lembaga litbang, kita tak akan dapat berdiri sendiri. Salah satunya ITB yang memiliki ahli reaktor nuklir akan intens dilibatkan dalam kerja sama ini. Intinya kita akan lebih mengikat banyak jejaring, karena BATAN tentu tak dapat berjalan sendiri untuk mensukseskan progamnya.

Kita bisa melihat contoh yang bagus dan belajar dari metode yang diterapkan di Jepang dimana sejumlah peneliti dan komunitas intelektual (universitas) turut mendukung dan bekerja bersama-sama dalam menciptakan PLTN yang aman dan bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Di Indonesia justru ironis, kami dicap kalau semua yang berkaitan dengan nuklir itu urusannya BATAN saja. Seolah-olah di luar BATAN tak perlu dilibatkan.

Bagaimana respon masyarakat terhadap penggunaan teknologi nuklir ?

Saya menilai persepsi publik terhadap teknologi nuklir semakin positif dan cenderung meningkat. Ada progress yang cukup baik di masyarakat terhadap penerimaan energi nuklir. Itu bisa dilihat pada hasil jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Andira Karya Persada, yang menurut saya memberikan surprise karena hasilnya menunjukkan persepsi masyarakat yang baik terhadap BATAN dalam konteks bicara tentang teknologi nuklir. Survei menunjukkan setelah Presiden, BATAN dianggap sebagai institusi yang terpercaya berbicara tentang nuklir. Meskipun betul itu memang tugas pokok kita, namun kepercayaan ini tentu menjadi modal yang menggembirakan bagi BATAN untuk melangkah lebih jauh. Hasil survei itu memberikan gambaran positif penerimaan masyarakat pada alternatif penggunaan energi nuklir sebagai opsi mengatasi krisis energi nasional. Secara umum persepsi masyarakat tentang Iptek Nuklir lebih baik di tahun ini. Hal itu bisa kita cermati dengan meningkatnya persepsi positif masyarakat terhadap kegunaan teknologi nuklir.

Bagaimana dinamika persepsi publik terhadap survei tersebut ?

BATAN secara rutin menggiatkan jajak pendapat berdasarkan penetapan Renstra PDIN 2010-2014. Awalnya, pada 2010 persepsi masyarakat secara nasional ditunjukkan dengan angka 59,7 persen menerima pemanfaatan Iptek Nuklir dalam bidang energi melalui pembangunan PLTN, sebanyak 25,5 persen menilai perlunya pembangunan PLTN dan 14,8 persen tidak tahu.

Sedangkan pada 2011, terjadi penurunan penerimaan pembangunan PLTN dengan 49,5 persen setuju, 35,5 persen responden menolak, dan 15 persen tidak tahu. Jajak pendapat dari 7 Oktober hingga 21 Oktober 2012, menemukan bahwa 52,7 persen dari keseluruhan responden menerima pembangunan fasilitas PLTN di Tanah Air, sedangkan 25,23 persen tidak setuju, dan 22,83 persen tidak tahu.

Bagaimana memberikan pemahaman bahwa teknologi nuklir dibutuhkan untuk masa depan ?

Salah satu hal yang penting untuk terus disosialisasikan adalah mengubah mindset, bahwa kita tidak lagi kaya sumber energi. Suatu saat sumber energi dari fosil seperti minyak dan batu bara akan habis. Oleh karenanya BATAN secara aktif mengajak berbagai kalangan, termasuk akademisi dan para jurnalis mempunyai persepsi yang sama terhadap energi alternatif positif lainnya, salah satunya energi nuklir. Saat ini Iptek Nuklir memang telah dipergunakan untuk program nonenergi. Melalui kegiatan ini, nuklir bisa langsung dimanfaatkan melalui berbagai aplikasi yang hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Contohnya Teknik Serangga Mandul (TSM) dan pemuliaan varietas padi unggul adalah aplikasi teknologi nuklir yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Bagaimana tentang pembangunan PLTN ?

Indonesia masih membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk mewujudkan obsesi itu. Beberapa daerah di wilayah tanah air memang telah mengajukan tawaran untuk menjadikan lokasi alternatif tapak nuklir.

Namun, yang menjadi masalah adalah ketidakpastian regulasi maupun kebijakan di daerah yang sering berubah-ubah seiring pergantian pimpinan daerah yang bisa berpengaruh terhadap keberlangsungan tapak nuklir ini.

Saya katakan daerah harus memiliki planning jangka panjang yang kuat yang tidak akan membawa pengaruh terhadap policy yang sudah diambil meskipun pucuk pimpinan daerah bisa saja berganti kapan pun.

Di usia ke 54 BATAN, apa harapan anda ?

Jujur saya ingin membawa BATAN kembali ke khittah sebagai lembaga penelitian dan pengembangan (litbang). Khitah BATAN memang seperti itu dan bukan sebagai lembaga pembuat kebijakan energi. Soal itu barangkali adalah otoritas yang bisa diserahkan kepada Kementerian ESDM maupun institusi terkait seperti DEN. BATAN ingin tugas dan fungsinya hanya memberikan masukan atas opsi-opsi terbaik yang bisa dipilih terhadap Iptek Nuklir. Sementara keputusan finalnya dikembalikan kepada pemerintah dengan persetujuan DPR.

Apa tantangan BATAN ke depan ?

Tantangan utama BATAN adalah menyiapkan diri kapan pun pemerintah menghendaki energi nuklir dapat segera diimplementasikan di negeri ini dengan pembangunan PLTN. Kita sekuat tenaga lakukan terus langkah tersebut agar tidak terjadi demotivasi pada seluruh karyawan dan para peneliti di BATAN. Mereka harus punya semangat yang kuat bahwa suatu saat obsesi pembangunan nuklir akan bisa terwujud. Di sisi eksternal, jika kelak policy pemerintah untuk menggunakan energi nuklir dilakukan, kita sudah siap setiap saat kapan pun dan siapa pun pemerintahannya. Untuk mencegah sikap apatis dan skeptis, BATAN menciptakan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi, karena kita memiliki 3 reaktor riset yang menjadi tumpuan melakukan kegiatan.

Reaktor yang sudah ada sejak tahun 1965 harus tetap berjalan dengan baik dan kegiatan yang dilakukan sangat penting untuk menunjukkan eksitensi BATAN tak hanya di tingkat nasional tapi juga di mata internasional. Australia barangkali bisa menjadi contoh yang sangat baik. BATAN-nya Australia tidak punya PLTN, namun tenaga mereka expert dan eksis di seluruh dunia di bidang nuklir. Maka kita harus bisa seperti itu, tanpa PLTN-pun kita harus bisa mencetak tenaga yang expert dan mendunia. Dan kita siap untuk itu.

Penggunaan energi nuklir di masa depan akan menjadi pilihan yang tak terelakkan. Kita bisa lihat contoh Uni Emirat Arab yang kaya energi, mereka juga telah memikirkan alternatif penggunaan energi nuklir sebagai pilihan tepat masa depan.

Apa sebetulnya obsesi anda sebagai orang yang sudah lama berkutat di bidang kenukliran ?

Dengan berkaca kepada sejarah selama hampir tiga dekade keinginan untuk mewujudkan PLTN belum terlaksana. Saya ingin mewujudkan pembangunan reaktor eksperimental daya yang akan digunakan sebagai reaktor riset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik dalam skala kecil tetapi tidak komersial. Ini semacam PLTN mini, dimana di situ masyarakat dapat melihat maket PLTN yang safe sehingga menambah keyakinan pada masyarakat bahwa teknologi nuklir untuk kepentingan energi sesungguhnya aman untuk digunakan.
Keinginan ini adalah upaya terobosan mengingat kesulitan yang demikian besar jika memakai jalur konvensional untuk membangun PLTN. Pembangunan reaktor eksperimental daya ini saya asumsikan lebih mudah diterima selain tidak membutuhkan proses politik yang panjang. Apalagi itu juga masih dalam domain tugas BATAN. *

● Suara Karya
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri