[Foto] PLTU Pacitan Mulai Beroperasi
Palu akan tambah PLTU
"Kita mau tambah investasi pembangkit lagi, tapi masyarakat sekitar masih menolak. Makanya sekarang kami masih sosialisasikan dulu kepada masyarakat," kata Wali Kota Palu Rusdy Mastura di Palu, Minggu.
Rusdy Mastura mengatakan, pembangkit itu akan dibangun di area PLTU yang ada karena lokasinya masih mencukupi.
Dia mengatakan investor yang akan berinvestasi masih tetap investor yang sama pada pembangkit sebelumnya, yakni dari China.
Cudi mengatakan investasi itu dibutuhan karena kebutuhan listrik akan terus berkembang meskipun nanti PLTA Sulawena, Poso sudah terkoneksi dengan jaringan PLN Palu.
Masyarakat di sekitar lokasi pembangkit di Kelurahan Mpanau, Palu Utara, beberapa waktu lalu memprotes perusahaan dan pemerintah daerah karena menganggap limbah hasil pembakaran batubara berbahaya bagi lingkungan.
"Hasil penelitian hasil pembakaran batu bara itu bukan bahan berbahaya, justru lebih berbahaya limbah rumah sakit," kata Cudi.
Dia mengatakan pemerintah Kota Palu sedang melakukan sosialisasi rencana pemanfaatan limbah hasil pembakaran batu bara menjadi bahan baku batako ringan karena itu bukan bahan berbahaya.
Dia mengatakan rencana pembuatan batako ringan tersebut sedang dalam penelitian agar bisa mendapatkan hasil yang berkualitas dan ringan melalui proses campuran bahan-bahan tertentu. Selain itu juga bisa ditambah dengan sekam padi.
Ketua Harian DPD Partai Golkar Sulawesi Tengah itu mengatakan jika limbah hasil pembakaran itu sudah dimanfaatkan maka akan menambah penghasilan ekonomi masyarakat sekitarnya.
Ia mengatakan dirinya juga sudah meminta PT Pusaka Jaya Palu Power selaku operator PLTU tersebut agar menanami pohon bakau di sekitar lokasi pembangkit sehingga bisa membantu menghalau debu hasil pembakaran PLTU.
Selain itu, kata dia, perusahaan juga diminta membeli mobil mbulance agar bisa digunakan masyarakat setempat. "Itu kalau mereka setuju," katanya.
Cudi mengatakan rencana penambahan pembangkit tersebut tergantung dari kesiapan masyarakat sekitar karena pemerintah kota sendiri tidak bisa memaksakan mereka untuk menerimanya.
Dia mengatakan penambahan pembangkit tersebut tidak lagi melakukan pembebasan lahan karena lahan yang ada saat ini cukup untuk penambahan pembangkit baru.
[Foto] Pembangunan Proyek PLTU Tidore Dikebut
Direncanakan PLTU Tidore ini akan selesai pada bulan September 2013 dan akan dipercepat pekerjaannya bulan Agustus 2013. Agus Trimukti/Humas PLN.
Saat ini beban puncak di Ternate mencapai 22 MW sedangkan daya produksi hanya 21 MW yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Agus Trimukti/Humas PLN.
10 PLTU Baru Beroperasi Awal Tahun Ini

Antam Bangun PLTU Batu Bara Senilai US$ 145 Juta
Demikian mengutip keterbukaan informasi di BEI, Senin (17/12/2012). Untuk mendukung proyek di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara terebut, perseroan telah menandatangani kontrak EPC (engineering, procurement and construction) dengan Sumitomo Corporation.
PLTU batu bara ini memiliki tipe circulating fluidised bed (CFB). Setelah PLTU batu bara ini beroperasi, biaya energi feronikel Antam diharapkan dapat turun sekitar 15-20%.
PLTU batu bara Pomalaa diharapkan dapat memenuhi kebutuhan listrik fasilitas pendukung pabrik FeNi I, II dan III. Perseroan saat ini tengah melakukan modernisasi dan optimasi pabrik FeNi I di Pomalaa yang sudah beroperasi sejak 1976.
Pembangunan PLTU batubara Pomalaa akan memerlukan waktu 25 bulan untuk Unit-1 dan 28 bulan untuk Unit-2. PLTU batubara Pomalaa membutuhkan sekitar 300.000 ton batubara kalori rendah setiap tahun dengan nilai kalori 4.200 kcal/kg (GAR).
● Inilah

PLTU Jeneponto Siap Beroperasi

PLTU Tello Meledak, PLN Sulselbar Pemadaman Bergilir
Ilustrasi. (Foto Pebrianto Eko Wicaksono/Okezone) |
"Saya tinggal di Jalan Hertasning belakang DPRD Makassar, mati lampu sejak pukul 18.30 sampai 20.30 wita. Saat di sini menyala, kawasan Tamalate mulai mati lampu," urai Riny Svinndall kepada Okezone, Kamis (1/11/2012) malam.
Warga Jalan Haji Kalla Suwarny mengaku kompleks perumahannya mengalami pemadaman lampu selama dua jam. "Padamnya mulai pukul 08.00 sampai jam 22.00 wita. Kami kepanasan. Soalnya angin tidak bertiup, gerah," katanya.
Tak hanya itu, Andi Hajra warga Jalan Daeng Tata juga mengeluhkan padamnya lampu di kompleks perumahannya. Lampu padam pada pukul 08.00 hingga 20.00 Wita. "Kami kepanasan, walaupun sore tadi sempat hujan sebentar tapi tidak cukup. Ada anak tetangga, masih kecil sampai menangis meraung-raung karena kepanasan," ujar Hajra.
Saat dikonfirmasi, pihak PLN mengakui hingga Kamis malam belum semua pembangkit listrik dalam sistem kelistrikan Sulselbar masuk ke dalam sistem. Itu karena beberapa di antaranya harus menjalani pendiingan boiler pembangkit listrik lalu kemudian di-restart lagi.
"Itu pun untuk dipanaskan kembali membutuhkan waktu delapan jam. Waktu pendinginan bolier butuh 30 jam. Ini memang karakteristik pembangkit berbahan bakar batu bara," jelas Manajer Transmisi dan Distribusi PLN Sulselbar Andi Lakipadada.
Lakipadada mengemukakan, saat ini daya mampu PLN Sulselbar sebesar 491 megawatt (mw). Terjadi pengurangan daya mampu dari sebelumnya sebesar 784 mw.
"Ini terjadi sejak terjadinya gangguan sistem dengan terbakarnya trafo step up di PLTU Tello Rabu malam. Saat ini PLN sudah tidak mensuplai lagi Semen Tonasa dan Semen Bosowa, tapi daya mampu tetap menurun," imbuh Lakipada.
Data yang diungkapkan PLN Sulselbar menyebutkan, ada dua pembangkit besar yang belum bisa masuk sistem karena sedang proses pendinginan boiler untuk di-restart lagi. Keduanya adalah PLTU Barru dengan daya terpasang 35 mw, PLTU Jeneponto 200 mw.
"PLTU Barru dan Jeneponto masing-masing butuh waktu 30 jam untuk pendinginan boiler dan delapan jam untuk pemanasan. Jadi keduanya efektif masuk ke sistem kelistrikan PLN Sulselbar 2 November 2012 pukul 24.00," pungkas Lakipadada.(ade)
PLN Siap Operasikan PLTU Sebalang
"Pembangkit unit pertama sedang memasuki fase low test, yaitu uji ketahanan termasuk unsur safety selama satu minggu," kata dia di Lampung, Kamis (18/10). Selanjutnya, bakal dilakukan reliability test selama satu bulan. Pada fase ini, PLN memastikan tidak ada gangguan. Terakhir, akan menggelar performance test selama satu pekan.
Pada fase ini, perseroan menguji kemampuan pembangkit mencapai kapasitas maksimal. "Dengan commisioning on date akhir tahun ini, kami siap mengoperasikan pembangkit unit pertama," jelas dia. Unit kedua dijadwalkan memasuki tahap operasi sekitar kuartal III tahun depan.
Investasi proyek ini terdiri dari dua jenis mata uang, yaitu 154,27 juta dollar AS dan 595,1 miliar rupiah. Daryanto menuturkan penyerapan anggaran telah mencapai 85 persen untuk investasi bermata uang dollar AS dan 90 persen untuk dana bermata uang rupiah.
Proyek ini juga merupakan sinergi antar-BUMN lantaran PLN memercayakan pekerjaan engineering, procurement, and construction (EPC) pada PT Adhi Karya Tbk. Effective date kontrak ditandatangani pada Oktober 2007 silam. Sejatinya, tenggat pengoperasian unit pertama PLTU Sebalang ini dipatok pada November tahun lalu alias mundur satu tahun menjadi akhir 2012.
Begitu juga dengan unit kedua yang dijadwalkan beroperasi pada Februari 2012 lalu. "Keterlambatan karena faktor teknis karena kami juga harus memastikan instalasi dan kualitas dapat bekerja optimal," tegas Daryanto. Meski mundur, hal itu tidak mengganggu sistem kelistrikan PLN wilayah Lampung.
Dia memerinci, saat ini cadangan listrik masih mencapai 63 mw. Jika PLTU Sebalang beroperasi, justru akan memperkuat pasokan listrik Lampung. "Bahkan jika terjadi trip atau gangguan, misalnya pada PLTU Tarahan, tidak ada defisit dan masih sanggup menambah nett 26 mw," papar dia.
Kebutuhan Industri
PLN juga memperhitungkan sebagian besar tambahan aliran listrik PLTU Sebalang sebanyak 100 mw itu bakal langsung terserap oleh para pelanggan, terutama kalangan industri yang telah mengajukan permintaan listrik hingga total 83,4 mw.
"Dari cabang Tanjung Karang sendiri kan ada permintaan 60 mw dari pelanggan besar," papar Daryanto. Angka itu berasal dari 27 industri dan belum termasuk dari dua cabang di bawah tanggung jawab PLN Wilayah Lampung. Permintaan juga datang dari dua cabang lainnya, yaitu Metro sebanyak 20 perusahaan yang membutuhkan 21 mw dan beberapa industri di Kota Bumi yang menunggu pasokan listrik 2,4 mw.
Lampung menjadi basis bagi produksi industri berbahan baku alam seperti CPO, kakao, kopi, kelapa, dan semen. "Salah satunya permintaan terbesar dari produsen semen PT Holcim Indonesia Tbk yang ingin investasi di tahun 2013," kata Manajer Bidang Niaga PLN Lampung, Indra Bungsu, sebelumnya. nig/E-11
PLTU Bosowa Energy Tahap II Dioperasikan
![]() |
| Ilustrasi |
Ratusan Petani Batang Tolak Pembangunan PLTU
Rencananya, area PLTU tersebut akan dibangun di atas lahan pertanian mereka. Para petani tersebut berasal dari lima desa yang ada di Kecamatan Batang, antara lain Desa Karanggeneng, Ujungrejo, Pomowareng, Roban, dan Wonokerso. "Kami menolak pembangunan PLTU," kata para petani yang secara khusus datang ke Jakarta dengan menggunakan 21 Bis dari Jawa Tengah.
Para petani juga membawa atribut seperti topi petani, alat-alat pertanian dan juga padi. "Sebelum kesini, kami juga sudah melakukan demo di kantor DPRD di sana," ujar Mustaqim, salah seorang pendemo.
Aksi yang berlangsung sekitar 2 jam tersebut berlangsung aman. Aksi demonstrasi para petani ini baru berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Demo ini dikawal seratus lebih anggota polisi.
Ada PLTU Paiton, Ratusan Dusun di Probolinggo Masih Gelap
| Warga mengontrol panel pembangkit listrik tenaga surya di Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Kamis (12/1). TEMPO/Kink Kusuma Rein |
Menurut Dewi, sebagian dusun-dusun tersebut mengandalkan pasokan dari program listrik desa serta program listrik tenaga surya. Tahun 2012 sebanyak lima dusun mendapat listrik desa.
Dewi menuturkan sebagian besar dusun yang belum mendapatkan listrik PLN karena secara geografis letaknya jauh dari jangkauan jaringan listrik PLN. Bahkan ada yang berlokasi di lereng gunung. ”Faktor ini menjadi kendala bagi PLN,” kata Dewi, Senin, 11 Juni 2012.
Warga di Pulau Gili Ketapang juga masih banyak yang belum bisa menikmati listrik. Sejumlah dusun di pulau tersebut memang sudah dialiri listrik PLN, tapi hanya menyala selama 12 jam. Untuk mengatasinya tahun ini mulai dikerjakan proyek kabel bawah laut menuju pulau tersebut menggunakan biaya dari anggaran pendapatan dan belanja negara. ”Diharapkan tahun 2013 seluruh warga di Gili Ketapang sudah menikmati listrik 24 jam,” ucap Dewi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, ketika meresmikan beroperasinya PLTU Paiton 3, Selasa, 5 Juni 2012, mengingatkan pihak perusahaan menggencarkan program community social responsibility (CSR), termasuk memberikan aliran listrik kepada masyarakat setempat.
Dalam acara tersebut Jero Wacik mendapat laporan bahwa masih banyak dusun di Paiton yang belum dialiri listrik. ”Perlu dicek dan dibuat daftar dusun-dusun mana saja yang masih gelap serta harus mendapat prioritas. Di Paiton ada pembangkit listrik yang bisa dinikmati warga di Jawa dan Bali, tapi di Probolinggo dan Situbondo masih ada dusun-dusun yang gelap,” tuturnya.[DAVID PRIYASIDHARTA]
PLTU Tanjung Jati B Unit 4, Resmi Beroperasi
Dananjoyo Kusumo / Jurnal Nasional - Ilustrasi PLTU.Jurnas.com | MENTERI ESDM Jero Wacik,Senin (6/2) ini meresmikan beroperasinya PLTU Tanjung Jati B ekspansi Unit 4 dengan kapasitas 660 megawatt (MW) di Desa Tubanan, Kecamatan kembang, Jepara Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu, Dirut PLN Nur Pamudji mengungkapkan, keberadaan PLTU Tanjung Jati B ini memberikan sumbangsih yang signifikan dalam kelistrikan di Indonesia, khususnya pada sistem kelistrikan Jawa Bali. “Dari total kapasitas PLTU Batubara yang mencapai 13.000 MW, lebih dari 20 persennya merupakan sumbangan dari PLTU Tanjung Jati B dengan total kapasitas 2.640 MW,” kata Nur Pamudji, dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/2).
Kehadiran PLTU Tanjung Jati B ini, lanjut Pamudji, diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan dan keyakinan investor untuk menanamkan investasinya di Jawa Tengah. “Ketersediaan listrik di Jateng itu sudah surplus, sehingga hal ini diharapkan bisa lebih mendorong tumbuhnya investasi dan industri-industri besar di wilayah Jateng. Dengan demikian akan dapat meningkatkan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujarnya.
Sebagai informasi, PLTU Tanjung Jati B Unit 4 dibangun bersamaan dengan Unit 3 di atas lahan 150 hektar. Sedangkan pembangunannya memakan waktu sekitar 35 bulan dengan kontraktor pelaksana joint operation Sumitomo Corporation-Wasa Mitra Engineering. Pembangunan dua unit PLTU ini, membutuhkan nilai investasi 160 miliar yen dengan pendanaan dari JBIC dan bank komersial lainnya.
Listrik yang dihasilkan dari PLTU ini akan dialirkan ke sistem interkoneksi Jawa Bali melalui Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV) yakni dari GIS 500 kV Tanjung Jati ke Gardu Induk (GI) 500 kV Ungaran.
Dengan demikian pengoperasian PLTU Tanjung Jati B Unit 4 secara signifikan akan menambah pasokan listrik ke sistem interkoneksi Jawa Bali sehingga meningkatkan keandalan sistem, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan listrik khususnya di Jawa Bali yang meningkat pesat.
Saat ini beban puncak rata-rata di sistem kelistrikan Jawa Bali mencapai sekitar 19.700 MW. Sementara itu, sampai akhir tahun 2011 daya mampu di sistem Jawa Bali menjadi 23.000 MW. Selain itu, pengoperasian PLTU Tanjung Jati B Unit 4 yang kebutuhan konsumsi batubaranya mencapai dua juta ton per tahun itu, diperkirakan akan mampu mengurangi pemakaian BBM hingga 650 ribu kiloliter (kl) per tahunnya.
Hal tersebut akan memberikan penghematan sebesar Rp8,6 triliiun per tahunnya jika dibanding dengan menggunakan bahan bakar minyak. PLTU Tanjung Jati B Unit 3 dan 4 juga didisain sebagai pembangkit listrik yang ramah lingkungan yang menggunakan FGD flue gas disulfurization yang ditempatkan di sisi gas buang.
Dengan teknologi ini, asap hasil pembakaran batu bara yang menghasilkan gas sulfur yg berbahaya terhadap lingkungan ditangkap oleh lime stone atau batu kapur yang dicampur air laut pada FGD, sehingga asap yg terbuang lewat cerobong tinggal uap air saja yang ramah lingkungan.
• Jurnas.com
SUTT Lontar–New Tangerang Beroperasi, PLN Hemat Rp488 M per Bulan
Dananjoyo Kusumo / Jurnal NasionalTambahan daya 300 MW ini menjadikan sistem listrik Jakarta semakin handal karena menjadikan cadangan daya yang tersedia menjadi lebih besar.
Jurnas.com | MANAJER Senior Komunikasi Korporat PT PLN (Persero) Bambang Dwiyanto mengatakan, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Banten 3 x 315 MW yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 Januari 2011 lalu, sudah mampu memasok listrik sekitar 300 MW ke daerah Jakarta. Hal ini seiring dengan telah beroperasinya dua sirkuit Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Lontar – New Tangerang mulai kemarin.
"Tambahan daya 300 MW ini menjadikan sistem listrik Jakarta semakin handal karena menjadikan cadangan daya yang tersedia menjadi lebih besar. Beban puncak listrik Jakarta dan Tangerang saat ini sekitar 5.800 MW yang dipasok dari beberapa pembangkit dan gardu induk," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (2/2).
Selain menambah kehandalan pasokan, lanjut Bambang, kiriman listrik dari PLTU Lontar ini sangat besar artinya bagi pengurangan konsumsi bahan bakar minyak yang digunakan oleh Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang. Nanti pada saat 3 unit PLTU Lontar beroperasi, ketiganya mampu menghasilkan daya listrik sebesar 500 MW. Daya sejumlah ini dapat menggantikan listrik yang dihasilkan oleh PLTGU & PLTU Muara Karang. Sekaligus menjadikan PLN mampu membuat penghematan di sisi pemakaian energi primer.
Dengan tambahan pasokan listrik dari PLTU Lontar maka sebagian PLTGU dan PLTU Muara Karang yang selama ini dioperasikan dengan bahan bakar minyak (BBM) dapat diistirahatkan. "Pada saat nanti 3 unit PLTU Lontar beroperasi maka akan bisa memasok Jakarta sekitar 500 MW. Hal ini akan dapat menghemat pemakaian BBM sekitar Rp488 miliar per bulan," kata Bambang.
• Jurnas.com
Konsumsi Energi Indonesia Lebih Banyak Untuk Nonproduktif
"Kegiatan nonproduktif itu di antaranya sektor rumah tangga dan transportasi keluarga. Hal itu menyebabkan konsumsi energi menjadi boros atau tidak efisien," katanya di Yogyakarta, Senin.
Ia mengatakan konsumsi energi di Indonesia juga untuk menopang industri manufaktur yang boros energi tetapi menghasilkan komoditas berharga rendah.
Padahal, menurut dia, di negara maju energi digunakan secara efisien untuk kegiatan produktif yang menghasilkan komoditas berharga tinggi, atau negara tersebut pertumbuhan ekonominya ditopang oleh industri jasa yang bernilai ekonomis tinggi tetapi lebih sedikit memerlukan energi.
"Oleh karena itu, usaha keras untuk efisiensi energi harus tetap dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa," katanya.
Ia mengatakan meskipun potensi sumber daya energi terbarukan sangat melimpah di Indonesia, pemanfaatannya secara riil sebagai pembangkit energi listrik masih sangat kecil.
"Di sisi lain, sumber daya energi biomassa di Indonesia tidak bisa diabaikan, karena terbukti mampu menyumbang 17,59 dari total pasokan energi nasional pada 2008, hanya kalah dari minyak bumi (37,01 persen) dan batu bara (26,24 persen)," katanya.
Menurut dia, biomassa tersebut tidak dapat dibandingkan dengan batu bara. Batu bara adalah "the real fuel", sedangkan biomassa agak sulit disebut sebagai bahan bakar, meskipun mampu terbakar karena kandungan "combustibles" yang dimilikinya.
Dengan demikian, tidak terlalu mengherankan jika densitas energi dua jenis bahan bakar tersebut jauh berbeda, karena biomassa terbentuk hanya dalam orde tahunan sedangkan batu bara terbentuk setelah puluhan juta tahun.
Ia mengatakan salah satu kekurangan biomassa adalah densitas energinya yang rendah. Jika biomassa digunakan sebagai bahan bakar utama di suatu pembangkit listrik skala besar, maka laju "volumetris input" yang dibutuhkan pasti sangat besar.
"Di sisi lain, pemakaian limbah biomassa pada pembangkit listrik skala kecil (lokal) membutuhkan biaya investasi spesifik yang tinggi, operator yang banyak, dan memiliki efisiensi termal yang rendah," katanya.
Menurut dia, dengan memperhatikan berbagai potensi dan hambatan, solusi yang diperlukan adalah "co-firing" atau "co-combustion", yakni pembakaran bersama antara batu bara dan biomassa di ruang bakar PLTU skala besar yang sudah ada.
"Namun, lebik baik jika PLTU batu bara itu berlokasi dekat dengan sumber limbah biomassa (kurang dari 50-80 kilometer) sehingga biaya transportasi biomassa tidak terlalu tinggi," katanya.(B015/M008/A038)
• ANTARAnews
12 Strategi PLN Tambah Daya di Sumatera
Bukit Tinggi (ANTARA News) - PT PLN (Persero) melalui Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Sumatera (P3BS) menyiapkan 12 strategi untuk menambah daya listrik pada tahun 2011 di sistem interkoneksi Pulau Sumatera, kata Manajer umum P3BS, Yurman."Berbagai cara kita lakukan untuk menambah daya listrik dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," ujarnya pada pemaparan kepada media massa dari Riau, di Padang, Minggu.
Ia menjelaskan, 12 strategi menambah daya pada tahun ini paling banyak berada pada subsistem Sumatera Bagian Selatan dan Tengah yang meliputi pembangunan pembangkit di Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Selain itu, PLN juga masih merencanakan menambah daya dengan cara menyewa mesin dengan daya 50 mega watt (MW).
Dengan penerapan 12 strategi tersebut, PLN diperkirakan dapat menambah daya listrik untuk sistem interkoneksi Pulau Sumatera hingga sekitar 500 MW.
Sedangkan, kondisi kelistrikan hingga 2010 di sejumlah daerah di Sumatera masih dilanda defisit seperti terjadi di Provinsi Riau yang kekurangan daya 117,6 MW, Jambi (80,5 MW), Lampung (137 MW), dan Sumatera Utara (101,2 MW).
Pembangunan pembangkit yang kini dalam proses pelaksanaan di subsistem Sumatera Bagian Selatan dan Tengah, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumbar Pesisir/Teluk Sirih berdaya 2x112 MW yang ditargetkan satu pembangkitnya menyalurkan listrik pada Desember 2011.
Kemudian, PLTU Tarahan Baru (100 MW), PLTU Simpang Belimbing (113,5 MW), PLTG Sungai Gelam (15 MW), dan PLTG Duri di Riau (60 MW). Selain itu, penambahan juga mulai berlangsung pada pertengahan tahun dengan beroperasinya PLTG Borang (2x30 MW), PLTG Payo Selincah (100 MW) dan PLTG Talang Dukuh (50 MW).
Sementara itu, menurut dia, program untuk subsistem Sumatera Bagian Utara adalah pengoperasian PLTD Apung Aceh (8,5 MW) pada Juni dan program revitalisasi sejumlah pembangkit.
"Pada tahun 2011, PLN mengupayakan tidak ada lagi pemadaman listrik karena kekurangan daya," ujarnya.
Manajer SDM, Hukum dan Administrasi PLN Wilayah Riau, Suhatman, mengatakan bahwa kondisi kelistrikan di Riau akan terus dibenahi melalui penambahan daya dari sistem interkoneksi dan pembangunan pembangkit listrik.
Selain pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Duri, pihaknya juga mengupayakan pembangunan PLTU Tenayan 2x100 Mw di Pekanbaru yang diharapkan rampung pada 2012.
"Pembangunan pembangkit di Tenayan kini masih dalam proses pembebasan lahan," kata Suhatman.(T.F012/P003)
• ANTARAnews
Tujuh Pembangkit Listrik Beroperasi 2011
Miniatur ginder, atau alat pengangkut trafo listrik, dipamerkan pada apel kesiapan pelaksanaan pembangunan 2011 di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Rabu (5/1). PLN menargetkan tujuh pembangkit dari proyek 10.000 MW akan siap beroperasi tahun ini dan akan memberi pasokan daya 4.830 MW pada sistem kelistrikan Jawa-BaliJakarta, Kompas - Pada tahun 2011, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menargetkan penambahan pasokan daya pada sistem kelistrikan Jawa-Bali 4.830 megawatt.
Penambahan pasokan daya itu akan diperoleh dari tujuh pembangkit listrik di Pulau Jawa yang akan mulai beroperasi tahun ini.
Untuk itu, direksi PT PLN mempercepat penyerahan surat kuasa investasi (SKI) kepada jajaran general manager perseroan itu. Penyerahan SKI itu dilaksanakan pada ”Apel Kesiapan Pelaksanaan Pembangunan 2011” di Jakarta, Rabu (5/1).
Acara itu dihadiri Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, Direktur Operasi Jawa-Bali Ngurah Adnyana, direksi PT PLN, para general manager PLN se-Jawa Bali, dan mitra kerja perseroan.
Dalam acara itu, PT PLN memberikan penghargaan kepada para kontraktor transmisi dan distribusi yang menunjukkan kinerja bagus.
Bebas korupsi
Menurut Dahlan Iskan, pihaknya dan para mitra kerja berkomitmen membangun kelistrikan Indonesia lebih bermutu, lebih cepat, lebih hemat, dan bebas korupsi.
”Ini akan memacu semangat dan kerja keras PLN dalam penyelesaian proyek pembangkit dan transmisi 10.000 MW sehingga bisa beroperasi tepat waktu. Sebab, proyek-proyek skala besar itu melibatkan banyak kontraktor pelaksana dan lembaga- lembaga keuangan penyokong pendanaan,” kata Dahlan Iskan.
”Agar penyelesaian proyek itu tepat waktu, penyerahan surat kuasa investasi kepada para general manager dipercepat sehingga mulai Januari semua unit PLN bisa bekerja optimal dan diharapkan hasilnya juga lebih optimal,” kata Direktur Operasi Jawa-Bali PLN Ngurah Adnyana.
Penerbitan SKI biasanya menunggu hasil rapat umum pemegang saham (RUPS). Hasil RUPS lalu diterjemahkan menjadi SKI yang diterbitkan April.
”Ini menyebabkan proyek baru dimulai Juni sehingga pendek sekali waktunya. Kami meminta sebelum Januari sudah melaksanakan tender, tetapi kontraknya setelah SKI terbit pada Januari,” ujar Ngurah Adnyana.
Dengan tambahan pasokan listrik di Jawa-Bali, PLN optimistis bisa menuntaskan daftar tunggu sambungan baru dan memenuhi kebutuhan listrik bisnis dan industri. ”Pembangunan pembangkit dan transmisi untuk meningkatkan kapasitas listrik terpasang dan memenuhi permintaan listrik nasional yang terus meningkat. Targetnya, ada penambahan kapasitas daya untuk 1,8 juta pelanggan,” kata Ngurah Adnyana.
Tahun 2011, tujuh pembangkit listrik yang menjadi bagian dari proyek 10.000 megawatt di Jawa akan beroperasi.
Tujuh pembangkit itu PLTU 1 Banten-Suralaya (1 x 625 MW), PLTU 3 Banten-Lontar (3 x 315 MW), PLTU 1 Jabar-Indramayu (3 x 330 MW), PLTU 2 Jabar-Palabuhanratu (1 x 350 MW), PLTU 1 Jateng-Rembang (2 x 315 MW), PLTU 1 Jatim-Pacitan (2 x 315 MW), dan PLTU 2 Jatim-Paiton (1 x 660 MW). (EVY)
• KOMPAS
Riau Power dan PLN 2011 realisasikan proyek listrik di Bengkalis
PLTU 2x100 MW di Tenayan rayaPekanbaru, 27/12/2010 (Kominfo-Newsroom) Selain akan merealisasikan pembangunan PLTU 2x100 MW di Tenayanraya, Pekanbaru, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga bakal merealisasikan beberapa proyek pembangkit listrik di Mandau, Bengkalis.
Pembangunan proyek listrik tersebut, dilakukan untuk mendukung pelaksanaan Pekan Olahraga Nasiona (PON) XVIII pada 2012 di Riau, sekaligus mengatasi kebutuhan listrik di Bengkalis.
Ketua Tim Task Force PLN Pusat, Bambang, yang bertugas mempercepat proses proyek listrik di Sumatera dan Kalimantan Barat (Kalbar) menyebutkan, sehubungan dengan adanya pasokan gas PLN di Jambi Merang, daerah Duri sebanyak 30 mmscfd, ini bisa membangun pembangkit listrik berkapasitas 2x100 MW.
Ditambah untuk PT Riau Power, anak perusahaan Riau Investment Corporation (RIC) dan konsorsium yang akan membangun pembangkit dengan kapasitas 2x45 MW yang merupakan pembangkit combine cycle.
“Ini bisa membantu pasokan listrik untuk pelaksanaan PON di Riau nanti. Proyek pembangunan listrik menggunakan gas ini juga sangat berguna untuk PLN dalam penghematan energi, karena bisa menghemat bahan bakar minyak (BBM),” katanya di Pekanbaru, belum lama ini.
Ia menambahkan, selain proyek PLTU, PLN juga segera merealisasikan proyek listrik untuk memenuhi daftar tunggu di Bengkalis dengan panambahan pembangkit sebesar 5 MW. Pembangkit listrik ini nanti, masuk ke sistem jaringan Sumatera.
“Ini bisa membantu tegangan listrik di Duri, karena selama ini tegangan listrik di Duri sangat rendah. Selama ini pasokan listrik dikirim melalui Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Selatan. Jika ada gangguan sistem di daerah itu, maka tegangan listrik di Duri dipastikan akan terganggu dan akan dilakukan pemadaman,” katanya.
Selain itu, diharapkan penambahan pembangkit listrik itu juga untuk mengantisipasi terjadinya musim kemarau. “Kita harapkan proyek ini terealisasi dan selesai dalam jangka waktu satu tahun. Saat ini mesin sudah ada, di Cilacap yang idle dan ada 5 unit, masing-masing 20 MW dan total kapasitas 100 MW,” katanya.
Untuk itu, lahan yang dibutuhkan dapat segera diatasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis. Jika target akhir tahun ini sudah bebas, maka pada Maret 2011, sudah bisa dibangun pondasi. “Kita targetkan Oktober 2011 sudah bisa terealisasi PLTU di Duri,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Bengkalis Herliyan Saleh juga mengatakan, rencana pembangunan listrik di Bengkalis saat ini sudah menunjukkan berbagai kemajuan. Dia mengharapkan, 2x20 MW bisa terealisasi untuk mengatasi daftar tunggu dalam waktu dekat.
“Kalau persoalan lahan di Mandau Pinggir, sudah disiapkan oleh Panitia Sembilan,” tegasnya dan menambahkan, proyek penanganan listrik di Bengkalis sangat perlu dilakukan, karena selama ini kebutuhan listrik di Riau cukup tinggi. Bahkan dalam jangka panjang, perlu pembenahan sistem transmisi.
Kebutuhan industri di Bengkalis sangat besar, pada tahun 2002 saja, Riau membutuhkan energi listrik sebanyak 2.500 MW untuk industri. Apalagi ke depan, Bengkalis punya program untuk menjadikan Bengkalis sebagai Kota Pendidikan. Tentunya akan dibangun berbagai infrastruktur yang membutuhkan pasokan listrik.
Selain itu, Bengkalis juga merencanakan akan merealisasikan Kawasan Industri Bengkalis (KIB) dan pelabuhan di Desa Buruk Bakul, Bukit Batu Bengkalis. Itu juga setidaknya membutuhkan pembangkit listrik dengan kapasitas 2x25 MW.
“Bengkalis akan kita usulkan masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Dumai, tetapi lokasinya di Bengkalis. Ini akan dijadikan kawasan pelabuhan alternatif untuk pelabuhan KEK, jika di Dumai mengalami titik jenuh. Ini memerlukan energi yang besar,” katanya. (rls/muslim/MC riau/toeb)
• Bipnewsroom
Listrik 1.OOO MW untuk Industri
Jakarta, Kompas - Untuk menuntaskan masalah daftar tunggu sambungan listrik, PLN akan memberikan sambungan listrik 1.000 megawatt untuk pelanggan bisnis dan industri.”Bagi para pengusaha yang menginginkan sambungan listrik, inilah saatnya mengajukan permintaan listrik ke kantor PLN terdekat. Jika tidak ada kendala teknis yang berarti, per 15 Desember 2010 listrik akan dinyalakan. Jika masih ada kendala, paling lambat akhir tahun ini listrik dinyalakan,” kata Direktur Utama PLN Dahlan Iskan di Jakarta, pekan lalu.
PLN akan menyambung listrik dengan total daya 1.000 MW pada 15 Desember 2010 bagi para pelaku bisnis dan industri di Banten Utara, Tangerang, Jakarta, Bogor, Gunung Putri, Depok, Bekasi, hingga Karawang.
Menurut Dahlan, PLN berkomitmen melayani semua permintaan listrik dengan mudah, cepat, dan kepastian biaya.
Bila calon pelanggan mengalami kesulitan dalam proses penyambungan baru, PLN telah membuka akses pengaduan melalui e-mail 1000MW@pln.co.id.
Calon pelanggan silakan menyampaikan pengaduan dengan mencantumkan nama, daya yang diminta, peruntukan listrik, status pembayaran biaya penyambungan, serta kesulitannya.
PLN pusat akan langsung memantau dan memastikan proses penyambungan berjalan lancar.
Dahlan mengatakan, program ini juga dimaksudkan untuk melenyapkan praktik pungutan liar (pungli), percaloan, dan kecurangan-kecurangan lainnya dalam pelayanan sambungan baru yang merugikan pelanggan.
PLN kini menerapkan strategi jemput bola dengan langsung mencari pelanggan. Permohonan penyambungan diproses secara transparan.
Calon pelanggan tidak akan dibebani dengan biaya tambahan, seperti pembangunan jaringan, jika memerlukan perluasan atau pembelian trafo distribusi.
Biaya penyambungan yang dibayar sesuai biaya penyambungan standar. PLN optimistis program ini akan sukses.
Tambahan daya
Penawaran PLN ini karena dari sisi pasokan, PLN akan mendapat tambahan daya dari proyek-proyek percepatan 10.000 MW tahap 1 yang selesai dibangun, di antaranya PLTU Labuan Banten Unit 2 kapasitas 300 MW, PLTU Indramayu Unit 1 kapasitas 330 MW, PLTU Suralaya kapasitas 625 MW.
Di samping itu juga sedang dilakukan repowering PLTU Muara Karang yang akan menambah kapasitas pembangkit sebesar 400 MW, dari semula 300 MW menjadi 700 MW.
Dari sisi transmisi, ada tambahan trafo interbus 500/150 kV (interbus transformer/IBT) sebanyak lima unit, masing-masing kapasitas 500 MVA, hingga akhir tahun ini. IBT ini akan memperkuat pasokan listrik di Jakarta dan sekitarnya. (*/gun)• KOMPAS
PLN Riau Sewa Pembangkit Antisipasi Pemadaman Listrik
Ilustrasi (ANTARA/Yudhi Mahatma)Pekanbaru (ANTARA News) - PT PLN (Persero) menyewa pembangkit berdaya 40 megawatt (Mw) untuk mengantisipasi kemungkinan pemadaman listrik di Provinsi Riau yang belakangan ini kembali terjadi akibat gangguan pada sistem interkoneksi Sumatera.
"Pembangkit berdaya 40 Mw ini rencananya akan disewa selama sebulan," kata Manajer Humas PLN Riau-Kepulauan Riau Delvis Bustami ketika dihubungi dari Pekanbaru, Minggu.
Delvis Bustami menjelaskan pembangkit sewaan itu akan menggunakan bahan bakar minyak jenis solar. Pembangkit itu, lanjutnya, akan dipasang untuk menambah daya di PLTU Teluk Lembu Pekanbaru.
"Tambahan daya ini cukup untuk kebutuhan pelanggan di Riau daratan," ujarnya.
Menurut dia, mesin pembangkit itu disewa dari perusahaan asing bernama Aggreco yang berkantor pusat di Dubai, Uni Emirat Arab. Meski begitu, mesin tersebut didatangkan dari perwakilan perusahaan asing itu di Singapura.
"Menurut jadwal, pembangkit akan dipasang pada pertengahan Oktober ini," ujarnya.
Sebelumnya, PLN Riau-Kepri menyatakan kekurangan daya listrik pada saat terjadi beban puncak akibat adanya gangguan pada sistem interkoneksi Sumatera sejak awal Oktober.
Hal itu disebabkan adanya gangguan serius pada sistem interkoneksi Sumatera akibat kerusakan pada dua PLTU Ombilin, Sumatra Barat, yang berdaya 2x90 Mw.
Kerusakan itu berdampak pada kondisi listrik di Riau yang sangat bergantung pada sistem interkoneksi.
Akibatnya, sejumlah daerah di Riau kerap mengalami pemadaman listrik terutama pada beban puncak dengan durasi hingga dua jam sehari.(*)(T.F012/A011/R009)
• ANTARAnews
PLTP Ulubelu Beroperasi 2012
Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Informasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Kardaya, Jumat (15/10). PLTP Ulubelu merupakan salah satu proyek yang dikejar pemerintah dalam program peningkatan pemanfaatan panas bumi guna mendorong pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT).
"PLTP Ulubelu merupakan salah satu proyek yang didorong pemerintah untuk menaikkan pemanfaatan panas bumi agar pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) dapat dimaksimalkan. Pembangkit ini sekarang sudah dalam tahap evaluasi harga, tunggu saja hasilnya," jelasnya.
Beroperasinya PLTU berkapasitas total 110 MW ini dibenarkan oleh Manajer Komunikasi Pertamina Geothermal Energy (PGE) Adiatma Sardjito. Ia mengungkapkan harga jual uap juga telah disepakati antara PLN dan PGE dengan harga 4,2 sen dolar per kilowatt hour (kwh).
"PLTP Ulubelu akan beroperasi pada akhir 2012. Saat ini untuk pembangunan proyek tersebut sedang dalam proses Engineering, Procurement, Construction (EPC)," paparnya.
Selain PLTP Ulubelu dalam rencana kerja KESDM, terdapat beberapa proyek PLTP lain yang dimasukan dalam target peningkatan pemanfaatan panas bumi yaitu PLTP Lahendong (Sulawesi Utara) yang saat ini dalam tahap pekerjaan fasilitas, penyelesaian PLTP Sarulla (sumatera Utara) sedang dalam tahap verifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKB) serta PLTP Ulumbu (NTT) dengan kapasitas 5 MW yang sedang dalam disain ulang.
Selama periode kerja satu tahun Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, menurut Kardaya, yakni pencapaian di bidang Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) selain peningkatan pemanfaatan panas bumi yaitu melaksanakan program peningkatan EBT untuk tenaga listrik, biogas, dan bahan bakar nabati serta terbentuknya Ditjen EBTKE. (OL-3)
• Mediaindonesia


