ISENG BLOGER

Kemampuan Peneliti Teknologi Hankam RI Meningkat



Menristek: Kemampuan Peneliti Teknologi Hankam RI Meningkat
Bogor (ANTARA News) - Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata mengemukakan, kemampuan peneliti dan perekayasa Indonesia dalam mengembangkan teknologi pertahanan dan keamanan (Hankam) semakin hari semakin baik.

"Buktinya, Pindad (Perindustrian TNI-AD) telah menorehkan sejarah sebagai produsen panser terbaik di kawasan ASEAN," katanya seperti disampaikan H Muarif, tenaga ahli bidang media Kementerian Negara Ristek melalui pesan singkat (SMS) kepada ANTARA, Rabu.

Menristek menyampaikan hal itu pada serahterima kendaraan tempur Panser angkutan personel sedang (APS)-2 di PT Pindad, Bandung, Jawa Barat.

Acara serahterima dari PT Pindad kepada Kementerian Pertahanan dan Keamanan tersebut dilakukan Dirut PT Pindad Adik Avianto kepada Menhankam Purnomo Yusgiantoro dan disaksikan Menristek Suharna Surapranata serta Menteri BUMN Mustafa Abubakar.

Menurut Menristek, tak hanya sebagai produsen panser terbaik di ASEAN, kerja sama yang dilakukan para peneliti dan perekayasa Indonesia di berbagai lembaga penelitian dan pengembangan telah merintis dan membuat berbagai perangkat tempur berkualitas bagus.

Ia menunjuk alat komunikasi tempur HF/VHF hasil rekayasa PT LEN (Lembaga Elektronika Nasional) dan Kementerian Ristek sejak 2002.

"Alat ini memiliki kemampuan anti sadap dan `jamming` serta kemampuan mengacak frekuensi sehingga tak dapat diketahui musuh," katanya.

Kemudian, AVL (Automatic Vehicle Locator) atau alat untuk memantau posisi kendaraan militer (kapal perang atau kendaraan tempur) yang merupakan hasil kerja sama Dislitbang TNI AD dan Kementerian Ristek.

"Kita punya perangkat `Ground System Portable` (GSP) yang mampu memantau roket di darat hasil kerja sama Kementerian Ristek dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Juga CMS (Combat Management System) sebuah sistem manajemen peperangan untuk kapal perang TNI AL dan BMS (Battlefield Management System) atau sistem manajemen pertempuran di darat untuk kendaraan tempur. Keduanya, hasil kerja sama kami dengan Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi (BPPT)," katanya.

Hasil karya para peneliti lain yang juga masih dalam taraf pengembangan, lanjut Suharna, adalah Radar Pengawas Pantai produksi LIPI dengan daya jangkau 64 km, senjata peluru karet kaliber khusus dan Granat Gas Air Mata, kerja sama Polri, Kemterian Ristek, PT Pindad, Teropong Bidik Senapan Siang/Malam (LIPI), Kapal Patroli Cepat (BPPT dan PT PAL), Robot Penjinak Bom (LIPI) dan pengembangan
peralatan Deteksi Bahan Nuklir (BATAN).

Meski banyak dari produk tersebut yang tarafnya masih pengembangan dan belum diproduksi massal, ia optimistis pada akhirnya akan mencapai standar dan mampu diserap kalangan industri.

Ke depan Menristek akan melakukan koordinasi aktif dalam perumusan secara rinci kebijakan dan strategi tugas KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan), di mana Menristek adalah anggota yang bertanggung jawab dalam rumusan dan koordinasi di bidang Iptek Hankam.(*)

Antara
[Read More...]


FIN - KOMODO OFFROAD (Kendaraan Produksi NASIONAL)



PT. FIN TETRA INDONESIA, adalah perusahaan swasta Nasional yang bergerak di bidang Rekayasa & Teknologi (Engineering & Technology), yang telah berpengalaman dalam bidang design dan analisa pesawat terbang, otomotif, simulator, dan integrasi sistim otomasi.

Kami memproduksi Kendaraan offroad jenis cruiser hasil Reasearch & Development para Insinyur Indonesia yang lincah, aman, handal, nyaman, stabil serta mudah perawatanya. Sangat cocok untuk digunakan cruiser di medan offroad Indonesia, patroli perkebunan, kehutanan, pertambangan juga untuk fun-offroad.

Produk utama kami adalah FIN-Komodo yaitu kendaraan offroad jenis CRUISER yang sangat lincah dan handal untuk digunakan sebagai kendaraan penjelajah. Bobotnya sangat ringan sehingga power yang diperlukan untuk melaju relative kecil, akibatnya konsumsi bahan bakar relative irit.

Untuk medan hutan, biasanya jarak tempuh sepanjang 100 Km dapat dilalui dalam 6-7 jam dengan konsumsi bahan bakar kurang lebih hanya 5 liter, sedangkan kapasitas tangki 15 liter, sehingga dapat survive didalam hutan selama 7x3 jam atau 3 hari perjalanan siang hari.

Disamping untuk misi penjelajah atau survey atau pengawasan, maka FIN-Komodo juga dapat digunakan untuk mengangkut beban (barang bawaan) seberat 200 Kg untuk type Single seat dan 100 Kg untuk type Double Seat, sehingga dapat juga berfungsi sebagai kendaraan utility.

Kestabilan kendaraan ini pada medan offroad yang ekstrem sekalipun tidak diragukan lagi, karena kami design dengan menggunakan perhitungan matematika persamaan keseimbangan yang akurat setiap komponen dan manufaktur nya.

FIN
[Read More...]


DIGITAL VIDEO RECORDER



Digital Video Recorder (DVR) adalah sebuah piranti elektronik modifikasi dari VCR (Video Cassette Recorder) yang berfungsi sebagai alat perekam segala kejadian/gambar yang dilihat oleh pilot pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dan F5, juga alat perekam suara percakapan di ruang cockpit.

DVR didesain full compatible dengan VCR, Plug and Play, tanpa perlu modifikasi apapun di ruang cockpit pesawat Hawk 100/200 dan F5, juga tanpa perlu hardware player dan hardware demultiplexer, lebih handal dan lebih ekonomis.

Sistem ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan modifikasi VCR dari pesawat tempur jenis Hawk 100/200 dan F5 sebagai fasilitas rekaman video dan suara percakapan di ruang cockpit. DVR memiliki ketahanan yang lebih handal dari VCR, lebih ekonomis dan lebih terjamin layanan purna jualnya.

DVR memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Merekam video dan audio di ruang cockpit dalam format digital
  2. Men-display-kan hasil rekaman video/ audio
  3. Menampilkan warning sebelum terbang jika media perekam hampir penuh (kurang dari 1 jam)
  4. Tahan terhadap getaran, guncangan dan pengaruh kenaikan G (grafitasi bumi), tanpa sistem mekanis sebagai media penyimpan data
  5. Full compatible dengan VCR, Plug and Play, tanpa perlu modifikasi apapun di ruang kokpit pesawat Hawk 100/200 dan F5.
  6. Full computerized, hasil rekaman video berformat digital, mudah diputar dan dicopy dengan software aplikasi berbasis windows
  7. Media penyimpanan menggunakan piranti elektronik dengan kapasitas lebih besar dari VCR
  8. Hemat energi, daya yang dikonsumsi lebih kecil dari VCR, full elektronik, tanpa ada sistem mekanis
  9. Hasil rekaman video dapat diputar cukup dengan software aplikasi berbasis komputer tanpa perlu hardware player dan hardware demultiplexer
DVR telah diimplementasikan di pesawat Hawk 100 milik TNI AU di Pangkalan Pontianak dan Pekanbaru.

Sistem ini akan dikembangkan lebih lanjut, tidak hanya diaplikasikan untuk pesawat Hawk 100 /200 dan F5, tetapi dapat juga diaplikasikan pada beberapa model pesawat lainnya. Sistem ini juga dikembangkan untuk pelayanan terhadap pasar dalam dan luar negeri.

Infoglobal
[Read More...]


CN 235 MPA



CN 235-220 MPA buatan PTDI [foto ipenk666]

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, tiga pesawat intai maritim CN-235 MPA dari PT Dirgantara Indonesia pengganti Nomad, selesai dalam dua tahun.

"Satu unit selesai dan diterima pada 2010 dan sisanya dua unit pada 2011," kata Tedjo Edhy Purdijatno.

Ia menambahkan, ketiga pesawat CN-235 MPA itu sudah lengkap dengan berbagai fasilitas sebagai pesawat intai maritim. Departemen Pertahanan mewakili pemerintah menyatakan komitmen merevitalisasi industri pertahanan lewat pembelian Maritim Patrol Aircraft (MPA) dari PT Dirgantara Indonesia (PT DI), yang ditandatangani di Mabes TNI-AL Cilangkap, Jakarta Timur.

Usai menandatangani nota kerjasama tersebut, Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Madya TNI Tedjo Edhy Purdijatno, mengatakan bahwa kesepakatan kerjasama ini dalam rangka pemanfaatan, penelitian dan pengembangan sumber daya bidang teknologi pertahanan matra laut yang dilakukan bersama PT DI.

Dalam sambutannya Tedjo Edhi, mengatakan bahwa kesepakatan kerjasama yang berlaku selama lima tahun ini merupakan pe

rpanjangan dari kesepakatan bersama yang sudah ada selama ini, terkait memperkuat kekuatan udara TNI-AL serta memanfaatkan sumber daya yang dimiliki kedua belah pihak dalam meningkatkan kemampuan, kekuatan dan kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) secara maksimalkan hasil produksi dalam negeri.

Menurut KASAL, perpanjangan kesepakatan bersama ini pada hakikatnya merupakan momentum penting, karena TNI AL pada awalnya sudah berkomitmen dalam melaksanakan transfer teknologi pada setiap pengadaan alutsista agar bangsa ini dapat mencapai kemandirian nasional. “Kita akan berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan dari TNI AL secara proporsional dan profesional sehingga benar-benar dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan tugas TNI AL,” ujar Tedjo Edhi.

Selain dengan TNI AL, PTDI juga sudah melakukan kerja sama pengadaan alutsista dengan TNI AU melalui pengadaan Helikopter Superpuma dan Pesawat CN 235 MPA (Maritime Patrol Aircraft). Sedangkan dengan TNI AD, PT DI juga telah mengadakan kerja sama untuk pengadaan pesawat angkut ringan.


Pemerintah berencana membeli tiga pesawat patroli maritim tersebut dengan nilai kontrak mencapai US$80 juta. Kemungkinan skema pembiayaan yang akan digunakan dengan menggunakan kredit ekspor. Ancang-ancangnya adalah cabang BNI yang ada di luar negeri.

Pesawat CN-235 MPA adalah pesawat patroli maritim yang dilengkapi dengan sistem navigasi, komunikasi, dan mission system. Untuk navigasi, pesawat ini menambahkan self content intertial system, GPS, dan Flight Management System. Untuk komunikasi, pesawat ini menambahkan multi channel audio system, dan dual control radio untuk komunikasi ke darat. CN-235MPA bisa beroperasi pada malam hari berkat peralatan FLIR-200 HP yang dipandu sinar infra merah.

CN 235-220 MPA buatan PTDI [foto ipenk666]

SPESIFIKASI CN-235 MPA
Mesin : Sepasang CT-771 berdaya 1.870PK, dua buah baling-baling berbilah empat tipe Hamilton Sundstrand 14 FR-21
Take off distance pendek : 1,160m
Maximum Cruise Speed : 215 KTAS
Long Range Cruise Speed : 194 KTAS
Max Endurance Speed : 168 KTAS
Max. Take off weight : 16,000 kg
Jangkauan : 1,800 nm
Lama terbang : 10 jam


CN 235














CN-235-220M (foto indoflyer)

CN-235 sebagai commuterliner berkapasitas 34-38 tempat duduk dan sebagai pesawat serbaguna, diluncurkan dalam Paris Air Show 1981. Pesawat ini dikembangkan dan diproduksi oleh CASA-IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara, sekarang PT DI) atas dasar 50-50. CASA membuat kerangka depan dan sayap tengah, sedangkan IPTN membuat kerangka belakang, panil sayap luar, dan permukaan ekor.

PT DI sampai tahun 2009 telah memproduksi sekitar 50 CN 235 dengan berbagai versi. Menurut Eddy Gunawan, Wakil Presiden PT DI, sekarang CASA sudah tidak memproduksi CN-235 lagi, karena CASA sedang mengembangkan CN-235 menjadi C295 dan akan fokus untuk merebut pasaran, Ternyata C-295M laku keras di pasaran. Hal itu dapat dilihat bahwa CASA sudah tidak memesan lagi kerangka belakang dan bagian lain yang menurut kesepakatan dibuat PT DI. Ia menambahkan, "Kemungkinan produksi CN-235 akan diserahkan sepenuhnya kepada PT DI". Jika demikian halnya, peluang pasar CN-235-220M yang masih feasible di pasaran internasional akan semakin terbuka bagi PT DI.


CN-235 buatan PT DI dibeli oleh negara lain seperti Korea, Filipina, Brunei, Malaysia, Thailand, Pakistan, dan Uni Emirat Arab. Korea bahkan memanfaatkannya untuk pesawat kepresidenan.
Kedepan PT DI merencanakan untuk memproduksi versi terbaru CN235 MPA ASW.




PT DI , MediaIndonesia ,dll

[Read More...]


Robot Indonesia Menang Kompetisi di AS



San Francisco - Akhirnya anak bangsa Indonesia berhasil menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia mampu menciptakan inovasi teknologi. Ini ditunjukkan dengan kemenangan Tim Robot Indonesia dalam International Robo Games yang diselenggarakan di San Fransisco, AS. Tim Robot Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung ini berhasil meraih medali emas dalam kompetisi Robot Internasional yang berlangsung selama 3 hari, dan dihadiri 3000 orang.

Robot DU-114 dari UNIKOM meraih waktu tercepat mencari sumber api dan memadamkannya dengan semprotan air secara otomatis.Kemenangan ini merupakan pertama kali bagi Indonesia selama bertanding di luar negeri. Tim ini berhasil mengalahkan tuan rumah Amerika Serikat. Sebelumnya tim ini telah menjuarai Kompetisi Robot Cerdas Indonesia (KRCI) tingkat regional (Jawa-Barat, DKI Jakarta, dan Banten) dan tingkat nasional di Indonesia selama tahun 2007-2008.

Nama robot DU-114 diambil dari singkatan alamat kampus UNIKOM di Bandung (Jl Dipati Ukur No. 114, Bandung). Robot tersebut adalah hasil karya mahasiswa UNIKOM Rudi Hartono di bawah bimbingan Ketua Divisi Robotika UNIKOM Yusrila Yeka Kerlooza.

Tim Robot Indonesia yang terdiri dari Dr Aelina Surya (Purek III sebagai Ketua Tim), Dr Hj Ria Ratna Ariawati (Purek I), Yusrila Y Kerlooza (Ketua Divisi Robotika), Rudi Hartono (mahasiswa), dan Stevanus Akbar Alexander (mahasiswa).(ap)


technologyindonesia
[Read More...]


 

Categories

Recent Comments

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2012 | Iseng Bloger Converted into Blogger Template by Riyan Apri