ISENG BLOGER

YLKI : Keluhan Layanan Telekomunikasi Tertinggi Ketiga



Jakarta (ANTARA News) - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat keluhan masyarakat terhadap layanan telekomunikasi masih tinggi, bahkan menempati urutan ketiga setelah perbankan dan kelistrikan.

"Sampai hari ini pengaduan terkait telekomunikasi yang masuk ke YLKI masih tinggi, di urutan ketiga setelah perbankan dan PLN," kata Agus Sujatno dari Divisi Publikasi YLKI saat peluncuran Lembaga Swadaya Masyarakat Konsumen Telekomunikasi Indonesia (LSMKTI) di Jakarta, Rabu.

Menurut Agus, pengaduan masyarakat terkait sektor telekomunikasi rata-rata mencapai 100 pengaduan per tahun.

"Yang tidak melakukan pengaduan (memilih diam) tentu lebih besar jumlahnya," katanya.

Menurut Agus, persoalan yang dikeluhkan semakin lama semakin bervariasi seiring dengan adanya berbagai layanan yang diberikan penyedia jasa telekomunikasi.

"Yang termasuk besar adalah pengaduan konsumen yang merasa pulsanya dipotong secara sepihak untuk jasa layanan tertentu yang sebenarnya tidak mereka inginkan, seperti RBT (ring back tone atau nada sambung pribadi)," katanya.

Selain itu, kata Agus, pengaduan lain yang cukup banyak adalah terkait buruknya kualitas koneksi internet, yang sangat tidak sesuai dengan yang dipromosikan operator.

Sementara itu Ketua LSMKTI Denny AK menyatakan, sekarang kedudukan antara konsumen dengan penyedia jasa layanan telekomunikasi sangat tidak seimbang.

"Konsumen berada pada posisi yang lemah, hanya menjadi obyek aktivitas bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya," katanya.

Dikatakannya, contoh paling nyata adalah terjadinya kartel SMS yang melibatkan hampir seluruh operator jasa telekomunikasi yang telah dinyatakan bersalah oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

"Kartel SMS ini ternyata telah merugikan konsumen Indonesia dengan total kerugian Rp2,827 triliun mulai tahun 2004 hingga 2007," katanya.

Menurutnya, faktor utama penyebab lemahnya posisi konsumen adalah rendahnya tingkat kesadaran konsumen terhadap haknya.

Di sisi lain, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) terkesan kurang memberikan pemihakan yang cukup kepada konsumen.

Ia mencontohkan kasus tindak penipuan yang dilakukan PT Cahaya Inti Abadi (CIA) Mobile bersama-sama PT Telkomsel berupa penyediaan layanan secara ilegal pada 2009.

"Tindakan penipuan ini telah merugikan konsumen miliaran rupiah namun ternyata cukup didamaikan oleh BRTI, tidak dilanjutkan ke polisi," katanya.

Karena itu, kata Denny, pihaknya akan bersinergi dengan berbagai instansi terkait, termasuk YLKI, untuk memberikan perlindungan terhadap konsumen telekomunikasi, baik melalui upaya peningkatan kesadaran konsumen, advokasi, maupun pengawasan terhadap pelaku bisnis telekomunikasi.

"Termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah terkait industri telekomunikasi," katanya.(S024/S026)


ANTARAnews
[Read More...]


Bioenergi Terbukti Menguntungkan



Tanaman jarak memiliki prospek masa depan yang menjanjikan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan minyak bumi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemanfaatan bioenergi dengan mengolah bahan-bahan organik sebagai sumber energi selama ini masih dipertanyakan efektifitas dan manfaatnya bagi masyarakat. Nah, seberapa besar manfaatnya harus dilihat dari banyak aspek.

Sebuah studi tentang efektifitas pemanfaatan bioenergi dipaparkan dalam rangkaian 7th Biomass Asia Workshop yang diselenggarakan di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT), Jakarta, 29 November-2 Desember 2010. Studi tersebut dilakukan oleh Udin Hasanudin dan Agus Haryanto dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Dalam studi tersebut, Udin dan Agus mengevaluasi dua desa di Lampung Utara, yaitu Desa Way Isem dan wilayah Prokimal. Kedua desa telah mencoba memanfaatkan sumber energi biomassa, yakni produksi bioetanol dari singkong dan produksi minyak jarak.

"Dalam studi ini ada beberapa aspek yang dinilai, antara lain manfaat produksi bioenergi bagi lingkungan, ekonomi dan sumber daya manusia," ungkap Udin kepada Kompas.com, Selasa (30/11/2010).

Desa di Prokimal menggunakan singkong untuk memproduksi bioetanol dengan pembinaan sebuah industri energi terkemuka di Indonesia. "Hasil studi kita menunjukkan, pertanian singkong terbukti memberikan keuntungan sebesar Rp 4.995.916 per hektar per tahun," kata Udin.

Selain itu, produksi bioetanol yang dilakukan lewat proses fermentasi juga terbukti memberikan keuntungan sebesar Rp 950-Rp 1.108 per liter bioetanol. "Human Development Index juga naik kurang lebih 2,3 persen dan dalam sudut pandang lingkungan, emisi CO2 bisa dikurangi sebanyak 85 persen," jelas Udin.

Di desa Way Isem yang memanfaatkan jarak untuk memproduksi bioenergi, fenomena yang terjadi berbeda. Jika masyarakat harus menyewa tanah secara khusus untuk menanam jarak, maka penggunaan jarak sebagai bioenergi tak menguntungkan secara ekonomi.

Namun jika masyarakat menjalani pertanian jarak sebagai usaha sampingan, keuntungannya adalah Rp 600 ribu- Rp 700 ribu per tahun. Sementara jika dijalani secara total, jarak sebagai tanaman antara jadi tak perlu menyewa tanah lagi, maka keuntungannya bisa mencapai 1.453.569 per hektar per tahun.

Udin melanjutkan, "Peningkatan Human Development Index-nya memang tidak banyak, hanya 1,8 persen, namun emisi CO2 nya bisa ditekan hingga 86 persen jika dibandingkan dengan bahan bakar diesel dengan produksi minyak jarak."

Dalam penelitiannya, Udin menemukan fakta bahwa desa yang membangun kemitraan dengan perusahaan tertentu bisa mendapatkan keuntungan lebih. "Di Prokimal, keuntungannya bisa lebih. Warga yang membangun kemitraan bisa mendapatkan kelebihan karena adanya teknologi yang ditransfer oleh perusahaan tertentu," kata Udin.

Berdasarkan fakta itu, Udin mengungkapkan, "Perlu adanya kemitraan dalam produksi bioenergi sehingga hasilnya lebih efektif. Perusahaan lewat program CSR-nya mungkin bisa membantu."

Di samping itu, pemerintah juga perlu mendukung program ini dengan kontrol yang berkelanjutan. "Di Way Isem, saat ini banyak peralatan yang sudah rusak. Ini perlu perhatian pemerintah daerah setempat. Selanjutnya perlu ada kontrol secara berkelanjutan," tandas Udin.

Penggunaan biomassa seperti singkong dan jarak bisa menghasilkan beberapa produk. Singkong bisa diolah menjadi bioetanol, kemudian ampasnya bisa dibuat menjadi biogas dan ampas lain bisa dikelola menjadi pupuk. Begitupun jarak yang bisa dikelola menjadi minyak jarak, biogas, dan pupuk.

Desa di Prokimal yang diteliti Udin sendiri sudah menjalankan produksi bioenergi sejak tahun 2008. Sementara, desa Way Isem telah menjalankan programnya sejak tahun 2007, setelah mendapat bantuan dari sebuah yayasan.


KOMPAS

[Read More...]


Sumber Energi Biomassa Potensi Ekspor



Siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta menunjukkan bahan bakar alternatif berupa minyak yang diperoleh dari biji mahoni (Swietenia mahagoni). Temuan itu dipamerkan pada Geladi Penelitian Ilmiah Remaja 2010 di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (12/3).

JAKARTA, KOMPAS.com - Biomassa merupakan alternatif sumber energi pengganti fosil di masa depan. Sumber energi biomassa bahkan berpotensi menjadi komoditi ekspor baru dari negara-negara berkembang seperti Indonesia.

"Indonesia sendiri yang kaya biomassa bisa memproduksi energi bagi kepentingan dunia," ungkap Masakazu Yamazaki, Vice President AIST Jepang dalam rangkaian acara 7th Biomass Asia Workshop di Gedung BPPT Jakarta yang berlangsung 29 November hingga 1 Desember 2010 nanti.

Menurutnya, Asia sebagai wilayah yang memiliki sumber biomassa yang besar dan berpotensi untuk dikembangkan menjadi sumber energi perlu mengambil peran dalam mengatasi masalah energi. Yamazaki mengatakan kajian tentang penggunaan biomassa telah menjadi ketertarikan berbagai pihak, sebab bisa mengatasi berbagai masalah lingkungan, seperti global warming.

Kebutuhan energi dalam negeri

Menteri Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata mengungkapkan, "Biomassa sangat penting dikembangkan dalam upaya mencukupi kebutuhan energi di masa mendatang, bisa digunakan untuk mengatasi ketergantungan energi fosil."

Ia mengatakan, Indonesia saat ini masih menggantungkan sumber energinya dari energi fosil. Pengurangan penggunaan energi fosil dan penggantiannya saat ini tengah menjadi fokus pemerintah. Namun demikian, ia mengatakan bahwa secara teknis pemerintah belum menemukan solusinya.

"Ada berbagai riset yang telah dilakukan banyak negara tentang bioenergi. Acara ini digunakan untuk sharing tentang perkembangan riset dan teknologi yang digunakan," ujar Dr. Ir. Unggul Priyanto M.Sc., Deputi Informasi, Energi dan Teknologi Material.

Unggul juga mengungkapkan, dalam acara ini juga dimungkinkan mulai terjalinnya kerjasama dengan beberapa negara di bidang bioenergi. Saat ini, kerjasama yang telah terjalin adalah dengan pemerintah Jepang, berkaitan dengan pengelolaan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi.

Dalam kesempatan terpisah, Dr-Eng Eniya Listiani Dewi, peneliti dari BPPT mengungkapkan, penggunaan sumber energi lain bisa digunakan untuk mengatasi masalah mahalnya biaya untuk membangkitkan listrik. Ia mencontohkan penggunaan energi yang berbasis hidrogen yang bisa juga diproduksi dari biomassa.

"Energi hidrogen ini bisa diproduksi dari apa saja, termasuk biomassa. Bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik, mengatasi mahalnya produksi listrik," kata Eniya. Produksi listrik dengan dari hidrogen yang bisa dihasilkan dari biomassa lebih efisien.

"Dengan produksi itu, setiap daerah bisa memproduksi sendiri," lanjutnya. Produksi dilakukan dengan bahan dasar yang ada di daerahnya masing-masing. Akhirnya, masalah listrik misalnya, bisa terdesentralisasi. Ia mencontohkan adanya beberapa perumahan di Jepang yang telah menggunakan sumber daya tersebut.

Biomass Asia Workshop kali ini merupakan kedua kalinya yang diadakan di Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2006, workshop ini juga pernah diadakan di Indonesia di tempat yang sama. Peserta workshop kali ini antara lain berasal dari Thailand, Malaysia, Korea Selatan, China, dan berbagai negara lain.


KOMPAS

[Read More...]


Penghargaan untuk "Blue Atom"



Ada unsur kecerdasan, tetapi sekaligus juga amal, pada diri Vincentius Alvin Leonardo (15). Kecerdasan karena dalam usia muda, Alvin, siswa asal Surabaya ini, sudah menguasai tiga bahasa pemrograman, yaitu visual basic, c#, dan assembler, dan kemudian membuat program antivirus ”Blue Atom”. Disertai amal karena antivirus ciptaannya dibagikan gratis melalui internet dan kini sudah diunduh oleh lebih dari 17.560 pengguna. Karya yang bisa mendeteksi 400.000 virus itu kini telah diakui sebagai antivirus alternatif buah karya putra Indonesia yang bisa diaplikasikan pada semua jenis komputer, bahkan dengan spesifikasi paling sederhana sekalipun.

Dengan karyanya itu, Alvin berhasil memenangi Penghargaan ”Indonesia Berprestasi” (Indonesia Berprestasi Award/IBA) 2010 yang diserahkan Kamis (25/11). Bersama dengan Alvin yang meraih Penghargaan untuk Kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, penyelenggara IBA, yakni operator seluler XL, juga memberikan Penghargaan untuk Kategori Sosial Kemasyarakatan dan Kewirausahaan (diraih oleh Masril Koto), dan Seni Budaya Indonesia (Eko Supriyanto). Untuk Kategori Kelompok, penghargaan diberikan kepada Kaskus. Selain itu juga ada Penghargaan Khusus untuk Dedikasi dan Komitmen kepada Derajat Ginanjar.

Dalam penyerahan penghargaan yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar, Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menyebutkan, ”Pada setiap waktu dan kesempatan, dan di mana pun di Indonesia selalu saja ada ’orang-orang hebat’ yang tanpa pamrih bersedia mencurahkan tenaga dan pikirannya, bahkan harta bendanya, untuk tujuan memuliakan masyarakat dan lingkungannya. Lebih dari itu, mereka adalah figur-figur yang menginspirasi dan bisa menjadi teladan masyarakat.”

Melalui Penghargaan IBA, menurut Hasnul, sebagaimana disampaikan oleh siaran pers XL, diharapkan prestasi mereka bisa lebih dikenal dan mendorong masyarakat untuk meneladani dan mengikuti jejak mereka dalam usaha menemukan solusi atas berbagai persoalan sosial (yang ada).

IBA yang telah dimulai sejak 2007, menurut Febriati Nadira, Kepala Bagian Komunikasi Perusahaan XL, tahun ini diikuti oleh lebih dari 1.000 kandidat perorangan dan sekitar 130 kelompok dari berbagai daerah di Indonesia. (nin)


KOMPAS

[Read More...]


Polda Metro akan Tindak Pengendara yang Gunakan HP Saat Berkendara



Jakarta - Polisi tidak akan segan-segan lagi menindak pengendara yang menggunakan handphone sambil berkendara. Larangan ini sudah diatur dalam UU 22 tahun 2009 tentang Kepolisian dan Angkutan Jalan.

"Ada sanksinya. Bisa ditilang. Menggunakan alat elektronik contohnya HP sambil mengendarai," kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Royke Lumowa di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (30/11/2010).

Menurut Royke, polisi sudah menindak beberapa pengendara yang kedapatan sedang berkomunikasi melalui HP saat berada di jalan. Namun belum banyak yang diambil tindakan oleh polisi, umumnya mereka mendapat teguran.

"Sudah pernah ada yang ditilang tapi belum banyak. Ada yang baru kita himbau saja karena undang-undangnya masih baru," jelasnya.

Beda halnya dengan larangan penggunaan HP, larangan penggunaan sandal bagi pengendara motor hanya sebatas himbauan saja.

"Polisi mengimbau walau belum diatur undang-undang, kalau naik motor jangan pakai sandal jepit, demi keselamatan bapak dan ibu," saran Royke.

Bagaimana jika ada polisi yang menilang karena pengendara motor menggunakan sandal?

"Itu namanya dia mengada-ada. Mencari-cari kesalahan. Kan tidak diatur undang undang jadi tidak bisa ditilang," tutupnya.( ddt / eno )


detikInet
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri