ISENG BLOGER

Sereal ubi jalar UNY



http://img.antaranews.com/new/2012/12/thumb/20121201serubi.jpgYogyakarta - Tim mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan mengembangkan sereal berbahan ubi jalar.

"Sereal berbahan ubi jalar atau Ipomoea batatas Poir itu kami beri nama Serubi. Serubi merupakan minuman seduh berenergi tinggi untuk meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar," kata ketua tim, Nopi Yudi Pramono, di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, sereal untuk sarapan itu akan dapat meningkatkan nilai ekonomi ubi jalar yang menyehatkan dan mudah dibuat.

"Kandungan gizi yang dimiliki ubi jalar sangat melimpah, antara lain karohidrat, protein, vitamin, dan berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tubuh," katanya.

Ia mengatakan, jenis produk yang dihasilkan Serubi adalah minuman dalam kemasan terbuat dari bahan ubi jalar yang mudah disajikan, sehat, dan mengenyangkan dengan harga terjangkau.

"Kandungan karbohidrat yang terkandung dalam 100 gram ubi jalar merah mencapai 27,9 gram. Ubi jalar merah mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, kalsium, vitamin A, vitamin C, dan beberapa zat tubuh lainnya," katanya.

Dengan kandungan gizi ubi jalar tersebut, kata dia, akan dihasilkan produk sereal yang dapat digunakan sebagai pengganti sarapan.

Menurut dia, Serubi dipasarkan melalui warung-warung dan toko-toko, agar masyarakat dapat secara mudah memperoleh produk tersebut.

"Selain itu, kami juga mengadakan kerja sama dengan koperasi mahasiswa di UNY yang dapat dijadikan tempat mahasiswa berlatih berwirausaha. Produk yang sudah jadi dijual di koperasi mahasiswa agar mahasiswa dan masyarakat dapat memperoleh Serubi dengan mudah," katanya.

Ia mengatakan, pembuatan sereal ubi jalar dengan bahan baku tepung ubi jalar. Tepung ini kemudian disangrai sampai matang kemudian dicampur dengan susu dan gula agar siap dihidangkan.

"Perbandingan untuk tepung ubi jalar, gula, dan susu adalah 2:2:1. Dengan perbandingan ini diperoleh rasa sereal yang pas tanpa kehilangan rasa khas ubi jalar," katanya.

Menurut dia ,setelah dicampur kemudian dikemas dengan berat 30 gram setiap bungkus. Beratnya sudah disesuaikan dengan penyajian untuk 150 mililiter air hangat.

"Biaya produksi untuk satu bungkus Serubi sebesar Rp780 sehingga dapat dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Biaya produksi tersebut terdiri atas pembelian tepung ubi, gula, susu, dan biaya untuk pembuatan kemasan," katanya.

Anggota tim yang mengembangkan Serubi, antara lain Suhufa Alfarisa, Tri Nugroho, dan Dwi Ana Rizki.(L.B015*H010/H008)


[Read More...]


Teknologi Nuklir Dibutuhkan untuk Ketahanan Pangan



Terbukti Mampu Ciptakan Produk Unggulan

Krisis ketersediaan pangan telah menjadi permasalahan global dan juga berpengaruh di tingkat nasional. Bahkan krisis pangan menyebabkan negara harus mengimpor kebutuhan pangan dalam jumlah besar, untuk menjamin ketersediaan pangan nasional.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama bulan Januari-Juni 2011, impor pangan Indonesia mencapai 11,33 juta ton dengan nilai US$ 5,36 miliar atau kurang lebih Rp 45 triliun. Barang impor mulai dari beras, jagung, terigu, gula garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, bawang merah, cabai hingga buah-buahan.

Adapun data impor pangan selama Januari-Maret 2012 dari Pelindo II cabang Tanjung Priok menunjukkan impor beras sebanyak 330.539 ton, jagung 33.700 ton, tapioka 7.422 ton, gandum 546.932 ton dan garam 25.400 ton.

“Teknologi nuklir untuk pangan saat itu dirasakan sangat besar manfaatnya untuk menjawab solusi masalah ketahanan pangan,” kata Deputi Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), dalam Executive Forum ‘Nuklir untuk Pangan’, di Jakarta.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi nuklir tidak melulu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dan senjata nuklir. Buktinya, Batan telah menghasilkan benih padi varietas unggul dengan teknologi mutasi radiasi yang lebih murah, cepat dipanen, tahan lama dan enak rasanya.

Ketua Umum Tani Nelayan, Winarno Tohir, mengakui hasil teknologi nuklir untuk produk pangan, seperti benih padi Mirah. Belum lagi pemuliaan kedelai Mutiara I yang dikembangkan dalam skala besar.

“Kami sangat membutuhkan teknologi nuklir ini karena hasil panennya cukup menjanjikan, Sayangnya, teknologi nuklir ini belum mampu menjawab ketersediaan pangan. Terbukti, sebagian besar kebutuhan pangan kita hasil impor. Mulai bawang, beras, jagung, terigu, gula, garam, telur, ayam, daging sapi, singkong, cabai, hingga buah-buahan. Kita harus bisa menghentikan ketergantungan pangan ini melalui teknologi nuklir,” kata Tohir. @hidayat


[Read More...]


Petani Berminat Terhadap Padi Hasil Rekayasa Teknologi



batan1510Jakarta - Deputi Bidang Pendayagunaan Hasil Litbang dan Pemasyarakatan Iptek Nuklir (PHLPN) Batan, Ferhat Aziz mengatakan, semakin banyak petani yang berminat menggunakan benih padi hasil rekayasa teknologi radiasi nuklir.

Mereka semakin yakin benih padi yang dihasilkan Batan seperti varietas Bestari aman digunakan dan hasilnya lebih baik.“Beras mutasi radiasi nuklir tidak berbahaya untuk dikonsumsi,” katanya.

Menurutnya, secara alamiah mutasi sendiri sudah berlangsung sejak lama jadi bukan menjadi alasan untuk ditakuti. Sudah menjadi tugas Batan terus mengembangkan benih yang lebih baik dengan teknologi mutasi radiasi.

Saat ini pihak Batan tengah giat memperkenalkan salah satu hasil pemuliaan padi dengan teknologi radiasi tersebut yakni varietas Bestari kepada petani di Kabupaten Lombok Timur.

Kawasan ini dikenal sebagai salah satulumbung padi yang cukup penting. Sebab padi yang dihasilkan sudah surplus karena untuk konsumsi lokal hanya sekitar 50%, sisanya dikirim ke daerah lain dan untuk konsumsi nasional.

“Meski tergolong surplus tetapi produktifitas rata-ratanya baru sekitar 5 ton/ha GKG (gabah kering giling) dan untuk padi gogo sekitar 3,1 ton/ha GKG. Karena itulah Batan memperkenalkan varietas Bestari kepada mereka yang didaerah tersebut mampu berproduksi sekitar 7 ton/ha GKG.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Hanah mengucapkan terima kasih kepada Batan yang telah memperkenalkan bibit unggul tersebut. Namun demikian ia menyatakan perlunya sosialisasi lebh lanjut karena masyarakat banyak yang tidak mengetahui Batan itu apa?. Sedangkan petani lainnya Sanusi mengatakan Bestari ternyata punya kelebihan yaitu tahan baik di musim panas maupun musim hujan. (faisal)

Teks : Panen padi hasil varietas Bestari di Lombok Timur (batan)

[Read More...]


Bioteknologi, Solusi Hadapi Krisis Pangan  



http://image.tempointeraktif.com/?id=138386&width=200Jember - Bioteknologi adalah jalan keluar atau solusi menghadapi tantangan dan ancaman krisis pangan dunia, termasuk Indonesia. Koordinator Asia bidang Program Keamanan Hayati (program for biosafety system) Julian Adams mengatakan bahwa rekayasa genetika tanaman pangan dengan bioteknologi harus dilakukan dan dikembangan demi mengantisipasi ancaman krisis pangan dunia yang diramalkan akan memuncak mulai tahun 2050 kelak.

"Bioteknologi juga bisa menjadi jawaban perubahan iklim global, krisis air, sekaligus pengurangan pestisida dan emisi karbon dunia," ujar Julian Adams usai berbicara dalam seminar Agricultural Biotechnology di Universitas Jember, Kamis, 27 september 2012.

Pakar bioteknologi dari University of Michigan itu menambahkan badan pangan dunia (FAO) meramalkan akan terjadi peningkatan kebutuhan pangan sebanyak 60 persen agar penduduk dunia tidak terpuruk dalam kemiskinan dan kelaparan. "Pemuliaan varietas tanaman pegangan, seperti beras, jagung, tebu, dan gandum dengan memanfaatkan bioteknologi harus terus dilakukan," kata dia.

Rekayasa genetika itu, katanya, harus dilakukan untuk mendapatkan beberapa varietas tanaman yang memiliki ketahanan perubahan iklim. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir perubahan iklim tidak bisa diprediksi. Akibatnya, mulai banyak terjadi kekeringan dan banjir yang sangat merugikan tanaman para petani sebagai produsen pangan.

Pakar ilmu biologi molekuler dari Universitas Jember, Bambang Sugiharto, mengatakan, perubahan iklim serta pertumbuhan penduduk yang semakin cepat merupakan ancaman ketahanan pangan. Dampak perubahan iklim yang membuat terganggunya organisme tanaman dan kondisi tanah ikut berpengaruh pada produksi pangan. "Pemerintah dan praktisi pertanian harus serius mencari solusi yang cepat dan tepat guna. Bioteknologi bisa menjadi jawabannya," katanya.

Bioteknologi untuk pemuliaan varietas tanaman saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. "Dulu, bioteknologi dengan cara eksploitasi potensi kimiawi mikroba untuk mengahasilkan barang atau jasa, sekarang dengan memilih dan mengembangkan sifat genetis yang unggul," katanya.

Dengan teknologi rekayasa genetika atau genetic engineering, para pemulia dapat merakit varietas-varietas baru yang tahan dengan permasalahan pertanian, seperti penyakit dan hama, genangan air, salinitas, dan kekeringan. Rekayasa genetika itu, kata dia, membuat "organisme baru" produk bioteknologi dengan sifat-sifat yang menguntungkan bagi manusia seperti jagung dan padi tahan hama serta tahan cuaca ekstrim.

Di beberapa negara seperti Jepang dan Thailand, kata Sugiharto, penggunaan bioteknologi mulai dari hulu sampai hilir sudah bisa dimanfaatkan masyarakat, termasuk para petani. "Mereka telah mendapatkan manfaat secara ekonomis dengan meningkatnya produksi pangan, pengurangan biaya pestisida dan tenaga kerja, efisiensi lahan dan pengolahan tanah serta dampak positif terhadap lingkungan dengan berkurangnya emisi gas rumah kaca," kata penemu tebu yang tahan terhadap kekeringan itu.

[Read More...]


IPB Kampanyekan Makan Beras Analog



IPB Kampanyekan Makan Beras AnalogBogor - Institut Pertanian Bogor (IPB) mengkampanyekan makan beras analog yang diikuti lebih dari 4.200 peserta bertempat di gedung Graha Widya Wisuda IPB, Kampus Dramaga, Sabtu (1/9).
"Kami menyiapkan sekitar 400 kilogram lebih beras analog yang dimasak dan disajikan dalam bentuk nasi kotak," kata Slamet Budijanto penemu beras analog.

Slamet yang juga Direktur Fakultas Teknologi Pertanian, menyebutkan beras analog tersebut memiliki kadar protein 8 persen, keunggulan diseratnya di atas 4 persen.

Ia menjelaskan, beras analog masuk dalam daftar 1 dari 103 inovasi nasional, dan pada tahun 2011 mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Slamet menyebutkan, saat ini pihaknya terus berupaya mematangkan alat dan produktivitas beras analog agar bisa diproduksi secara masal.

Menurutnya, ia mampu menghasilkan 240 kilogram beras analog per bulan dengan peralatan seadanya yang ada di laboratorium IPB.

"Kami berharap ada pihak swasta yang mau membantu memproduksi beras analog untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Karena sumber karbohidrat saat ini masih didominasi oleh padi," katanya.

Slamet menyebutkan, walaupun Indonesia merupakan negara produksi padi nomor 1 dunia, tapi masyarakat Indonesia juga pemakan beras terbesar di dunia yakni 98 persen per orang per tahun.

Sebelum kegiatan kampanye dimulai, Menteri Pertanian Suswono secara resmi meluncurkan beras analog IPB.

Menteri mengatakan, hadirnya beras analog karya IPB membuktikan Indonesia mampu berinovasi menciptakan banyak mode pangan.(Ant/OL-9)

 Beras Analog IPB Bukti Indonesia Mampu Berinovasi

Menteri Pertanian Suswono mengatakan hadirnya beras analog karya Institut Pertanian Bogor membuktikan Indonesia mampu berinovasi menciptakan banyak mode pangan.

"Beras analog ini salah satu inovasi IPB, bahan utamanya berasal dari negeri sendiri seperti singkong, sagu dan jagung. Ini adalah bukti, bahwa Indonesia mampu menciptakan, mode pangan berbeda," kata Menteri saat meluncurkan beras analog dalam acara Dies Natalis IPB ke-49, di Kampus Darmaga, Bogor, Sabtu (1/9).

Menteri mengatakan, Indonesia merupakan negara yang memproduksi beras terbesar di dunia. Namun, Indonesia juga mengkonsumsi beras terbesar sehingga kebutuhan akan beras menjadi sangat besar.

Hadirnya inovasi beras analog, lanjut Menteri, dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Karena lanjut menteri sumber karbohidrat tidak hanya dari beras tapi banyak sumber lainnya.

"Indonesia kaya akan sumber pangan. Sumber karbohidrat tidak hanya beras, tapi dari pangan lainnya seperti ubi, sagu, singkong, jagung dan masih banyak lagi," kata Menteri di hadapan 4.200 mahasiswa baru IPB angkatan 49.

Menteri menyebutkan, masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akan krisis pangan. Indonesia tidak akan mengalami krisis pangan karena sumber karbohidrat di Indonesia tidak hanya bersumber dari beras.

Ada banyak sumber daya alam di Indonesia yang bila diolah secara baik dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya. 

"Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia dan sumber daya alam. Kita memiliki sumber karbohidrat cukup banyak, tidak hanya beras. Jadi jangan khawatir Indonesia tidak mungkin kekurangan pangan," kata Menteri.(Ant/OL-9)
[Read More...]


Batan temukan varietas padi unggul



Menristek Gusti Mohammad Hatta (FOTO ANTARA)
Banjarmasin - Menteri Riset dan Teknologi H Gusti Muhammad Hatta mengungkapkan, Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dalam kegiatan penelitiannya juga memukan varietas padi unggul.

"Jadi keliru kalau ada yang beranggapan Batan cuma melakukan kegiatan yang bekaitan dengan masalah atom," ujar saat silaturrahim Idul Fitri 1433 Hijriah, di Banjarmasin, Rabu.

Ia menerangkan, varietas padi unggul temuan Batan tersebut hanya berusia 90 hari atau sekitar tiga bulan sudah bisa panen.

Keunggulan varietas padi temuan Batan tersebut juga pada tingkat produktivitas, lanjutnya dalam silaturrahim dengan Ikatan Alumnus Universitas Lambung Mangkutat (IKA Unlam) Banjarmasin.

"Kalau varietas padi lain mungkin tingkat produktivitasnya cuma sekitar lima ton, tapi temuan Batan bisa mencapai 9--10 ton/hektare," lanjut menteri asal urang banua Kalsel tersebut.

Menurut mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH) itu, penelitian terhadap varietas padi sebagai salah satu wujud tanggung jawab bersama, untuk peningkatan produksi padi, guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Selain itu, guna lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, lanjutnya didampingi Ny Violet Gt Hatta.

"Memang ketahanan pangan kita secara nasional saat ini cukup baik, namun ke depan harus tetap  dipertahankan dan ditingkatkan," demikian M Hatta.

Keberadaan HM Hatta bersama nyonya di Banjarmasin, dalam rangkaian belebaran bersama keluarga, sejak 21 Agustus lalu selama dua hari.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, Pengurus IKA Unlam memasangkan jaket almamater warna kuning kepada Menristek dan Ny Violet Gt Hatta.

Pemasangan jaket almamater Unlam tersebut oleh Ketua Pengarah IKA perguruan tinggi negeri tertua di Kalsel itu, H Gusti Rusdi Effendi AR yang juga Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group.(ANT)
(Antara)
[Read More...]


Menristek canangkan Sulawesi pusat riset kakao



Makassar (ANTARA News) - Kementerian Riset dan Teknologi bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan mencanangkan Pusat Riset dan Pengembangan Rumput Laut dan Kakao.

"Indonesia kaya sekali. Produksi kakao kita nomor tiga di dunia, tapi kita masih mengekspornya mentah-mentah tanpa mengolahnya lebih dulu, juga rumput laut," kata Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta pada Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor Sulawesi antara Kemristek, para pejabat badan litbang di Sulawesi dan peneliti Universitas Hasanuddin di Makassar, Jumat.

Menteri mengatakan, Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengeksploitasi hasil alam, sedangkan industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk masih terbatas.

Padahal ketersediaan sumberdaya alam tidak tanpa batas, sementara kebutuhan pembiayaan untuk pelaksanaan pembangunan terus meningkat.

"Jika sumber daya alam sudah habis, ekonomi kita akan bertumpu pada impor. Defisit sumber daya alam ini dapat menimbulkan permasalahan besar," katanya.

Ia menyesalkan, eksploitasi sumberdaya alam masih terus berlangsung baik kekayaan hutan yang kayunya diekspor tanpa diolah, batubara yang diekspor mentah-mentah, termasuk aluminium.

"Padahal aluminium yang kalau diekspor mentah hanya menghasilkan sekali, kalau diolah dulu sebelum diekspor nilai tambahnya jadi delapan kali dan kalau diolah lebih panjang lagi bisa 30 kali lipat," katanya.

Jadi, ujarnya, harus segera ada upaya meningkatkan SDM dan Iptek untuk menghasilkan nilai tambah dari kekayaan alam yang ada dan membuat kita tak selalu tergantung pada alam.(D009)



ANTARA News
[Read More...]


IPB Ciptakan Produk Pangan Mirip Beras



BOGOR--MICOM: Peneliti dari F-Technopark Institut Pertanian Bogor melahirkan produk pangan alternatif mirip beras, yang diberi nama "beras analog".

"Produk mirip beras yang kita kembangkan dibuat dari tepung lokal selain beras dan terigu," kata Direktur F-Tecnopark Fakultas Teknologi Pertanian IPB Dr Slamet Budijanto di Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/4).

Ia menjelaskan, peneliti di perguruan tinggi dan badan penelitian, ada yang menyebutnya "beras artifical", "beras tiruan" dan lainnya.

Dikemukakannya bahwa produk pangan tersebut dirancang khusus untuk menghasilkan sifat fungsional dengan menggunakan bahan tepung lokal, seperti sorgum, sagu, umbi-umbian dan bisa ditambahkan "ingridient" pangan, seperti serat, antioksidan dan lainnya yang diinginkan.

Menurut dia, di luar negeri seperti China dan Filipina, diproduksi dari beras menir menjadi beras utuh untuk kebutuhan fortifikasi vitamin atau mineral tertentu.

"Di antaranya untuk fortifikasi zat besi," katanya menambahkan.

Mengenai teknologi pembuatannya, menurut dia, Technopark menggunakan teknologi ekstrusi menggunakan "tween screw extruder" dengan "dye" yang dirancang khusus dengan mengatur kondisi proses dan formulanya.

Secara umum, teknologi ekstrusi memungkinkan untuk melakukan serangkaian proses pengolahan seperti mencampur, menggiling, memask, mendinginkan, mengeringkan dan mencetak dalam satu rangkaian proses.

Rincian tahapan proses dalam pembuatan beras analog itu, pertama melakukan formulasi penimbangan bahan-bahan yang diperlukan, kedua pencampuran dengan menggunakan "mixer" sampai campuran bahan rata (homogen).

Ketiga, penambahan air dan dilakukan pencampuran menggunakan "mixer" sampai air bercampur dengan baik dan rata. Keempat, bahan yang tercampur dengan baik dimasukkan ke dalam "hopper".

Tahap kelima, adonan dilakukan ke dalam ekstruder dengan kondisi proses dengan mengatur T, V "auger", V "screew", dan V "piasu", sehingga didapatkan bentuk beras yang diinginkan.

Sedangkan tahapan keenam pengeringan dan ketujuh pengemasan.

Mengenai bahan baku, ia menjelaskan yang digunakan dari sumber karbohidrat adalah tepung umbi-umbian, seperti ubikayu, ubijalar, talas, garut ganyong dan umbi lainnya, tepung jagung, tepung sorgum, tepung hotong, sagu, dan sagu aren.

Untuk sumber protein berasal dari kedelai, kacang merah atau sumber lainnya.

Sedangkan "ingridient" lainnya berupa "stabilized rice bran" (sumber serat), minyak merah (antioksidan), vitamin, mineral, serta "ingridient" lainnya. (Ant/X-12/ip)


MediaIndonesia
[Read More...]


Kementerian Pertanian Tetapkan Maluku Proyek Percontohan Pangkin



Jurnas.com | KEMENTERIAN Pertanian menetapkan Maluku sebagai salah satu dari sembilan provinsi yang menjadi proyek percontohan pangan untuk orang miskin (Pangkin) pada 2012. Hal itu dikatakan Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) setempat, Polly Kayhattu. "Program Pangkin untuk 2012 masih dalam tahapan sosialisasi yang untuk tahap pertama meliputi kebupaten Maluku Tengah, Maluku Tenggara dan Seram Bagian Timur, "katanya ketika dikonfirmasi di Ambon, Kamis (26/1).

Pangkin diprogramkan menggantikan beras untuk orang miskin (Raskin) dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.

Program itu merupakan hasil dari seminar yang diselenggarakan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dengan thema " Membangun Sinergi Sistem Penguatan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pangan di Daerah Kepulauan Indonesia Timur" di Ambon pada 19 Juli 2011.

"Jadi anggota Wantimpres, Ginandjar Kartasasmita telah mengajukan rekomendasi pemerintah provinsi (Pemprov) Maluku ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditindaklanjuti dengan Kementerian Pertanian menetapkan daerah ini menjadi proyek percontohan Pangkin untuk menggantikan Raskin," ujar Polly.

Ia mengemukakan, program tersebut nantinya didukung dengan peralatan dari Badan Riset dan Teknologi yang mampu memproduksi Pangkin yang mengolah tepung sagu serta umbi-umbian seperti ketela pohon dan jagung.

"Pemanfaatan tiga pangan lokal ini juga diprioritaskan untuk daerah yang memiliki potensi dan diproduksi masing-masing daerah," katanya.

Pangkin sagu di kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur, sedangkan umbi-umbian, terutama ketela pohon di Maluku Tenggara. Pangkin diprogramkan agar penampilannya seperti Raskin yang disalurkan Perum Bulog.

Perum Bulog yang nantinya mendesain kantongnya agar Pangkin terawat sebagaimana Raskin. Pangkin butuh sosialisasi agar masyarakat menerimanya sebagai pengganti Raskin yang kenyataannya Maluku masih kekurangan beras, sehingga harus dipasok dari Surabaya (Jatim) maupun Makassar (Sulsel)."Maluku baru mampu memproduksi 58.500 ton beras, sedangkan kebutuhan 1,5 juta jiwa penduduk setempat mencapai 120.700 ton sehingga dengan program Pangkin diharapkan mampu memenuhi kandungan karbohidrat tersebut," ujarnya.(Antara)


Jurnas.com
[Read More...]


Besar Kecil Normal Bagikan 0 Padi Wisanggeni, Varietas Unggulan Baru dari Jawa Timur



Jumari, 40 tahun, petani asal Desa/Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menunjukkan hasil padi dari benih “Wisanggeni” yang ditemukannya. TEMPO/Ishomuddin

TEMPO Interaktif, Surabaya - Dinas Pertanian Jawa Timur berhasil melakukan uji coba penanaman padi varietas baru yang diberi nama Wisanggeni. Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Ekoputro menjelaskan bahwa padi Wisanggeni merupakan hasil temuan seorang petani asal Kabupaten Ngawi, Jumari, yang juga Ketua Gabungan Kelompok Tani Mulyo di Kabupaten Ngawi.

Menurut Wibowo, uji coba dilakukan sejak tiga bulan lalu pada areal seluas 500 hektare di tiga kabupaten, yaitu Ngawi, Madiun, dan Nganjuk. "Pada 10 Agustus mendatang, panen perdana akan kami lakukan," kata Wibowo, Rabu, 3 Agustus 2011.

Hasil riset yang dilakukan Dinas Pertanian menyebutkan bahwa varietas Wisanggeni ternyata mampu menghasilkan buliran padi lebih bagus dibanding padi varietas biasa.

Selain itu, padi Wisanggeni terbukti tahan terhadap serangan hama, juga tidak rebah dan roboh ketika ditiup angin maupun saat terkena hujan.

Satu rumpun Wisanggeni memiliki 20-30 batang atau lebih banyak dibanding padi biasa yang hanya berkisar antara 10-20 batang.

Banyaknya batang membuat padi Wisanggeni mampu menghasilkan gabah kering panen 7-8 ton per hektare atau lebih banyak dibanding padi biasa yang hanya mampu menghasilkan gabah kering panen seberat 5-6 ton per hektare. "Benih Wisanggeni berasal dari gabungan 20 benih padi lokal," papar Wibowo.

Dari hasil penggabungan yang dilakukan Jumari, ditemukan dua varian benih Wisanggeni. Terdiri dari varian dengan masa tanam sedang, yakni 90-95 hari dan mampu menghasilkan sekitar 6-7 ton gabah per hektare dan varian dengan masa tanam 100-110 hari dan menghasilkan gabah 9-10 ton per hektare.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo berjanji segera mematenkan bibit padi Wisanggeni temuan Jamari tersebut. Bahkan awal Januari 2011 lalu, Soekarwo secara khusus telah memperkenalkan bibit padi Wisanggeni kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kalau panen nanti berhasil, pasti langsung kami patenkan," ucap Soekarwo.

Soekarwo juga berjanji akan memberikan kesempatan kepada para petani untuk meniru Jumari dalam menciptakan bibit-bibit padi varietas baru. "Kami pasti memberikan bantuan dana untuk menunjang kreativitas mereka."[FATKHURROHMAN TAUFIQ]



TEMPOInteraktif
[Read More...]


Produksi Pangan Digenjot Melalui Pemanfaatan Teknologi Nuklir



BANJARMASIN--MICOM: Pemerintah akan memanfaatkan teknologi atom dan nuklir untuk menunjang peningkatan produksi pangan nasional. Itu dilakukan guna mengantisipasi ancaman krisis pangan akibat pengaruh perubahan iklim dunia.

Demikian dikemukakan Kepala Balai Penelitian dan Pembangunan Pertanian RI Haryono di sela-sela Rapat Koordinasi Peningkatan Produksi Beras Nasional di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (11/4).

"Upaya peningkatan produksi pangan yang kita lakukan selama ini baru secara konvensional. Ke depan kita akan memanfaatkan teknologi atom dan nuklir," ujarnya.

Ia mengkui, sebenarnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk pengembangan pertanian sudah dilakukan pemerintah, tetapi dalam cakupan kecil. Pemanfaatan teknologi nuklir dan atom diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan nasional secara signifikan.

Saat ini, katanya, pemerintah menarget produksi padi nasional 70,8 juta ton atau naik 7% dari produksi 2010. Produksi padi dari total luas tanam sekitar empat juta hektare itu masih berpotensi untuk ditingkatkan melalui berbagai strategi, seperti penambahan luas tanam dan peningkatan produktifitas lahan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produktivitas rata-rata lahan pertanian Indonesia baru 5,06 ton per hektare. Padahal potensi produksi maksimal lahan pertanian bisa mencapai delapan ton. (DY/OL-01)


MediaIndonesia
[Read More...]


Tepung Suweg Siap Menyaingi "Oatmeal"



illustrasi

Suweg sebagai jenis umbi-umbian besar jarang diolah dan dikonsumsi masyarakat karena dengan cara pengolahan biasa bisa menimbulkan gatal-gatal di lidah. Namun dengan pengolahan khusus dan dijadikan tepung, suweg ternyata memiliki kandungan serat lebih besar dibanding oatmeal—dikenal sebagai pangan pengontrol kadar kolesterol.

Tepung suweg (Amorphophallus campanulatus BI) siap menyaingi oat instan, makanan kesehatan untuk menjaga kolesterol darah tetap rendah,” kata peneliti Didah Nur Faridah dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Kamis (20/1).

Tepung suweg ketimbang tepung garut ternyata kandungan seratnya lebih tinggi. Tepung garut memiliki nilai total serat pangan hanya 9,89 persen sementara serat tepung suweg yang teruji ternyata mencapai 15,09 persen.

”Tepung suweg memiliki prospek bagus untuk makanan kesehatan. Namun, sampai sekarang belum ada industri yang memproduksinya,” kata Didah.

Kesulitan untuk memproduksi tepung suweg adalah sulitnya mendapatkan pasokan bahan bakunya. Selama ini suweg belum menjadi tanaman budidaya, bahkan sebagian besar justru dianggap tanaman liar.

Umbi suweg berbentuk setengah bola dengan diameter mencapai 35 sentimeter. Bobot maksimalnya bisa mencapai 15 kilogram per umbi.

Menurut Didah, bagian yang dapat dimakan sebesar 86 persen. Cara mengonsumsi yang lazim dengan mengukus.

Ketika dijadikan tepung suweg, dapat digunakan sebagai bahan baku mi atau roti. Dijadikan bubur pun bisa.

Selain kandungan serat, diuji pula indeks glikemik (IG) untuk mengetahui kecepatan bahan karbohidrat tersebut melepas glukosa ke dalam darah.

Bahan pangan dengan parameter IG makin rendah akan makin baik terutama bagi penderita diabetes melitus. Patokannya, IG di bawah 55 tergolong rendah.

IG pada rentang 55-70 tergolong sedang. Kemudian IG dengan angka di atas 70 tergolong tinggi.

”IG pada tepung suweg mencapai 36. Ini tergolong sangat rendah karena jauh di bawah patokan IG rendah dengan angka indeks 55,” kata Didah.

Dengan serat pangan yang tinggi dan indeks glikemik yang rendah, tepung suweg bermanfaat untuk mencegah timbulnya kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi, dan kencing manis atau diabetes.

”Tepung suweg memiliki fungsional sebagai hipoglikemik dan hipokolesterolemik,” kata Didah.

Mendorong budidaya

Didah menempuh dua periode untuk meriset tepung suweg ini. Pada awalnya, tahun 2003 hingga 2004. Kemudian dilanjutkan pada 2007 hingga mampu mengukur kandungan serat pangan dan indeks glikemiknya.

”Dengan hasil riset ini, saya mendorong supaya petani mau membudidayakan suweg,” katanya.

Didah pernah membeli suweg di Sumedang, Jawa Barat. Harganya masih sangat murah, tetapi memang jarang ada.

Suweg merupakan tanaman jenis umbi dataran rendah hingga ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Tanaman dengan bentuk umbi setengah bola ini diduga berasal dari India. Kemudian suweg tersebar ke Asia Tenggara sampai kepulauan di Samudra Pasifik.

Dengan usia tanam satu tahun, umbi suweg bisa tumbuh mencapai diameter 35 cm. Ini jika ditunjang kesuburan dan kelembaban tanah yang memadai. Suweg juga bagus untuk tumbuh di bawah naungan pepohonan yang menutup sedikitnya 40 persen dari paparan sinar matahari.

Tangkai daun tumbuh di pusatnya. Tangkai daun tumbuh tegak bisa mencapai ketinggian 60-90 cm. Jika daunnya mulai layu, berarti suweg siap dipanen ketika daunnya menunjukkan tanda-tanda mulai layu. Batangnya pun mulai menampakkan warna menguning.

Kulit umbi suweg berwarna coklat tua dengan daging umbi yang berwarna jingga kusam sampai kemerah-merahan. Daging umbi suweg memang bisa menimbulkan gatal karena mengandung kalsium oksalat.

Kalsium oksalat sebenarnya terdapat di hampir seluruh bagian tanaman suweg yang berbentuk jarum halus (raphide). Seperti talas, gatal-gatal akibat mengonsumsi suweg bisa dicegah dengan berbagai cara, di antaranya dengan perendaman ke dalam air yang cukup lama sebelum dimasak.

Kemudian, penyebab gatal itu bisa dihilangkan dengan pemanasan secara intensif. Selain itu, kalsium oksalat dapat dilarutkan dengan asam kuat.

Didah mengatakan, asam kuat yang mudah ditemui di pasaran adalah asam klorida. Namun, asam klorida pun mengandung toksik sehingga sebaiknya digunakan dalam ukuran sangat sedikit.

Asam klorida yang dipakai memiliki kandungan 0,25 persen. Itu pun hanya untuk merendam suweg yang sudah dikupas dan diiris-iris selama 4 menit. Untuk menetralkan kembali kandungan asamnya, dilanjutkan dengan perendaman irisan suweg di larutan kalsium karbonat (soda kue) sebanyak 1 persen selama 5 menit.

Suweg pun siap diolah. Jika ingin ditepung, suweg harus dikeringkan sampai kandungan air maksimal 10 persen. Selanjutnya suweg siap digiling menjadi tepung dengan ayakan 60 mesh.

Melihat khasiatnya, tepung suweg memiliki prospek ekonomi yang bagus. Tentunya berkat riset ilmiah seperti yang dilakukan Didah dan kerabatnya di perguruan tinggi selama ini yang patut mendapatkan apresiasi.[Nawa Tunggal]


KOMPAS

[Read More...]


Kemtan Aloasikan Dana Riset Rp 1 Triliun



ilustrasi perkebunan tebu

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pertanian akan fokus dalam kegiatan penelitian untuk menghasilkan penelitian yang membanggakan dan mampu mengatasi dampak perubahan iklim. Untuk merealisasi kan komitmennya itu, tahun 2011 Kemtan mengalokasikan dana penelitian hingga Rp 1 triliun.

Menteri Pertanian Suswono, Jumat (12/11/2010) di Jakarta mengatakan, sekarang ini penelitian untuk inovasi teknologi pertanian masih belum fokus. Masing-masing lembaga masih bekerja sendiri, belum terpadu.

"Sasaran penelitian juga belum fokus kepada peningkatan hasil. Litbang Pertanian akan fokus ke masalah riset dan pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan daya saing," katanya.

"Kami terus melakukan kerja sama dengan LIPI, dan perguruan tinggi supaya ada kesatuan dalam fokus penelitian. Kami ingin ada fokus penelitian dan ada hasil dari penelitian yang bisa dibanggakan," katanya.

Tantangan lembaga penelitian ke depan semakin berat. Apalagi perubahan iklim global, mengharuskan lembaga penelitian mampu menghasilkan hasil penelitian yang lebih adaptif terhadap dampak perubahan iklim global.

Untuk tanaman padi sudah lebih bagus, karena sudah mampu dihasilkan varietas tanaman padi yang lebih tahan genangan air, kekeringan maupun serangan hama penyakit seperti wereng.

Khusus untuk tanaman tebu, sedang dilakukan riset intensif untuk menghasilkan tanaman tebu yang tetap bisa berproduksi tinggi dan menghasilkan kadar rendemen dalam gula yang tinggi meski tergenang air, atau ditanam di musim hujan yang berkepanjangan.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Kemtan M Syakir mengatakan, Litbang Pertanian sekarang sudah mampu menghasilkan teknologi perbanyakan kultur jaringan untuk menghasilkan benih tebu dengan k adar rendemen gula tinggi yang tahan terhadap deraaan hujan.


KOMPAS

[Read More...]


Petani Lampung Selatan Gunakan Pupuk Organik, Hasilnya Signifikan



Kalianda, Lampung Selatan (ANTARA News) - Sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan produksi padi pada musim tanam tahun ini.

Petani di Desa Tamanbaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Mursidi, Senin mengatakan, dengan menggunakan pupuk organik cair panen meningkat signifikan dibandingkan dengan sebelumnya.

Menurutnya, dengan menggunakan pupuk organik cair membutuhkan masa tanam hingga panen lebih cepat selama 75 hari sedangkan sebelumnya selama 85 sampai 100 hari secara serentak.

"Petani yang menggunakan pupuk organik cair panen lebih awal dibandingkan dengan petani lain," kata dia.

Penggunaan pupuk ini, kata dia hanya menyemprotkan ke bagian batang tanaman dan dapat juga berfungsi sebagai pupuk daun.

Hal senada juga di katakan oleh petani setempat Sukarman, penggunaan pupuk organik cair tersebut telah menjadi andalan petani dalam meningkatkan produksi padi.

"Harga pupuk organik cair lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia yang terkadang sulit didapatkan petani," kata dia.

Pupuk tersebut, kata dia, membuat pertumbuhan rumpun padi lebih banyak, batang lebih besar dan bulir padi lebih meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.

Dia mengatakan, produksi padi dari enam ton menjadi delapan ton per hektare dalam bentuk gabah kering panen (GKP).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kabupaten Lampung Selatan, Muverdi CH, mengatakan, stok gabah di Kabupaten Lampung Selatan bertambah sehubungan panen raya padi tengah berlangsung di daerah tersebut.

Ia menyebutkan panen raya padi tengah berlangsung di sejumlah kecamatan sentra penghasil padi, seperti Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Ketapang, Penengahan, Palas, Bakauheni dan Sragi.

Menurutnya, daerah itu merupakan daerah paling subur dan andalan produksi padi menjadi andalan karena tidak pernah kekurangan pasokan air yang berasal dari kawasan pegunungan Rajabasa.

"Lahan pertanian kecamatan tersebut tidak pernah mengenal panen gadu (kering) atau panen rendeng (basah), karena pasokan air selalu mencukupi dan hanya tinggal membangun sistem irigasi yang memadai untuk petani," ujar dia. (ANT-048/K004)



ANTARAnews
[Read More...]


Prabowo : Indonesia Bisa Pasok Pangan-Energi Dunia



Sidoarjo (ANTARA News) - Indonesia diyakini bisa memasok kebutuhan pangan dan energi dunia karena memiliki potensi sumber daya alam besar untuk dioptimalkan masyarakat.

"Pascakrisis ekonomi global, kini pertumbuhan ekonomi China dengan populasi penduduk besar bisa mencapai 10 persen atau dua digit. Kelemahannya di sana hanya memiliki 7 persen lahan yang bisa ditanam," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional HKTI, Prabowo Subianto, pada Musyawarah Daerah VII Himpinan Kerukukan Tani Indonesia (HKTI) Jatim 2010 di Sidoarjo, Jumat malam.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pascakrisis ekonomi global kini berada di posisi satu digit.

Sayangnya, kata dia, di Indonesia total hutan yang rusak telah mencapai 77 juta hektare.

Ia optimistis, apabila 77 juta hektar hutan rusak di Indonesia bisa diubah menjadi lahan produktif untuk pangan nasional, ke depan bisa menjadi pemasok pangan dan energi dunia.

"Namun, untuk mewujudkannya sering terkendala oleh sikap elit politik negeri ini yang kurang pandai mengelola keuangan negara dan kekayaan alam Tanah Air," katanya.

Ia kecewa, karena banyak anggota DPR RI yang banyak studi banding ke luar negeri dan menghabiskan uang rakyat Indonesia.

"Kalau dihitung jumlah uang untuk jalan ke luar negeri sungguh luar biasa. Lebih baik uang tersebut dialokasikan untuk jalan-jalan ke daerah seperti Madura," katanya.

Di samping itu, terkait perubahan iklim yang melanda seluruh dunia, ia menyebutkan, perlu adanya varietas baru. Apalagi, saat ini harga pangan mulai naik. Bahkan, komoditas tersebut menjadi sulit ditemukan.

"Selain itu, negara ini juga dihambat oleh pertumbuhan penduduk yang sangat besar. Untuk itu, saya minta para anggota HKTI turut menyukseskan program keluarga berencana," katanya.

Mengenai nilai simpanan petani, tambah dia, sampai sekarang di BRI secara nasional mencapai Rp31 triliun. "Jangan sampai uang dari desa mengalir ke kota berlanjut ke ibu kota dan tidak kembali ke desa," katanya.(*)(ANT-071/B/I007/R009)


ANTARAnews
[Read More...]


Pemerintah Alokasikan Rp3 Triliun Untuk Pangan 2011



Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp3 triliun untuk ketahanan dan stabilisasi pangan selama tahun 2011.

"Anggaran untuk pangan di APBN 2011 sebesar Rp3 triliun, terdiri dari anggaran untuk beras Rp1 triliun dan untuk meningkatkan ketahanan pangan Rp2 triliun," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa usai rapat membahas masalah kehutanan di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Senin.

Menurut Hatta, konteks ketahanan pangan mencakup aspek yang luas, tidak hanya pada peningkatan produksi pangan tetapi juga menyangkut hal lain seperti kesejahteraan petani dan diversifikasi pangan.

Ia menyebutkan, diversifikasi pangan menjadi masalah penting karena tidak semua warga di Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok.

"Apakah tepat memberikan raskin ke Papua. Pemda Papua mungkin berat mengangkat beras melalui udara ke gunung-gunung padahal mereka makan ubi. Artinya mengembalikan makanan pokok ke aslinya akan kita dorong. Itu menjadi perhatian kita ke depan," katanya.

Terkait dengan diversifikasi pangan, Menko Perekonomian menugaskan Menteri Pertanian untuk mendesain roadmap diversifikasi pangan termasuk pangan untuk rakyat miskin.

"Misalkan daerah-daerah tertentu apakah butuh beras, atau diberikan dalam bentuk makanan pokoknya saja. Konkritnya tanya ke Mentan saja," katanya. Mengenai alokasi anggaran pangan 2011, Menkeu Agus Martowardojo membenarkan bahwa anggaran pangan untuk 2011 mencapai sebesar RP3 triliun.

"Kita anggarkan untuk beras Rp1 triliun dan cadangan stabilisasi pangan Rp2 triliun sehingga totalnya Rp3 triliun di 2011," kata Agus.(ANT/A024)


ANTARAnews
[Read More...]


Empat Negara Sepakati Sertifikasi Halal Bersama



Suryadharma Ali. (TEMPO/Imam Sukamto)

TEMPO Interaktif, Jakarta - Brunei, Malaysia, Singapura dan Indonesia bersepakat mengeluarkan sertifikasi halal bersama, sehingga makanan, obat-obatan dan kosmetik yang sudah mendapat sertifikat halal di satu negara, maka halal juga di tiga negara lainnya.

"Jadi sertifikat halal yang berlaku di keempat negara. Ini membuat nyaman konsumen di masing-masing negara," kata Menteri Agama Suryadharma Ali di Bandara Soekarno Hatta, Banten, Ahad 17 Oktober 2010, usai kembali dari Musyawarah MABIMS di Brunei.

Pertemuan itu dihadiri para Menteri Agama dari Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura ke 14. Hadir para menteri yang menangani agama Islam seperti Dato Pengiran Seri Setia dari Brunei, Dato Seri Jamil Khir bin Haji Baharom dari Malaysia, dan Jacob Ibrahim dari Singapura.

Untuk kesepakatan tersebut, akan dirumuskan bersama lebih lanjut mengenai kriteria halal suatu produk yang akan berlaku sama di keempat negara tersebut.

Pada Musyawarah itu juga disepakati keempat negara untuk menjadikan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin dan moderat dengan upaya dakwah dan syiar Islam. "Saat ini diperlukan penghayatan, pemahaman dan pengamalan agama yang sebenarnya, sehingga bisa terhindar dari pandangan sesat," katanya yang didampingi Dirjen Bimas Islam Nasaruddin Umar dan Sekjen Kemenag Bahrul Hayat.

Disepakati pula, kata Suryadarma, untuk bertukar pengalaman bagaimana mengupayakan pengentasan kemiskinan melalui instrumen zakat yang terdiri dari dua persoalan yakni bagaimana mengumpulkan zakat dan mendistribusikan zakat.

"Kalau zakat bisa terkumpul semua jumlahnya bisa Rp100 triliun, tapi kita baru bisa kumpulkan Rp1,5 triliun. MABIMS ini momentum untuk memikirkan zakat bisa lebih efektif, dan dalam waktu dekat kami akan memanggil ahli-ahlinya," katanya.

Saat ini, menurut dia, sedang dibahas RUU tentang zakat yang di dalamnya juga membahas tentang zakat yang bisa mengurangi pajak.

MABIMS, ujarnya, didahului dengan pembahasan persoalan di tingkat pejabat kementerian atau Senior Official Meeting (SOM), dan diawali dengan Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) untuk anak-anak. (WDA | ANT )


TEMPOInteraktif
[Read More...]


Sereal Bikinan IPB Juara di Amerika Serikat



Empat mahasiswa Institut Pertanian Bogor, Stefanus, Agus Danang Wibowo, Saffiera Karleena,Margaret Octavia, menjuarai kompetisi produk pangan internasional, Institute of Food Technologists (IFT) Annual Meeting and Food Expo di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 17-20 Juli lalu.

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sereal bukanlah jenis makanan yang lazim dikonsumsi di Indonesia. Karena itu, tak banyak yang memproduksi makanan ini. Tapi sereal olahan empat mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor ini berhasil menjuarai kompetisi produk pangan internasional, Institute of Food Technologists (IFT) Annual Meeting and Food Expo di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 17-20 Juli lalu.

Keempat mahasiswa itu adalah Stefanus, Agus Danang Wibowo, Saffiera Karleena, dan Margaret Octavia. "Sereal kami dinilai lebih enak dan memiliki cita rasa lokal," kata Stefanus saat dihubungi Rabu lalu.

Mereka menamakan serealnya Crantz Flakes. Bahan bakunya adalah singkong, kedelai, pisang, tepung beras, gula, dan garam. Menurut Stefanus, pembuatan Crantz tidak menggunakan air. Alasannya, Crantz dibuat dengan asumsi lokasi di Nusa Tenggara Timur. "Di sana jarang (terdapat) air bersih," katanya.
Provinsi ini dipilih lantaran juri mensyaratkan produk yang dilombakan bisa menjadi penyelesaian krisis pangan atau kekurangan gizi di daerah tertentu. "Angka gizi buruk Nusa Tenggara Timur tertinggi di Indonesia," kata Agus memberi alasan.

Ide membuat Crantz berasal dari Stefanus dan Agus. Sebelum membuat Crantz, keduanya, bersama Yogi Karsono, mengikuti kompetisi produk pangan yang digelar Himpunan Mahasiswa Teknologi dan Industri Pertanian IPB pada Januari lalu. Mereka membuat sereal berbahan baku bekatul yang kaya serat. Tujuannya, "Membuat produk rendah kolesterol," ujar Agus melalui sambungan telepon Rabu lalu.

Bersama tim Zuper T, juga dari IPB, dan Universitas Brawijaya, Malang, mereka dipilih juri sebagai tiga besar kategori peserta internasional. Selanjutnya pemenang diminta mempraktekkan produk mereka dan diuji di depan dewan juri. "Tahapan ini yang paling seru," kata Agus.

Beruntung, tim Crantz memiliki Saffiera, yang gemar memasak, dan Stefanus, yang memahami banyak bahan pangan. Keunggulan ini bertambah sempurna dengan adanya Agus, yang jago menuliskan presentasi. Mereka ulet meramu bahan baku untuk mendapatkan komposisi yang oke.

Kendala justru datang dari masalah teknis pemberangkatan. "Kami tidak punya ongkos," kata Agus. Hadiah dari IFT sebesar US$ 2.000 tidak cukup untuk tiket perjalanan empat orang. Selama dua pekan mereka berjibaku mendapatkan bantuan dana. Walhasil, mulai dari bank hingga dosen bersedia mensponsori.

Sayangnya, justru Stefanus dan Agus tak bisa berangkat lantaran tidak mendapat visa. Akhirnya Saffiera dan Margaret yang berangkat. Saffiera tetap percaya diri. Ia yakin kemenangan diraih sejak timnya menyajikan Crantz di meja dewan juri.

"Sereal kami ludes dimakan juri," ujar Saffiera. Kejadian ini membuat kedua perempuan itu makin percaya diri. "Setiap pertanyaan bisa kami jawab lancar," katanya. Mereka mendapatkan juara pertama dan membawa pulang hadiah US$ 3.500.

Kendati tak menyaksikan langsung, Agus tetap bungah. Setidaknya ia menuai kesuksesan dari hobinya mencicipi makanan. Kesukaan pemuda 22 tahun ini pada bidang pangan berawal dari minatnya terhadap ilmu biologi sejak sekolah menengah atas. "Saya kerap mengikuti kompetisi biologi," ujarnya.

Lulus sekolah, Agus diterima di IPB lewat seleksi bibit unggul. Jurusan pangan dipilihnya lantaran mengikuti nasihat ayah, Mochammad Sidik. Agus diminta memilih jurusan yang berhubungan dengan kebutuhan pokok manusia.

Pilihan Agus tak salah. Selain kuliah, pemuda asal Semarang ini kerap mengikuti lomba. Tidak hanya soal pangan, beberapa lomba dengan tema manajemen perusahaan dia ikuti. "Belajar jadi pengusaha," katanya beralasan. Agus menilai semakin banyak kompetisi diikuti semakin bertambah ide dan kreativitas.

Agus bukan tipe yang ingin terus bergantung pada orang tuanya. Ia ingin mengembangkan bisnis sendiri setelah lulus Juli lalu. Namun, sementara ini, ia memilih mencari kerja dulu. "Mengumpulkan modal dulu," ujarnya.

Stefanus juga memutuskan menjadi karyawan. Pemuda kelahiran Jakarta, 6 November 22 tahun lalu, itu bekerja di perusahaan consumer goods yang kesohor di Jakarta setelah lulus kuliah Juli lalu. Stefanus dikenal ulet. Dia mampu meracik komposisi bahan baku yang pas sehingga produk olahan terasa lezat.

Sudah lama Stefanus berminat terhadap pangan. "Saya suka berkreasi dalam membuat kue dan memasak," katanya. Hobi ini lahir karena Stefanus geram terhadap produk makanan bergizi tinggi tapi mahal. Menurut dia, makanan yang memiliki kandungan gizi bisa diolah dari bahan baku yang sederhana. "Jadi harganya bisa murah," katanya.
Stefanus juga menyoroti bahan baku yang tidak banyak diolah jadi makanan. Dia yakin bahan seperti sorghum, jawawut, hotong, singkong, dan jagung dapat diolah dengan rasa enak dan sehat. Menurut dia, dengan mengolah bahan tersebut, tidak akan ada persoalan kekurangan pangan dan gizi. "Tidak perlu tergantung dengan satu komoditas," katanya.(AKBAR TRI KURNIAWAN)

DI BALIK KEMENANGAN

1. Stefanus
Kelahiran: Jakarta, 6 November 1988
Orang Tua: Thio Man Sin dan Ma Bie Thjung
Pendidikan:
- SMA Kristen Yusuf Jakarta
- Ilmu dan Teknologi Pangan IPB

Penghargaan:
- Juara Pertama Food Innovation Competition 2009 Universitas Pelita Harapan
- Juara National Food Innovation Competition, Indonesian Food Expo 2009, IPB
- Juara National Product Design Competition Hi-Great 2010, Universitas Brawijaya, Malang
- Juara National Food Technology Competition Universitas Katolik Widya Mandala 2010
- Juara I 10th Institute of Food Technologists Annual Meeting and Food Expo, Chicago, Illinois, Amerika Serikat

2. Agus Danang Wibowo

Kelahiran: Semarang, 14 Agustus 1988
Orang tua: Mochammad Sidik dan Endang Ekawati
Pendidikan:
- SMA 3 Semarang (2003-2006)
- Ilmu dan Teknologi Pangan IPB (2006-2010)

Penghargaan
- Danone Trust
- Juara I IFT Annual Meeting and Food Expo, Chicago, AS

3. Saffiera Karleena
Kelahiran: Bogor, 26 Juli 1988
Orang tua: Edi Santoso dan Grace Sri Mulyati
Pendidikan:
- SMA Regina Pacis Bogor (2003-2006)
- Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang

4. Margaret Octavia

Kelahiran: Jakarta, 30 Oktober 1988
Orang tua: Aji Putrawan dan Tjen Nam Lin
Pendidikan:
- SMA Kristen Kanaan (2003-2006)
- Ilmu dan Teknologi Pangan IPB 2006-sekarang


TEMPOInteraktif

[Read More...]


Padi Baru dari Darmaga



TEMPO Interaktif, Bogor - Ramping dan panjang, begitulah bentuk bulir dua varietas padi baru yang diluncurkan Institut Pertanian Bogor (IPB) pada awal Oktober ini. Bentuk yang diperoleh lewat hasil seleksi yang terprogram itu disesuaikan dengan kultur petani sawah pasang-surut Kalimantan yang fanatik menanam jenis padi lokal Siam yang ramping dan panjang.

Dua varietas padi rawa itu dilepas dengan nama IPB 1R Dadahup dan IPB 2R
Bakumpai, hasil kerja sama antara peneliti IPB, Pemerintah Kabupaten
Kapuas, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan
Selatan. "Kami sengaja mempertahankan bentuk bulir padi karena tuntutan pasar di daerah tersebut," kata Hajrial Aswidinnoor, peneliti padi dari Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. "Varietas padi rawa ini mampu beradaptasi baik pada kondisi banyak air dan agak tergenang."

Padi varietas baru itu diluncurkan di Laboratorium Lapangan Agronomi Hortikultura dan Teknik Pertanian Leuwi Kopo Kampus IPB Dramaga bersama dengan belasan varietas buah dan sayur baru lain. Pelepasan varietas baru itu diharapkan mampu merespons tantangan iklim global menuju ketahanan pangan nasional.

IPB 1R Dadahup dan IPB 2R Bakumpai memiliki kapasitas produksi jauh lebih tinggi dibanding padi lokal jenis Siam yang umum ditanam petani rawa di Kalimantan. Sementara kapasitas produksi padi Siam berkisar 2-3 ton per hektare, rata-rata produksi Dadahup mencapai 4,1 ton per hektare dan potensi produksi mencapai 4,7 ton per hektare. Sedangkan rata-rata produksi varietas IPB 2R Bakumpai 4,2 ton per hektare dan potensi produksi mencapai 5,1 ton per hektare.

Keduanya juga berumur genjah. Hanya 112 dan 110 hari sejak benih ditebar, padi siap panen. Sedangkan padi Siam membutuhkan 9-10 bulan jika ditanam dengan cara budi daya tradisional. "Cara tradisional memerlukan empat bulan masa pembibitan dan umur padi siap panen mencapai 5-6 bulan sejak bibit ditanam, sehingga hanya satu kali panen dalam setahun," kata Hajrial.

Kehadiran Dadahup dan Bakumpai diharapkan dapat menggenjot intensitas tanam menjadi dua kali panen setahun, terutama pada lahan-lahan sawah dengan tipe luapan B dan C. Apalagi rasanya lebih enak, pulen sampai sedang.

Hajrial mengembangkan dua varietas padi baru itu dengan menyilangkan padi rawa Kalimantan, Siam Mutiara, sebagai "ibu", dengan varietas unggul Fatmawati, sebagai "ayah". Proses perakitan berlangsung selama 6 tahun, dimulai pada akhir 2004.

Siam Mutiara dipilih sebagai "orang tua" Dadahup dan Bakumpai karena padi lokal itu berumur panjang dan beradaptasi baik pada kondisi agroekosistem sawah pasang-surut Kalimantan, bentuk gabah ramping panjang, dan gabah sangat mudah rontok. Sebagai "ayah", Fatmawati merupakan varietas unggul padi tipe baru (PTB) yang mempunyai potensi produksi tinggi, berumur genjah, memiliki malai lebat, batang tegar, serta daun yang berwarna hijau tua, lebar dan tegak, serta gabah agak sulit rontok.

Hasil persilangan Siam Mutiara dengan Fatmawati di Kebun Percobaan IPB Darmaga itu diberi nomor IPB106. Selama lima generasi, populasi IPB106 difiksasi dengan metode bulk pada 2005-2006. Pada generasi kelima dilakukan seleksi individu tanaman berdasarkan karakter vegetatif dan komponen produksi pada fase generatif. Pengujian galur dilakukan di dua lokasi di Kalimantan, yaitu Danda Jaya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, dan Desa Petak Batuah, Dadahup A2, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Nama kedua daerah itu kemudian dijadikan nama varietas padi tersebut. Nama "Dadahup" untuk varietas yang pertama, diambil dari lokasi transmigrasi eks program sejuta hektare di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Sedangkan "Bakumpai" adalah nama umum untuk wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. "Di tempat itulah kegiatan penelitian dan seleksi banyak dilakukan," ujar Hajrial.

Dari sepuluh galur Uji Multi Lokasi (UML) Konsorsium Padi 2008-2009, terpilih dua galur yang diusulkan Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) pada Desember 2009. Pada Juli 2010, galur IPB106-F-25-DJ-1 dilepas sebagai varietas padi rawa IPB 1R Dadahup dan galur IPB106-F-85-DJ-1 dilepas sebagai varietas padi rawa IPB 2R Bakumpai.

Penetapan tersebut melegakan Hajrial dan rekannya, Willy Bayuardi, yang saat ini tengah menempuh S-3 di Amerika. Pupus sudah rasa lelah oleh berbagai tantangan yang dihadapinya dalam merakit varietas padi rawa itu. Tak hanya harus bolak-balik Bogor-Kalimantan selama kegiatan seleksi dan pengujian-pengujian, mereka juga harus mendatangi sawah rawa Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Riau dalam proses uji lokasi. Pemulia padi rawa itu juga harus tahan gigitan nyamuk rawa yang hidup di lahan rawa yang basah. "Perjalanan ke lokasi saat melakukan pengujian untuk memenuhi persyaratan uji pelepasan varietas cukup melelahkan," kata Hajrial.

Hajrial berharap kedua varietas tersebut dapat mulai disebarluaskan kepada petani dalam satu hingga dua tahun ke depan. Umur genjah serta bentuk gabah yang ramping, seperti padi lokal Siam, diharapkan membuat kedua varietas diterima dan disukai petani. "Sehingga cita-cita pengembangan pola penanaman dua kali panen setahun pada lahan agroekosistem dapat terwujud," ujarnya. Selain padi rawa itu, IPB tengah "menggodok" galur-galur padi unggul lainnya, mulai galur padi sawah irigasi hingga galur padi gogo.(TJANDRA DEWI | DIKI SUDRAJAT (Bogor))


TEMPOInteraktif

[Read More...]


LIPI Luncurkan Buku tentang Keanekaragaman Hayati



TEMPO Interaktif, Jakarta -Memperingati Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober mendatang serta 2010 sebagai tahun keanekaragaman hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan buku tentang keanekaragaman hayati dan pembangunan. Buku berjudul Memupuk Kehidupan di Nusantara, Memanfaatkan Keanekaragaman Hayati dan Keanekaragaman Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan itu ditulis oleh peneliti senior LIPI, Setijati D. Sastrapradja dan Elizabeth A. Widjaja.

Dalam peluncuran buku di gedung PDII LIPI Jakarta, kemarin, Setijati menyoroti keanekaragaman hayati Indonesia yang belum tergali dengan maksimal. "Kita tahu Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati, tapi hanya sampai di situ," katanya. "Kita harus punya kemampuan untuk menggali dan memanfaatkannya."

Keanekaragaman hayati, Setijati melanjutkan, adalah modal bagi pembangunan berkelanjutan. "Sampai sekarang pangan manusia diperoleh dari keanekaragaman hayati," katanya. "Tak kurang dari 3.000 jenis tumbuhan berguna bagi pangan manusia. Tapi, setelah ribuan tahun, hanya sebagian yang dipilih untuk dibudidayakan.

Saat ini manusia hanya bergantung pada 20 jenis tumbuhan. Dari 20 jenis tumbuhan itu, cuma lima jenis yang dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dunia, yaitu gandum, jagung, padi, kentang, dan ketela pohon.

Wakil Kepala LIPI yang baru, Prof Endang Sukara, berharap kedua buku tersebut dapat menggugah kesadaran masyarakat tentang biodiversitas yang masih rendah. Terus menyusutnya keanekaragaman hayati di Tanah Air menjadi bukti bahwa kekayaan satwa dan flora tersebut belum mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. "Kami ingin keanekaragaman hayati tak hanya dipahami oleh masyarakat ilmiah, tapi juga masuk ke relung masyarakat luas," ujarnya. "Agar banyak tumbuhan berguna bisa meningkat menjadi tanaman budi daya."(TJANDRA DEWI)


TEMPOInteraktif

[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri