ISENG BLOGER

UAV 530 selesai 2010




JAKARTA : Unman Areal Viachle (UAV-530) atau wahana terbang nir awak saat ini memasuki tahap uji coba kendali dan ditargetkan rampung pada 2010. UAV didesain memiliki struktur sayap yang dapat dirampingkan sehingga mampu menjelajah wilayah yang sulit ditempuh pesawat kecil biasa.

“Wahana terbang tanpa awak ini dapat digunakan untuk menjelajah wilayah sulit yang tidak mampu dilakukan bahkan pesawat kecil biasa. Seperti pemantauan wilayah kebakaran hutan, atau wilayah tsunami dan lain sebagainya,” ujar Hari Purwanto, Asisten Deputi Program Tekno Ekonomi Kementerian Negara Riset dan Teknologi disela-sela Rapat Lintas Koordinasi Lintas Sektor Pengembangan Iptek Dirgantara Menuju UAV-530 di Bandung, Jumat (28/12) .

Program UAV dimulai sejak Maret 2007 dengan melibatkan beberapa instansi pemerintah, BUMN, perguruan tinggi, serta kalangan swasta dibawah koordinasi Kemenegristek. Instansi pemerintah yang terlibat dalam pengerjaan proyek ini, diantaranya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Balitbang TNI-AU, Balitbang Departemen Pertahanan. Selain itu, juga didukung PT Pindad, PT LEN, PT Dirgantara Indonesia, ITB dan lain sebagainya.

UAV-530 nantinya akan dikendalikan melalui system komunikasi yang ditempatkan di darat atau remotely piloted viachle (RPV). “ UAV akan dilengkapi dua sistem komunikasi, yaitu untuk kendali pilot dan kamera yang secara realtime akan dipantau di darat atau ground station,” ujarnya.

Hingga Desember 2007 telah disiapkan beberapa jenis prototype untuk dilakukan ujicoba menuju tahapan UAV-530. Prototipe tersebut, yaitu low speed (berkecepatan rendah ) dan high speed (berkecapatan tinggi).

Prototipe low speed akan diujicobakan pada Januari tahun depan. “Pada tahap itu, masih diujicobakan secara internal. Dan, diperkirakan akan benar-benar siap sekitar April,” ujarnya. Prototipe low speed ini memiliki kecepatan hingga 180 km/jam diatas ketinggian sekitar 1 km dan radius operasional 15 km.

Sedangkan, protipe kedua yaitu high speed, kini tengah disiapkan. Prototipe ini memiliki kecepatan 380 km/jam diatas ketinggian 1 km. “Ujicoba ini masih menggunakan bahan baker biasa. Namun, UAV-530 nantinya menggunakan avtur,” ujarnya. (Lea)

Pesawat terbang tanpa awak Indonesia itu belum diberi nama. Pesawat berbobot 35 kilogram tersebut hanya disebut sebagai Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Panjangnya sekitar 2,5 meter dengan rentang sayap sekitar 5 meter.

Sepintas UAV sangat mirip dengan pesawat intai tanpa awak buatan AS seperti Predator atau Global Hawk. Hanya, bentuknya sedikit lebih kasar dibanding kedua pesawat tanpa awak yang menjadi andalan militer AS sebelum menyerang Iraq tersebut.

Badan UAV berbentuk seperti ujung pensil dan panjang. Sedangkan pada bagian belakang terdapat sebuah mesin piston mini, lengkap dengan propeller yang menjadi tenaga penggerak utama.

Berbeda dengan pesawat terbang konvensional, bagian belakang pesawat ini dilengkapi sepasang sirip datar (vertical stabilizer, Red) dan tiga sirip tegak (horizontal stabilizer, Red). Untuk kepentingan pengintaian, di bawah badan pesawat dipasang kamera mini. Sedangkan untuk mengirim hasil jepretannya, digunakan antena yang terhubung langsung dengan satelit melalui sinyal GPS.

Soal kemampuan, UAV mampu mengudara 3 jam tanpa mengisi bahan bakar. Selain itu, UAV mampu terbang hingga ketinggian 3 ribu feet atau sekitar seribu meter. Sedangkan untuk jarak terbang, UAV dikontrol melalui sebuah Ground Control Station pada jarak 20 kilometer.

Menurut Direktur Teknologi dan Industri Dirjen Sarana dan Pertahanan (Ranahan) Dephan Suwendro, UAV merupakan salah satu hasil pengembangan teknologi paling mutakhir Indonesia. Suwendro menjelaskan, UAV baru rampung dikembangkan akhir 2003 silam.

Dia juga menuturkan, research and development untuk membangun UAV tersebut membutuhkan waktu 3 tahun. "Saat ini UAV siap diujicobakan untuk melaksanakan tugas-tugas pengintaian," kata perwira berbintang satu ini.

Soal dana, Suwendro menjelaskan, proyek itu menelan dana Rp 7 miliar. "Saat ini kita telah memiliki 5 pesawat intai tanpa awak," terangnya.

Suwendro juga mengakui, pembuatan pesawat terbang intai tanpa awak tersebut diilhami pesawat sejenis buatan AS. Hanya, lanjutnya, untuk UAV telah dilakukan beberapa penyesuaian, khususnya dengan kepentingan tugas di Indonesia.

Menurut Suwendro, UAV dirancang khusus untuk menunjang tugas-tugas tempur Komando Stategis TNI-AD (Kostrad). "Karena itu, merekalah yang kita bidik sebagai pasar bagi UAV ini," terangnya.

technologyindonesia

[Read More...]


Blimbing Wuluh Dapat Menghidupkan Lampu




Liputan6.com, Magetan: Sebuah inovasi terkadang datang dari hal-hal yang sepele. Ini pula yang mendasari temuan seorang guru sekolah menengah atas di Magetan, Jawa Timur. Dari jus belimbing wuluh, Sunarto dapat menghasilkan energi listrik yang mampu menghidupkan bola lampu selama satu bulan tanpa dimatikan.

Guru jebolan ITS Surabaya ini sejak lama mengamati potensi listrik yang tersimpan dalam blimbing wuluh. Melalui serangkaian percobaan, sampailah pada bentuknya seperti sekarang. Tidak sulit. Cukup siapkan satu gelas tanah, jus blimbing wuluh, serta lempeng tembaga dan seng sebagai elektroda.

Karena sederhana, Sunarto yakin semua orang bisa membuatnya. Tenaga listrik yang dihasilkan bisa dilipatgandakan dengan menambah ukuran. Mimpi Sunarto kini adalah mengembangkan cara penyimpangan yang lebih ringkas sehingga pembangkit tenaga blimbing wuluh ini mudah dibawa ke mana-mana.(JUM)

liputan6.com

[Read More...]


Kolonel (Pur) Ir Dradjat Budiyanto MBA, Perancang Kapal Selam Kate



Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), yang kini bernama TNI-AL, pernah punya 12 Whiskey. Bukan minuman keras, Whiskey adalah salah satu tipe kapal selam buatan Uni Soviet.

Dua kapal selam yang pertama datang dari negara komunis yang kini sudah bubar itu adalah KRI Tjakra dan KRI Nanggala. Dua nama tersebut memang menggambarkan kedigdayaan. Cakra adalah senjata sakti milik Prabu Kresna, raja Dwarawati. Nanggala adalah senjata tanpa tanding milik Prabu Baladewa, Raja Mandura, kakak Kresna.

KRI Tjakra dan KRI Nanggala dibawa langsung oleh prajurit TNI-AL pada 12 September 1959 setelah belajar di Oksiwi, Polandia. Hari itulah yang lantas diperingati sebagai hari kelahiran Korps Hiu Kencana atau satuan kapal selam.

Seiring berkembangnya teknologi, kapal selam jenis Whiskey mulai pensiun. Terakhir, KRI Pasopati-410 (namanya diambil dari anak panah milik Arjuna yang menewaskan raksasa jahat Niwatakaca) mengakhiri masa tugas. KRI Pasopati lantas jadi monumen kapal selam di tepi Kalimas, samping Surabaya Plaza.

Saat armada kapal selam masih begitu aktif, Indonesia mengirimkan prajurit-prajurit terbaiknya untuk mengikuti pelatihan di luar negeri. Misalnya, di Jerman Barat dan Pakistan. ''Saya merasakan keduanya. Ya di Jerman, ya di Pakistan,'' kenang Dradjat Budiyanto.

Kakek tujuh cucu itu benar-benar dididik untuk menjadi prajurit dengan spesialisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan) baru, yakni kapal selam. Memang, sejak berkarir di matra laut itu, Dradjat selalu berada di kesatuan kapal selam.

Dia belajar di Pakistan pada 1996. Kala itu, KSAL Laksamana Arief Kushariadi menginginkan alutsista matra laut yang terjangkau. Sebab, alokasi dana bagi TNI-AL begitu minim. Penugasan ke Pakistan tersebut juga merupakan ''penolakan'' secara halus terhadap rencana pembelian kapal selam baru tipe Scorpene dari Prancis. Kapal itu dibanderol USD 600 juta tanpa torpedo. Versi lengkapnya seharga USD 700 juta (sekitar Rp 7 triliun). ''Terlalu mahal untuk TNI-AL saat itu,'' ujar Dradjat.

Dia belajar bersama enam prajurit lainnya ke Pakistan karena negara itu sedang membangun dua kapal selam mini di Pakistan Naval Dockyard. Di kalangan mereka, kapal selam itu disebut midget. Itu adalah istilah untuk sesuatu yang mini alias kuntet atau kate. Nah, kapal selam kuntet itu hanya menghabiskan anggaran USD 13 juta. Jauh lebih murah daripada Scorpene made-in Prancis tersebut.

''Ditambah pengetahuan dari Jerman, saya bisa menciptakan sendiri desain midget saat kembali di Indonesia,'' jelas suami Sri Hartini tersebut.

Dradjat yang rambutnya telah memutih itu membuktikan omongannya. Dia membuka sebuah map merah berukuran 30 x 35 sentimeter. Isinya adalah konsep midget, kapal selam kate, yang dia ciptakan selama enam tahun sejak 1997. Kapal rancangan Dradjat berbadan luar baja. Panjangnya 24 meter dan hanya berisi 11 orang.

Awaknya adalah empat komando atau frogman serta tujuh pelaut. Karena berukuran kuntet, ia hanya mampu membawa empat torpedo. ''Tidak bisa dikecilkan lagi ukurannya. Lha wong torpedonya saja delapan meter,'' tegas pria kelahiran Madiun, 28 Januari 1943, tersebut.

Secara detail, Dradjat menjelaskan detail si kuntet tersebut. Katanya, kapal selam itu adalah substitusi kapal selam. Rancangan kapal selam yang dinamai Indonesia Midget Experimental 1 Baby Submarine tersebut bisa melakukan apa pun seperti kapal selam umum. Bahkan, ukurannya yang kecil membuat kapal selam itu susah dideteksi musuh. ''Ibarat suara truk dan sedan. Mana yang lebih mudah didengar dari kejauhan? Truk, kan? Soalnya, lebih bising,'' ungkapnya.

Pensiunan kolonel itu tak sekadar merancang dalam gambar. Dradjat juga berbicara khusus dengan penyedia pompa merek Lensen dan pompa pendingin Stork. Mereka diminta membuatkan pompa khusus bagi kapal rancangannya. Dari berbagai harga yang telah disurvei, kapal selam rancangan Dradjat tak bakal menghabiskan lebih dari USD 10 juta.

''Kita bisa membuat kapal selam yang lebih banyak, daripada membeli,'' ujarnya.

Dalam pemikirannya, kapal selam dalam jumlah banyak -walaupun mini- tetap ngefek untuk menjaga keamanan. ''Ibaratnya, kampung yang punya hansip banyak. Lebih aman daripada hanya punya satu hansip yang jago kungfu sekalipun,'' ujar pria yang menguasai bahasa Inggris, Jerman, Rusia, dan Jepang tersebut.

Agar desain itu tidak terkesan asal-asalan dan bisa diaplikasikan, dia mulai melakukan uji coba. Dradjat benar-benar tersenyum puas ketika sejumlah pihak menyatakan bahwa karyanya benar-benar aplikatif.

Misalnya, pengakuan dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI) BPPH/BPPT, National Ship Design Centre (NASDEC) Departemen Perindustrian, dan komponen teknikal angkatan laut -mulai Fakultas Kelautan Hang Tuah hingga Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL).

Howaldtswerke Deutsche Werft AG (HDW), pembuat kapal selam asal Jerman, juga mengakui ketepatan rancang bangun milik Dradjat. ''Bukan asal-asalan, mereka semua menyetujui tanpa ada intervensi apa pun,'' tegas ayah tiga anak tersebut sambil menunjukkan bukti dari HDW.

Sejak konsep itu selesai pada 2003, Dradjat mulai mempromosikan rancangannya ke berbagai pemerintah. Mantan KSAL Laksamana Arif Kushariadi dan Laksamana M. Arifin sebagai pencetus ide terus mendorong dirinya untuk mewujudkan kapal yang digadang-gadang lebih lincah karena ukurannya yang kecil itu. ''Kemarin (12/10), KSAL Tedjo Edhy Purdijanto menemui saya dan meminta proyek tersebut terus dikembangkan,'' imbuhnya.

Dradjat kembali membuka map merahnya. Kali ini, dia ingin menunjukkan semua surat yang selalu disimpan secara rapi. Di situ ada tulisan konsep midget, filosofi pembangunan, deskripsi teknis SUVT (special underwater vehicle for touring) yang dikirimkan ke Menteri Pertahanan Yuwono Sudarsono, Menristek Kusmayanto Kadiman, Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Asrenum Panglima TNI Marsekal Muda Rio Mendung Thaleb, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejauh ini, instansi-instansi tersebut hanya membalas kiriman Dradjat dengan surat-surat pendek. Intinya, Dradjat harus menguji coba lagi midget rancangannya. Tak ada yang memberi kesempatan pembuatan satu kapal selam pun. Meski, Dradjat sudah menggaransi bahwa biayanya pasti tak lebih dari USD 10 juta (sekitar Rp 100 miliar). ''Padahal, kalau apa-apa beli, kita ora pinter-pinter. Mencoba dan gagal lebih baik daripada diam saja,'' ungkap pria yang pensiun pada 1999 itu.

Pada usianya ke-66, Dradjat merasa ''iri'' pada Letnan Angkatan Darat Israel Uziel Gal yang menemukan senjata Uzi. Dradjat juga melihat Michael Henrik Schmelter dari Jerman yang menemukan kapal selam mini 2Dive. Ide mereka mendapat apresiasi tinggi dari negara masing-masing. ''Jerman berani mewujudkan karya Michael yang seorang pemuda. Saya yang 32 tahun berkutat dengan kapal selam tidak digunakan sama sekali,'' ujarnya.

Bagaimanapun, old soldier never die (prajurit tak akan pernah mati). Dradjat tetap tak patah arang. Dia yakin kelak temuannya dipertimbangkan oleh pemerintah. Pria yang mahir bermain gitar itu akan menahan diri selama mungkin untuk tak melepas karyanya ke luar negeri. Meski, kata dia, sejumlah tawaran mancanegara telah mampir ke rumahnya di Jalan Teluk Tomini. ''Saya anak bangsa. Akan setia sampai akhir kepada Indonesia,'' tegasnya.

Tapi, tetap saja Dradjat berkata lirih. ''Sampai kapan kita menunggu dan mencoba sendiri,'' katanya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa saat ini tak banyak orang di pemerintahan yang punya jiwa pejuang tinggi. Kalah oleh Saridjah Niung Bintang Soedibjo alias Ibu Soed. Dia adalah seorang wanita yang mampu membangkitkan anak bangsa melalui lagu ciptaannya.

Perlahan, Dradjat menyenandungkan lagu ciptaan Ibu Soed yang begitu heroik. Nenek moyangku, seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudera. Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa. (*/dos)

Jawapos

[Read More...]


Mozambik Belajar Lembaga Antariksa di Lapan



Jakarta (ANTARA News) - Dunia internasional memandang serius terhadap keberadaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), buktinya berbagai tawaran kerja sama di bidang kedirgantaraan baik dari negara maju dan berkembang berdatangan tahun ini.

Mozambik, melalui duta besarnya Carlos Agostinho Do Rosario, Rabu mengunjungi kantor pusat Lapan di Jakarta, juga untuk menjajaki kerja sama dalam bidang kedirgantaraan.

Dalam kunjungannya, Carlos Agostinho menyampaikan bahwa Mozambik ingin mempelajari organisasi lembaga antariksa dan kemandirian Indonesia dalam bidang kedirgantaraan akan dicontoh oleh negara di benua Afrika itu.

Negara ini bermaksud membangun lembaga keantariksaan dengan asistensi Lapan, demikian kata Lapan dalam siaran persnya.

Fokus yang paling tepat untuk Mozambik dalam pembangunan lembaga antariksa adalah di bidang aplikasi data satelit penginderaan jauh.

Dalam pertemuan dengan Kepala Lapan Dr Adi Sadewo Salatun Msc, disepakati bahwa Mozambik akan mengirimkan para ahlinya untuk mempelajari teknologi dan aplikasi penginderaan jauh yang ada di Lapan.

Kelapa Lapan Adi Sadewo Salatun mengatakan, keberhasilan Lapan dalam pengembangan roket dan satelit telah menarik minat Mozambik untuk bekerja sama.

Perhatian dunia pada Lapan semakin baik saat ini. Hal ini terlihat dari kunjungan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ke Lapan, Rabu (3/2) lalu.

Dalam kunjungan tersebut, NASA menawarkan kepada Lapan untuk bekerja sama di bidang ilmu pengetahuan kedirgantaraan, salah satunya mengenai penyediaan data satelit penginderaan jauh. Data satelit tersebut bermanfaat untuk observasi bumi guna penanggulangan bencana dan ketahanan pangan.

Usai lawatan NASA, berturut-turut Lapan mendapat kunjungan kerja sama dari Cina dan India. Cina mengajak Lapan menindaklanjuti kerja sama tracking satelit di wilayah Indonesia dengan menggunakan kapal Yuan Wang.

Yuan Wang memuat berbagai peralatan untuk pengendalian dan pemanduan jarak jauh atau Telemetry, Tracking, and Command (TT&C). Sebelumnya, Kapal Yuan Wang melakukan misi pertama di Indonesia pada April 2007. Rencananya, Yuan Wang akan melaksanakan misi kedua di Indonesia pada Agustus 2010.

Sementara India dan Indonesia akan membentuk komisi bersama di bidang keantariksaan. Komisi ini bertujuan mendorong pengembangan implementasi kerja sama keantariksaan kedua negara.

Selama ini Lapan telah menjalin berbagai kerja sama dengan India, salah satunya adalah peluncuran satelit Lapan-Tubsat dengan menggunakan roket India pada Januari 2007. Lapan juga telah menandatangani kontrak kerja sama peluncuran satelit kembar (Twinsat) pada 2011 dengan menggunakan roket milik India.

Hingga kini, Lapan telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara seperti Rusia, Australia, Jerman, Jepang, dan Ukraina.

Kunjungan NASA, Cina, India, dan Mozambik, serta berbagai kerja sama yang telah dijalin menunjukkan bahwa Lapan memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan kedirgantaraan dunia.

(ANT/S026)COPYRIGHT © 2010

ANTARANews

[Read More...]


UGM Bangun Sistem Suplai Air Tenaga Matahari




Yogyakarta (ANTARA News) - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta membangun sistem pengangkatan air yang bertenaga matahari untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Desa Giriharjo, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Sistem pengangkatan air dengan menggunakan tenaga matahari itu mampu menyuplai 7.800 liter per hari untuk memenuhi kebutuhan 118 kepala keluarga yang belum terdistribusi air bersih," kata penggagas pembangunan sistem dan instalasi tersebut Ahmad Agus Setiawan di Yogyakarta, Kamis.

Ia mengatakan, dengan modal dana Rp250 juta hadiah dari Mondialogo Engineering Award (MEA) 2007, mahasiswa dalam Komunitas Mahasiswa Sentra Energi (Kamase) UGM itu menggunakannya untuk pembangunan fisik sistem dan instalasi pengangkatan air dengan tenaga matahari.

"Pembangunan fisik mulai dilakukan pada Juli 2008 dan selesai pada Agustus 2009. Pemilihan penggunakan teknologi matahari disebabkan Desa Giriharjo memiliki potensi sinar matahari 4,5 jam per hari," katanya.

Pemasangan panel surya tersebut, menurut dia, berada di atas bukit yang berjarak 1.400 meter dari permukiman penduduk. Panel surya yang digunakan sebanyak 12 buah dan bisa menghasilkan listrik 1.200 watt.

"Listrik yang dihasilkan panel surya tersebut untuk menghidupkan pompa submersibel yang berada dalam air untuk mengangkat air yang kemudian dialirkan ke pipa sepanjang 1.600 meter untuk mengisi enam tandon air yang tersebar di premukiman penduduk. Masing-masing tandon air berkapasitas 5.000 liter," katanya.

Ia mengatakan, pengelolaan instalasi tenaga surya dan pendistribusian air dilakukan melalui kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) program pemberdayaan masyarakat (PPM) sudah dibentuk organisasi masyarakat setempat yang diberi nama Organisasi Pengelola Air Kaligede (Opakg).

"Untuk pemeliharaan sudah dibentuk Opakg. Pembentukan organisasi itu cukup penting karena mereka harus bersama untuk mengelola semuanya," kata Ahmad yang juga dosen Fakultas Teknik UGM.

ANTARANews

[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri