ISENG BLOGER

Sekilas Bersama Sri Mulyani



Dipinjamkan SBY ke Bank Dunia, Sri Mulyani hanya senyum

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyebut hanya meminjamkan Sri Mulyani kepada Bank Dunia. Saat ini Sri Mulyani duduk sebagai Managing Director World Bank.

Usai mendengar pernyataan dari Presiden SBY tersebut, Sri Mulyani yang ditemui wartawan di JCC, Senayan, Jakarta tidak mau berkomentar panjang. Jika mengacu kata 'dipinjamkan' berarti akan ada saat Sri Mulyani kembali diambil oleh SBY.

"Kapan kembali bu?" tanya wartawan. Sri Mulyani hanya tersenyum dan menyebut kalau pinjamannya harus pakai bunga. "Pakai bunga," ucap Sri Mulyani sambil tersenyum kepada wartawan.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pagi ini Senin (19/8) menghadiri acara kongres pertama Diaspora Indonesia di JCC, Jakarta. Dalam acara ini, hadir Managing Director Bank Dunia Sri Mulyani serta sekitar 6.000 anggota Diaspora Indonesia dari penjuru dunia.

Dalam acara ini, SBY merasa tersanjung dengan sikap nasionalisme para Diaspora yang telah bertahun-tahun hidup di luar negeri. Namun yang menarik, dalam pidatonya SBY menyebut salah satu Diaspora Indonesia yakni Sri Mulyani.

"Ada juga Sri Mulyani, Ekonom terbaik yang kita pinjamkan ke bank dunia. Orang Indonesia pertama yang memegang jabatan tersebut," ucap SBY dalam pidatonya yang disambut tawa para tamu undangan di JCC, Senayan, Jakarta, Senin (19/8).(mdk/noe)

Di depan delegasi diaspora, SBY sanjung Sri Mulyani

Saat membuka Kongres Diaspora Indonesia II, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyanjung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Menurutnya, keberadaan Sri Mulyani menjadi salah satu profil Diaspora Indonesia di dalam komunitas global.

"Ada sosok Sri Mulyani, putri terbaik bangsa Indonesia yang kini kita pinjamkan, kita pinjamkan kepada Bank Dunia untuk menjabat sebagai Managing Director, orang Indonesia pertama yang memegang jabatan tinggi tersebut," sanjung SBY pada pembukaan Kongres Diaspora Indonesia kedua di JCC Senayan, Jakarta, Senin (19/8).

Sebelum memberi sanjungan tinggi kepada Sri Mulyani, SBY lebih dulu menjelaskan mengenai keberadaan Diaspora Indonesia dalam komunitas global. Dia menjelaskan, Diaspora terdiri dari ratusan komunitas yang tersebar di berbagai kota, negara dan benua. Jumlahnya pun diperkirakan hampir sejajar dengan jumlah penduduk di Jakarta.

Meski memiliki perbedaan yang beraneka ragam, namun umumnya mereka memiliki ikatan batin dengan Indonesia.

"Diaspora Indonesia penuh dengan sosok-sosok yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita," tandas SBY.

Selain Sri Mulyani, SBY juga menyebut sosok Sehat Sutardja yang hanya bermodal ijazah listrik dari Pasar Baru namun berhasil meraih gelar Doktor dari UCLA Berkeley. Dia membangun perusahaan IT raksasa Marvell di Silicon Valley yang kemudian menguasai dua pertiga dari industri semi-conductor dunia.

Tak hanya itu, SBY juga menyebut dua kakak beradik dari Kalimantan, Iwan dan Nisin Sunito. Keduanya menjadi raja properti di Sydney dan satunya lagi raja peternakan di Perth.

Kemudian ada sosok Ibrahim Rasool, putra dari keluarga muslim dari Slamang, yang lahir di Cape Town dan kemudian menjadi tokoh African National Congress dan dalam era Presiden Nelson Mandela terpilih menjadi Premier Provinsi West Cape.

"Dan jangan lupa, ada 2,5 juta sosok TKI di luar negeri yang bekerja keras membanting tulang dan selalu mengirim uang untuk membantu sanak saudaranya di tanah air. Dengan sumbangan kolektif sekitar USD 7,1 milyar pada tahun 2012, mereka adalah pahlawan devisa Indonesia yang abadi," pungkasnya.(mdk/hhw)

Sri Mulyani ingatkan pemerintah jaga sumber daya alam 

Kasus pengelolaan sumber daya alam selalu menjadi topik yang menarik di Indonesia. Terlebih, banyak sumber daya alam Indonesia yang akhirnya dikelola oleh asing dan hasilnya dinikmati untuk kemajuan negaranya tanpa memikirkan masyarakat Indonesia.

Managing Director World Bank (WB) Sri Mulyani mengingatkan agar pemerintahan selalu menjaga sumber daya alam yang melimpah di Indonesia.

"Kemajuan untuk mengkapitalisasi natural resources, ini harus dipikirkan Indonesia. Indonesia punya potensi yang baik," ucap Sri Mulyani ketika ditemui di JCC, Jakarta, Senin (19/8).

Bahkan Sri Mulyani menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan Diaspora Indonesia agar ikut menjaga sumber daya alam tersebut.

"Untuk itu Indonesia harus menjaga dirinya. Dari sisi ini Diaspora bisa menjaga. Indonesia punya aset demokrasi yang sudah jalan, ini precious," tutupnya singkat.(mdk/noe)


  ● Merdeka 
[Read More...]


☆ Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, Dari Mencipta “Pabrik” ke Cakar Ayam



oleh: Retty N. Hakim

http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/24954.jpgEntah berapa persen dari orang-orang yang melalui jalan tol Pr. Dr. Ir. Sedyatmo untuk menuju ke Bandara Soekarno Hatta, yang mengetahui riwayat putra Indonesia yang namanya diabadikan sebagai nama jalan tol itu. Nama beliau mendapat kehormatan tersebut adalah karena jasanya menciptakan sistem pondasi cakar ayam yang digunakan untuk pembangunan jalan tol dan Bandara di daerah Cengkareng yang berawa-rawa itu. Walaupun mungkin temuan-temuan baru yang lebih canggih sudah hadir, tetap saja nama Sedyatmo sebagai seorang penemu pada zamannya sudah tercatat oleh sejarah.

Dalam sebuah buku yang berisi riwayat kehidupan pencipta pondasi cakar ayam ini, "Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta" terdapat banyak nasihat kehidupan yang patut dibaca para guru dan pelajar atau mahasiswa, bahkan juga oleh orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Seorang inovator, yang artinya adalah seorang yang memperkenalkan sebuah gagasan atau metode yang baru, ternyata tidak selalu harus lahir dari anak-anak dengan pencapaian akademis tinggi. Yang penting adalah kemampuan sang pendidik untuk mengenali kemampuan anak didiknya dan memberinya kesempatan. Seorang anak bangsa juga bisa mengharumkan nama bangsa di bidang teknologi bila didukung oleh negaranya. Sedyatmo kecil adalah anak kreatif yang sejak kecil sudah menciptakan penemuan-penemuan kecilnya, baik itu dalam menciptakan kualitas benang gelasan yang berbobot, maupun dalam menciptakan "pabrik" dari kotoran kerbau yang menjadi bahan permainannya bersama anak-anak desa selama berhari-hari.

Awalnya dia diberi nama R.M. Sarwanto, tetapi karena dia menderita sakit yang tidak kunjung sembuh, maka sebagaimana biasanya kebiasaan masyarakat Jawa, orang tuanya memberinya nama baru yang lebih sesuai yaitu Sedyatmo. Nama ini memiliki arti sebagai anak yang kelak akan menadi anak yang baik dan berguna baik masyarakat, bangsa, dan negaranya. Buku ini juga menarik untuk dibaca oleh para pendidik zaman sekarang yang seringkali masih memaksakan suatu pendapat tanpa memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mengembangkan proses berpikirnya. Pada halaman 53 dari buku ini diceritakan bagaimana sebagai murid AMS Sedyatmo menentang pendapat gurunya yang menyatakan bahwa bumi itu bulat seperti bola. Alih-alih marah, sang guru mencoba menjelaskan sejelas-jelasnya sehingga akhirnya Sedyatmo mengakui kesalahan pemikirannya. Guru ini pula yang kemudian memberikan jaminan kepada rektor THS (sekarang ITB) bahwa Sedyatmo pasti bisa mengikuti perkuliahan di sana walaupun saat itu nilai rata-rata tes yang dikantonginya tidak tinggi. Berkat dukungan guru yang pernah ditentangnya di kelas itu Sedyatmo akhirnya bisa memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke THS.

Keterbukaan seorang pendidik terhadap anak didiknya sangat penting untuk mengembangkan kreativitas anak didik tersebut. Pengalaman Sedyatmo ketika mempertanyakan fungsi teori bilangan khayal kepada professor yang mangajarnya di THS yang juga dituangkan dalam buku biografi ini memperlihatkan keterbukaan sang pendidik. Dengan jujur sang professor menjawab: "Saya tidak dapat menjawab pertanyaanmu, Tuan Sedyatmo, tetapi saya hanya memberitahukan bahwa kalau Tuan tidak memahami benar teori bilangan khayal, maka Tuan tidak akan menjadi insinyur yang baik." Jawaban ini membuat Sedyatmo justru lebih dalam berpikir dan akhirnya mengakui kekuatan imajinasi sebagai salah satu pilar kesuksesan dalam penemuan baru.

Pengagum tokoh perwayangan Bima dan Gatotkaca ini sangat mempercayai penyelenggaraan kuasa Tuhan dalam hidup manusia. Oleh sebab itu dalam acara penganugerahan gelar doktor kehormatan dari ITB, Sedyatmo berpesan kepada para mahasiswa sebagai calon inovator di masa depan untuk selalu memanfaatkan "aji-aji pancasona" atau senjata lima serangkai yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia yaitu imajinasi, intelektual, intuisi, inspirasi, serta insting yang bekerja di luar kesadaran manusia.

Dalam buku ini juga digambarkan Sedyatmo sebagai putra Mangkunegaran yang besar dalam lingkungan aristodemokrasi, artinya keluarga aristokrat yang menganut paham demokrasi dalam kehidupan harian mereka. Dalam lingkungan seperti ini ia bertumbuh dan belajar untuk menciptakan peluang. Karya pertama yang melecut kepercayaan dirinya sebagai seorang insinyur adalah jembatan air Wiroko yang selesai dibangun pada tahun 1937. Berkat dukungan penuh dari Mangkunegoro VII, maka tentangan dari pemerintah Belanda, bahkan dari almamater Sedyatmo sendiri (THS) tidak menjadi batu sandungan yang berarti baginya. Karya pertamanya itu menjadi pembuka jalan bagi karya-karya selanjutnya.

Sedyatmo memandang kehidupan sebagai peluang dari Tuhan, sehingga ketika harus melepaskan kedudukan dan kekuasaan karena harus pensiun pada usia 55 tahun di tahun 1964 ia tidak memandangnya sebagai kerugian, melainkan justru sebagai kesempatan untuk semakin memperjuangkan temuan pondasi cakar ayamnya. Ia kemudian masih mengabdi di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik hingga tahun 1976. Perjuangan untuk menggunakan pondasi cakar ayam di Cengkareng, yang membawa pengakuan dunia terhadap rancangannya, ternyata bukan perjuangan yang singkat. Inspirasi akan pondasi cakar ayam mucul di tahun 1962 di Pantai Cilincing ketika ia menemani anak-anaknya berlibur di sana. Memang buku ini juga membuka sedikit celah kehidupan pribadi Sedyatmo yang selama 14 tahun, selain bergelut dengan pekerjaannya, juga tetap berusaha memenuhi kewajibannya sebagai orang tua tunggal dari lima orang putrinya. Setelah 14 tahun menduda hadirlah Hj. R. Ay. Sumarpeni Sedyatmo, SH yang kemudian mendampinginya selama 14 tahun terakhir kehidupannya sebagai penyemangat perjuangannya. Buku ini hadir terutama karena kesetiaan sang istri dalam menunaikan amanah untuk menuliskan perjalanan hidup sang suami.

Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa pondasi cakar ayam memiliki hak paten dari 10 negara. Sementara itu Prof. Dr. Ir. Sedyatmo juga memiliki hak paten atas pipa pesat sistem Indonesia yang dipatenkan di lima negara asing. Kisah dalam buku ini berguna bagi orang-orang muda Indonesia untuk melihat bagaimana proses sebuah penemuan diterima di dunia internasional. Bagaimana ia memanfaatkan jurnal internasional untuk memperkenalkan temuan-temuannya. Bukan semata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memperlihatkan pula kemampuan seorang putra Indonesia. Rintangan-rintangan yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri menunjukkan betapa pentingnya dukungan Negara kepada para penemu putra bangsa.

Selain itu Sedyatmo menunjukkan pula bagaimana menjadi seorang nasionalis. Ketika orang asing datang melamar hasil temuan cakar ayamnya, di saat dukungan dari bangsa sendiri belum sepenuhnya diperoleh, ia tetap bertahan pada idealismenya untuk mempersembahkan penemuannya bagi bangsa Indonesia. Memang pantas ia memperoleh Bintang Mahaputra Indonesia kelas I serta Lencana Pengabdian kepada Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan hanya pemerintah Indonesia yang memberinya penghargaan, bahkan pemerintah Perancis juga memberinya penghargaan Chevalier de la Legion d'Honneur karena keberhasilannya memimpin pelaksanaan pembangunan bendungan Jatiluhur.

Dari buku ini juga terungkap bahwa ide awal dari jembatan penghubung Suramadu merupakan hasil mimpi Sedyatmo akan jembatan bahari Ontoseno. Kesan-kesan dari orang-orang yang mengenalnya serta artikel-artikel yang pernah ditulis mengenai dirinya membantu pembaca untuk lebih mengenal pribadi beliau dari sisi-sisi yang berbeda. Satu hal yang sangat menonjol dari karakter Sedyatmo adalah kesabarannya dan kepasrahannya kepada kehendak Yang Kuasa. Kepasrahan itu tidak bersifat pasif, melainkan dengan aktif dia mencari peluang, walaupun tetap bersabar untuk menuai hasil sesuai yang diharapkannya dalam waktu yang diberikan Tuhan. Teknologi bagi Sedyatmo adalah alat untuk mempermudah manusia dan untuk membantu manusia menikmati anugerah alam yang diberikan Yang Maha Kuasa. Walaupun mencari jalan keluar teknologi yang lebih hemat biaya dan hemat waktu, sebenarnya Sedyatmo juga menginginkan karyanya bisa memberi pekerjaan bagi rakyat banyak. Walaupun tidak mengikuti ajakan Bung Karno untuk masuk partai politik, rupanya nasionalisme juga berakar di dadanya. Tidak heran bila dari buku ini kita bisa memperoleh pesan terselubung dari sang inovator agar bangsa Indonesia bisa menghasilkan lebih banyak lagi pembaharu dan pencipta yang mampu berdiri tegak sejajar dengan penemu lain di hadapan semua bangsa di muka bumi.


Judul Buku: Prof.Dr. Ir. Sedyatmo, Intuisi Mencetus Daya Cipta
Penulis: Drs. Ahmad Effendi dan Hermawan Aksan
Penerbit Teraju (PT Mizan Publika)
Tebal buku: 363
Cetakan: I, Oktober 2009

  ●  Wikimu   
[Read More...]


☆ Aleta Baun, Perempuan Pahlawan Lingkungan dari NTT



Perjuangan Mama Aleta membuahkan hasil setelah 11 tahun. 

 Aleta Baun
Aleta Baun, seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur, meraih penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 atas jasa-jasanya di bidang konservasi alam. Mama Aleta menerima langsung Goldman Environmental Prize 2013 dalam satu upacara khusus di San Francisco Opera House, Amerika Serikat, sekitar pukul 17.00, Senin 15 April 2013, waktu San Fransisco, atau pukul 07.00, 16 April 2013 WIB.

Goldman Environmental Prize 2013 merupakan Hadiah Lingkungan Hidup yang diberikan setiap tahun kepada pahlawan lingkungan hidup, masing-masing mewakili enam kawasan besar di dunia. Lima lainnya adalah Jonathan Deal (Afrika Selatan), Kimberly Wasserman (AS), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), dan Nohra Padilla (Kolombia).

Aleta lahir dari keluarga petani di kaki Gunung Mutis, Timor, Nusa Tenggara Timur. Di usia muda, dia kehilangan ibunya sehingga dia dibesarkan perempuan lain di sukunya, Suku Mollo.

Sebagai seseorang yang hidupnya dibentuk oleh nilai-nilai dari tetua suku, Aleta menjadi pemimpin di komunitasnya, sehingga lama-lama dikenal sebagai Mama Aleta. Seperti dilansir laman Goldman Prize, Suku Mollo berabad-abad bertahan hidup dari keanekaragaman hayati di Gunung Mutis yang disakralkan. Mereka mengumpulkan makanan dan obat-obatan dari hutan, menanam di tanah subur dan menenun baju dari serat alami.

Perjuangan Mama Aleta telah dimulai pada 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan industri kehutanan. Gunung Batu Anjaf untuk dikeruk (dibelah) dan diolah menjadi batu marmer. Batu, bagi orang Timor adalah batu nama. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu dihilangkan, maknanya sama dengan menghilangkan identitas orang Timor.

Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan.

Dia pun bertindak, menyatukan komunitas untuk sama-sama menolak upaya korporasi itu demi mempertahankan identitas Suku Mollo. Keinginannya sederhana, agar masyarakat setempat tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah. Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut "protes sambil menenun."

Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.

Kegigihan perempuan kelahiran Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1963 itu mempertahankan tanah leluhurnya dan membangun solidaritas dan menjadi inspirasi bagi kaum tani dan masyarakat adat, khususnya kaum perempuan adat, telah membawanya meraih penghargaan lingkungan hidup "Goldman Environmental Prize 2013".

Penghargaan untuk Masyarakat Adat

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyambut gembira penghargaan Goldman Enviromental Prize 2013 kepada Aleta. “Saya gembira. Ini penghargaan yang pantas buat Mama Aleta. Beliau merupakan Perempuan Adat yang menjadi pemimpin dan memilih menggerakkan perempuan di tengah struktur sosial yang lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki," kata Sekretaris Jenderal AMAN, Abdon Nababan, secara tertulis ke VIVAnews.

Menurut Abdon, Mama Aleta berhasil menggerakkan Masyarakat Adat Mollo untuk kembali percaya pada kekuatan ritual sebagai media yang mempersatukan perjuangan bersama antara masyarakat adat dengan para leluhurnya, salah satunya melawan agresi pembangunan yang masuk dalam bentuk tambang marmer.

"Saya juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga Goldman karena ini kali ketiga pemimpin pergerakan Masyarakat Adat Nusantara menerima Goldman Environmental Prize. Sebelumnya dimenangkan oleh Bapak (alm) Loir Botor Dingit, Kepala Adat Besar Masyarakat Adat Dayak Bentian dari Kalimantan Timur pada tahun 1997 dan Mama Yosepha Alomang dari Orang Amungme di Papua pada tahun 2001," katanya.

Samdhana Institute, lembaga pendukung dan pengusul Mama Aleta ke Goldman Environment Prize, juga menyampaikan ucapan terima kasih. "Penghargaan ini merupakan bentuk penghargaan atas semua perjuangan ibu-ibu petani dan Masyarakat Adat Nusantara yang Mama Aleta wakili sebagai pahlawan dalam pertahanan budaya, pangan, penghidupan berkelanjutan, pemeliharaan dan pengelolaan alam. Ternyata perjuangan beliau dihargai oleh dunia luas lingkungan hidup,” kata Antoinette G. Royo, Direktur Eksekutif Samdhana.

Didirikan sejak 1989 oleh beberapa tokoh masyarakat seperti Richard dan Rhoda Goldman dari San Francisco, Goldman Enviromental Prize saat ini memasuki tahun ke-24. Selain Mama Aleta, Goldman Enviromental Prize 2013 diberikan kepada Jonathan Deal (Afrika Selatan), Azzam Alwash (Irak), Rossano Ercolini (Italia), Kimberly Wasserman (AS) dan Nohra Padilla (Kolombia).

Perjuangan Berlanjut

Meski telah berhasil di kampungnya, perjuangan Mama Aleta terus berlanjut. Kini selain aktif di AMAN, Mama Aleta juga membangun jaringan se-Timor Barat untuk memetakan hutan mereka. Tujuannya adalah agar hak ulayat mereka terjaga dari proyek pertambangan, perkebunan atau penebangan hutan. Mama Aleta juga mengembangkan ekonomi alternatif dengan mengenalkan pertanian berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan dari tenun tradisional.

Perjuangan ini masih berlanjut karena NTT saat ini agresif didekati perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan. Dalam sebuah seminar, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal NTT, Sarah Lery Mboeik, menyatakan, penambangan hanya memberikan kontribusi kurang dari dua persen pada pendapatan daerah. Sebaliknya, pertambangan memberikan kerusakan lingkungan, dan mengurangi lahan produktif.

Tentu saja, penambangan yang diduga mengabaikan dampak lingkungan ini bisa mendatangkan bencana besar, seperti tanah longsor dan kekeringan berkepanjangan. "Penambangan di sana sebagian besar tak memperhatikan Amdal," kata dia, pada November 2011 itu.

Di NTT, menurut Mboeik, tidak kurang dari satu juta hektare lahan warga yang kini dikuasai investor pertambangan. Ironisnya, lebih dari 50 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan. Sebagian besar perusahaan juga memperlakukan masyarakat sebagai pekerja, padahal faktanya, mereka adalah pemilik lahan yang di dalamnya terdapat cadangan tambang.(sj)


  ● Vivanews  
[Read More...]


☆ Sepak Terjang Hasnul di Dunia Telekomunikasi Indonesia



http://img.okeinfo.net/dynamic/content/2013/03/25/54/781000/L8rNsNKXJ5.jpg?w=400Presiden Direktur/CEO PT XL Axiata, Hasnul Suhaimi(Foto: Runi Sari/Okezone) 

Jakarta • Hasnul Suhaemi pernah menjabat sebagai manager yang mengatur bidang telegram di Indosat. Mulai masuk ke Indosat pada 1983, di mana selama 4,5 tahun ia menduduki posisi dari kepala urusan menjadi manager.

“Saya manager telex (telegram) tahun 1987. Pada 1989 pindah ke sentra telefon, jadi manager sentra telefon masih di Indosat. Itu ngurusin 90 persen dari trafik internasional,” ungkapnya.

Ia menceritakan bagaimana ketika itu lulusan elektro dianggap sebagai inti dari perusahaan. “Kalau kita laporan didengerin orang. Tapi setelah 8 tahun, tahun 1989, kita ngomong orang gak peduli lagi. Inti perusahaan pindah dari network produk ke marketing,” jelasnya.

Sempat berpikir hal tersebut tampak tidak adil baginya, namun Hasnul pada akhirnya mengikuti training tentang financial manager. Dalam sebuah percakapan antara dirinya dengan instruktur training, ia ditegur bahwa delapan tahun menggeluti bidang teknis dianggap terlalu lama.

Ia awalnya enggan untuk “pindah jalur” ke dunia non-teknis, namun ia tergugah untuk bisa naik ke tingkat selanjutnya. Maka, ia harus menggeluti bidang lain, yakni marketing agar bisa mencapai posisi teratas dalam sebuah perusahaan, yang salah satunya ia tempuh dengan melanjutkan studinya ke luar negeri.

“Dari situ saya mulai, marketing ada 001, 007, 008 pertama kali telekomunikasi di Indonesia berkompetisi. Setelah itu terjadi krisis moneter dan Telkomsel sedang butuh direktur marketing,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, posisi direktur marketing ialah pertama kalinya ia jabat di Telkomsel. “Waktu di Indosat jadi GM (general manager) dari 1987 sampai 1993, 1998 direktur marketing Telkomsel,” imbuhnya.

Setelah ia menjabat direktur marketing Telkomsel, pencapaiannya selama 2 tahun di Telkomsel ialah berhasil menjaring pelanggan dari 375 ribu, menjadi 2 juta pelanggan Telkomsel. “Balik lagi ke Indosat, jadi Dirut IM3 (2001) sampai 2005,” tambahnya.

Hasnul menceritakan bahwa ketika itu Dirut XL yang berkebangsaan Prancis hendak pindah ke Afrika. Kemudian, ia ditawarkan posisi Dirut XL. “Awalnya saya gak mau, tetapi lama kelamaan saya tertarik karena kesamaan visi,” pungkasnya. Hasnul Suhaemi menjabat menjadi Dirut atau Chief Executive Officer (CEO) XL sejak 2006.(fmh)


  • Okezone  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8I5WFWF4eNTjLc7FaO2CFUkXNfdxGv3P-cIOGVIz8nfIOltGuXlCZZOCEfSkv3KqyltOf7CI08nENmsm5p5W0-c4kuS64tyaCPb81NFU8ky5fu5dzBXItxFLq9v_M4zshyIoRKddcciU/s35/cinta-indonesia.jpg
[Read More...]


☆ Habibie & Ainun Serta Industri Diperkosa



http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2013/01/1357615728832100176.jpgDi sebulan ini, film Indonesia menjadi topik hangat: Habibie dan Ainun. Hingga 3 Januari lalu, penonton mencapai 2,1 juta dalam dua minggu. Angka itu mencatat rekor tertinggi, bahkan kata produsernya akan masuk Museum Rekor Indonesia (MURI). Kendati belum meraih angka 5 juta penonton bak Laskar Pelangi, Habibie & Ainun, fenomenon.

Menjadi fenomena pula, karena berbagai pihak membicarakan ihwal kisah cinta Habibie dan Ainun. Gosip di media sosial, bicara tentang romantis dan kesetiaan Habibie. Bila sudah sampai di sini, sebagai pria, saya pastilah tak sepadan dengan Habibie.

Kendati demikian, pada kesempatan ini ingin saya menulis, premis tersirat lain di film itu. Tak bisa dipungkiri, terungkap kekecewaan Habibie akan industri dirintisnya di saat di ujung pemerintahan Soeharto, terjerembab, terbengkalai, Industri Peswat Terbang Nurtanio (IPTN) - - kini PT Dirgantara Indonesia. Di bagian akhir filmnya Habibie mengajak Ainun ke hanggar pesawat N250. Habibie menggerakkan baling-baling. Tangannya geram. Ia memeluk Ainun.

“Gara-gara ini, waktuku minim untukmu dan anak-anak,” kata Habibie.

“Bayangkan 17.000 pulau di Indonesia butuh alat transportasi cepat, murah.”

Bertekad membangun industri peswat terbang, menderma-baktikan ilmu belajar di Jerman, Habibie pulang dengan semangat cemerlang. Apa lacur, di kemudian hari ia menghadapi kemurungan, pesawat mangkrak berdebu di IPTN. Sebagaimana di film, terang-benderang Habibie menghadapi vendor pengusaha culas, terbiasa menyogok, giliran ditolak mengancam bawa-bawa backing. Juga oknum jenderal di awal-awal membangun industri tidak sreg rencana Habibie. Kuat diugaan sang jenderal memang kaki tangan asing.

Asing-Aseng di ranah kongkalingkong.

Di lapangan sebagaimna pernah saya verifikasi, saya menemukan seorang saksi  membayar kolomnis untuk menembus KOMPAS dan TEMPO seharga US $ 5.000 perkolom opini. Kolomnis bernama, mereka berikan tulisan 500 kata. Intinya tulisan memojokkan, menjelekkan IPTN dan program Habibie. Puncaknya ketika IPTN membarter pesawatnya dengan beras ketan dari Thailand, isu miring pun menjadi-jadi.

Padahal, ketika saya sempat pada 2010 lalu ke Emirat Arab, keluarga Syekh Zayed, memberi tempat terhormat kepada Habibie. Peswat N-235 produksi IPTN mereka cat putih dijadikan pesawat VVIP. Dan bila saya tak keliru, Habibie dijadikan keluarga kehormatan, konon diangkat anak. Maka setiap Habibie ke Emirat Arab, pastilah disambut langsung saudaranya, keluarga raja, dihormati sekali.

Lain halnya di negaranya sendiri. Banyak pihak mencibir. Bahkan ketika beberapa time line saya tulis di twitter Minggu malam, ada follower mengaku industrialis hebat. Ia mengatakan pada 1987 sudah menulis bahwa produktifitas IPTN rendah. Bagi saya sosok orang Indonesia demikian sudah termakan isu luar tak ingin tumbuhnya industri manufaktur untuk kepentingan lokal.

Dan lebih sadis lagi, sebagaimana saksi mata Said Didu, di media sosial mengatakan, di saat pertanggung-jawaban Presiden Habibie di DPR, ada anggota DPR bertindak, maaf, bak kaki empat. Mereka berteriak huuuu di saat Habibie masuk sidang pleno DPR. Dalam perkembangan waktu saya menemukan indikasi fakta nyata, ternyata untuk huuu itu ada dana Rp 50 miliar digelontorkan kepada sebuah fraksi di DPR.

Habibie pun tidak diterima pertanggung-jawabannya di DPR.

Industri peswat terbang RI seakan mangkrak.

Dan kemudian seakan terhenti. Fakta nyata-nyata memang disuruh hentikan oleh IMF, melalui surat resmi yang dituangkan ke nota kesepahaman dalam bantuan IMF terhadap Indonesia untuk tidak meneruskan industri strategis termasuk IPTN.

“IPTN dihentikan karena Habibie ingin membangun pesawat jet N 2130, karena memang terbukti sangat laris di pasaran,” kata Said Didu, Mentan Sekjen Kementrian BUMN, di Twitter.

Apa lacur. Industri strategis kita memang diperkosa. Sama halnya sebagaimana acap saya tulis, perusahaan otomotif seperti Perkasa teknologinya didukung oleh Steir pun mangkrak berserak. Potensi? Jangan ditanya.

Kini simaklah pesawat bagaikan N250, kita membeli dari Cina. Bahkan pesawat jet seperti hendak dibangun oleh IPTN, di format hampir sama, dibeli penerbangan nasional ratusan, menjadi belanja terbanyak dalam sejarah beli-beli pesawat dunia.

Lengkaplah sudah.

Di saat orang heboh film Habibie dan Ainun, mata saya berkaca. Membayangkan sahabat saya seperti Dadang Erawan di Bandung. Ia doktor aeronatika, mantan IPTN. Isterinya di Bandung membuat usaha yoghurt berlabel Odise. Lumayan laris. Entah karena isterinya orang Perancis atau memang ada peruntungan di sana, tapi kegigihannya mengikuti tender-tender dunia di pembuatan wind tunel (terowongan angin) untuk uji kelaikan terbang pesawat, satu dua membuahkan hasil. Paling tidak ada saja order kepadanya di harga US $ 1,5 juta dalam setahun. Bagi saya ini luar biasa, bukti bahwa anak-anak Indonesia mumpuni.

Sahabat satunya lagi Hemat Dwi Nuryanto, pendiri Zamrud teknologi. Saya pun kadang merinding dengan karya-karyanya di aplikasi kini. Otomasi radio 2.0 di jaringan www.diradio.net, adalah karyanya. Ia berkantor di gedung di belakang Masjid Salman, Bandung. Bersama timnya mereka membuat aplikasi otomasi radio RISE, yang memudahkan penyiar, pendengar, pengiklan dalam menyimak mengoperasikan radio. Bahkan seorang penyiar dapat me-remote siaran dari gadget-nya di mana pun ada akses internet. Siaran sambil ngopi di gunung pun bisa. Pengiklan dapat menyimak real time penayangannya. Pemilik tahu pendapatan bisnisnya itungan klik.

Baik Dadang dan Hemat, punya pula teman seangkatan. Nah ini bikin saya marah. Teman mereka itu sudah lama bekerja membuat pesawat tanpa awak untuk Malaysia. Entah untuk apa  bagi Malaysia. Saya duga ya untuk memata-matai Indonesia. Maka suatu hari pernah saya laporkan ke Menkopulhukam, Djoko Suyanto, agar anak-anak hebat seperti ini dibawa pulang. Saya diminta ketemu Deputinya, alhasil katanya belum ada anggaran untuk itu. Padahal membawa pulang ajak omong, sementara dengan biaya Rp 5 juta juga beres, lalu berikutnya bisa dibuat rencana kerja, program dan sebagainya.

Brain drain insinyur hebat yang disekolahkan Habibie banyak sekali, bukan hanya seperti cerita di atas. Di industri pesawat Boeing beberapa manajer mantan IPTN.

Maka atas dasar itu, saya lantang saja bicara. Orang Indonesia menghina IPTN, menghina Habibie, dengan huuu di DPR misalnya, lebih jauh membuat segala kehebatan bangsa sendiri mati, sejatinya jasadnya saja manusia. Hatinya tak lebih dari sosok berkaki empat. Mungkin tepatnya manusia berkaki empat anteknya IMF beserta sekutu.

Lain tidak.

• Iwan Piliang, Citizen Reporter (kompasiana)
[Read More...]


☆ Jokowi ditetapkan sebagai wali kota terbaik ketiga di dunia



Jakarta � Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi wali kota terbaik ketiga dunia. Jokowi dipilih karena reputasinya yang membawa perubahan di Kota Surakarta saat menjabat sebagai wali kota.

Dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1), predikat pertama wali kota terbaik dunia jatuh pada Inaki Azkuna, Wali kota Bilbao, Spanyol. Inaki Azkuna dikenal karena kebijakannya yang radikal sehingga mampu menyulap Bilbao dari kota industri menjadi kota pusat pariwisata dan seni internasional.

Saat menjabat, Inaki memutuskan untuk menghabiskan hampir USD 230 juta dari uang publik untuk museum untuk seni modern. Kebijakan ini pun segera mengundang kritik keras karena Inaki dianggap menghambur-hamburkan uang rakyat.

Namun perkembangan sejak saat itu telah membungkam para kritikus. Jumlah pengunjung tahunan ke kota Bilbao meningkat dari 100.000 sebelum pembukaan museum menjadi lebih dari 700.000 pada tahun 2011.

Di posisi kedua wali kota terbaik dunia ini jatuh kepada Lisa SCAFFIDI, Wali kota Perth, Australia Barat. Lisa berhasil meningkatkan profil internasional kota itu. Lisa dianggap wali kota yang membuat kota Perth dikenal sebagai pembuat roti dan susu.

Sedangkan Indonesia diwakili Jokowi. Jokowi selain dianggap sukses mengangkat Surakarta juga sukses dalam kampanye antikorupsi. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya mendapatkan reputasi sebagai politisi jujur. Saat menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi juga menolak untuk mengambil gaji.(mdk/hhw)

 Terbaik ke-3 dunia, Jokowi kalah dari Wali Kota Bilbao & Perth

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) terpilih menjadi wali kota terbaik ketiga dunia. Jokowi dipilih karena reputasinya yang membawa perubahan di Kota Surakarta saat menjabat sebagai wali kota. Jokowi kalah dengan Walikota Bilbao, Spanyol dan Walikota Perth, Australia.

Dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1), Walikota Bilbao, Spanyol, Inaki Azkuna dikenal karena kebijakannya yang radikal. Dia mampu menyulap Bilbao dari kota industri menjadi kota pusat pariwisata dan seni internasional.

Kebijakan Inaki yang memutuskan untuk menghabiskan hampir USD 230 juta dari uang publik untuk museum untuk seni modern mengundang kritik keras. Inaki dianggap menghambur-hamburkan uang rakyat.

Namun perkembangan sejak saat itu telah membungkam para kritikus. Jumlah pengunjung tahunan ke kota Bilbao meningkat dari 100.000 sebelum pembukaan museum menjadi lebih dari 700.000 pada tahun 2011.

Sementara di posisi kedua wali kota terbaik dunia ini jatuh kepada Lisa Scaffidi, Wali Kota Perth, Australia Barat. Lisa berhasil melambungkan kotanya ke kancah internasional. Di tangan Lisa, Perth dikenal sebagai pembuat roti dan susu yang berkualitas dunia.

Bagaimana dengan Jokowi? Jokowi selain dianggap sukses mengangkat Surakarta juga sukses dalam kampanye antikorupsi. Kampanyenya melawan korupsi membuatnya mendapatkan reputasi sebagai politisi jujur. Saat menjabat sebagai wali kota Solo, Jokowi juga menolak untuk mengambil gaji.

Saat ini, Jokowi telah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Pria kalem ini belum berkomentar terkait terpilihnya dia sebagai wali kota terbaik ketiga dunia.(mdk/war)

 World Mayor dibanjiri pujian untuk Jokowi

World Mayor menetapkan Jokowi sebagai wali kota terbaik ketiga dunia. Saat polling dibuka segudang pujian untuk Jokowi pun menumpuk. Jokowi banyak dipuji karena kejujurannya dan empatinya yang tinggi.

"Ada di sini daftar panjang testimonial positif dan pujian tulus dan sangat antusias untuk walikota, yang paling terutama untuk kejujuran," seperti dikutip dari http://www.worldmayor.com, Selasa (8/1).

Jokowi terpilih menjadi wali kota Solo sejak Juli 2005. World mayor mencatat, Kota Solo sebelumnya sangat rawan tindak kejahatan, namun oleh Jokowi, Solo atau Surakarta lalu disulap menjadi kota pusat regional untuk seni dan budaya, yang telah mulai untuk menarik pariwisata internasional.

"Dia terlihat sebagai pelayan publik. Kualitas pribadinya, kerendahan hatinya jelas, dan sangat menghargai orang lain," terangnya.

Salah satu yang menarik bagi world mayor adalah kebijakan Jokowi yakni satu jam di kantor dan sisanya dia habiskan dengan blusukan. "Dia baru saja memenangkan pemilihan untuk menjadi gubernur Jakarta dengan margin yang jelas," lanjutnya.

Berikut 10 wali kota terbaik dunia yang dirilis oleh World mayor

1. Iataki Azkuna Wali Kota Bilbao, Spanyol
2. Lisa Scaffidi Wali Kota Perth, Australia
3. Joko Widodo Wali Kota Surakarta, Indonesia
4. Racgis Labeaume Wali Kota Quabbec City, Kanada
5. John F Cook Wali Kota El Paso, Amerika
6. Park Wan-su Wali Kota Changwon City, Korea Selatan
7. Len Brown Wali Kota Auckland, Selandia Baru
8. Edgardo Pamintuan Wali Kota Angeles City, Filipina
9. Mouhib Khatir Wali Kota Zeralda, Aljajair
10. Alfonso Sainchez Garza Wali Kota Matamoros, Meksiko
(mdk/hhw)


[Read More...]


☆ Sri Mulyani Masuk 100 Top Global Thinkers 2012  



http://statik.tempo.co/data/2011/04/19/id_72439/72439_275.jpgWashington - Sri Mulyani Indrawati, Managing Director Bank Dunia, masuk dalam daftar 100 Top Global Thinkers 2012 versi Foreign Policy. 100 Top Global Thinkers 2012 menjadi cover story majalah politik dan ekonomi ini untuk edisi Desember 2012.

Dalam daftar yang dirilis Senin, 10 Desember 2012, mantan Menteri Keuangan Indonesia ini berada di urutan ke-72 dari 100 pemikir global lainnya.

Foreign Policy menuliskan, Sri Mulyani Indrawati, 50 tahun, mendapat penghargaan yang tinggi karena sebagai Menteri Keuangan selama periode 2005-2010 berhasil melakukan reformasi besar-besaran dengan menindak pejabat Pajak (Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan) yang korupsi.

Sri Mulyani juga dinilai berhasil meningkatkan pendapatan dari Pajak sebanyak empat kali lipat sehingga membuat negara dengan penduduk 250 juta orang berhasil keluar dari krisis keuangan global dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 6 persen.

Saat ini sebagai Managing Director Bank Dunia, kata Foreign Policy, Sri Mulyani berkeliling ke berbagai negara di dunia untuk memberikan saran atau nasehat tentang pertumbuhan ekonomi dunia dengan berkaca dari keajaiban perekonomian Indonesia.

Resepnya sangat sederhana: pemotongan fiskal yang masuk akal plus mendorong kebijakan yang meningkatkan pertumbuhan dengan membebaskan segala hambatan di bidang perdagangan, investasi, dan inovasi.

Majalah Forbes pada Agustus lalu juga menempatkan Sri Mulyani dalam daftar 100 World’s Most Powerfull Women. Sri Mulyani berada di urutan ke-72.

Majalah Forbes menyebutkan, Sri Mulyani yang menjadi Managing Director dan wanita paling senior di Bank Dunia sejak Mei 2012, selama menjadi Menteri Keuangan Indonesia pada 2005-2010, berhasil memotong separuh utang Indonesia dan berhasil ikut menaikkan cadangan devisa negara ke level tertinggi sepanjang masa, yakni US$ 50 miliar.

Majalah Forbes juga mengatakan, sebagai Managing Director Bank Dunia yang membawahi negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah banyak memberi perhatian kepada negara-negara berpenghasilan menengah dengan membagi pengalamannya sebagai Menteri Keuangan Indonesia.


● Tempo
[Read More...]


☆ Kisah Jenderal Besar Soedirman



 Soedirman, Bapak Tentara dari Banyumas 

Jakarta--Ia mungkin telah jadi ikon: sepotong jalan utama dan sebuah universitas negeri telah menggunakan namanya. Raut lelaki tirus itu pernah tertera pada sehelai uang kertas.

Di Jakarta, tubuhnya yang ringkih diabadikan dalam bentuk patung setinggi 6,5 meter di atas penyangga 5,5 meter. Menghadap utara, dibalut jas yang kedodoran, ia memberi hormat--entah kepada siapa.

Barangkali, hanya sedikit cerita yang kita ingat dari Soedirman--sejumput kenangan dari buku sejarah sekolah menengah. Ia panglima tentara yang pertama, orang yang keras hati. Ia pernah bergerilya dalam gering yang akut--tuberkulosis menggerogoti paru-parunya.

Sejak ia remaja, orang segan kepadanya: karena alim, dia dijuluki kaji. Ia aktif dalam gerakan Hizbul Wathan--kepanduan di bawah payung Muhammadiyah.

Dipilih melalui pemungutan suara sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat/Angkatan Perang Republik Indonesia pada 12 November 1945, Soedirman figur yang sulit dilewatkan begitu saja. Ia mungkin sudah ditakdirkan memimpin tentara.

Dengan banyak pengalaman, tak sulit baginya terpilih sebagai panglima dalam tiga tahap pengumpulan suara. Dia menyisihkan calon-calon lain, termasuk Oerip Soemohardjo--kandidat lain yang mengenyam pendidikan militer Belanda.

 Kisah Seorang Perokok Berat 

Soedirman adalah seorang perokok kelas berat. Ia merokok sejak remaja. Rokok kreteknya tak bermerek, tingwe alias nglinthing dewe artinya meramu sendiri. Sepulang bergerilya, kondisi kesehatan Soedirman memburuk. Ia masuk Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun, putra bungsu Soedirman, ingat cerita ibunya, Siti Alfiah, bagaimana saat sakit bapaknya tetap ingin merokok.

"Bapak dipaksa berhenti merokok oleh dokter. Karena perokok berat, Bapak tak bisa benar-benar meninggalkan rokok. Bapak meminta Ibu merokok dan meniupkan asap ke mukanya."

Menurut Teguh, belakangan ibunya menjadi perokok. "Barangkali terdengar konyol, tapi Ibu berprinsip menaati perintah Bapak," katanya.

Pada Ahad pagi, 29 Januari 1950, setelah lama terkulai lemas sejak Oktober di rumah peristirahatan tentara di Magelang, mendadak wajah Soedirman tampak cerah. Pagi itu, Ahmad Yani, Gatot Soebroto, serta beberapa petinggi militer dan sipil hadir. Tidak diketahui apa yang dibicarakan.

"Waktu itu, menurut Ibu, tiba-tiba terdengar suara kaleng dan botol pecah mendadak. Bersamaan dengan itu, bendera di halaman melorot setengah tiang. Sampai Ibu bilang ke beberapa pengawal, ’Ah, itu hanya angin’."

Setelah salat magrib, sebagaimana didengar dari Alfiah, Soedirman memanggil istrinya ke kamar. Di dalam, dia berkata, "Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.” Alfiah menuntunnya mengucap Laa Ilaha Illallah, dan Soedirman mengembuskan napas terakhir. 

 Kisah Asmara di Wiworo Tomo 

Soedirman memang begitu sayang kepada istrinya. Menurut Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun, putra bungsu Soedirman, ibunya pernah bercerita bagaimana bapaknya tergolong teliti untuk urusan kosmetik dan busana. "Bapak selalu memilihkan bedak dan busana untuk Ibu. Ibu tinggal mengenakan," ujar Teguh. Bapaknya ternyata juga suka menjaga penampilan agar rapi dan berwibawa, terutama saat berpidato.

Ibunya sekali waktu bercerita, pernah saat Soedirman berpidato, ia merasa cemburu. Soedirman saat itu berpidato di hadapan putri-putri Keraton Solo. Mereka terlihat kagum pada penampilannya yang besus atau selalu rapi. Selesai pidato, Alfiah berseloroh, "Kamu senang, ya? Kalau begitu mau lagi?" Soedirman langsung menjawab, "Ya tidak, kan aku sudah punya kamu."

Kisah asmara Soedirman dan Alfiah dimulai di Perkumpulan Wiworo Tomo, Cilacap. Soedirman tersohor sebagai pemain sepak bola dan pemain tonil atau teater. Dia dijuluki Kajine karena alim. Tatkala menjadi ketua, Soedirman memilih Alfiah sebagai bendahara Perkumpulan. Salah seorang teman Soedirman, menurut Teguh, bercerita, banyak pemuda naksir kepada ibunya tapi tak berani mendekati karena segan kepada sang ayah.

Gosip Soedirman menaksir Alfiah, kata Teguh, bermula dari kebiasaan Soedirman berkunjung ke rumah Sastroatmodjo, orang tua Alfiah. Silaturahmi itu berkedok koordinasi internal Muhammadiyah. Kala itu Soedirman termasuk pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Adapun orang tua Alfiah pengurus Muhammadiyah.

Saat menjadi guru HIS Muhammadiyah, Soedirman dikenal dermawan. Gajinya kerap dipakai membantu tetangga. Tatkala menjadi anggota Badan Penyediaan Pangan, lembaga penarik upeti di bawah Jepang, Soedirman bahkan tidak memaksa warga menyetor upeti jika kekurangan.

"Nenek tahu betul Soedirman muda naksir Alfiah. Nenek merestui karena kagum pada kealimannya. Nenek membujuk Kakek mau menerima Soedirman menjadi menantu. Saat itu, usia Bapak 20 tahun, Ibu 16 tahun."

Menurut Teguh, paman ibunya yang bernama Haji Mukmin, saudagar pemilik hotel, sesungguhnya tidak setuju terhadap perkawinan Alfiah dan Soedirman. Mukmin berkeras Alfiah harus mendapatkan suami dari kalangan orang kaya. Adapun Soedirman anak ajudan wedana, yang bergaji kecil. "Akhirnya, menurut Ibu, semua ongkos pernikahan diam-diam disiapkan Nenek. Strategi itu agar Bapak tidak disepelekan keluarga besar Kakek."

Dari ibunya, Teguh mendengar, pada saat makan bersama keluarga besar, Haji Mukmin menyingkirkan hidangan paling enak dari hadapan bapaknya. Sang ibu tersinggung, tapi bapaknya memilih mengalah. Sikap Haji Mukmin berubah setelah Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar. Ketika diarak ke Cilacap, dia melihat pamannya itu berdiri di pinggir jalan. Soedirman menghentikan mobil, lalu mengajaknya masuk ke mobil.

 Soedirman dan Keris Penolak Mortir 

Desing pesawat membangunkan Desa Bajulan yang senyap, suatu hari di awal Januari 1949. Penduduk kampung di Nganjuk, Jawa Tengah, yang tengah berada di sawah, halaman, dan jalanan, itu panik masuk ke rumah atau bersembunyi ke sebalik pohonan.

Warga Nganjuk tahu itu pesawat Belanda yang sedang mencari para gerilyawan dan bisa tiba-tiba memuntahkan bom atau peluru. Tak kecuali Jirah. Perempuan 16 tahun itu gemetar di dapur seraya membayangkan gubuknya dihujani peluru.

Di rumahnya ada sembilan laki-laki asing tamu ayah angkatnya, Pak Kedah, yang ia layani makan dan minum. Meski tak paham siapa orang-orang ini, Jirah menduga mereka yang sedang dicari tentara Belanda. Sewaktu pesawat mendekat, dia melihat seorang yang memakai beskap duduk di depan pintu dikelilingi delapan lainnya. “Saya mengintip dan menguping apa yang akan terjadi dari dapur,” kata Jirah, September lalu.

Lelaki pemakai beskap yang oleh semua orang dipanggil ”Kiaine” atau Pak Kiai itu mengeluarkan keris dari pinggangnya. Keris itu ia taruh di depannya. Tangannya merapat dan mulutnya komat-kamit merapal doa. Ajaib. Keris itu berdiri dengan ujung lancipnya menghadap ke langit-langit. Kian dekat suara pesawat, kian nyaring doa mereka.

Keris itu perlahan miring, lalu jatuh ketika bunyi pesawat menjauh. Kiaine menyarungkan keris itu lagi dan para pendoa meminta undur diri dari ruang tamu. Kepada Jirah, seorang pengawal Kiaine bercerita bahwa keris dan doa itu telah menyamarkan rumah dan kampung tersebut dari penglihatan tentara Belanda.

Dari curi-dengar obrolan para tamu dengan ayahnya itu, Jirah samar-samar tahu, orang yang memakai beskap bertubuh tinggi, kurus, dan pendiam dengan napas tercekat yang dipanggil Kiaine tersebut adalah Jenderal Soedirman. “Saya mendapat kepastian itu Pak Dirman justru setelah beliau meninggalkan desa ini,” ujarnya.

Waktu itu Panglima Tentara Indonesia ini sedang bergerilya melawan Belanda, yang secara resmi menginvasi kembali Indonesia untuk kedua kalinya tiga tahun setelah Proklamasi. Jirah ingat, rombongan itu--yang berjumlah 77 orang--datang ke Bajulan pada Jumat Kliwon Januari 1949. Di rumahnya, Soedirman ditemani delapan orang, antara lain Dr Moestopo, Tjokropranolo, dan Soepardjo Roestam. Yang lain menginap di rumah tetangga.

Selama lima hari di Bajulan, tak sekali pun Belanda menjatuhkan bom atau menembaki penduduk. “Itu berkat keris dan doa-doa,” kata Jirah. Soedirman seolah-olah tahu tiap kali Belanda akan datang mencarinya. Karena itu, operasi Belanda mencari buron nomor wahid tersebut selalu gagal.

 Cerita Kesaktian Soedirman 
foto
Soedirman terkenal punya firasat dan perhitungan jitu semasa bergerilya. Anak bungsunya, Mohamad Teguh Sudirman, mendengar banyak cerita ”kesaktian” ayahnya. Teguh lahir pada 1949 ketika ibunya bersembunyi di Keraton Yogyakarta saat ayahnya bergerilya. Dia tak sempat bertemu dengan ayahnya, yang meninggal dua bulan setelah ia lahir, dan hanya mendengar kisah Soedirman dari sang ibu, Siti Alfiah.

Inilah kesaktian sang Jenderal yang merupakan perokok berat ini.

Ceritanya ketika Soedirman sampai di Gunungkidul. Ia tak mengizinkan pasukannya beristirahat lama-lama. Benar saja, beberapa saat kemudian, pasukan Belanda tiba di lokasi peristirahatan pasukannya. Jika Soedirman, yang dalam sakit bengek dan tubuh rapuh, tak segera meminta mereka jalan lagi, pertempuran tak akan bisa dihindari. "Dan bisa jadi pasukan Bapak kalah," kata Teguh.

Soedirman, yang selalu menyamar sepanjang gerilya, juga kerap diminta mengobati orang sakit. Di sebuah desa di Pacitan, Teguh bercerita, Soedirman dan pasukannya kelaparan karena tak menemukan makanan berhari-hari. Mau meminta kepada warga desa, takut ada mata-mata Belanda. Saat rombongan ini beristirahat, seorang penduduk menghampiri mereka dan meminta air mantra untuk kesembuhan istri lurah di situ.

Sang Panglima mengambil air dari sumur, lalu meniupkan doa. Ajaib, istri lurah yang terbaring payah itu bisa bangun setelah minum. Pak Lurah pun menyilakan Soedirman dan anak buahnya beristirahat. Ia menjamunya dengan pelbagai makanan. "Baru setelah itu Bapak mengenalkan diri," kata Teguh.

 Sang Jenderal Klenik 

Kepercayaan dan kegemaran Soedirman pada supranatural tak hanya terjadi saat gerilya, tapi juga dalam diplomasi formal dengan Belanda. Muhammad Roem punya kisah menarik tentang klenik Soedirman. Syahdan, suatu pagi beberapa hari menjelang perundingan Renville di Yogyakarta pada 17 Januari 1948, Roem dipanggil Presiden Sukarno.

Presiden meminta Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan itu menemui Soedirman di rumahnya. "Sebagai ketua delegasi, jiwa Saudara harus diperkuat," kata Presiden. "Temuilah segera Panglima Soedirman." Meski awalnya menolak, Roem, yang tak mengerti urusan klenik, menuruti saran itu.

Di rumahnya, Soedirman sudah menunggu. Sang Panglima ditemani seorang anak muda yang ia kenalkan kepada Roem sebagai "orang pintar". Rupanya, anak muda yang dikenal Roem tak punya pekerjaan tetap itu yang akan "memperkuat jiwa" Menteri Dalam Negeri ini. Dukun itu kemudian memberinya secarik kertas. "Jimat ini tak boleh terpisah dari Saudara," kata Soedirman. "Kalau hilang, kekuatannya bisa berbalik. Jagalah sebaik-baiknya."

Jimat itu menemani Roem menghadapi delegasi Belanda yang keras kepala tak mau hengkang dari Indonesia. Seorang diplomat Amerika Serikat yang jadi penengah rundingan itu memuji Roem dan delegasi Indonesia. "Saya sudah kesal karena Belanda begitu legalistik, tapi kalian bisa melawannya dengan legalistik juga. You are wonderful," katanya, seperti ditulis Roem dalam Jimat Diplomat. Roem, lulusan Rechts School (Sekolah Hukum) di Jakarta, hanya mesem sambil meraba jimat itu di saku celananya.

Akan tetapi, cerita paling absurd yang pernah didengar anak bungsunya, Mohamad Teguh Sudirman, adalah kisah seorang santri dari Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Kepadanya, santri itu menceritakan kisah gurunya yang ikut bergerilya bersama Soedirman. Dalam sebuah pertempuran sengit, menurut santri itu, Soedirman menjatuhkan pesawat Belanda dengan meniupkan bubuk merica. Teguh berkomentar, "Gila, ini tak masuk nalar."

 Soedirman Penganut Kejawen Sumarah 

Soedirman terkenal punya firasat dan perhitungan jitu semasa bergerilya. Jenderal dari Banyumas dan percaya klenik ini dikabarkan memiliki bermacam kesaktian.

Soedirman disebut sebagai penganut aliran kejawen Sumarah. Ia gemar mengoleksi keris. Ia juga percaya benda pusaka itu punya tuah yang bisa melindunginya.

Anak bungsu Soedirman, Mohamad Teguh Sudirman, bercerita sewaktu ayahnya terpojok di lereng Gunung Wilis, Tulungagung, keris ayahnya bisa menyelamatkan pasukannya. Padahal ketika itu tentara gerilyawan tak punya celah meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda.

Soedirman tiba-tiba mencabut cundrik, keris kecil pemberian seorang kiai di Pacitan, dan mengarahkannya ke langit. Tak berapa lama, awan hitam bergulung-gulung, petir dan angin menghantam-hantam. Hujan lebat pun turun dan membuyarkan kesolidan pengepungan Belanda. Lagi-lagi pasukan Soedirman selamat.

Cundrik itu ia tinggalkan di rumah penduduk. Beberapa tahun setelah Soedirman meninggal pada 1950, Panglima Kodam V Brawijaya Kolonel Sarbini datang ke rumahnya di Kota Baru, Yogyakarta, ditemani seorang petani.

Menurut Teguh, Sarbini bercerita kepada ibunya, Siti Alfiah, petani itu hendak mengembalikan cundrik Soedirman yang dititipkan kepadanya sewaktu gerilya. "Cundrik itu kami titipkan di Museum Soedirman di Bintaran Timur, Yogya," ujar Teguh. "Tapi sekarang hilang.

 Bintang Lapangan Sepak Bola 

Senin Pon, 18 Maulud 1846 dalam almanak Jawa atau 24 Januari 1916. Seorang bayi lahir di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Purbalingga. Ia lahir dari rahim Siyem, wanita asal Purwokerto, istri Karsid Kartoworidji, seorang pekerja pabrik gula.

Seperti ditulis Majalah Tempo Senin 12 November 2012, bayi laki-laki itu diberi nama Soedirman. Nama itu diberikan ayah angkatnya, Raden Tjokrosoenarjo, asisten wedana di Rembang, Purbalingga. Sejak lahir, ia memang langsung diurus dan tinggal di rumah pasangan Tjokrosoenarjo dan Toeridowati.

Soedirman memasuki masa sekolah pada 1923. Kala itu, berkat status Raden Tjokrosoenarjo yang bekas pejabat, Soedirman kecil bisa memperoleh pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, setingkat sekolah dasar) pada usia tujuh tahun.

Di sekolah inilah bintang Soedirman mulai bersinar terang. Salah satunya lewat olahraga kegemarannya: sepak bola. Menurut Teguh, saking piawainya memainkan si kulit bundar, Soedirman, yang biasa berposisi sebagai penyerang dijuluki si bintang lapangan.

Pria 62 tahun itu mengatakan ayahnya juga menguasai betul aturan dan tata cara permainan bola sepak. Lantaran dikenal sebagai sosok yang jujur, Soedirman kemudian kerap didaulat menjadi wasit. "Kebiasaan sepak bola ini terbawa terus sampai Bapak remaja menuju dewasa," kata Teguh.

 Di Sekolah, Jenderal Soedirman Dijuluki Kaji 

Soedirman memasuki masa sekolah pada 1923. Kala itu, berkat status Raden Tjokrosoenarjo, ayah angkatnya yang bekas pejabat, Soedirman kecil bisa memperoleh pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, setingkat sekolah dasar) pada usia tujuh tahun. Di sekolah milik pemerintah ini, ia dikenal sebagai murid yang sangat rajin, berdisiplin, dan pandai.

Seperti ditulis Majalah Tempo Senin 12 November 2012, Soedirman dikenal sebagai sosok yang tak segan membantu teman-temannya dalam hal apa pun, termasuk pelajaran. Ia sangat antusias mengikuti pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah kebangsaan, dan agama Islam. "Saking tekunnya pada pelajaran agama, Soedirman diberi julukan Kaji atau Haji," ujar sejarawan Rushdy Hoesein.

Cara bergaul ayahnya pun luwes, kata anak bungsunya, Mohammad Teguh. Dia bisa memastikan hal itu berdasarkan cerita ibunya. Soedirman bisa berkawan dan menempatkan diri di antara senior ataupun juniornya. "Bapak biasa berada di tengah banyak orang. Soalnya Bapak sangat piawai berpidato," ujarnya. Terutama saat ayahnya getol mengurus organisasi intrasekolah Putra-Putri Wiworotomo.

Soedirman lulus HIS pada 1930. Ia baru masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Parama Wiworotomo, Cilacap, dua tahun setelahnya dan lulus pada 1935.

Bersekolah di MULO merupakan tahapan penting bagi Soedirman. Di sekolah itulah ia mendapatkan pendidikan nasionalisme dari para guru yang kebanyakan aktif di organisasi Boedi Oetomo, seperti Raden Soemojo dan Soewardjo Tirtosoepono, lulusan Akademi Militer Breda di Belanda.

 Begini Asal-usul Keluarga Jenderal Soedirman 

Soedirman lahir pada Senin Pon, 18 Maulud 1846 dalam almanak Jawa atau 24 Januari 1916 di Dukuh Rembang, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Soedirman diurus dan tinggal di rumah asisten wedana di Rembang, Raden Tjokrosoenarjo dan istri Toeridowati.

Seperti dimuat Majalah Tempo Senin, 12 November 2012, data Pusat Sejarah Tentara Nasional Indonesia menyebutkan, istri Tjokrosoenarjo adalah kakak kandung ibunda Soedirman. Sejak Soedirman masih di dalam kandungan, Tjokrosoenarjo sudah meminta izin Siyem agar kelak bisa merawat kemenakannya itu.


Setelah Soedirman berusia delapan bulan, Tjokrosoenarjo pensiun dari jabatannya. Berbekal duit pensiun 62,35 gulden, ia memboyong keluarganya, termasuk Soedirman dan orang tuanya, pindah ke sebuah rumah sederhana di Kampung Kemanggisan, Kelurahan Tambakreja, sebelah selatan pusat Kota Cilacap, Jawa Tengah. "Jadi, Bapak cuma numpang lahir di Purbalingga, lalu kehidupannya berlanjut di Cilacap," kata Mohamad Teguh Bambang Tjahjadi, anak bungsu Soedirman, saat ditemui Tempo awal Oktober lalu.

Teguh bercerita, selama ini banyak buku dan literatur digital di dunia maya menulis ngawur soal asal-usul keluarganya. Dari sekian banyak buku tentang ayahnya, Teguh hanya percaya pada buku berjudul Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil-Militer karya wartawan senior Julius Pour terbitan 2005.

"Walau bukan buku biografi Bapak, ceritanya cocok semua dengan cerita Ibu," ujar bungsu dari sembilan putra-putri pasangan Soedirman dan Siti Alfiah itu.

Soal asal-usul keluarga sang Panglima Besar, Teguh mengatakan, berdasarkan pernyataan keluarga, Soedirman merupakan anak kandung Tjokrosoenarjo, Asisten Wedana Rembang, bukan anak angkat seperti yang selama ini tertulis di berbagai buku sejarah. "Belum ada satu pun buku yang menulis soal ini (versi keluarga)," katanya.

Tjokrosoenarjo wafat saat Soedirman masih menempuh sekolah guru di Cilacap pada sekitar 1936. Ia mewariskan seluruh hartanya kepada anak tunggalnya itu.

Siti Alfiah, istri Soedirman, beberapa kali berusaha meluruskan soal data sejarah ini, tapi selalu kandas. Janda Soedirman itu pernah berupaya meluruskannya pada 1960-1970-an. Namun, pihak Pusat Sejarah ABRI kala itu malah mengesahkan secara resmi sejarah orang tua Soedirman yang masih kontroversial tersebut lewat pengadilan. "Tapi aneh karena tak ada satu pun anggota keluarga yang diundang," ujar Teguh.

Bagi Teguh, ibundanya adalah satu-satunya orang yang tahu persis soal riwayat sang Jenderal Besar. Sebab, semua dokumen yang berkaitan dengan Soedirman telah dilenyapkan demi kepentingan keamanan sebelum ia berangkat bergerilya.

Menurut Teguh, sejarawan Anhar Gonggong pernah memberinya saran agar ia menuliskan semua riwayat Soedirman dari sudut pandang dan pengakuan keluarga. Namun, hingga kini dia belum pernah mencoba melaksanakan saran Anhar itu.

"Yang jelas, Bapak itu pahlawan nasional. Jasanya banyak, perlu jadi teladan bangsa ini. Itu saja cukup," ucap Teguh.

 Bekas Kamar Jenderal Sudirman Bertarif Rp 5 Juta 

Yogyakarta - Sebuah kamar di Hotel Inna Garuda, Jalan Malioboro, Yogyakarta, pernah ditempati Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai kantor sekaligus kamar tidur. Anda tertarik menginap di kamar Jenderal Sudirman? Bisa, Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 5 juta per malam untuk tidur di kamar 291 itu.

“Kami menjual nilai sejarah kamar yang pernah digunakan sebagai kantor dan kamar Pak Dirman,” kata Ayub Khan, juru bicara Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Rabu 29 Juni 2011. Menurut Ayub, kamar dengan kelas suite room itu tiap bulan tak pernah sepi penghuni.

Kamar Sudirman ini tertata rapi layaknya kamar hotel berbintang lima. Meski pernah dihuni Pak Dirman, tidak semua perangkat di kamar ini asli. Ada sebagian yang sudah diganti karena termakan usia. Ada beberapa benda peninggalan Sudirman yang masih tersimpan di kamar tersebut, seperti foto Sudirman ketika masih memimpin perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Adapun barang peninggalan Sudirman seperti patung, baju, pusaka, hingga tempat tidur kuno yang masih ada kelambu sebagai pemberian istri mendiang Sudirman tidak ditempatkan di kamar itu. Alasannya, tamu banyak yang takut jika benda-benda kuno dipasang di kamar itu. “Kami simpan di tempat lain di hotel,” kata dia.

Kebanyakan para tamu yang menyewa kamar itu adalah kalangan pejabat negara, wisatawan lokal, maupun mancanegara yang sangat berminat terhadap wisata sejarah.

Sebelum kemerdekaan masa penjajahan Belanda, hotel ini bernama Grand Hotel. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, hotel ini berganti nama Hotel Asahi. Kemudian pada zaman kemerdekaan, hotel ini berganti nama menjadi Hotel Merdeka dan akhirnya menjadi Hotel Inna Garuda.

Walikota Yogyakarta Herry Zudianto mengusulkan kepada pengelola hotel untuk mengembalikan ruang perkantoran dan tempat tinggal Jenderal Sudirman itu seperti zaman dahulu. Pasalnya, kamar itu juga merupakan ikon sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda.

“Akan lebih bagus dan menarik jika kamar itu dikembalikan seperti tempo dahulu. Penataan ruangannya dibuat sama seperti saat Jenderal Sudirman berkantor di sini,” kata Herry.

TIM TEMPO

© Tempo.Co
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri