You are here: »
Home » All posts
Situs DevCon Asia 2011
Jakarta - Research In Motion (RIM) memastikan akan menggelar konferensi untuk developer di Asia. Bali dipilih jadi lokasi acara yang baru pertama kalinya diadakan di Asia itu.
Demikian keterangan resmi dari RIM yang diterima detikINET, Senin (29/11/2010). Acara BlackBerry Developer Conference Asia (DevCon Asia) itu akan diadakan di Bali International Convention Centre di Bali, Indonesia pada 13-14 Januari 2011.
Beberapa pembesar RIM direncanakan hadir dalam acara itu. Termasuk Gregory Wade (Managing Director RIM untuk kawasan Asia Tenggara), Tyler Lessard (Vice President, Global Alliances and Developer Relations), Mike Kirkup (Director, Developer Relations) serta Chris Smith (Senior Director, BlackBerry Developer Platform).
"Dengan rencana diluncurkannya tablet BlackBery Playbook, DevCon Asia ini berperan sebagai sebuah kesempatan yang luar biasa bagi para pengembang untuk belajar tentang bagaimana mereka dapat mengembangkan bisnis mereka melalui pembuatan aplikasi berbasis platform BlackBerry,” kata Wade.
Rencananya DevCon Asia akan membahas secara mendalam pengembangan aplikasi untuk BlackBerry PlayBook, tablet yang akan jadi andalan RIM melawan iPad. Selain itu, RIM akan membahas BlackBerry WebWorks, Payment Service, memaksimalkan App World dan lainnya.
Developer yang berminat untuk menghadiri acara itu bisa mengakses alamat berikut: http://www.blackberrydevcon.com/asia ( wsh / wsh )
• detiknet
[Read More...]
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak akan mendukung sinergi antara unit usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), Flexi, dengan Esia milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) jika ada salah satu pihak yang dirugikan, baik itu BUMN maupun anak usaha Grup Bakrie tersebut.
Menurut Menteri BUMN Mustafa Abubakar, dalam sinergi yang masih dalam kajian itu kedua belah pihak harus sama-sama diuntungkan.
"Yang penting saya sebagai Menteri BUMN sebagai pemegang saham mayoritas Telkom, sepanjang itu bisa menunjukkan win-win condition tidak masalah. Tapi kalau hanya satu pihak yang diuntungkan, misalnya BUMN dirugikan, itu jangan," katanya di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (8/11/2010).
Ia mengatakan, saat ini kedua belah pihak sedang melakukan pembicaraan lebih lanjut mengenai sinergi tersebut. Sehingga Kementerian BUMN belum mendapat laporan lebih lanjut.
Meski demikian, ia mengaku rencana sinergi ini lebih ke arah business to business sehingga campur tangan pemegang saham tidak terlalu banyak. Kementerian BUMN tugasnya hanya memberi persetujuan saja jika kajian telah rampung.
"Ini kan aksi korporasi jadi sebenarnya tidak perlu sampai ke tingkat menteri, nanti tinggal persetujuan dari menteri saja," ujarnya.
"Jadi saya tidak mengatakan tidak mendukung dan tidak katakan mendukung juga. Nanti tergantung win-win condition yang didapat, jangan sampai ada yang dirugikan," ungkapnya.
Seperti diketahui, Flexi dan Esia sama-sama layanan telekomunikasi di jaringan Code Division Multiple Access (CDMA) dan keduanya memutuskan untuk bersinergi. Saat ini, keduanya masih membicarakan bentuk dari sinergi tersebut.
Per akhir tahun 2009, pelanggan TelkomFlexi mencapai 15,1 juta account, sementara BTEL memiliki 10,6 juta account.
Jika keduanya bergabung, akan menciptakan operator dengan pelanggan terbesar keempat di Indonesia, di belakang PT XL Axiata Tbk yang memiliki 31,4 juta pelanggan hingga akhir tahun 2009.
Tidak hanya layanan suara, potensi peningkatan fasilitas data juga diprediksi bakal melonjak saat sinergi telah mencapai titik temu.( ang / eno )
• detiknet
[Read More...]
Jakarta - Pemerintah melalui Ditjen Postel Kementerian Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) tengah mengkaji untuk memberikan lisensi seluler kepada operator fixed wireless access Bakrie Telecom (Btel).
"Btel sudah mengajukan dan BRTI sudah memberikan keputusan untuk dievaluasi," ungkap Plt Dirjen Postel sekaligus Ketua BRTI, Muhammad Budi Setyawan kepada detikINET di Jakarta, Senin (29/11/2010).
Menurutnya, hasil evaluasi pemberian lisensi seluler untuk Btel ini akan diputuskan dalam waktu dekat. "Sudah di Ditjen Postel sejak minggu lalu, evaluasi modern licensing, secepatnya lah," tandas dia.( rou / wsh )
• detiknet
[Read More...]
KOMPAS.com - Ikan tak bermata dan katak yang membawa telur di bagian punggungnya adalah dua dari beragam jenis spesies baru yang ditemukan di sebuah gua di Papua.
Tim peneliti dari Institute Research and Development (IRD) di Montpellier, Perancis menemukannya dalam rangkaian ekspedisi penelitian di gua, sungai bawah tanah hingga hutan belantara di wilayah Lengguru, bagian selatan wilayah leher burung Papua.
"Dalam hal penemuan hal baru, ada banyak hal yang harus diselesaikan di daerah itu, daerah yang sangat sulit untuk diakses tetapi memiliki keragaman hayati yang mengagumkan," kata salah seorang ilmuwan dari IRD, Laurent Pouyaud, dilansir AFP, Jumat (26/11/2010).
Para ilmuwan yang terdiri dari biolog, paleontolog dan arkeolog menelusuri wilayah penelitian tersebut selama tujuh minggu. Wilayah itu dikatakan merupakan labirin tanah kapur yang memungkinkan spesies yang tinggal mengalami isolasi selama jutaan tahun lamanya.
Ikan yang tak memiliki mata serta tak berwarna karena tidak mengalami pigmentasi (produksi pigmen yang menentukan warna kulit) yang ditemukan di salah satu gua adalah penemuan yang paling mengagumkan. "Ikan ini, sepengetahuan kami, merupakan jenis ikan gua pertama yang ditemukan di wilayah Papua," kata Pauyaud.
Sementara para biolog terpesona oleh ikan tanpa mata, para arkeolog juga terpikat oleh temuan lukisan di dinding gua yang dibuat dari alat berbahan cangkang hewan. Temuan tersebut bisa menjadi bukti adanya migrasi orang-orang Asia ke Australia sekitar 40.000 tahun yang lalu.
Penelitian ini merupakan langkah pertama dari sebuah proyek yang direncanakan akan mempelajari keragaman hayati di wilayah Indonesia. Riset tersebut merupakan kerjasama Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan perguruan tinggi sains.
Pouyaud mengatakan, keanekaragaman hayati di Papua sendiri saat ini terancam oleh rencana perluasan lahan perkebunan dan tambang.
• KOMPAS
[Read More...]
Dengan menggunakan sensor berupa pendulum (bandul) dan lempengan lingkaran (ring), dapat diketahui terjadinya gempa. Bandul akan menyentuh ring jika gempa yang terjadi berkekuatan besar dan berpotensi merobohkan rumah. Detektor karya cipta tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Surakarta, yaitu Tatang Kukuh Wibawa, Ali Zakaria, dan Fitrianto, ini biaya pembuatannya hanya Rp 50.000. Alat ini dapat dipasang di setiap rumah.
KOMPAS.com - Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng India-Australia, dan Lempeng Pasifik, membuat negara kepulauan ini rawan gempa. Hingga kini belum ada alat yang mampu memperkirakan kapan dan di mana gempa akan terjadi.
Kenyataan ini diperparah dengan konstruksi gedung dan rumah-rumah di Indonesia yang tidak mengikuti kaidah tahan gempa. Tidak heran jika bencana gempa sering kali menimbulkan banyak korban jiwa.
Berangkat dari keinginan memperkecil dampak primer gempa berupa jatuhnya korban jiwa, tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, yakni Tatang Kukuh Wibawa, Ali Zakaria, dan Fitrianto, menciptakan detektor gempa sederhana berbiaya murah yang dapat dipasang di rumah-rumah.
Detektor ini berhasil memenangi juara 1 Kompetisi Rancang Bangun 2010 tingkat nasional yang berlangsung 22-23 Oktober 2010 di Universitas Udayana, Bali. Ada 10 finalis yang berkompetisi dalam ajang tersebut.
Detektor ini pada prinsipnya bertumpu pada bandul besi yang akan bergetar akibat guncangan gempa.
Jika getaran gempa cukup besar, bandul tersebut akan menyentuh lempengan yang berbentuk lingkaran (ring) yang dipasang di sekitarnya.
Persentuhan bandul dengan ring yang disambungkan dengan sistem relai listrik itu akan langsung membunyikan alarm yang dipasang pada sistem rangkaian detektor.
Kotak plastik
Bandul dan ring ini semacam sensor terhadap terjadinya gempa. Detektor ini dihidupi tenaga baterai 9 volt yang tahan satu tahun. Seusai lomba, mereka menyempurnakan detektor dengan mengemasnya dalam kotak makanan plastik dari yang semula terpasang pada papan kayu.
"Kami dapat masukan dari para juri, angin kencang bisa saja menggerakkan bandul, bukan hanya gempa. Kami kemudian memasukkan bandul ke dalam kotak plastik agar tidak ada kekuatan lain yang dapat menggerakkannya, kecuali gempa," kata Tatang saat dijumpai di Kampus UNS, Rabu (24/11/2010) di Surakarta.
Untuk memindahkan ke kotak plastik, mereka memperkecil ukuran bandul dan ring setelah sebelumnya skalanya mereka sesuaikan lagi.
Ternyata perbaikan ini juga mampu mengurangi biaya produksi, dari semula Rp 100.000 per unit menjadi Rp 50.000 per unit. Ketiganya bermimpi, alat ini dapat dipasang di rumah-rumah sebagai peringatan dini yang efektif.
”Gempa dapat terjadi kapan saja. Kalau terjadi malam hari, siapa yang akan membangunkan warga. Kalau mereka punya alat ini, harapannya mereka akan terbangun saat alarm berbunyi, lalu menyelamatkan diri,” kata Ali.
Mengolah data
Untuk mewujudkan mimpi terhadap keberadaan detektor gempa sederhana, ketiganya lantas mengolah data percepatan tanah dan massa bangunan.
Mereka memakai studi kasus bangunan lima lantai yang berbentuk kotak. Mereka menghitung simpangan maksimal goyangan akibat gempa pada lantai 1 gedung dan memperoleh angka 11 cm. Angka ini lantas diterapkan pada diameter ring.
”Angka simpangan ini kami reduksi saat menetapkan diameter ring menjadi separuhnya saja. Karena jika dibuat penuh seperti simpangan, berarti rumah sudah roboh. Padahal, kami ingin alat ini sebagai peringatan,” kata Ali.
Detektor ini harus dipasang pada pertemuan balok dan kolom rumah. Menurut Tatang, pihaknya ingin segera mematenkan detektor ini, mengingat nilai pentingnya.
”Setelah dipatenkan, kami berharap pemerintah bersedia mengambil alih untuk produksi massal alat ini agar dapat dipasang di rumah-rumah karena manfaatnya yang besar,” kata Tatang bersemangat.
Saat ini ketiganya berkeinginan mengalibrasi alat dan menguji keandalan alat ciptaan mereka di laboratorium. Alat ini dapat disesuaikan dengan kondisi percepatan tanah di suatu wilayah dengan memperkecil atau memperbesar diameter ring.(Sri Rejeki)
• KOMPAS
[Read More...]