ISENG BLOGER

4 Ilmuwan Terima Habibie Awards 2010



Franz Magnis Suseno

JAKARTA, KOMPAS.com- Empat orang ilmuwan Tanah Air akan menerima penghargaan Habibie Awards 2010. The Habibie Center, Senin (29/11/10), mengumumkan, keempat ilmuwan yang akan menerima penghargaan itu.

Hadir dalam acara tersebut Prof Dr Zuhal AQ, Dewan Pengurus Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Habibie Center.

Habibie Awards yang merupakan penghargaan tahunan sebenarnya terdiri dari lima kategori, yaitu kategori ilmu dasar, bioteknologi dan kedokteran, sosial dan ekonomi, rekayasa dan sejarah. "Tapi, kali ini penghargaan hanya diberikan di dua kategori, rekayasa dan sejarah, melihat persyaratan-persyaratan yang ada," ungkap Zuhal.

Penerima kedua penghargaan itu adalah Prof Dr Adrian Bernard Lapian, seorang tokoh yang menekuni bidang sejarah maritim serta Dr Eng Eniya Listiani Dewi, ahli dari BPPT yang menekuni bidang elektrokimia, khususnya tentang sel bahan bakar.

Dua orang pemenang tersebut dipilih berdasarkan lima syarat. "Beberapa yang dinilai adalah tentang inovasi, harus bermanfaat, ada kemampuan untuk disebarluaskan dan dikembangkan, dapat pengakuan nasional dan internasional serta konsistensi menekuni bidang yang dipilih," kata Zuhal.

Selain dua pemenang tersebut, Habibie Awards tahun ini juga memberikan penghargaan spesial pada dua tokoh yang dinilai berperan dalam pembangunan kerukunan antar umat beragama.

"Penghargaan ini kita nilai perlu, karena itu kita berusaha mewujudkannya tahun ini juga," lanjut Zulha.

Dua pakar yang menerima penghargaan tersebut adalah Prof Dr Ahmad Syafii Maarif yang kini tercatat sebagai guru besar emeritus di Universitas Negeri Yogyakarta, serta Prof Dr Franz Magnis Suseno SJ, budayawan dan agamawan yang menjadi Rektor Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Para pemenang akan menerima penghargaan besok di Hotel Sahid Jaya Jakarta, diberikan serangkaian dengan ulang tahun ke 11 Habibie Center. Sebelum penganugerahan, para penerima penghargaan akan menyampaikan presentasi makalahnya.

"Saya besok akan menyampaikan presentasi dengan judul Tuhan, Kebebasan Manusia dan Keamanan Ontologis," kata Syafii Maarif. Presentasinya terinspirasi dari karya Nietsze, Tuhan Telah Mati.


KOMPAS

[Read More...]


BPPT-JEPANG SELENGGARAKAN 7thBIOMASS-ASIA WORKSHOP



Jakarta, 29/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan National Institute of Advanced Industrial Science and Technology (AIST) dan New Energy Foundation (NEF) Jepang menyelenggarakan 7thBiomas-Asia Workshop di Jakarta dari 29 November – 1 Desember 201

Kegiatan tersebut sebetulnya merupakan kerjasama pengembangan teknologi di bidang biomasa untuk kepentingan energi,” kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material, Unggul Priyanto, dalam jumpa pers pada 7thBiomass-Asia Workshop tersebut, di Jakarta, Senin (29/11)

Ia memaparkan, biomasa ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu biomasa yang dimanfaatkan dari limbah-limbah biomasa untuk energi, baik untuk bahan bakar maupun tenaga listrik, serta biofuel yaitu baik yang menggunakan minyak nabati maupun padi-padian untuk membuat bahan bakar.

“Oleh karena itu, dalam workshop tersebut kita akan sharing dengan beberapa pengalaman di negara-negara Asia, terutama negara maju seperti Jepang, bagaimana memanfaatkan limbah-limbah tersebut untuk energi,” katanya.

Selain itu, BPPT dengan AIST Jepang, juga merencanakan mengadakan kerjasama untuk memanfaatkan limbah-limbah biomasa, dari tandan kosong kelapa sawit, sekam padi dan lain-lain untuk membuat bahan bakar sintetis.

“Jadi dalam sharing tersebut nanti ada dua, yaitu satu sharing pengalaman riset dari masing-masing negara, dan yang kedua kita akan berusaha mencocokan kira-kira apa yang bisa kita kerjasamakan untuk memanfaatkan biomasa sebagai sumber energi,” katanya.

Sementara itu, Director Biomass Technology Research Center AIST Jepang, Kinya Sakanishi, pada kesempatan tersebut mengatakan, sampai pertemuan biomasa yang ke-6 dua tahun yang lalu, pertemuan tersebut disponsori dan diprakarsai oleh pihak Kementerian Pendidikan Nasional Jepang.

Pada pertemuan biomasa yang ke-7 ini, disamping disponsori oleh AIST, NEF, dan Kementerian METI, Jepang, juga dari BPPT serta seluruh network yang telah terlibat sejak pertemuan biomasa yang pertama sampai yang ke-6.

“Kami berharap dari pertemuan ini akan menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kita bersama,” paparnya.

Peserta workshop tersebut berasal dari berbagai negara di Asia Timur, peserta dari Indonesia dan Jepang merupakan peserta terbanyak, dan juga hadir peserta antara lain dari Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, dan Filipina.

Untuk memberikan gambaran pengembangan dan penerapan teknologi bahan bakar nabati di Indonesia kepada para peserta, rencananya akan dilakukan technical tour dengan mengunjungi pabrik biodiesel PT Darmex Biofuels di Bekasi, Jawa Barat, dan pusat penelitian bahan bakar nabati di Puspiptek Serpong, Tangerang, Banten.

Diproyeksikan 7thBiomass-Asia Workshop tersebut dapat memberikan rekomendasi kebijakan bagi masing-masing negara Asia dalam pemanfaatan biomasa untuk energi secara ramah lingkungan dan berkelanjutan, rekomendasi teknologi bagi industri bahan bakar nabati Asia.

Selain itu, juga rekomendasi arah penelitian dan pengembangan energi biomasa yang menjawab berbagai masalah-masalah yang menghambat tercapainya kemakmuran Asia. (T. Gs/toeb)



bipnewsroom
[Read More...]


Dengan Sriti, Pantauan Jadi Lebih Jeli



Pesawat tanpa awak BPPT dapat memotret Daerah bencana dan kapal pencuri ikan. Beratnya 8,5 kilogram dan mudah diangkut.


Badannya yang putih makin bersinar terkena sorot lampu di ruang pamer Kemayoran, Jakarta Pusat. Sriti, nama pesawat tanpa awak karya ahli Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memang ikut serta dalam pameran Indo Defense, yang digelar bulan lalu. Sriti, yang mampu terbang hingga 3.000 kaki, menjadi salah satu primadona pameran.

"Pesawat ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan dan keamanan nirmiliter," kata Mohammad Dahsyat, Chief Engineer Program Pesawat Udara Nirawak BPPT, kemarin. Sriti dapat mengawasi praktek pencurian ikan, pembalakan hutan, dan aktivitas mata-mata di wilayah perbatasan. Tak hanya itu, kata Dahsyat, pesawat ini juga mampu mengamati daerah korban bencana, seperti letusan gunung berapi, tsunami, kebakaran hutan, dan daerah yang terkena kebocoran radiasi nuklir atau bahan kimia beracun.

Konfigurasi pesawat dengan berat 8,5 kilogram ini tidak memiliki ekor dan dikenal dengan istilah flying wing atau tailless. Bentuk semacam ini memiliki kelebihan lantaran gaya hambat menjadi minimal sehingga penggunaan bahan bakar lebih irit. Apalagi bentangan sayap Sriti cuma 2.838,3 milimeter dan panjang badan 1.078,1 milimeter.

Menurut Dahsyat, negara-negara maju mengembangkan konfigurasi ini untuk pesawat udara nirawak (PUNA) masa depan. Amerika Serikat menjadi negara pertama yang mengembangkan pesawat tanpa awak. Sejak 1970-an, negara adidaya ini menjadikannya pesawat intai.

Mulai 1990-an, BPPT merancang bangun sejumlah PUNA dengan jenis wulung, gagak, pelatuk, dan alap-alap. Berat pesawat- pesawat tersebut 120 kilogram dengan jangkauan sampai 120 kilometer. Sriti merupakan generasi terakhir dengan keunggulan sistem tenaga pen dorong menggunakan mesin motor bakar dua langkah berbahan metanol. Jangkauan terbang dirancang hingga radius 45 kilometer dan mampu terbang hingga 2 jam serta kecepatan jelajah sekitar 55 knot.

Untuk menjalankan fungsinya, Sriti dilengkapi kamera dengan spesifikasi PTZ (Pan- Tilt-Zoom). Hasil-hasil gambar video dikirim melalui modem dari onboard (di pesawat) ke GCS (ground control system) melalui modem. Untuk bahan dokumentasi, gambar-gambar tersebut direkam di bawah. Pesawat ini dilengkapi sistem otonom yang dihidupkan pada kondisi tertentu untuk terbang mandiri ke titik koordinat yang diinginkan. "Kami terus melakukan pengujian untuk memperoleh sistem yang andal sebelum memproduksi Sriti pada 2011," kata Dahsyat.

Karena tanpa ekor pesawat, Sriti lebih mudah dilepas dan dipasang kembali karena hanya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Fuselage; dua sayap kiri dan kanan; serta dua bagian kecil, yaitu winglet kiri dan kanan. "Jadi bisa dipasang oleh tiga orang," kata Ade Purwanto, salah satu anggota tim kontrol rancang bangun Sriti.

Skenarionya, kata Ade, satu orang membawa badan pesawat, lainnya membawa komputer jinjing pengendali pesawat dan peluncur (launcher) pesawat. Semua peralatan itu dapat diangkut olah satu kendaraan truk mini (pickup). Ringan dan sedikitnya alat penunjang memungkinkan Sriti dibawa ke hutan maupun medan yang tak memiliki landasan untuk pesawat.

Cara mendaratnya juga mudah." Cukup ditabrakkan ke jaring," kata Ade. Di daratan, Sriti bahkan dapat mendarat di rerumputan tinggi atau ilalang. Dengan adanya peluncur dan jaring, Sriti dapat lepas landas dan mendarat di kapal perang atau kapal patroli penangkap illegal fishing.

Direktur Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT Djoko Purwono Soehardi mengakui Kementerian Kelautan dan Perikanan serta TNI Angkatan Laut tertarik kepada Sriti. Pihaknya sedang menyiapkan nota kesepahaman dengan kedua instansi tersebut. Tahun depan, mereka melakukan uji coba bersama di kapal masing-masing.

Menurut Djoko, Sriti membuat operasi kapal patroli menjadi efisien karena dapat melihat lebih jauh kapal-kapal asing yang melakukan pencurian ikan di perairan Indonesia "Potret bidikan Sriti dapat jadi alat bukti," katanya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, ujar Djoko, juga berkepentingan dengan Sriti untuk memantau kondisi daerah yang baru dilanda bencana. UNTUNG WIDYANTO | KURNIASIH BUDI


KoranTempo

Warna Putih untuk Kamuflase

Sriti dilengkapi kamera dan menggunakan sistem telemetri. Kamera pengintai dipasang di bagian bawah pesawat. Data yang ditangkap kamera terekam langsung di Ground Control Station. "Bila pesawat jatuh, tak ada data yang terekam di badan pesawat. Data pun aman," kata Ade Purwanto, anggota tim kontrol rancang bangun Sriti.

Ground Control Station memang yang mengendalikan pesawat. Catapult take off digunakan saat lepas landas atau mendarat. Saat di udara, Sriti bergerak sesuai dengan titik-titik yang telah ditentukan di komputer. Pergerakan pesawat menggunakan software Dynamic c# dengan prosesor Rabbit 4000, yang telah dikembangkan tim BPPT. Untuk mengendalikan Sriti, dibutuhkan joystick, laptop, modem, dan antena.

Jarak maksimal antara pusat kontrol dan pesawat adalah 60 mil. Di atas kedua sayap, terdapat antena video dan antena kontrol untuk mengendalikan pesawat. Antena kontrol menggunakan frekuensi 900 MHz, sedangkan antena video menggunakan frekuensi 2,4 GHz.

Mesin yang dipasang pada bagian belakang pesawat adalah mesin helikopter kecil buatan Jepang. Memang tak semua bagian pesawat diproduksi khusus. Baling-baling di bagian belakang pesawat, misalnya, dibeli di pasar. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk kamuflase saat terbang pada siang hari, Sriti sengaja dicat warna putih. Pada masa depan, boleh jadi Sriti terbang malam, kata Ade, asalkan dilengkapi kamera inframerah. KURNIASIH BUDI


KoranTempo
[Read More...]


Mahasiswa Ciptakan Alat Pendeteksi Banjir



ilustrasi

YOGYAKARTA (SINDO) – Bencana banjir yang kerap melanda di hampir seluruh wilayah Indonesia mengilhami empat mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Yogyakarta untuk menciptakan alat pendeteksi banjir.

Alat yang diberi nama early flood warning system (EFWS) ini cukup menarik karena merupakan peralatan sederhana yang dapat dibuat secara mandiri oleh warga. Bahan-bahan yang dibutuhkan mudah didapatkan seperti pipa paralon, karet, lampu sirene, modul sirene, pengeras suara, lempeng konduktor tembaga, dan gabus. Seluruh bahan itu kemudian dirangkai sedemikian rupa dengan menerapkan sistem rangkaian listrik tertutup. “Alat ini tidak menerapkan sistem rangkaian instalasi listrik yang rumit.

Dengan demikian, masyarakat dapat membuat alat pendeteksi banjir secara mandiri,” kata salah satu pencipta EFWS, Dian Pratama Sari, kemarin. Selain Dian, penemu yang lain adalah Muhammad Taufiq, Yuli Estrian, dan Dodi Krisdianto. Muhammad Taufiq menjelaskan, cara merangkai EFWS yaitu dengan memasang tongkat alumunium ringan di atas gabus.Pada ujung tongkat alumunium itu dipasang konduktor yang sudah dihubungkan dengan kabel listrik. “Bila volume air sungai meningkat, air mendorong gabus dan karet ke atas.

Ketika ujung tongkat alumunium bergerak menyentuh lempeng konduktor yang sudah dihubungkan dengan sirene,akan muncul isyarat tanda bahaya banjir,” katanya. Dari uji coba yang dilakukan, ketika dua konduktor saling sentuh dan terjadi aliran listrik,bunyi dan nyala lampu sirene sebagai isyarat tanda bahaya menyala selama dua hingga tiga menit.“Terdengar dalam radius 100 meter dari pusat terjadinya banjir. Alat ini telah diujicobakan di Selokan Mataram, Yogyakarta, dengan hasil memuaskan,”tambah Taufiq.

Lantaran rangkaian yang sederhana dan mudah dibuat secara mandiri oleh warga,EFWS pernah mendapatkan penghargaan medali emas pada Program Kreativitas Mahasiswa 2010. Dengan memanfaatkan hukum fisika Archimedes,alat tersebut dapat memberikan peringatan berupa bunyi sirene dan nyala lampu peringatan hingga jarak 100 meter.

Di Yogyakarta, upaya mencegah terjadinya banjir memang sudah dilakukan.Dari pengerukan material sampai pembuatan tanggul-tanggul di tepi sungai. Dengan alat EFWS ini setidaknya masyarakat tidak harus berdiam diri di dekat sungai untuk memantau perkembangan aliran air sungai ketika hujan turun. (maha deva)


SINDO
[Read More...]


Kebijakan Operator Ancam Pemain Server Pulsa



"Menerapkan kebijakan hard cluster sama saja dengan membuat bisnis server pulsa punah."

Daftar harga pulsa isi ulang yang menyederhanakan angka ribuan menjadi satuan (VIVAnews/ Tri Saputro)

VIVAnews - Server pulsa adalah salah satu elemen di dalam rantai distribusi pulsa dari operator pada konsumen, di mana server meliputi mesin yang mentop-up pulsa elektrik berbasis teknologi chip multi-operator.

Sayang, sejak kemunculannya sekitar enam tahun lalu, keberadaan server pulsa ternyata tidak disambut terlalu baik oleh operator, sang penggawa bisnis selular.

Hal itu ditunjukkan dengan inisiatif sejumlah operator besar yang menerapkan kebijakan baru. Hard cluster namanya. Apa itu hard cluster? Kenapa kebijakan tersebut muncul?

Asosiasi Server Pulsa Indonesia (Aspindo), yang merupakan organisasi nirlaba yang terdiri dari para pengusaha server pulsa di Indonesia, geleng kepala. Mereka tidak tahu-menahu tentang kebijakan tersebut. Pasalnya, para anggota Aspindo tidak disosialisasikan tentang kebijakan tersebut.

"Yang kami pahami, kebijakan hard cluster hanya memperbolehkan penjualan pulsa di suatu wilayah tertentu saja. Misalnya, distribusi pulsa untuk Jawa Barat hanya boleh dijual di Jawa Barat. Jika ditop-up ke nomor di luar wilayah tersebut, maka pengisian pulsanya gagal dan tidak akan terisi," kata Dwi Lesmana, ketua umum Aspindo, pada VIVAnews di Jakarta, Senin 29 November 2010.

"Teknologi mereka cukup canggih. BTS-BTS milik operator mampu mendeteksi nomor pelanggan yang akan diisi pulsanya. Jika BTS menemukenali pelanggan berada di luar area cluster, otomatis tidak akan terisi," tandasnya.

Kedengarannya sederhana. Tapi, ternyata dampak dari kebijakan baru ini bukan main. Jaringan server pulsa yang telah terbangun selama enam tahun dan melibatkan sekitar 10-20 juta orang di Indonesia akan punah. "Jika hard cluster diberlakukan, chip-chip yang ada di server pulsa otomatis tidak ada gunanya lagi. Sementara bisnis server kan multi-cluster," ujar Dwi.

"Padahal, teknologi chip multi-operator dan multi-cluster lah yang membuat bisnis server pulsa tumbuh. Pulsa bisa ditop-up di mana saja. Bahkan dengan ini bisnis pulsa bisa menjangkau pelanggan secara nasional," imbuhnya.

"Kami cukup beriklan di koran, website, dan sebagainya. Mereka dapat berjualan pulsa dengan satu ponsel yang terkoneksi dengan server pulsa. Jadi, tidak terbatas menjual pulsa di wilayah tempat kita tinggal saja," tukasnya.

Kabarnya, dua operator besar akan menerapkan aturan hard cluster di tahun 2011. Rumor yang beredar, dikatakan Dwi, XL membatasi distribusi pulsa per kecamatan saja. Di luar kecamatan tertentu, pulsa tidak akan terdistribusi. Sementara Telkomsel juga kurang lebih sama. Sedangkan Indosat belum dimulai. (hs)


VIVAnews
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri