ISENG BLOGER

Pemerintah Diminta Utamakan Produk Alutsista BUMN



JAKARTA--MI: Anggota Komisi I DPR RI Enggartiasto Lukita mengharapkan pemerintah konsisten untuk memajukan industri pertahanan domestik dengan mengutamakan produk BUMN industri strategis dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) bagi TNI.

"Kami harapkan pemerintah tegas, konsisten dan berkomitmen untuk memajukan industri pertahanan dalam negeri, dengan tidak lagi membeli produk-produk alutsista dari luar negeri yang sudah bisa diproduksi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang industri strategis," katanya di Jakarta, Rabu (3/2).

Anggota Fraksi Partai Golkar DPR itu menyatakan hal tersebut untuk merespons pernyataan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang akan menyusun Rencana Induk Industri Petahanan (RIIP). Enggartiasto menegaskan, kalau masih ada alutsista yang belum bisa dibuat di Indonesia, dipersyaratkan agar perusahaan asing itu bekerja sama dengan BUMN industri strategis di Indonesia. "Yakni dengan cara perjanjian kerja sama dan menetapkan penggunaan bahan-bahan lokalnya," ujarnya.

Untuk itu, menurut dia, anggaran alutsista haruslah multi years dan juga volume dan jumlahnya untuk lima tahun sudah bisa ditetapkan. "Selanjutnya, harus dilakukan pembenahan secara korporasi dan restrukturisasi BUMN bidang industri strategis, sehingga secara finansial mereka mampu untuk bekerja," katanya.

Caranya, kata Enggartiasto, pertama dengan penambahan modal, baik secara tunai maupun mengkonversikan utang BUMN tersebut ke pemerintah (jika ada). Kemudian dilakukan evaluasi aset kembali. "Kedua, jaminan pembayaran semacam 'letter of comfort' dari pemerintah," katanya. (Ant/OL-06)

mediaindonesia

[Read More...]


ITS "Ngoprek" Satelit Broadband Generasi Baru Buatan Jepang



SURABAYA, KOMPAS.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama tiga universitas asal Jepang bekerja sama dalam riset satelit generasi baru bernama WINDS (Wideband InterNetworking Engineering Test and Demonstration Satellite) yang memungkinkan koneksi internet berkecepatan sangat tinggi. Ketiga laboratorium universitas di Jepang yang akan bekerja sama dalam riset ini adalah Laboratorium Prof. Tyusoshi Usagawa (Kumamoto University), Laboratorium Asc. Prof Tohru Kondo (Hiroshima University), dan Laboratorium Prof. Takafumi Aoki (Tohoku University).


"WINDS yang dalam bahasa Jepang disebut dengan KIZUNA itu kami kembangkan bersama JAXA (lembaga antariksa Jepang) dan National Institute of Information and Communications Technology (NICT)," kata Kepala Laboratorium Telematika, Jurusan Teknik Elektro ITS, Moch. Hariadi, M.Sc., Ph.D., di Surabaya, Selasa (9/3/2010).

WINDS menggunakan teknologi mutakhir saat ini yang menggunakan Ka-Band (sistem yang bekerja pada frekuensi tinggi) yang memiliki panjang gelombang yang pendek. Dengan spesifikasi ini, WINDS mampu menyediakan koneksi internet berkecepatan tinggi yang mencapai maksimum 155 Mbps untuk penerimaan dan 6 Mbps untuk pengiriman dengan ukuran antena penerima 45 cm (sama dengan ukuran sekarang), namun jauh melebihi kecepatan yang mampu dicapai saat ini.

Bahkan untuk antena ukuran 5 meter, kecepatan yang bisa dicapai adalah 1.2 Gbps. Selain berkecepatan tinggi, coverage (daya jangkau) satelit juga merambah daerah yang tidak terjangkau oleh jaringan kabel (teresterial). Bila dibandingkan dengan kecepatan internet yang ada, kecepatan akses melalui WINDS sangat tinggi karena untuk konsumsi pribadi di Indonesia saat ini hanya berkisar 384 Kbps dan 2 Mbps saja.

Dengan kecepatan sebesar itu, satelit ini juga memungkinkan pemutaran film layaknya di gedung bioskop atau untuk pengembangan riset simulasi yang membutuhkan komputasi tinggi seperti di bidang medik, mesin, kimia, pendidikan, kesehatan, penanganan daerah bencana, dan Intelligent Transport Systems (ITS).

"Saat ini, WINDS masih dalam tahap uji coba yang bekerja pada Ka-Band dan hal itu merupakan percobaan yang pertama di dunia," katanya. Oleh karena itu, katanya, ITS beruntung diberi kesempatan untuk uji coba. Kesempatan itu tidak terlepas dari kerja sama program penelitian dalam skema JICA PREDICT-ITS.

Selain uji coba teknik yang menyangkut aspek teknik transmisi data lewat satelit, juga dilakukan uji coba aplikasi TV conference dan aplikasi PACS (Picture Archiving and Communication System). "Saat ini, kita mendapat kesempatan untuk mencoba WINDS dengan menggunakan stasiun bumi tetap (statis) yang ditempatkan di ITB. Station tidak ditempatkan di ITS karena coverage WINDS type MBA (Multi Beam Antennas) belum menjangkau wilayah Jawa bagian timur, tapi tim WINDS ITS berencana menguji WINDS menggunakan stasiun bumi yang bergerak (mobile) dengan tipe APAA (Active Phase Array Antenna)," katanya.

WAH/ANT

Kompas


[Read More...]


UPT Hujan Buatan Gagas Teknologi Rekayasa Atmosfer



Jakarta : Unit Pelaksana Teknis (UPT) Hujan Buatan-BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) menggagas teknologi rekayasa atmosfer untuk mengurangi kandungan polutan di suatu wilayah tertentu.

” Rekayasa atmosfir dapat dilakukan untuk mengurangi beban polusi. Kami tengah ke arah sana, tapi diperlukan persiapan yang memadai untuk melengkapi pesawatnya,” ujar S. Heru Widodo, perekayasa madya UPT Hujan Buatan-BPPT di Jakarta, Senin (8/3).


Tahap awal, kata Heru, melakukan kajian tingkat polusi, aerosol, termasuk LWC (liquid water content). ”Tahap ini memerlukan perlengkapan khusus, termasuk pesawat terbang yang mampu mencapai ketinggian tertentu,” ujarnya.

Selanjutnya, menyiapkan bahan semai berupa campuran garam dan bahan-bahan kimia tertentu yang nantinya ditebarkan pada breezing level atau suhu udara minus 6 hingga 7 derajat Celcius pada ketinggian udara sekitar 16.000 hingga 20.000 kaki.


”Bahan semai ini nantinya akan mengendapkan bahan polutan, sehingga mengurangi tingkat keasaman saat hujan,” ujarnya.


Hingga saat ini, kata dia, UPT Hujan Buatan BPPT belum memiliki pesawat tipe khusus untuk melaksanakan rekayasa atmosfir. ”Dibutuhkan pesawat jenis Cesna atau King Air. Sementara armada kami baru jenis Cassa 212,” ujarnya. (Lea)

technologyindonesia
[Read More...]


Jerman-Indonesia Jajaki Kerjasama Riset Geothermal



Jakarta- Dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan kerjasama penelitian Pemerintah Indonesia dan Jerman pada September 2007. Pemerintah Jerman bersedia menggelontorkan dana sebesar 8,8 Juta Euro untuk meningkatkan kerjasama dalam pengembangan riset, enjinering, ekplorasi dan pendidikan di bidang geothermal mulai kuartal pertama tahun 2010 ini.

Kerjasama bilatermal bidang riset dan teknologi ini melibatkan Kementerian Negara Riset dan Teknologi Indonesia dengan Kementerian Pendidikan dan Riset Jerman yang didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jerman, dan beberapa perusahaan swasta Jerman.

Staf Ahli Menteri Negara Ristek Bidang Energi Alternatif dan Terbarukan, Martin Djamin, mengungkapkan," Dana ini termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) berdaya 10 MW menggunakan teknologi Jerman, dilanjutkan dengan peninjauan lokasi panas bumi di Indonesia." pada akhir acara Geothermal Workshop between Indonesia-Germany.(19/1)

Martin melanjutkan,"Kementerian Negara Riset dan Teknologi melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama dengan Pertamina akan menindaklanjuti kerjasama penelitian ini."

Hingga awal tahun 2009, Indonesia memiliki potensi 27 GWe yang tersebar di 203 lokasi yang 80 % diantaranya berasosiasi dengan lingkungan vulkanik dan 54 (20%) berada di lingkungan non vulkanik seperti di sebagian besar P. Sulawesi (kecuali Sulut), Kalimantan Barat, dan di kepala burung Irian Jaya.

Menurut data dari Pertamina, jumlah energi panas bumi yang telah terpasang saat ini baru mencapai 1042 MWe, yang beroperasi di G. Salak (375 MWe), Kamojang (200 MWe), Darajat (255 MWe), Wayang Windu (110 MWe), Dieng (60MWe), Lahendong (40 MWe), dan Sibayak (2 MWe). (ap)

technologyindonesia
[Read More...]


Habibie: Ke Mana Industri Dirgantara Kita yang Pernah Maju?



Jakarta - Mantan Presiden BJ Habibie bingung dengan perkembangan Indonesia. Padahal dulu, Indonesia sempat berjaya dalam beberapa bidang industri. Salah satunya industri dirgantara dan maritim.

"Ke mana semua itu? Kita ini mau ke mana?" tanya Habibie dalam kuliah umum yang bertemakan "Filsafat dan Teknologi Untuk Pembangunan" di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat (12/3/2010).

Habibie mengatakan, sekitar 15 tahun yang lalu, Indonesia mengembangkan pesawat CN 235 dan N250. Perkembangannya pun cukup pesat.

"Semua itu terlaksana dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan apa yang terjadi di negara maju seperti USA, Inggris, Perancis, Jerman, dan Kanada," kata mantan Menteri Riset dan Teknologi era Soeharto ini.

Hal itu, kata Habibie, membuktikan bahwa sumber daya manusia (SDM) Indonesia mampu menguasai mengembangkan dan menerapkan teknologi, secanggih apapun juga. "Tapi ke mana itu sekarang?" tanyanya lagi.

(nvc/ken)

DETIKNews
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri